
Sampailah hari di mana, Kashel harus menjalankan tugasnya pergi ke reruntuhan. Di sebuah kota mati di tengah gurun pasir.
Kali ini Kashel meminta Kyler dan Freda ikut bersamanya.
"Apa kalian siap?" tanya Kashel ia tidak akan memaksa teman-temannya ikut dengannya lagi pula ada banyak pekerjaan juga daripada hanya mencari artefak sihir yang bahkan bisa membahayakan nyawa. Tapi, sepertinya kedua orang itu tidak akan menolak permintaan Kashel.
Chain dan Erphan sudah angkat tangan ikut dengan Kashel, mereka bilang mereka harus bergantian menjalankan tugas bersama dengan Kashel biar adil.
"Aku sungguh bersemangat ketua, sudah lama aku menantikan bisa bekerja sama dengan ketua." Kyler terlihat melakukan pemanasan sebelum pergi.
"Tenang saja Kashel, mungkin kemampuanku lebih cocok jika harus pergi ke reruntuhan, karena kemampuanku sangat efektif untuk merubah bentuknya menjadi macam-macam bentuk." Freda tersenyum lembut, sangat yakin juga. Freda tahu mereka membutuhkan berbagai macam alat untuk bisa ke sana. Kemampuan milik Freda adalah yang paling cepat dan praktis untuk perjalanan mereka.
"Syukurlah aku tidak perlu khawatir." Ujar Kashel, mereka pun langsung berangkat setelah semua barang yang disediakan di masukan ke dalam mobil.
"Oh iya ketua, Tuan Lyam tidak ikut?" Kyler bertanya.
"Katanya dia akan menyusul setelah menyelesaikan misinya." Jawab Kashel.
"Bagaimana bisa Tuan Lyam menemukan keberadaan kita?" Kyler tidak mengerti.
"Uum, lebih tepatnya Lyam tahu keberadaanku di mana. Tidak sepertiku, jika harus mencarinya aku tidak tahu Lyam di mana, kecuali kalau dia memang berada dalam jarak jangkauanku untuk merasakan keberadaannya." Kashel menjelaskan, Kashel merasakan keberadaan ada jarak tertentu yang harus dituruti.
"Oh iya Kyler, kau tidak perlu memanggilku dan Lyam dengan sebutan formal, santai saja."
Sudah lama Kashel ingin mengatakan hal itu pada Kyler tapi mereka berdua sangat jarang berinteraksi karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pria yang duduk di sampingnya itu langsung mengangguk mengiyakan, saat ini Kashel yang menyetir mobil mereka.
Freda duduk di kursi belakang bersantai. Namun, saat memasuki jalan hutan menuju gurun pasir, Kashel mengendarai mobil sangat ugal-ugalan.
"Kashel tolong hati-hati!" Freda yang di duduk di belakang berteriak takut. Kyler terlihat sangat tegang. Karena Kashel yang menyetir ugal-ugalan di jalan gunung, segala jalan berlubang ia tabrak dengan kasar. Kyler dengan ekspresi tegangnya tidak bisa mengatakan apapun.
Tidak, kita akan mati di sini bukan karena Roh Kegelapan. Itu adalah isi kepala Kyler.
Di setiap belokan Kashel berbelok dengan tajam dan kasar, meskipun itu di pinggir jurang sekalipun. Sampai pada akhirnya mereka sampai di pintu masuk gua berbatu yang langsung menghubungkan ke gurun pasir, mobil tidak bisa masuk ke sana sehingga mereka harus parkir di depan tebing batu itu.
Tidak kita akan menabrak!
Freda membatin panik, selama menyetir di jalan gunung dan hutan mereka bertiga tidak mengatakan apa-apa karena larut dalam pikiran panik mereka masing-masing.
CKIT!
Suara kampas rem mobil berderit nyaring karena Kashel yang menyetir sangat ugal-ugalan.
"Kita selamat." Kashel menghela nafas saat mobilnya menginjak rem tepat tinggal beberapa senti dari batu besar.
Freda dan Kyler langsung buru-buru keluar dari mobil.
"Huek!" Kyler muntah.
"Kau sangat parah Kashel, aku tidak akan ikut lagi di mobil yang jika kau adalah pengemudinya." Freda trauma merasa benar-benar hampir mati.
"Siapa suruh aku yang menyetir, lagi pula sekarang kitakan sudah sampai dengan selamat." Ucapan Kashel membuat mereka sadar bahwa di antara mereka bertiga tidak ada yang benar-benar ahli mengendarai mobil apalagi Kyler masih di bawah umur juga.
