
Sebelum Kashel pergi ke lokasi Roh Kegelapan. Kashel tidak tahu harus berbuat apa ia gelisah sendirian, karena khawatir tentang keselamatan teman-temannya dan semua orang. Takut jika ia pergi ke sana keadaannya semakin akan kacau, tapi Kashel juga tidak bisa hanya berdiam diri.
Akhirnya Kashel bertekad untuk tetap pergi ke sana, melawan rasa takutnya demi teman-temannya dan menggunakan kemampuannya.
Ia sadar kemampuannya tidak seperti satu tahun yang lalu saat ia masih tidak mengerti apa-apa hanya tahu membatasi energi sihirnya dan menggunakan mantra pelindungnya sendiri.
Sekarang ia sudah bisa mengontrol energi miliknya, meskipun mungkin tetap akan berbahaya jika ia hanya sendirian jika berada di lokasi roh kegelapan dengan energi kuat. Kashel belum sepenuhnya bisa menggunakan kekuatan-kekuatan pentingnya untuk bertahan dan menyerang.
Di tengah perjalanannya, Lyam tiba-tiba muncul. Lyam sebenarnya memang bermaksud kembali setelah seminggu pergi. Di perjalanan kepulangannya ia merasakan ada energi kuat yang muncul di kota, tetapi setelah kembali ia langsung muncul di samping Kashel karena merasakan Kashel yang keluar dari zona amannya.
"Apa yang kau lakukan di luar sini?" Lyam sudah duduk di dalam kursi mobil tepat di sebelah Kashel, membuat pria itu terperanjat kaget karenanya.
"Ka-kau, kenapa tiba-tiba muncul seperti itu?" Kashel kesal, ia merasakan hawa keberadaan Lyam yang mendekat tapi ia tidak berpikir pria itu akan muncul tepat di jalan gelap yang Kashel sedang lalui.
Terkadang bagi Kashel dan semua temannya, Lyam itu lebih seram dari pada Roh Kegelapan.
"Sudah kubilangkan kalau kau tidak diizinkan keluar dari kantor, apa lagi di saat seperti ini." Lyam menatap tajam Kashel.
"Aku tidak perduli, teman-temanku lebih penting." Kashel terus melanjutkan perjalanannya.
"Aku akan menuruti semua perintahmu Kashel, tapi untuk urusan keamanan dirimu aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya." Jelas Lyam.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri," Kashel tidak mau kalah.
"Sesuai peraturan setelah ini kemanapun aku pergi kau akan pergi bersamaku," Lyam masih berucap.
"Kau pikir aku mau?" Kashel sedikit menantang Lyam, ia tidak takut dengan orang itu sama sekali.
"Lagi pula kau bilang jika aku sudah bisa menjaga diri sendiri, aku boleh melakukan apapun yang aku mau." Kashel berucap.
"Tapi kau tidak sepenuhnya bisa itu semua!" Akhirnya suara Lyam sedikit meninggi.
"Kenapa kau marah? Kau pikir kau itu orang tuaku seenaknya mengaturku," Akhirnya mereka cekcok di perjalanan menuju lokasi Roh Kegelapan itu.
.
.
.
Saat bersama dengan Kashel, Lyam bisa merasa seperti hidup. Karena ia bisa merasakan rasa khawatir jika Kashel yang keras kepala itu terluka, bukan hanya sekedar untuk memikirkan dirinya sendiri. Sedangkan Kashel pikir Lyam takut jika dirinya terluka karena bisa merugikan Lyam.
"Pergi kau sana, jangan halang-halangi aku." Kashel mempercepat laju mobilnya tapi Lyam tetap duduk di sebelahnya meskipun sudah diusir tanpa bergeming sedikit pun. Sampai mau tidak mau akhirnya Kashel singgah di tempat gelap agar tidak dilihat orang lain karena ia membawa seorang Guardian bersamanya.
"Jangan dekat-dekat!" Kashel mendorong Lyam pergi. Tapi Lyam tidak bergeming.
"Kau itu kenapa sih, apa yang kamu mau. Saat ini aku tidak menyamar. Aku tidak mau orang melihatmu dekat-dekat denganku. Sana!" Kashel mengusir Lyam menjauh.
"Aku tidak perduli bahkan jika orang tau," dingin Lyam, hal itu malah membuat Kashel merasa jengkel.
"Menyebalkan aku juga tidak perduli!" Kashel langsung berlari menerjang asap hitam itu, tentu saja mantra pelindungnya telah aktif untuk melindunginya dari efek asap hitam.
"Lihat itu Guardian datang!" Salah seorang berteriak, Kashel langsung menyelinap lari menjauhi Lyam saat pria itu sedang fokus memperhatikan inti dari Roh Kegelapan.
Kashel mencari temannya tidak perduli dengan Lyam.
