The Borders

The Borders
Bagian 82 – Pengaruh Pedang Kegelapan



"Apa?! Kau, punya pedang kegelapan." Kashel tampak sangat terkejut. Bahkan kegelapan juga ada di antara mereka berdua.


"Tapi pedang itu tidak bisa digunakan atau di keluarkan, aku tidak bisa menggunakan pedang itu, karena pedang itu membutuhkan kebencian. Pedang itu mengumpulkan energi gelap dalam tubuhku Kashel. Tapi karenamu energi gelap itu bisa dinetralkan. Kau punya kekuatan itu di dalam dirimu, sehingga jiwaku bisa beristirahat dengan tenang."


Lyam menjelaskan pada Kashel yang dimaksud jiwanya di sini adalah The Borders.


"Pedang cahaya berpihak kepadamu, karena kamu juga yang menemukannya sebelumnya, dan itu memang harusnya milikmu, tapi karena kamu adalah jiwaku. Pedang cahaya yang ada padamu hanyalah replika atau jiwa dari pedang itu juga. Yang asli hanya aku yang bisa menggunakannya dan sekarang berada berdampingan bersama dengan pedang kegelapan saling menyeimbangkan."


Raut wajah Kashel terlihat sangat ingin sekali mengeluh sekarang. Ketika mendengar penjelasan Lyam.


"Sekali lagi aku katakan pedang kegelapan, aku atau kamu tidak ada yang bisa menggunakan pedang itu, jika pun bisa kita berdua akan berpihak pada kegelapan. Salahku tidak menyadari hal itu, tidak menyadari bahwa kegelapan telah menanamkan hal besar ini padaku."


"Apa yang harus kita lakukan Lyam?" tanya Kashel, Lyam hanya menggeleng.


"Tidak ada Kashel, jika pedang cahaya yang ada di tubuhku lenyap satu-satunya orang yang akan menjaga Gerbang Perbatasan saat itu hanyalah dirimu. Aku, akan kehilangan pikiranku dan berpihak pada kegelapan Kashel.


"Meskipun kita berdua terikat, kegelapan itu akan membuat kita menjadi musuh yang akan saling menyerang.


"Kuharap kau bisa bertahan di jalan cahaya tanpa terpengaruh oleh kegelapan seperti adanya dirimu Kashel." Lyam yang semula berbicara menatap arah luar berbalik ke arah Kashel.


"Ketika aku dikuasai kegelapan, aku akan tetap menjadi wujud sadar dari The Borders dan kau akan tetap menjadi wadah dari jiwanya. Meskipun apapun yang akan terjadi tidak akan mengubah apapun."


"Jika saat itu benar-benar terjadi, ketika aku menjadi kegelapan, kau harus bisa menjadi cahayanya karena kau akan menjadi target selanjutnya."


Kashel hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Lyam, tidak tahu harus bagaimana.


"Jangan biarkan kegelapan mempengaruhi dirimu Lyam, aku tidak bisa berbuat apa-apa jika tanpa bantuanmu juga. Kau pasti sangat menderita selama beberapa ratus tahun ini."


"Jika pun begitu, aku tidak begitu paham tentang perasaanku sendiri Kashel."


.


.


.


.


"Saat ini aku hanya ingin mengeluh kepada takdir. Tapi apa yang harus kukeluhkan padahal yang sudah terjadi selain menjalaninya."


"Aku akan pergi lagi." Ujar Lyam bersiap-siap, ada banyak hal tentang kegelapan yang harus ia selidiki dan bersihkan.


Kashel hanya memperhatikannya.


"Kenapa menatapku seperti itu, kau mau ikut?" Lyam memperhatikan tatapan Kashel.


"Atau kau ingin melarangku, meskipun begitu aku akan tetap membasmi kegelapan,"


"Aku tahu itu memanglah pekerjaanmu apa hakku melarangmu untuk menjaga dunia yang aku cintai ini. Meskipun mempengaruhi diriku juga, aku tidak akan melarangmu."


"Kupikir setelah mengetahui semuanya kau akan selalu ikut."


"Pergi saja sendiri, aku yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan pernah merasa kesepian saja, perasaan manusia sepertinya cukup merepotkan untukmu." Lyam hanya tersenyum simpul menanggapi ocehan Kashel, kemudian membuka portal dan pergi setelahnya.


Aku cuma berharap dia tidak terpengaruh kegelapan di saat aku dalam keadaan yang sibuk juga. Bisa gawat. Kashel mendudukkan dirinya di sofa ruangannya bersantai.


"Kalian berdua bertengkar?" Kashel membuang muka ke arah lain saat Lyam pergi menjalankan tugasnya, Erphan tidak sengaja tepat masuk ke ruangan itu.