"Ketika pulang nanti aku ingin ikut orang lain saja." Freda sudah trauma dan tidak ingin lagi ikut Kashel yang menyetir di mobil. Kashel tidak membantah juga, lagi pula dia memang bukan orang yang ahli dalam mengendarai mobil, jika itu di jalan hutan.
"Sudahlah, kita sudah sampai di sini, paling nanti Lyam akan bergabung dengan kita." Ujar Kashel memberitahu, jika ada Lyam, orang itulah yang akan menyetir nanti ketika mereka pulang.
"Sekarang kita harus membeli kuda lebih dahulu di desa terdekat." Di jalan masuk gurun itu ada desa yang menjual kuda. Meskipun tandus dan gersang, sepertinya ada saja orang-orang yang berkelana menyusuri gurun itu. Karena ada beberapa peneliti yang juga tertarik dengan peradaban masa lalu di sana.
"Kashel kau terlihat begitu santai, apa dulu kau pernah pergi ke gurun pasir?" Kashel memegang dagunya saat Kyler bertanya.
"Ya, aku pernah sekali dulu. Aku hampir mati kehausan. Beruntungnya sebelum mati, kami bertemu oasis. Jadi inilah alasanku membawamu kemari karena kau adalah pengendali air." Kashel tersenyum, Freda menatap Kashel seolah-olah ia sudah memanfaatkan anak-anak kecil yang polos.
Kyler bukannya tersinggung ia malah tampak bersemangat. Karena ucapan Kashel, ia merasa jadi sangat berguna untuk Kashel. Biarpun tidak bisa menggunakan air dengan baik setidaknya keberadaan Kyler bisa mendinginkan udara yang panas.
"Tapi Kashel kaukan sekarang juga sudah bisa menggunakan elemen air." Ucapan Freda langsung membuat Kashel mengingat sesuatu hal, dia lupa.
"Aku belum pernah menggunakannya." Kashel tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Mungkin di sini ketua akan menggunakannya." Kyler terlihat bersemangat.
"Kalau bisa sih maunya tidak." Gumam Kashel.
"Oh iya ketua kenapa kita tidak menggunakan portal untuk pergi ke sana?" tanya Kyler lagi.
Kashel menggeleng, "Portal bisa digunakan kalau kita tahu arah dan tujuannya, paling tidak tempatnya harus dikenali dengan jelas. Aku tidak bisa berteleportasi, ke tempat yang bahkan aku tidak pernah melihatnya." Kashel menjelaskan.
"Bisa mengira-ngira tapi mungkin saja kita akan terkirim ke tengah laut atau kawah gunung merapi itu menyeramkan." Kashel terlihat merinding ketika menjelaskannya.
Mengingat Kashel yang ugal-ugalan dalam membawa mobil, Kyler dan Freda juga tidak yakin mau melewati portal yang dibuat oleh Kashel bisa-bisa apa yang dibilang Kashel menjadi kenyataan. Bukan pulang ke rumah mereka malah akan pulang ke dunia lain.
"Kita bisa pulang melalui portal yang aku buat jika sudah selesai menjalankan misi kita." Kashel menyarankan.
"Mendengar penjelasanmu aku tidak yakin kau bisa mengantar kita pulang dengan selamat jika melawati portal, meskipun itu sangat praktis." Freda menjelaskan lagi.
"Betul juga, kalau kau sanggup bertahan di gurun pasir tidak masalah sih kalau kita pulang tanpa melalui portal." Kashel setuju-setuju saja.
.
.
.
"Puah! Ini panas sekali." Saat ini mereka bertiga hanya menggunakan baju kaos. Mereka belum tahu tujuan pasti mereka ke arah mana mereka hanya tahu harus terus berjalan ke arah utara. Bahkan roh pelindung Kyler tidak sanggup untuk mendinginkan mereka bertiga dan kelelahan beristirahat di dalam tubuh Kyler kembali, mereka bertiga harus berjuang di tengah gurun panas dengan usaha mereka sendiri.
"Jikalau seperti ini, aku tidak masalah jika pulang melalui portal." Kyler tidak sanggup lagi meskipun berkuda mereka kelelahan. Freda hanya bisa mengangguk.
"Kita harus mencari oasis untuk beristirahat." Kashel yang kelelahan juga berusaha kuat demi teman-temannya. Kyler menggunakan kemampuan elemen airnya merasakan uap air di udara dan berusaha menemukan sumber air. Tapi selama berjalan ia belum bisa menebak oasis di gurun itu ada di mana. Mereka juga mulai kehabisan persediaan air mereka dan mulai kehausan.
"Elemen air." Kashel bergumam dan mulai fokus saat melihat kedua temannya yang sudah kehabisan tenaga, ini untuk pertama kalinya ia menggunakan kemampuan elemen airnya.