
"Ukh!" Kashel mulai sadar. Tapi saat itu ternyata keempat temannya sedang bertarung dengan jebakan-jebakan di reruntuhan itu. Ada ribuan kepiting yang datang ke arah mereka. Guardian menggunakan kekuatan airnya untuk menghancurkan kepiting-kepiting itu. Tapi setelah hancur, akan ada muncul ribuan kepiting yang lain bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Guardian yang menghadapi para kepiting-kepiting itu, hanya menggunakan satu tangannya sedangkan satu tangannya yang lain digunakan untuk menjaga Kashel agar tidak jatuh dari gendongannya.
"Aku merasa pusing," ucap Kashel saat sadar, ia merasakan guncangan yang tidak biasa.
"Aku sudah sadar, kau bisa menurunkanku." Ucap Kashel setelah ia menyadari kemampuannya tidak seperti tadi. Ia merasa jauh lebih baik sekarang.
Kashel langsung bersiap menyerang setelah diturunkan Guardian dari gendongannya.
"Kau benar-benar sudah baik-baik saja?" tanya Luan khawatir.
"Tidak ada waktu bersantai di tempat seperti ini Luan, aku harus cepat pulih." Ujar Kashel bersiap dengan pedang airnya.
Tebasan dari pedang air itu membuat makhluk yang terkena langsung membeku dan hancur berkeping-keping setelah beberapa detik.
Luan mundur beberapa langkah saat melihat Kashel menggunakan kemampuan itu takut jika ia tidak sengaja terkena pedang air milik Kashel. Bahkan Kashel sendiri nampak terkejut akan kemampuannya itu. Itu adalah kemampuan alaminya jika menggunakan kekuatan elemen air.
Sepertinya apapun elemen yang kugunakan akan berakhir menjadi menyeramkan dan bisa menghancurkan jika aku tidak menggunakannya dengan baik. Kashel membatin sambil terus bertarung.
"Jebakan ini sepertinya tidak akan berakhir jika kita tidak menemukan gerbang selanjutnya." Ujar Dirga menebak.
"Sepertinya kau benar." Ujar Kashel.
Karena ruangan itu luas dan penuh air. Guardian tidak berusaha membuat tameng air raksasa. Di saat seperti ini, ia dan Kashel tidak akan bisa menggunakan kekuatan elemen lain dengan baik, dan jika memaksakannya aliran energi sihir di tubuh mereka akan kacau dan itu akan menjadi berbahaya. Tapi tameng air juga tidak berpihak pada mereka beruntungnya ada Anna dengan elemen anginnya yang bisa dengan efektif membuat air di sekitar mereka di singkirkan dan Luan dengan elemen cahayanya membuat tameng untuk Kashel dan Dirga mencari simbol sihir untuk menghentikan serangan itu. Guardian tidak peduli dia sendiri terus bertarung menghancurkan kepiting-kepiting itu. Setidaknya biar sebentar jumlah mereka bisa berkurang.
"Luan jangan panik." Ujar Kashel, melihat Luan yang seperti merinding ketakutan.
Pekerjaan Luan biasanya tidak seberat sekarang. Biasanya jika ia bertugas kebanyakan berada di dalam tim medis dan jarang berada di garda terdepan. Hari ini ia berdiri di depan Kashel dan Dirga.
"Kashel aku ingin menjadi seperti dirimu, entah di mana kamu taruh rasa takutmu itu." Ujar Luan berusaha tetap tenang. Luan merasa ketakutan melihat ratusan ribu kepiting siluman di sekitarannya.
Kashel bingung, ingin berkata apa. Selama beberapa tahun ini meskipun dia ketakutan dan terkadang hampir mati, Kashel bisa melewatinya bahkan sebelum ia bisa benar-benar melihat Roh dengan benar. Keberaniannya terhadap melawan keberadaan Roh Kegelapan telah diasah.
"Aku tidak tahu sudah berapa kali melihat Roh Kegelapan yang lebih menyeramkan dari ini, bahkan sebelum bisa melihat Roh dengan benar." Setelah berpikir akhirnya Kashel bisa menjelaskannya.
Sambil berbicara mereka terus mencari simbol sihir yang akan membawa mereka ke jalan selanjutnya.
"Jadi dari awal kau sudah tahu, jika akan menjadi kontraktor Guardian?" tanya Dirga.
