The Borders

The Borders
Bagian 31 – Inti Hitam



"Lyam inti hitam itu, sepertinya ada orang yang memiliki inti itu. Inti hitam itu seperti sebuah benda." Kashel berbicara santai dengan Lyam saat itu.


Terlihat ia menatap keluar melalui jendela ruang kantornya sambil memegang secangkir kopi.


Sedangkan Lyam saat itu tengah sibuk membaca laporan, harian setelah menjalankan misi di divisinya.


"Aku tahu inti hitam itu memang ada yang mengendalikannya, sihir hitam itu mampu menyerap energi kegelapan dan mengumpulkannya." Lyam berucap.


"Apakah kamu tahu siapa orang yang bisa membuat sihir inti hitam?" Tanya Kashel.


"Jika aku tahu, aku pasti akan menghentikannya Kashel." Lyam menjawab datar, ia tidak bisa berkutik dengan orang yang mengendalikan inti hitam itu.


Selain Lyam yang bisa terpengaruh dengan energi hitam. Lyam juga tidak bisa melacak keberadaan pasti pemilik kemampuan itu. Karena di dunia ini ada begitu banyak titik kegelapan yang bahkan lebih kuat dibandingkan inti hitam itu.


"Seandainya kita bisa menggunakan kemampuan mempertajam indra, untuk melacak inti hitam itu." Lyam memberi saran.


"Haa! Tidak akan mau aku menggunakan kemampuan itu." Mendengar Lyam saja memberi saran seperti itu Kashel langsung menolaknya tanpa tahu seperti apa kekuatan itu. Kashel langsung keluar dari ruangan itu membawa cangkir kopinya.


Lyam tidak berbicara apa-apa setelah itu, ia hanya melanjutkan pekerjaannya. Karena ia tahu semua keputusan tetap ada di tangan Kashel ia tidak akan pernah memaksa kehendaknya pada Kashel lagi.


Sekarang ia hanya akan menuruti semua perintah Kashel, itulah janjinya ketika mereka berdua benar-benar terikat dengan kontrak.


Memilih menghancurkan dunia atau menyelamatkan dunia sebenarnya itu semua keputusan Kashel sebagai wadah jiwanya. Meskipun ada perasaan yang menginginkan untuk menyeimbangkan kedua dunia, tapi perasaan kuat Kashel menarik Lyam lebih kuat untuk patuh terhadap pria itu.


.


.


.


Kashel yang berada di dapur saat ini memikirkan ucapan Lyam, tentang kekuatan yang mempertajam indra.


Yang benar saja, bagaimana jika cara itu tidak berhasil, akan sia-sia saja membebaskan kemampuan itu. Batin Kashel kemudian menaruh gelas kopinya dengan kasar.


"Kau kenapa Kashel?" Erphan terkejut melihat Kashel yang tiba-tiba menaruh gelas itu dengan kasar.


"Ah ti-tidak apa-apa." Kashel merasa agak sedikit canggung karena ulahnya sendiri.


"Aku hanya memikirkan sesuatu yang membuatku kesal, maafkan aku jika membuatmu merasa terkejut." Kashel tertawa canggung.


"Baiklah kalo begitu, tenangkan dirimu Kashel." Erphan pergi meninggalkan dapur setelahnya, ia tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Kashel.


.


.


.


Kashel tidak berhenti memikirkan tentang kata-kata Lyam barusan. Membuatnya melamun saat mencuci piring.


"Kashel, oi kau kenapa? Lihatlah kenapa kau biarkan air itu menyala terus sedangkan kau melamun." Freda menegur Kashel, yang membuat pria itu tampak terkejut karenanya.


"Ah, astaga. Aku kurang fokus." Kashel melanjutkan cuci piringnya.


"Terima kasih, Freda." Ucap Kashel.


"Jika kau butuh seorang untuk curhat, sebaiknya jangan kau pendam sendiri Kashel." Saran Freda.


"Ah kau benar, aku kan bercerita pada Grizelle nanti." Kashel berucap.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Freda meninggalkan Kashel dengan wajah murung.


Dia kenapa. Batin Kashel bingung.


Kashel setelah itu melanjutkan pekerjaannya sampai selesai, berbagi cerita pada Grizelle setelahnya. Grizelle tahu semua tentang Kashel bagaimana Kashel dulu, hanya Grizelle yang pernah mendengar tentang semua kesedihan Kashel. Bahkan cerita yang tidak bisa Kashel ceritakan pada orang lain.