"Kita punya pekerjaan sendiri sekarang." Ia tidak ingin membahas tentang Lyam.


"Kau sudah dibebaskan?" Kashel mengangguk.


Pusat menugaskan divisi Kashel untuk menyelidiki kejanggalan di Desa Raja Naga, sebuah desa sihir yang tersembunyi dari kehidupan manusia biasa. Desa yang akhir-akhir ini terlihat sering berlagak aneh dan membuat Kantor Pusat curiga.


"Pintar sekali Rai menunjuk pekerjaan itu ke divisi ini. Dasar!" Kashel meletakkan kertas laporannya dengan kasar.


.


.


.


"Hatsyi!"


"Hm, sepertinya ada yang sedang membicarakanku." Rai melanjutkan pekerjaannya lagi setelah menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal.


.


.


.


"Lyam benar-benar merubah desa ini menjadi desa sihir tersembunyi, apa yang dia lakukan dulu ya?" Kashel malah penasaran dengan hal itu.


"Kurasa sifat mereka akan sebelas dua belas, dengan sifat keluarga utama." Kashel terbayang betapa sombongnya orang-orang di desa itu, tentang membanggakan kekuatan.


"Kashel, kita harus ke sana besok pagi-pagi agar sampai sana tidak ke malaman, jadi siapa orang yang akan kamu kirim ke sana?" tanya Anna.


"Aku yang akan pergi bersama, Chain dan Erphan." Ujar Kashel.


"Tanpa Lyam?" Anna terkejut karena ini pertama kalinya Kashel mau pergi sendiri setelah pertemuannya dulu.


"Lyam sudah mengizinkanku pergi keluar tanpanya." Jawab Kashel.


"Aku tidak menyangka Lyam akan membebaskanmu sekarang." Anna nampak terkejut, selama ini Lyam selalu mengikuti Kashel ke mana pun dia pergi jika keluar bahkan saat bersama dengan Grizelle ia mengikuti Kashel dari jauh dan menjaga mereka berdua.


"Karena ini perdana untukku, aku akan menikmatinya." Ujar Kashel.


"Anna aku akan percayakan kantor ini padamu saat aku pergi."


"Baiklah Kashel percayakan saja padaku."


.


.


.


"Oke, barang bawaan sudah siap." Kashel sudah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil.


"Tanpa Lyam ternyata sepi juga ya." Ujar Erphan yang sedang menyetir.


"Benar, aku merasa tidak ada tegang-tegangnya seperti biasa. itu menurutku sangat menarik." Chain menanggapi ucapan Erphan.


"Kalian malah menikmati tekanan mental seperti itu." Kashel menatap keluar jendela.


Sebenarnya Kashel sendiri berdebar-debar juga karena setelah kejadiannya satu setengah tahun lalu saat ia di serang oleh gerombolan Roh Kegelapan lemah, Kashel tidak lupa dengan rasa traumanya itu. Walaupun, lepas kendalinya Lyam lebih mengerikan, tapi kejadian pertamanya itu juga tidak mudah ia lupakan.


.


.


.


Desa Raja Naga tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa karena ada sihir khusus yang menyembunyikan desa itu, hanya orang-orang yang diundang yang bisa masuk ke dalamnya, atau orang dengan kemampuan khusus yang tidak sengaja tersesat ke dalamnya.


Semestinya Kashel saat ke sana datang bersama dengan Lyam. Tetapi, ia yang penasaran dengan desa leluhurnya memberanikan dirinya datang sendiri ke sana, tidak peduli pandangan orang seperti apa padanya.


.


.


.


"Aku berharap, menemukan gadis-gadis cantik di sana." Chain dengan sifat yang menyukai banyak wanita terlihat bersemangat.


"Kalau kau tidak bisa pulang karena berani-rani mendekati orang-orang itu, kau akan tahu rasa." Erphan terus menyetir sambil mengoceh.


"Kashel kau juga ingin melihat wanita-wanita cantik dan seksikan di sana?" tanya Chain mencari pembelaan.


"Aku tidak berada di pihakmu Chain, aku tidak tertarik pada siapapun kecuali, wanitaku sendiri." Kashel menatap keluar jendela.


Sepertinya aku akan melamarnya saja nanti, aku tidak ingin berlama-lama hanya menjalin hubungan tidak pasti dengannya. Apakah dia mau ya. Batin Kashel ia berencana untuk serius dengan Grizelle.


"Ah kau tidak asik Kashel." Ujar Chain, Erphan hanya menertawakannya.


"Kashel itu miliknya Grizelle kau harus tau Chain," ucap Erphan membuat Chain hanya bisa mendengus pasrah.


.


.


.