"Tidak, aku hanya tahunya karena itu tuntutan dari keluargaku yang memaksaku bekerja sebagai pembasmi Roh." Ujar Kashel menjelaskan.
Mereka menemukan tanda itu di bawah kaki mereka. Saat itu ratusan ribu kepiting, lebih memilih untuk menyerbu Kashel, Dirga, dan Luan.
"Waah! Mereka semua mengarah ke sini." Tentu saja Anna dan Guardian langsung menghalau mereka semua.
"Cepatlah!" teriak Anna.
Kashel langsung meneteskan darahnya ke simbol sihir.
Tanah bergetar lagi. Ratusan ribu kepiting itu perlahan menghilang.
"Mantra pelindung, tameng es!" Kashel berteriak dari atas ruangan itu panah-panah es tajam mulai menghantam keberadaan mereka. Tapi, Kashel sudah dengan sigap mengantisipasinya dengan baik.
"Dari mana kau tahu akan ada serangan Kashel?" tanya Anna dan yang lainnya sedang waspada takut-takut serangan itu akan menembus mantra penghalang Kashel, karena pria itu tampak kelelahan.
"Walaupun di setiap membuka kuncinya aku kelelahan, tapi aku selalu diberikan penglihatan jebakan yang akan datang setelahnya. Itu adalah bayaran dari energi sihir yang di tarik ke tempat ini. Lebih tepatnya energi sihirku yang ditarik digunakan untuk mengaktifkan jebakan-jebakan itu dan membunuh kita semua dengan sihir milikku sendiri juga." Kashel menjelaskan ia menyadarinya.
"Pantas saja setiap pintu terbuka, kita benar-benar kewalahan menanganinya. Karena ini adalah kekuatan Perbatasan," ujar Dirga memang merasakan ada kejanggalan dari serangan-serangan yang sulit dihalau itu.
"Maafkan aku teman-teman, aku baru menyadarinya." Kashel tertunduk merasa sangat bersalah.
"Kita masih selamat Kashel, kau melindungi kami dengan kekuatanmu juga sekarang." Ujar Anna.
"Benar Kashel kau sudah melindungi kami semua, tapi jika seperti itu. Nanti aku saja yang akan membuka pintu gerbangnya sampai kepada batu sihir elemen." Dirga menawarkan diri.
"Itu tidaklah mudah, akan ada banyak energi yang diambil." Ujar Kashel. "Tapi sepertinya tidak masalah karena di sini ada seorang dokter ahli yang menjaga kita." Lanjut Kashel lagi menatap Luan.
"Jadi Luan seorang dokter?" Dirga terkejut tidak percaya.
"Apakah kamu pernah dengar tentang seorang dokter sekaligus ilmuan gila?" tanya Kashel. Dirga membelalak kaget.
"Jadi dia orangnya?!" Dirga tahu.
"Kashel, kau tidak perlu menjelaskan hal yang tidak perlu, julukan itu aku tidak menginginkannya lagi." Protes Luan yang mendengarkan.
"Kau tahu banyak sekali, sebenarnya kau berasal dari cabang mana?" tanya Anna penasaran.
"Aku bekerja di Kantor Pusat." Kali ini ketiga orang itu yang terkejut.
"Tidak mungkinkan orang sepertiku dibiarkan Kantor Pusat bekerja di kantor cabang." ujar Dirga, Kashel mengangguk paham.
"Tapi kenapa kalian berdua bisa bekerja di kantor cabang dengan mudahnya. Secara teori Pusat tidak akan melepaskan orang-orang berbakat dan memiliki kekuatan yang besar." Ujar Dirga.
"Karena kami pembangkang, kau pasti tahu kantor cabang Divisi Batas Senja, aku adalah orang yang memimpin di kantor itu." Kashel menjelaskan.
Dirga benar-benar terkejut, divisi yang dianggap sampah dan tidak pernah dijelaskan bagaimana divisi yang dianggap buangan itu, dan dianggap membuang-buang anggaran pusat untuk menggaji mereka, diisi oleh orang-orang berbakat yang Kantor Pusat inginkan. Pantas saja meskipun dianggap buang-buang anggaran Divisi Batas Senja tidak pernah dibubarkan.
"Ja-jadi kalian semua dari Divisi Batas Senja!"
Mereka bertiga mengangguk mengiyakan.
"Astaga..." Dirga menutup mulutnya kehilangan kata-kata.