
Pagi itu Reiner terlihat sangat serius membaca sebuah kertas laporan yang barusan ia terima dari Kantor Pusat.
"Kenapa Paman terlihat begitu serius?" tanya Kashel penasaran melihat Rainer yang tidak seperti biasanya.
"Kita akan menjalankan tugas yang berbahaya Kashel," Rainer meletakkan kertas laporan itu kemudian menyalakan rokoknya lagi.
"Paman, maaf sebelumnya bisakah Paman mengurangi kebiasaan Paman merokok." Kashel duduk di samping Rainer.
"Apakah kamu tidak suka dengan asap rokok Kashel?" Rainer bertanya lagi.
"Tidak bukan begitu Paman, aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Paman." Jelas Kashel menjadi tidak enak karenanya.
"Kau tidak perlu khawatir padaku, dengan rokok ini aku bisa menghilangkan rasa kecemasanku." Rainer tersenyum ke arah Kashel dan mengusap kepala Kashel. Kashel hanya terdiam karena ia baru tahu Rainer memiliki rasa cemas juga, orang hebat sepertinya.
"Apa yang membuat Paman menjadi cemas?" tanya Kashel penasaran menatap Rainer.
"Kau tidak perlu mengetahuinya Kashel seiring berjalannya waktu pasti kau akan tahu juga." Rainer menatap keluar jendela sambil terus mengisap rokoknya.
Saat waktunya nanti kau juga akan melihat apa yang aku lihat kelak Kashel, tapi mungkin dirimu tidak akan cemas daripada diriku yang memang tidak terpilih. Batin Rainer melanjutkan kata-katanya.
Kashel yang mendengar penjelasan Rainer menjadi tidak ingin tahu juga karena Kashel tahu, meskipun mengkhawatirkan itu juga merupakan hak pribadi seseorang mau menceritakannya atau tidak.
Kemudian Kashel membaca laporan yang Rainer taruh di atas meja.
"Hutan Terlarang, tidak ada yang bisa kembali dari sana ketika kita memasukinya." Kashel membacanya menjadi bergetar, dan membuat Kashel berpikir mungkin itu yang membuat Rainer merasa cemas.
"Paman apakah tugas ini, tidak berbahaya untuk kita yang tidak punya roh pelindung sama sekali ?" tanya Kashel.
"Karena itulah tugas yang cocok untuk kita Kashel." Rainer hanya menjawab singkat tidak menjelaskan hal apapun, tapi Kashel tidak bertanya juga.
Kenyataannya Kantor Pusat memberikan tugas berbahaya itu pada Rainer karena mereka tahu hubungan Rainer dengan Guardian. Sehingga tugas itu cocok untuknya, karena jika terjadi apa-apa Guardian pasti akan turun tangan membantu mereka. Kantor Pusat benar-benar memanfaatkan hal itu dengan baik.
.
.
.
"Jika kau tidak mau ikut kau bisa tinggal saja Kashel, tidak perlu ikut dalam misi ini." Rainer sedang menyiapkan barang-barang persediaannya ke dalam tas.
"Tentu saja aku ikut Paman, meskipun tidak terlalu berguna aku ingin bisa membantu Paman. Aku tidak akan lari selama itu menjadi tugasku, meskipun terpaksa." Kashel berkata dengan yakin.
"Kau memang anak yang baik Kashel." Rainer mengambil sesuatu dari tasnya dan mengeluarkan sebuah pedang kecil.
"Kau bisa bela dirikan?" tanya Rainer tidak yakin dengan keadaan Kashel yang seperti itu. Bagi Rainer sifat Kashel itu terlalu lembut.
"Jika itu untuk menjaga diri kurasa bisa, dulu aku sempat belajar di kediamanku dan di akademi. Walaupun tidak sehebat Kesatria Penjaga Batas lainnya." Kashel menjelaskan sambil mengingat-ingat kapan ia terakhir kali berlatih bela diri dengan orang lain.
"Tangkap!" Rainer melemparkan pedang kecil itu kepada Kashel sehingga Kashel gelagapan menangkapnya.
"Apa yang kau rasakan saat memegang pedang itu?" Rainer bertanya pada Kashel.
"Bahannya sangat ringan, Paman." Kashel mencabutnya dari sarungnya dan mengayunkannya, lalu pedang itu membelah meja di depannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Kashel refleks langsung melepaskan pedang itu terlihat sangat terkejut.