"Tsk!" Lyam merasa kesal karena tidak bisa mengikuti Kashel lagi, kehadirannya menarik perhatian Roh Kegelapan itu. Sedangkan Kashel karena mantra penghalangnya yang cukup kuat saat ini, kehadirannya tidak bisa dirasakan oleh Roh Kegelapan itu karena mantra pelindungnya.
Kashel mempelajari cara mencampurkan mantra pelindungnya dengan energi milik The Borders yang biasanya hanya muncul secara tidak sengaja ketika Kashel terlalu memaksakan diri. Dengan mencampur kekuatan itu mantra pelindungnya jadi lebih kuat dan menjadi tidak cepat kelelahan karena mantra pelindungnya.
Kashel menemukan sebuah gundukan tanah yang dikelilingi oleh asap hitam, ia sadar jika gundukan tanah itu adalah milik Erphan, dan tanpa basa-basi Kashel mendekatinya. Akibat tekanan energi gelap Kashel tetap merasa kewalahan karenanya. Ia harus menjaga fokusnya untuk mempertahankan mantra yang dibuatnya.
"Erphan! Erphan!" Kashel meneriakinya dari luar, meskipun tidak melihat apa-apa dari dalam, indra milik Erphan menyatu dengan gundukan tanah itu.
Kashel memperbesar lingkup mantra pelindungnya, Erphan yang menyadari hal itu langsung menghilangkan tanah yang menjadi tameng ia dan Anna.
"Anna, apa dia baik-baik saja?" Kashel bertanya tentang keadaan Anna yang tidak sadarkan diri itu.
"Anna sedang dalam kondisi di mana ia jatuh koma karena energinya diisap oleh Roh Kegelapan ini." Jelas Erphan.
"Kita harus membawanya menjauh dari sini, mengantarnya ke Luan untuk segera diobati." Erphan langsung membopong Anna setelahnya. Sedangkan Kashel menjaga mantra pelindungnya untuk melindungi mereka bertiga.
"Ada apa, Kashel?" tiba-tiba Kashel tersentak kaget.
"Lyam, aku merasakan sesuatu yang buruk." Jelas Kashel wajah tampak khawatir.
Aku yakin Lyam bisa menjaga dirinya sendiri. Batin Kashel percaya pada Lyam dan Kashel tetap melanjutkan tujuan awalnya mengamankan teman-temannya.
Luan terlihat sangat sibuk mengobati orang-orang yang tengah terluka baik itu luka fisik ataupun luka dalam. Pemuda berambut pirang bermata coklat cerah itu terlihat benar-benar sebagai seorang dokter, tidak seperti biasanya. Sedangkan roh pelindungnya ditugaskan untuk menjaga sekitar jika ada asap hitam yang mendekat.
Setelah melihat Erphan dan Kashel yang membawa Anna Luan langsung memprioritaskan temannya itu karena terlihat mengkhawatirkan. Luan membersihkan energi gelap yang perlahan menguasai Anna.
"Ukh!" Anna tersadar setelah jalur energi di tubuhnya mulai membaik, tapi ia masih lemas dan tetap tertidur setelahnya.
Semenjak ada Lyam, para Kesatria Penjaga Batas yang lain mulai bisa mengungguli Roh Kegelapan itu, karena asap hitam sangat tertarik pada kehadiran Lyam dan mulai mengumpul di sekitarnya.
Kashel memperhatikan titik lokasi di mana asap hitam mulai meninggalkan intinya dan berkumpul di sekitar Lyam.
Jadi sekarang terlihat ada dua inti hitam pekat dari Roh Kegelapan. Kashel tidak berbicara apa-apa saat memperhatikan itu.
Tiba-tiba keringat keluar dari pelipisnya. Kashel tiba-tiba terduduk sambil memegang dadanya, sesak itulah yang Kashel rasakan.
Kebencian, kesendirian dan kegelapan itu yang Kashel rasakan, tapi itu bukan miliknya tapi itu rasa yang dirasakan oleh Lyam.
"Akh! Lyam," Kashel tersungkur ke tanah sambil menarik nafasnya terengah-engah matanya menatap kosong.
"Kashel! Kashel!" Luan dan Erphan panik karena tiba-tiba Kashel menjadi seperti itu.
Mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan Kashel yang seperti itu. Luan memeriksanya secara medis pun tidak ada yang masalah dengan diri Kashel. Luan sadar sudah pasti itu karena Roh Kegelapan itu. Namun, setelah diperiksa Luan juga tidak menemukan keanehan energi sihir gelap pada tubuh Kashel.
Luan hanya tidak bisa mengobati Kashel jika terjadi luka yang bukan diakibatkan oleh sihir, contohnya luka fisik yang terlihat. Seluruh kemampuan Luan hanya akan berguna untuk seorang yang punya energi sihir murni di tubuhnya, alias bawaan dari lahir.