
Ular itu menjerit kesakitan. Ia belum mati.
"Kashel, kau tidak apa-apa?" Rainer bertanya pada Kashel yang nampaknya sangat terkejut.
"A-aku tidak apa-apa, Paman." Kashel tersadar dan menyapu wajahnya yang dipenuhi oleh darah ular.
"Ini menjijikkan." Lanjut Kashel lagi, ia merasa mual dan ingin muntah karena menatap tangannya yang bersimbah darah sekaligus bau darah menyengat yang menempel di tubuhnya.
"Aku butuh, makan untuk memulihkan diri!" teriaknya menuju ke arah Kashel dan Rainer. Beruntungnya di dalam terowongan itu sudah tidak ada orang sama sekali, jika saja ada maka akan ada korban jiwa lagi yang akan menjadi makanan dari ular itu.
Rainer mengangkat Kashel ke udara menghindari serangan mendadak ular raksasa itu.
"Sepertinya kita harus memotong kepalanya Kashel, tapi terlebih dahulu untuk memudahkan, kita harus membutakan kedua matanya." Jelas Rainer kemudian mendarat di atas sebuah batu besar.
Rainer melesat dengan cepat dan menyerang salah satu mata dari ular itu. Ia berhasil membutakan salah satu dari mata ular itu.
GROOOAAARR!
Ular itu semakin mengamuk dan mulai meruntuhkan dinding di sekitar terowongan bermaksud kabur dengan tubuh yang tinggal separuh.
Namun, Rainer tidak membiarkannya keluar karena jika sampai ular itu keluar. Pasti akan banyak korban berjatuhan karenanya. Jadi, ia berusaha menahannya.
Rainer dengan sigap menghancurkan mata kedua dari ular itu, membuatnya buta total. Rainer kemudian mengangkat Kashel lagi bersamanya dengan cepat.
"Tebas kepala ular itu Kashel!" perintah Rainer, dari atas Kashel mengayunkan pedangnya. Cahaya pedang itu terlihat memanjang dan mendekati ular yang menggeliat tidak berdaya itu.
SRAAAT!
Kepala ular itu terpotong penuh.
ZRAAAAS!
Rainer melompat ke samping Kashel dan mereka berdua akhirnya mandi darah ular bersama.
"Ini menjijikkan." Kali ini Rainer yang berucap demikian.
Ular itu perlahan menghilang menjadi asap hitam. Tapi anehnya bekas darah dari ular yang menempel di tubuh Rainer dan Kashel tidak ikut menghilang.
"Aku mau mandi," gumam Kashel, ia makin merasa tidak nyaman.
"Sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dahulu." Ajak Rainer menuju ke arah pintu masuk terowongan.
.
.
.
Ternyata pintu terowongan itu telah di tutup rapat dengan batu besar. Tangan Rainer terlihat mengeluarkan petir biru hitam miliknya.
DUAR!
Batu itu hancur dengan sekali tinjuan dari Rainer. Ternyata ada orang-orang yang menunggu di depan terowongan itu. Mereka semua terkejut dengan kemunculan Rainer dan Kashel yang berlumuran darah di sekujur tubuh mereka. Semuanya langsung menyingkir menjauh ketakutan.
Rainer yang menahan emosinya pada warga desa itu langsung melalui mereka dengan menatap mereka semua tajam, sedangkan Kashel ia hanya menundukkan diri saja. Ia tidak menyangka ada orang-orang yang begitu kejam terhadap orang lain hanya demi kepentingan mereka sendiri.
Tidak peduli dengan orang-orang yang melihat mereka Rainer mendatangi sumur yang tepat berada di belakang rumah kepala desa itu dan membasuh dirinya dengan air yang mereka ambil dari sana. Setelah mengeringkan diri mereka dengan sihir, mereka ingin membuat perhitungan dengan warga desa itu sebelum mereka pergi dari sana.
"Sebenarnya apa yang kalian pikirkan sampai berkerja sama dengan Roh Kegelapan seperti itu?!" Rainer marah menatap kepada penduduk desa itu.
"Apa yang kalian tahu! Dia adalah Dewa kami, dan kalian menghancurkannya!" ternyata orang-orang dari desa itu malah membela diri mereka, menyatakan apa yang mereka lakukan sudah benar.
