The Borders

The Borders
Bagian 144 – Batu Sihir Elemen Tanah



Tidak terasa mereka semua sudah berada di pulau seberang dan langsung buru-buru memesan tiket pesawat di sana untuk langsung terbang ke Benua Utara.


Agar Lyam tidak bisa mencari keberadaan Kashel, Kashel tahu Lyam akan mengelilingi bahkan itu dunia untuk menemukannya.


Setidaknya karena mencari keberadaanku, Lyam tidak ada kesempatan untuk melenyapkan orang lain. Tetapi, Kashel tidak bisa bernafas lega karena hanya hal itu. Jika ia tertangkap semuanya akan berakhir.


Setelah 6 jam perjalanan udara mereka bertiga sampai di Benua Utara.


"Kashel, bagaimana kalau Lyam menemukan kita?" tanya Rai khawatir.


Ketika kita mengaktifkan kekuatan batu sihir elemen saat sampai di wilayahnya, di situ Lyam tidak akan merasakan keberadaanku lagi, meskipun untuk bebas kita harus mengambil dan menyegel batu sihir itu." Jelas Kashel pada Rai dan Rigel yang tidak begitu mengerti. Kashel menunjuk teman yang bahkan tidak memiliki pengalaman sama sekali.


"Aku jadi tidak yakin membawa kalian." Gumam Kashel membuang wajahnya ke lain arah.


"Kami tidak akan menjadi beban untukmu Kashel." Ujar Rigel yakin. Walaupun, hanya bertiga mereka yakin, pasti bisa menemukan batu itu dan mwnghancurkannya.


Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan dengan mendaki gunung, gunung khayalan tempat yang jalannya begitu curam yang jika ke sana harus berjalan kaki. Karena kendaraan tidak ada yang bisa mencapai sana. Jika nekat menggunakan kendaraan udara yang datang ke sana akan langsung di telan kabut tebal dan menghilang. Itulah yang orang-orang sekitar katakan. Cerita penduduk dari kaki gunung tersebut.


.


.


.


"Bagaimana kau yakin Lyam tidak akan mengejar kita sampai sini?" tanya Rigel, setelah melihat jurang di bawah kakinya Lyam tidak mengejarnya sampai sana karena itu mustahil, kecuali jika Lyam pernah kemari.


"Untuk saat ini tidak sih, aku sudah sempat bertarung dengannya sebelum ke pelabuhan." Jawab Kashel. Rigel dan Rai terkejut mendengar penjelasan Kashel.


"Jadi apa yang dia lakukan padamu?" Rai penasaran.


"Tidak ada, dia tidak menyerangku atau apa. Tapi dia mempengaruhiku dengan kegelapan. Ia ingin menangkapku dan berpihak padanya. Gila. Kekuatan gelapnya terlalu mengerikan. Jika aku tidak bisa kabur aku benar-benar akan terpengaruh." Kashel masih merinding mengingatnya.


"Jadi apa yang kau lakukan pada Lyam?" tanya Rigel.


"Aku menyerangnya tentu saja dan langsung kabur. Sedikit saja kegelapan yang mempengaruhiku energi sihirku saat itu benar-benar kacau. Jika Lyam menemukan kita di sini, aku akan mengantarkan kita semua pulang, aku tidak mau menghadapinya dan mengambil resiko." Jelas Kashel.


"Kau memang benar-benar hati-hati Kashel." Ujar Rai.


"Bagaimana aku tidak khawatir, Lyam benar-benar menargetkan diriku dan itu pasti membahayakan kalian yang berada di dekatku." Kashel merasa dirinya benar-benar menyedihkan.


Tentu saja Kashel tahu jika Lyam melihat teman-temannya dengan keinginan membunuh seperti itu, Lyam tidak akan segan-segan juga membuat teman-teman Kashel terbunuh. Mengeluh adalah hal yang Kashel inginkan sekarang.


Mereka bertiga terus melanjutkan perjalanan mereka. Tidak ada tempat luas di pijakan mereka hanya tebing yang curam dengan jurang di bawahnya, mereka sempat menggunakan roh pelindung untuk terbang tapi tempat ini menguras energi sihir lebih dari yang mereka kira. Akhirnya mereka harus berjalan kembali dengan menggunakan kaki mereka.


