
"Apa aku sudah mati?" Kashel bertanya pada dirinya sendiri, ia sadar ada sosok jubah hitam yang mendekatinya ketika tenggelam. Kashel tidak sadar jika itu adalah Guardian, ia pikir saat itu ia sedang diserang oleh Roh Kegelapan kuat di dalam air.
Kashel kemudian mendudukkan dirinya di ruang kosong, luas dan bersih putih. Lagi pula ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah sekarang berharap ia belum mati.
.
.
.
.
Guardian membuat portal dan melalui portal itu langsung membawa Kashel kepada Rainer. Awalnya ia berjalan sembari melacak energi sihir milik Rainer sebelum menemukannya.
Rainer yang melihat kedatangan Guardian langsung tertunduk merasa bersalah karena tidak menjaga Kashel dengan baik.
"Maafkan aku Tuan, apakah dia terluka?" Rainer bertanya ia benar-benar khawatir pada Kashel, tidak perduli Guardian akan melakukan hal apapun padanya karena telah lalai dalam menjaga pemuda itu.
"Dia baik-baik saja, tapi bisa saja dia mati jika aku datang terlambat." Guardian menurunkan Kashel dari gendongannya.
"Apa yang terjadi padanya, Tuan?" Rainer bertanya, sambil mendekatkan diri pada Kashel ia juga ingin melihat keadaan pemuda itu.
"Dia menceburkan dirinya dalam air karena panik dikejar oleh ribuan kelelawar, dan dia tidak bisa berenang." Guardian menjelaskan dan menyentuh pipi Kashel yang terluka dengan jarinya akibat serangan kelelawar, luka itu seketika sembuh.
"Apakah anak ini tidak bisa menjaga nyawanya dengan baik?" nada suara Guardian terdengar kesal.
"Manusia jika panik mereka memang bisa tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan." Rainer menjelaskan pada Guardian dengan pelan.
"Perasaan manusia itu rumit," ucap Guardian.
"Jadi, Tuan apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Rainer.
"Tugas ini aku akan tetap memberikannya padamu, untuk apa yang terjadi pada anak ini. Aku tidak akan menghukum atau marah padamu, biar bagaimanapun anak ini harus terbiasa dengan ini semua. Karena inilah jalan kehidupan yang akan ia hadapi ke depannya." Guardian membuka portal berbicara tanpa berbalik.
"Aku harus pergi, karena ada tugas yang lebih penting daripada menghadapi Roh Kegelapan di dalam gua ini, jika dia dalam bahaya lagi aku akan langsung datang Rainer. Jadi kau tenang saja," katanya kemudian menghilang ke dalam portal.
.
.
.
Kashel yang saat ini berbaring di alam bawah sadarnya, tiba-tiba ruang kosong itu retak dan Kashel langsung tersadar dari tidurnya. Ia terkejut dan langsung terduduk, itu bertepatan dengan Guardian yang telah menghilang ke dalam portal.
"Paman?" Kashel bingung karena setelah sadar sudah ada Rainer di sampingnya. Ia menyadari baju yang ia kenakan pun sudah kering.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rainer khawatir.
"Apakah tadi aku bermimpi, aku merasa sedang tenggelam tadi?" Kashel bingung mengingat-ingat.
Mungkin memang tadi aku sedang terjebak dalam ilusi, batin Kashel. Kemudian ia menyentuh pipinya yang ia rasa terluka karena dikejar oleh ribuan kelelawar tapi luka itu telah sirna tanpa bekas. Akhirnya Kashel pikir itu benar-benar hanya ilusi yang ia dapatkan dari Roh Kegelapan itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, Rainer meminta Kashel untuk menunjukkan jalan lagi. Tapi, ia bilang untuk tidak jauh-jauh darinya.
Kashel memasang kacamata, ia terkejut karena ia merasa ada energi asing yang tidak asing untuknya. Energi sihir yang netral, itu milik Guardian.
"Ada apa Kashel?" tanya Rainer, melihat Kashel yang seperti sedang melamun.