"Hahahahahaha!" Rainer malah mentertawakan ekspresi Kashel yang menurutnya lucu.
"Kenapa Paman tidak menjelaskannya dari awal, jika itu diayunkan ke Paman, Paman bisa dalam bahaya." Kashel protes sambil kesal, ia tidak tahu jika pedang itu punya kekuatan sihir.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, ambil pedang itu kita akan berangkat sekarang." Rainer berdiri dan sekarang sudah menggendong tasnya.
"Baiklah, Paman." Kashel menuruti Rainer, ia langsung dengan cepat memasukkan pedang itu ke sarungnya dan membuntuti Rainer di belakang.
Anak ini, dia benar-benar orang yang Tuan Guardian cari. Tidak ada yang bisa memegang pedang itu jika ia benar-benar orang biasa, karena itu akan terasa berat untuk mereka bahkan Kesatria Penjaga Batas sekalipun. Pedang yang terbuat dari energi sihir murni milik Tuan Guardian. Batin Rainer menatapi Kashel yang sedang memegang pedang berbahaya itu sangat hati-hati.
Siang itu mereka berdua meninggalkan kamar penginapan yang mereka sewa beberapa hari lalu. Kamar 666 dan melanjutkan misi mereka di Hutan Terlarang.
.
.
.
Setelah menaiki beberapa alat transportasi dan meninggalkan kota Baltesam, mereka berdua pun sampai di gerbang Hutan Terlarang di wilayah Barat kota asal mereka.
Penjaga gerbang hutan menghampiri mereka, dan kemudian Rainer memberikan surat perintahnya dari The Borders Organization untuk memasuki Hutan Terlarang itu.
Setelah berdiskusi dan meneliti keaslian surat itu mereka berdua dipersilahkan masuk ke dalam Hutan Terlarang.
"Apa kau yakin orang kurus seperti mereka bisa mengatasi hal-hal di luar nalar?" bisik penjaga yang menjaga gerbang hutan itu.
"Hus! Mereka memang kelihatannya lemah dan kurus, tapi bukan berarti mereka bisa dianggap lemah, meskipun terlihat seperti itu." Penjaga satunya langsung memprotes ucapan temannya barusan.
.
.
.
Baru melangkahkan kaki masuk ke dalam Hutan Terlarang, Rainer dan Kashel sudah merasakan hawa yang berubah drastis.
"Sebaiknya kau harus waspada Kashel, pegang pedangmu dalam posisi yang siap dicabut kapan pun." Rainer memberikan Kashel arahan.
Meskipun kacamata milik Kashel belum dipasang, tapi sepertinya Roh Kegelapan yang akan mereka hadapi adalah Roh Kegelapan yang bisa melukai orang biasa pula.
"Sepertinya kedatangan kita sudah disambut oleh pemilik tempat." Rainer menatap ke arah atas dan di sana banyak terlihat banyak Roh kKgelapan lemah tanpa wujud yang sedang memperhatikan kedatangan mereka.
Namun, tidak ada yang berani mendekati mereka berdua karena Tuan yang memiliki tempat sepertinya menunggu kedatangan mereka sehingga yang lemah tidak berani mengganggu.
Kashel mengambil kacamata rohnya dan memakainya karena penasaran. Ia terkejut saat merasakan aura sesungguhnya yang terasa seperti menindih dirinya dengan kuat.
"Sebaiknya kau tidak usah gunakan kacamata rohmu Kashel, dengan itu kau hanya akan membuang-buang tenaga. Karena musuh kita sekarang bisa kau lihat tanpa kacamata itu." Rainer menunjuk ke arah depan. Terlihat dari arah sana naga hitam berukuran cukup besar mungkin seukuran Roh Pelindung menatap mereka dengan mata merahnya. Dan dari mulutnya mengeluarkan asap panas dari mulutnya.
"Makanan lezat telah datang dengan sendirinya kemari, kemarilah biar kumakan kau sampai tulang-tulangmu tidak bersisa."
Suara parau dan berat menggema di telinga Kashel dan Rainer bahkan Kashel sampai menutup kupingnya sangking kerasnya suara itu masuk di gendang telinganya.
Mengerikan. Kashel membatin, semakin lama roh kegelapan yang ia hadapi menjadi semakin kuat pula.