"Aku ingin duduk," ucap Rigel mulai kelelahan berjalan ia bersandar di tebing batu, ia berpikir setelah ini ia akan lebih sering menggunakan kakinya dari pada ikut terbang di punggung Brandon.


"Oh ayolah teman-teman, kalau kita berhenti berjalan di sini kita semua akan segera berakhir." Ucap Kashel mulai bosan karena orang yang berada di depannya.


Saat ia melangkahkan kakinya lagi, Kashel merasa sihir elemen tanahnya menguat, mereka bertiga sudah sampai di wilayah batu sihir elemen tanah. Kabut asap mulai menyelimuti mereka. Karena kekuatan elemen tanahnya menguat Kashel merasa yakin bisa membuat tempat beristirahat dengan kemampuannya.


"Elemen tanah, tanah pijakan." Ucap Kashel, seketika dari celah bebatuan muncul tanah yang cukup untuk duduk tiga orang sekaligus berbaring di sana.


"Kita bisa beristirahat sebentar. Di tempat ini adalah titik awal sebelum jebakan-jebakan muncul." Kashel menjelaskan.


"Jadi ada jebakan?" tanya Rigel.


"Apa teman-teman lain tidak bercerita tentang pertualangan hidup dan mati mereka?" tanya Kashel.


"Mereka semua hanya bilang, petualangannya seru dan kau hanya bisa merasakannya ketika kau pergi bersama Kashel." Rigel menjelaskannya dengan polos, Kashel menepuk jidatnya.


"Dan kau Rai, apa kau tahu?" tanya Kashel menatapi Rai yang hanya diam saja.


"Tentu saja aku tahu reruntuhan itu seperti apa, jika tidak ada jebakan tidak mungkin orang-orang aku kirimkan banyak yang berakhir mati." Jelas Rai, ia merasa hari ini adalah bayaran yang harus ia dapatkan atas kematian orang-orang yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa selain mendapatkan uang yang banyak.


"Bagaimanapun kau harus bertahan hidup Rai, kau jangan pernah berpikir untuk mati." Ujar Kashel.


"Aku tidak berpikir untuk mati, hanya saja aku benar-benar kelelahan, sudah lama aku tidak pernah berjalan jauh seperti ini." Akhirnya Rai mengeluh dengan wajah pucatnya.


"Aku pikir kau merasa bersalah." Kashel merasa ia salah paham.


"Tentu saja aku merasa bersalah Kashel, tapi itu berbeda. Aku harus bertahan untuk bisa membayarnya. Agar kematian orang-orang yang sudah memberikan informasi ini tidak berakhir sia-sia." Jelas Rai sambil meminum air yang ia bawa dalam tasnya.


"Kita harus menghemat air Rai," ujar Kashel. "Di sini belum tentu sumber airnya akan aman untuk di minum." Mendengar penjelasan Kashel itu Rai ingin mememuntahkan air yang ia minum, karena merasa mereka belum sampai setengah perjalanan saat itu.


"Sudahlah, tak apa. Setidaknya kita punya alat sihir dari Luan pendeteksi racun." Kashel mengaktifkan alat sihir dari Luan itu, ternyata kabut asap yang menyelimuti mereka juga adalah kabut beracun.


"Tetap saja, bagaimana jika kita malah bertemu dengan sumber air beracun lebih dulu. Di saat yang kita bawa sudah habis." Ujar Rai, ia memikirkan hal paling terburuk.


"Lagi pula tempat ini seperti menarik energi sihir dan melemahkannya." Ujar Rigel.


"Persis seperti bumi, yang menarik dengan gravitasi. Tempat ini menekan energi sihir yang kita miliki." Ucap Rai.


"Kashel apa kau merasakannya juga?" tanya Rigel.


"Tidak, aku tidak merasakannya. Mungkin karena elemenku tanah jadi malah diperkuat." Jawab Kashel ia mencoba menggunakan elemennya yang lain. Ternyata elemen itu benar-benar melemah.


"Kita harus segera melanjutkan perjalanan." Kashel merasa Jika elemen tanah itu bukan memperkuat sihir malah berakibat melumpuhkan sihir.