The Borders

The Borders
Bagian 109 – Ketahuan



Rai berusaha menjelaskan pada Kashel bahwa dia tidak pernah mengirimkan orang lain pada Kashel.


"Aku punya buktinya." Kashel memotret surat resmi pengiriman petugas pada Kashel.


"Aku tidak pernah mengirimkan siapapun." Rai menatap keluar jendela setelah melihat gambar yang dikirimkan oleh Kashel.


"Huh! Biar kutebak ada penyusup Sekte Sihir Hitam sekarang masuk di Kantor Pusat, atau penyusup itu adalah orang dalam itu sendiri, karena bisa menggunakan stempel resmi Kantor Pusat." Kashel merasa kesal, ia terpaksa menghancurkan batu sihir elemen itu karena Lyam yang lepas kendali dan dirinya yang terbakar dengan energi sihir api miliknya yang mengerikan karena hanya menyentuh batu sihir itu.


"Kau tahu, jika aku kau suruh lagi mencari batu sihir itu. Akan aku pastikan akan menghancurkannya. Jika kau tidak menyingkirkan penyusup itu terlebih dulu. Aku tidak akan memberikan batu sihir yang kudapatkan pada pusat, sama saja aku mencarikan kekuatan untuk para penjahat." Kashel mengomel dari seberang telponnya, ia tidak ingin apa yang ia kerjakan malah menguntungkan kejahatan dan membuat kekacauan dunia karena ulahnya sendiri.


"Aku tidak masalah sih jika kau pergi mencari batu sihir itu lagi dan menghancurkannya saja. Tapi orang-orang di sini pasti menentangnya." Rai berucap. Pusat ingin memperkuat kekuatannya sendiri.


"Karena itu jangan suruh aku." Kashel berucap tegas.


"Tapi kalau tidak menyuruh kau ada banyak orang yang akan menjadi korban kegagalan menjalankan misi itu Kashel, tidak ada orang yang cocok menjalankannya selain dirimu."


"Hais, kau benar-benar menyebalkan. Jangan suruh orang lemah, jika itu tugas berbahaya!"


"Mereka semua yang menginginkannya Kashel, tergiur dengan bayaran mahal mereka tidak peduli jika nyawa mereka jadi taruhan."


"Aku tidak ingin dengar lagi ...." Nada suara Kashel merendah.


"Untuk saat ini aku tidak bisa mengambil tugas itu dulu,"


"Kenapa?"


"Aku ingin menikah."


"Ha ... Hah?! Kau ingin menikah?!" Rai terdengar berteriak terkejut dari seberang telepon. Tampak ia sangat bersemangat.


"Kau curang, kau duluan menikah. Itu tidak adil, aku tidak setuju." Rai memprotes beruntun dari seberang telponnya.


"Aku tidak perduli, setuju atau tidak setujunya dirimu aku akan tetap menikah." Kashel berbicara santai, Kashel tahu meskipun berbicara begitu Rai sebenarnya tetap senang dengan berita menikahnya Kashel.


"Aku iri dan merasa tertinggal. Meski begitu, selamat ya!" suara Rai tampak bersemangat.


"Carilah pasanganmu juga Rai." Ujar Kashel terkekeh.


"Sebaiknya keluarga besar jangan ada yang tahu, aku tidak ingin calonku dalam bahaya. Apalagi di sana ada penyusup dari Sekte Sihir Hitam, cukup kau yang menjadi perwakilan dari keluarga besar, itu juga jika kau bisa datang." Kashel berucap menjelaskan, biar bagaimanapun Kashel merasa Rai tetap keluarganya yang penting, ia tidak bisa dekat dengan orang tuanya tapi paling tidak, ada salah satu keluarganya yang tahu tentang rencana pernikahannya.


"Aku ... Aku akan berusaha hadir Kashel, kau jangan khawatir. Aku akan jadi perwakilan keluargamu. Semoga aku bisa hadir." Rai merendahkan suaranya di akhir.


"Jangan dipaksakan jika tidak bisa hadir Rai, meskipun begitu jika kau hadir aku akan senang sih." Kashel menggaruk tengkuknya, hanya Rai satu-satunya keluarganya yang baik padanya.


"Aku akan membuatkan surat cuti untukmu Kashel, dan aku juga aku akan menyelidiki siapa penyusup itu. Jangan lupa buat laporan kegagalanmu itu untuk Kantor Pusat."


"Kau masih menyebalkan seperti biasa." Mendengar kata laporan Kashel merasa jengkel dan ingin menggerutu.


BRAK!


Grizelle langsung masuk ke dalam ruangan kerja Kashel dengan kasar.