"Kalian semua memang benar-benar iblis berwujud manusia rupanya." Rainer menatap remeh mereka.
"Kalian harus bertanggung jawab dengan apa yang kalian lakukan!" teriak warga-warga desa itu lagi.
"Itu adalah balasan untuk kalian karena tidak menghargai nyawa orang lain dan meremehkan nyawa orang lain." Jelas Rainer, tidak ada yang berani menantang Rainer. Mereka hanya bisa membalas protes.
"Kalian yang hidup bahagia di atas nyawa orang lain selayaknya harus mendapatkan sebuah balasan penderitaan yang setimpal." Ucap Rainer langsung meninggalkan wilayah desa itu setelahnya.
.
.
.
Sampai akhir mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada desa itu. Setidaknya mereka berdua sudah membasmi iblis yang bisa membahayakan orang lain yang singgah ke sana.
Penduduk desa itu juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka hanya bisa menjalani kehidupan mereka seperti biasanya.
.
.
.
"Paman apakah tidak ada hukuman untuk orang-orang berbuat jahat seperti itu?" tanya Kashel pada Rainer saat menunggangi kuda mereka, Kashel ingin orang seperti itu diberikan hukum yang setimpal.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan Kashel, mereka hidup di tempat yang jauh dari hukum, belum lagi manusia tidak semuanya bisa memberikan hukum yang adil pada mereka yang bersalah. Tapi jika itu hukum dari sang Pemilik Dunia ini, aku yakin itu adalah hukuman yang sangat adil yang diberikan oleh-Nya." Rainer menjelaskan pada Kashel.
"Umm, Paman benar. Hanya yang memiliki Alam Semesta ini yang punya keadilan sebenarnya." Kashel mengangguk karena ia juga tahu, manusia hanya bisa menjalani kehidupan mereka secara baik-baik. Paling tidak, tidak begitu merugikan kehidupan orang lain. Meskipun manusia masih perlu manusia lain untuk bisa hidup.
Kashel dan Rainer melanjutkan perjalanan mereka ke arah barat untuk mencari pedang cahaya. Perjalanan mereka berdua sepertinya masih cukup panjang karena tentu saja ke depannya masih ada banyak rintangan.
.
.
.
Perjalanan mereka akhirnya kali ini memasuki hutan yang tidak dikenal, tujuan mereka kepada pedang cahaya semakin dekat, tetapi semakin dekat mereka dengan tujuannya kegelapan juga mulai terasa semakin pekat. Bahkan Kashel yang tidak memiliki penglihatan khusus pun tanpa kacamata rohnya terlihat terganggu juga dengan keberadaan energi sihir gelap.
"Tempat ini terasa sangat mengerikan Paman," ujar Kashel memeluk tubuhnya sendiri ia merasa merinding dengan hawa yang ia rasakan.
"Ada banyak sekali energi gelap di sini Kashel." Rainer melihat keseluruhan tempat itu. Energi gelap itu memenuhi seluruh hutan dan kuat. Rainer bahkan tidak yakin ia bisa menghadapi Roh Kegelapan jika bertemu dengan yang kuat sekarang. Masih hidup bagi Rainer adalah sebuah keajaiban terbesar jika melewati tempat ini.
"Apakah kita akan terus berjalan, Paman?" tanya Kashel.
"Kita akan istirahat sebentar lagi." Jawab Rainer, ia sedang mencari tempat aman untuk istirahat tetapi melihat energi gelap sebanyak itu. Di mana pun akan sangat berbahaya jika mereka benar-benar tertidur.
Akhirnya Rainer menemukan tempat yang cocok untuk mereka istirahat di dekat semak-semak kecil, di sekitarannya ada mata air yang tidak begitu besar seperti kolam hanya seukuran lubang pada ember yang di sekelilingnya ada batu alam.
Rainer menghindari tempat-tempat yang memiliki banyak air dan airnya dalam agar kejadian ditarik oleh sulur kegelapan tidak terulang. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia beristirahat di tempat ini, apakah mendapatkan gangguan yang lebih parah lagi dengan cara yang berbeda, Rainer hanya bisa bertaruh.
.
.
.
Malam itu Kashel dan Rainer memutuskan bergantian berjaga, dengan Kashel yang lebih dahulu tidur karena ia sudah merasa sangat kelelahan.
.
.
.