Kashel memutuskan untuk tidak melepaskan kekuatan itu, menggunakan kekuatan itu belum tentu berguna karena penjahat pasti selalu mempunyai akal licik untuk mengelabuhi musuhnya dan menyembunyikan diri mereka.


Belum tentu juga dengan mengambil kekuatan itu akan membuat semuanya terkendali seperti sekarang, bagi Kashel itu akan sangat merepotkan untuknya jika sampai terjadi.


Belum lagi jika sekali kekuatan itu terlepas, ia tidak akan bisa menghilangkannya lagi selain pasrah untuk bisa mengendalikannya.


Baginya Kashel membuat semua indra yang tajam pasti sangat mengganggu untuk Kashel. Setelah dua tahun menjadi wadah jiwa Kashel sampai sekarang hanya menggunakan kekuatan dasar yang tidak bisa disegel, yaitu kekuatan elemen dan beberapa kekuatan lain.


Itupun Kashel membatasinya dan hanya menggunakan beberapa kemampuan yang penting-penting saja. Hanya Lyam yang senang menggunakan berbagai macam kemampuan itu karena ia memang sudah ahli.


Karena sebelum mengikat kontrak dengan Kashel, Lyam telah terbiasa menggunakan semua kekuatan The Borders. Karena The Borders itu adalah dia sendiri.


Orang aneh itu mengapa harus mengikat kontrak denganku, dan memilih menjadi lemah, pikir Kashel bertanya lagi, padahal ia sudah tahu Lyam mengikat kontrak dengannya agar kegelapan tidak melahap dirinya.


Ah percuma saja aku memikirkan hal yang sudah terjadi, tidak akan ada gunanya.


.


.


.


Terlihat seorang pria berjubah memegang sebuah batu hitam kecil. Tapi batu hitam kecil itu menyerap energi sihir gelap yang ada di sekitarnya.


Kemudian seorang yang lain muncul di belakangnya.


"Tuan, tugas apa yang akan saya kerjakan kali ini?" ia berbicara sambil berjongkok hormat di belakang pria berjubah itu.


"Ambil benda ini, cari orang dengan kebencian kuat dan buat kekacauan dengan memanfaatkannya." Pria berjubah itu melemparkan batu hitam itu kepada bawahannya.


"Baik tuan, saya akan laksanakan." Pria berjubah itu lenyap menjadi asap hitam setelahnya.


"Tidak akan kubiarkan dunia ini mendapat ketenangan." Pria berjubah itu mengepalkan tangannya.


"Aku akan membangkitkan iblis kegelapan, untuk membuat kekacauan di dunia ini. Hahahaha!" Iya tertawa di atas sebuah menara yang cukup tinggi di kota itu.


Tujuannya adalah mengumpulkan kebencian dan membuka portal yang menghubungkan dengan iblis kegelapan kemudian memanggilnya ke dunia ini, untuk mengacaukan dunia. Entah apa tujuannya melakukan hal itu.


.


.


.


Siang itu Lyam tengah berjongkok menatapi seekor kucing putih yang sedang berada di depan kantornya. Kucing itu sepertinya menganggap Lyam sebagai musuhnya.


"Apa yang kau lakukan Lyam?" Kashel yang memperhatikannya bertanya, Lyam hanya diam saja.


"Jika kau ingin mengelusnya sebaiknya elus saja, mengapa harus memandanginya seperti itu." Ucap Kashel lagi.


"Kucing ini sepertinya ingin mengajakku berkelahi," Lyam menjawab Kashel akhirnya.


"Tatapanmu itu menyeramkan sehingga membuatnya takut." Kashel mendatangi kucing itu dan mengambilnya ke gendongannya.


"Ah, kurasa Grizelle sangat suka dengan kucing, rasanya aku ingin memperlihatkan kucing putih ini padanya." Kashel tersenyum senang mengingat Grizelle yang sangat bersemangat ketika bertemu dengan kucing entah itu di jalan atau di mana pun.


Lyam berdiri masih memperhatikan kucing itu, kemudian Kashel memberikannya pada Lyam yang tampak penasaran itu. Tapi si kucing malah takut dengan Lyam, melompat dari gendongannya dan kabur.


"Bahkan hewan pun ternyata takut padamu," Kashel ingin tertawa melihat Lyam tanpa ekspresi yang sepertinya sedang kecewa.


"Sudahlah, itu tidak penting." Lyam kemudian masuk ke dalam kantor. Begitu juga Kashel, ia membuntutinya.