"Kau tidak apa-apa Kashel?" Grizelle langsung masuk ke dalam ruangan kerja Kashel tidak peduli dengan Kashel yang nampak terkejut melihatnya.


"Sejak kapan kau di sini?"


"Aku dari tadi di sini. Hanya saja aku sedang ke kamar mandi tadi dan bergegas ke sini setelah mendengar dirimu terluka."


"Benarkah?" Grizelle nampak tidak percaya.


"Kau tahukan aku bukan manusia biasa-biasa saja." Kashel malah menatapi Grizelle dengan tatapan menggoda sambil menyangga dagunya di meja kerjanya. Tangan dan mukanya masih dipenuhi perban.


"Ini hanya ulah Lyam yang terlalu berlebihan sampai membungkusku seperti mumi begini." Grizelle duduk di sofa kantor itu sambil mendengarkan ucapan Kashel.


"Aku benar-benar khawatir." Grizelle bernafas lega melihat calon suaminya ternyata baik-baik saja.


Kashel membuka plester yang menempel di pipinya." Lukanya memang sudah baik-baik saja, sihir penyembuh di tubuh Kashel menyembuhkan lukanya dengan cepat. Tapi Kashel sudah tidak peduli, dengan kemampuannya yang aneh menurutnya.


Ia membuka pakaian yang ia pakai sekujur tubuhnya dipenuhi oleh perban. Grizelle langsung membantu Kashel membuka perbannya. Tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan itu, bahkan Lyam yang biasanya berada dalam ruangan itu pun tidak ada entah ke mana ia pergi.


Setelah seluruh perban dibuka hanya menyisakan tubuh Kashel yang bertelanjang dada tanpa mengenakan bajunya. Memojokkan Grizelle.


"Aku ingin memakanmu." Kashel berucap wajahnya begitu dekat dengan Grizelle.


Grizelle menahan tubuh Kashel dengan lengan kanannya.


"Jangan aneh-aneh ya!" Grizelle memperingatkan. Tapi di depan ruangan itu ada Luan yang ingin memeriksa keadaan Kashel dan memergoki mereka berdua yang seperti itu.


"Wah! Kashel mau berbuat mesum!" Luan berteriak mengejek sebenarnya membuat orang-orang yang berada di bawah langsung heboh. Grizelle langsung mendorong Kashel menjauh darinya. Semua teman-teman Kashel datang untuk meminta penjelasan.


.


.


.


"Jadi kenapa kalian berdua menyembunyikan berita kalian yang ingin menikah?" Rigel bertanya, teman-teman Kashel yang di belakang Rigel semuanya berdiri menatapi Kashel dan Grizelle sedang duduk berdampingan berdua di sofa.


Mereka seperti anak muda yang ketangkap basah sedang berbuat hal yang tidak senonoh, terlebih Kashel belum mengenakan pakaiannya.


"Kami berdua ingin membuat kejutan untuk kalian semua." Kashel menjelaskan dengan tegas dan Grizelle mengangguk.


"Biarkan aku pakai, pakaianku dulu." Kashel berdiri dan mengambil kemeja bewarna putihnya.


Teman-teman Kashel tidak bisa berkata apa-apa lagi, mendengar penjelasan itu. Mau marah tapi mereka berdua ingin membuat kejutan memang.


"Namun sudah ketahuan, jadi tidak ada rahasia lagi." Grizelle menjelaskannya malu-malu.


"Kami memang akan menikah, jadi restuilah kami berdua teman-teman sekaligus keluargaku." Kashel meminta izin sambil merangkul kekasihnya.


"Aku terharu ... Kashel akan mendapatkan kebahagiaan yang dia mau." Luan terlihat ingin menangis.


"Selamat Kashel." Rigel adalah orang yang paling bersemangat.


"Kashel dan Grizelle mendahuluiku." Anna yang merasa wanita sudah menjadi wanita dewasa tertinggal.


"Aku akan mencari calon istri juga." Chain tidak mau kalah.


Erphan menatapi Freda yang terdiam, sepertinya Freda masih memendam rasa pada Kashel. Tapi, bagi Erphan siapapun yang bersama Kashel itu adalah kebahagiaan yang dicari oleh Kashel.


"Orang-orang dewasa ini." Gumam Kyler memperhatikan teman-temannya, ia masih belum kepikiran untuk mencari gadis yang diharapkan berada di sisinya. Ia adalah orang yang mengatakan kepada semuanya tentang Kashel yang ingin menikah. Awalnya teman-temannya tidak percaya, tapi setelah Luan mendapati mereka yang lebih dekat dari pada biasanya, akhirnya Kashel dan Grizelle diinterogasi juga.