The Borders

The Borders
Bagian 153 – Pertarungan Seimbang



DUAR!


DUAR!


BLAAAR!


Puluhan kilat terus menyambar secara serempak ke arah Rai dan Chain yang terus menghindar dengan cepat.


Dia benar-benar kuat. Pikir Chain, ia merasa tidak bisa menandingi kekuatan petir itu, karena kekuatannya sudah bertambah berpuluh-puluh kali lipat.


"Ukh! Aku tidak boleh menyerah sampai di sini. Dia pasti punya kelemahankan?" gumam Rai, ia bersama Chain sekarang terpisah sedikit lebih jauh karena serangan petir membabi buta itu. Rai memikirkan rencana untuk mencari kelemahan pengguna batu elemen petir ini.


JDAR!


Chain terlempar karena serangan petir yang tiba-tiba, serangan petir yang tidak sempat ia halau sama sekali.


"Aakh!" rintih Chain belum sempat ia bangkit ada petir yang dengan cepat menyambar ke arahnya lagi.


"Tameng tanah!" teriak Erphan dan serangan itu berhasil dihalau. Chain langsung bangkit dan mulai bertarung lagi.


"Terima kasih, Erphan." gumam Chain, walaupun terpojokkan mereka semua belum menyerah dan terus mencoba untuk bertarung dengan sengit.


Lalu ada Anna dan Rigel yang harus menghadapi puluhan anak buah Sekte Sihir Hitam. Melawan berbagai pengguna elemen, Rigel dan Anna terus bertarung menghentikan serangan-serangan yang akan mengganggu pertarungan Chain, Rai dan pengguna batu elemen.


"Semoga energi sihirku tidak segera habis." Ujar Rigel yang terus-terusan mengeluarkan elemen sihir api yang membakar sekitar. Semua anggota Sekte Sihir Hitam yang berhadapan dengannya tempat mengeluarkan keringat di pelipis mereka karena takut terbakar oleh api yang panas itu.


Kehadiran Anna juga tidak kalah menakutkannya. Selain bisa menebas apapun yang berada di dekatnya. Anginnya juga membuat api Rigel menjadi tambah besar. Mereka seperti membuat lautan api yang tidak bisa membuat orang-orang yang mereka hadapi berkutik. Untuk saat ini Rigel dan Anna sedikit unggul sampai akhirnya Portal Perbatasan muncul dan kegelapan menambah kekuatan mereka semua, mereka semua yang awalnya bertarung ragu-ragu menjadi lepas kendali dan mulai menyerang Rigel dan Anna secara serempak, di sini Anna dan Rigel mulai kewalahan karenanya.


Guardian dan Kashel...


Kashel tidak begitu banyak berharap Lyam bisa kembali kepada wujudnya semula. Tidak seperti Lyam yang menyerang Kashel hanya terus-terusan memberikannya energi gelap. Kashel menyerang Lyam secara sungguh-sungguh. Tidak seperti Lyam yang akan merasakan luka dan kesakitan jika Kashel terluka.


Kashel yang sihirnya tidak terhubung dengan leluasa bisa melukai Lyam, tapi luka Lyam juga dengan segera akan sembuh dan serangan Kashel jadi tidak berarti apa-apa kecuali ketika serangan yang diberikan oleh Kashel cukup fatal untuk Lyam maka Lyam perlu waktu untuk memulihkan diri.


Di saat seperti itu Kashel tidak akan menyerang Lyam untuk beberapa saat sampai luka Lyam pulih kembali, karena biar bagaimanapun Kashel tidak akan bisa membunuh Lyam karena itu bisa menghilangkan keseimbangan The Borders yang disegel di dalam dirinya, meskipun bisa bertahan hidup tapi Kashel tidak tahu apa yang akan terjadi jika Kashel harus menahan kekuatan besar di saat kegelapan sedang berkuasa. Ia hanya mengulur waktu sampai teman-temannya bisa mengalahkan pemilik batu elemen petir dan kabur setelah itu.


Namun, di saat Kashel sedang beristirahat sambil menatapi Lyam yang terdiam Portal Perbatasan muncul. Serangan besar yang langsung tertuju pada Lyam. Serangan itu ingin membunuh Lyam. Tentu saja Kashel tidak akan membiarkan hal itu.