"Ah, aku hanya merasa ada energi sihir yang tidak asing, Paman." Lamunan Kashel buyar karena hal itu.
"Mungkin hanya perasaanku saja," lanjutnya lagi, Kashel mulai fokus lagi. Energi itu hanya samar dirasakan Kashel. Kashel menebaknya mungkin ia terbayang dengan energi itu karena dalam mimpinya Kashel saat tenggelam tadi ia diselamatkan oleh Guardian. Mungkin gara-gara itu ia jadi terpikirkan dengan energi yang dimiliki Guardian karena Kashel memang tidak bisa melupakan rasa dari energi itu.
"Ke arah kanan, Paman." Kashel berjalan di depan Rainer. Kashel bisa merasakan energi sihir dari musuh seperti ada tali tidak kasat mata yang menariknya. Meskipun energi itu terasa di seluruh gua tetap saja ada energi asli yang samar-samar tapi menarik untuk Kashel ikuti.
Walaupun gua itu memiliki banyak cabang tapi dengan mudahnya Kashel memandu Rainer menapaki jalan yang benar.
Sampai akhirnya mereka berhasil menemukan Roh Kegelapan yang berdiam di altarnya.
Di sana terlihat ada banyak Roh Kegelapan berwujud kelelawar dan bercampur dengan kelelawar asli yang sudah dikendalikan oleh Roh Kegelapan itu. Mereka semua sudah dalam keadaan siap menyerang Rainer dan Kashel dengan mata tajam mereka.
"Kerja yang bagus Kashel," Rainer berucap dan langsung mengeluarkan kemampuan sihir petirnya bersiap bertahan, Kashel bersiap dengan pedang kecilnya untuk bertahan dengan mengaktifkan mantra pelindungnya untuk menjaga diri.
Ribuan kelelawar asli dan roh kelelawar itu menyerang Kashel dan Rainer secara serempak.
Namun, Rainer dengan mudahnya memusnahkan mereka. Kashel yang sudah bersiap menyerang itu pun tidak jadi berbuat apa-apa. Kashel merasa jadi tidak berguna di samping Rainer.
"Apa kau merasa kecewa Kashel karena tidak dapat jatah menyerang?" Rainer menebak.
"Bukan begitu Paman, aku hanya merasa tidak berguna di sini." Jelas Kashel ia tidak kecewa ia tidak bisa apa-apa. Tapi ia bingung apa gunanya dia di situ, hanya menjadi beban saja.
"Siapa bilang kau tidak berguna Kashel, kau berguna karena menunjukkan tempat ini. Kau berguna dengan caramu sendiri." Jelas Rainer menatap Roh Kegelapan yang menatapinya dan siap menyerang itu.
Roh Kegelapan itu melesat ke arah Rainer dengan cepat. Saat Rainer menyerangnya ternyata itu hanya ilusi dari tubuhnya yang asli.
"Sial," umpat Rainer, Rainer merasa ia hanya buang-buang tenaga menghadapi makhluk itu.
Kashel menyadari makhluk itu bisa menipu mata, di mana jika orang yang menyerangnya melihat ia menyerang ke kanan maka wujud aslinya berada di kiri. Itulah yang Kashel lihat saat memperhatikan Rainer dan Roh Kegelapan itu bertarung.
"Paman kita harus bekerja sama, dia menipu mata Paman. Ketika Paman menyerang ke kanan dia ada di kiri begitu seterusnya." Kashel menjelaskan.
"Pengamatan yang bagus Kashel, ayo bekerja sama." Ajak Rainer mereka berdua bersiap.
"Satu ... Dua ... Serang!" Kashel dan Rainer menyerang secara bersamaan, Kashel ke arah kanan dan Rainer ke arah sebaliknya. Saat itu petir Rainer berhasil melukai makhluk itu. Tapi belum membunuhnya karena ia berhasil lolos.
"Kashel melompatlah dan injak saja belakangku." Perintah Rainer.
"Baiklah, Paman." Kashel langsung mengiyakan, meskipun ia merasa hal itu tidak sopan.