"Mantra penghalang!" Kashel yang mengetahui itu serangan kuat langsung melompat ke atas Lyam dan melindunginya.


Gila, ini akan langsung membunuh jika terkena serangannya secara langsung. Brengsek, mereka mengadu domba dan berakhir ingin membunuh aku dan Lyam agar The Borders bangkit sepenuhnya. Benar-benar. Pikir Kashel ia merasa sangat kesal sekarang.


KRAK!


"Ukh!" mantra penghalang Kashel hampir hancur karena serangan kuat milik kegelapan yang berasal dari Portal Kegelapan.


Lyam yang sudah pulih terlihat tampak marah dan dengan cepat ia menarik Kashel sebelum serangan itu melukai diri.


"Hah?! Lyam menyelamatkanku?" Kashel kebingungan. Kashel langsung melompat menjauh dari Lyam karena biar bagaimanapun kegelapan yang ada pada Lyam akan mempengaruhi Kashel juga jika terlalu dekat, tapi kali ini Lyam tidak ada niatan sama sekali untuk mempengaruhi Kashel dengan kegelapannya, ia marah pada apa yang sudah menyerangnya beberapa waktu lalu.


"Heh, apakah dia sudah sadar siapa musuhnya sebenarnya sekarang?" gumam Kashel menatap Lyam, Lyam menatap Kashel dengan tajam sepertinya ia mendengar ucapan Kashel.


Belum sadar rupanya. Pikir Kashel lagi, kali ini ia melihat apa yang Lyam tatap, mau tidak mau ia harus bekerja sama dengan Lyam kali ini.


"Hah! Hah! Ini sulit, kita tidak bisa bertarung dengannya jika hanya berdua." Ujar Chain berdiri di dekat Rai.


"Teman-teman, sedang sibuk menghadapi musuh kita yang lainnya. Jadi, kita harus bisa bertahan dan jika bisa kita harus mengalahkannya." Ujar Rai.


Mereka mulai menyerang lagi, beberapa bagian tubuh Rai dan Chain terluka karena serangan badai petir beberapa waktu tadi. Namun, karena sihir mereka yang sama petir juga jadi kekuatan itu hanya melukai mereka saja tidak sampai terkena dampak efek petir yang bisa saja membahayakan nyawa mereka.


BLAR!


BLAR!


JDAAR!


Pertarungan ketiga orang itu terus terjadi.


BUAK!


Freda terlempar karena serangan tanah yang tiba muncul dari kakinya dan menghantam dagunya kuat.


"Cih!" ia meludahkan darah, tampak mulutnya mengeluarkan darah.


"Bermain licik rupanya," gumam Freda.


"Kaulah yang memulai semuanya duluan, tidak ada salahnya jika kami melakukan hal yang sama." Ujar Erphan berdiri di samping Kyler yang terengah-engah kelelahan. Freda menyeringai.


CTIK!


Sebuah batu kristal hitam dilemparkan ke udara. Portal Perbatasan langsung muncul memanggil beberapa Roh Kegelapan raksasa untuk menyerang Kyler dan Erphan bersamaan.


"Sekarang seimbang." Ujar Freda tertawa meremehkan Kyler dan Erphan.


"Huaaa! Ada apa dengan mereka?" panik Rigel terus menghindari setiap serangan yang datang kepadanya.


"Sepertinya mereka dikendalikan oleh sesuatu." Timpal Anna juga melakukan hal yang sama menghindari setiap serangan yang datang padanya.


"Mereka berubah menjadi pasukan berani mati, benar-benar gila." Rigel tidak segan juga meninju mereka yang datang ke arahnya secara membabi buta dengan tinju tangan apinya.


Namun, beberapa serangan juga membuat Anna dan Rigel mengalami luka-luka, belum lagi tenaga mereka yang akan segera habis.


Serangan datang ke arah Luan yang menjaga tempat itu agar selalu bersih dari kegelapan, karena kegelapan bisa mempengaruhi aliran energi sihir. Luan punya cara untuk menetralkan dengan elemen cahaya yang dimilikinya. Namun, konsentrasinya terganggu ketika ia akhirnya harus menghadapi orang yang bisa menyebarkan energi gelap pada sekitar.


"Lawan yang setimpal, aku akan menghadapimu." Energi milik Luan pun juga ia keluarkan untuk menetralkan energi gelap milik musuhnya.