
.
.
"Uhuk!" Kashel terkejut karena ada orang yang menepuk pundaknya.
"Oh astaga maaf membuatmu terkejut." Itu adalah Rai sepupu Kashel yang seumuran dengannya.
"Ada angin apa kau mendekatiku?" Kashel bertanya santai. Dari semua orang yang Kashel temui hanya Rai yang tidak pernah mengucilkan dirinya atau mengganggu dirinya baik di masa depan ataupun masa lalu, meskipun ia tidak ada niat untuk membantu Kashel juga jika dalam kesulitan.
"Ah, aku lelah melawan roh-roh itu. Aku ingin tidur dan istirahat." Rai duduk di samping Kashel dan makan dengan santai.
"Emm, anu. Sejak kapan kita akrab?" tanya Kashel tidak enak jika Rai tiba-tiba bersikap seperti itu padanya.
"Huhuhu, kitakan sepupu Kashel apa tidak boleh kita menjadi akrab. Apa kau marah karena aku tidak pernah peduli padamu ketika kau diganggu. Maafkan aku," itulah kata-kata yang Rai ucapkan pertama kali saat mencoba akrab dengan Kashel. Kashel saat itu tidak yakin bahwa Rai mendekatinya dengan tulus.
"Kau orang yang aneh," gumam Kashel melanjutkan makannya.
"Karena pekerjaan ini membuatku stres Kashel, menyebalkan." Rai memakan makan siangnya dengan rakus.
Rai mendekati Kashel karena ia merasa Kashel sama dengannya. Ia tahu tugas yang didapat oleh Rainer itu tugas-tugas yang berbahaya juga, makanya Rai ingin berbagi sedikit pengalaman dengan Kashel karena kebanyakan anak-anak magang lain tidak mendapat pekerjaan yang sama dengan mereka berdua terkesan lebih mudah.
"Apakah pekerjaanmu membuatmu stres juga Kashel?" tanya Rai.
"Kurasa tidak meskipun aku sering luka-luka karenanya. Tapi bersama dengan Paman aku tidak masalah." Jawab Kashel santai, Rainer hanya mendengarkan percakapan kedua pemuda itu.
"Kau hebat, kau menikmati pekerjaanmu." Mata Rai terlihat berbinar menatap Kashel.
"Tidak perlu sampai seperti itu, kau menatapiku seperti itu menyeramkan." Kashel merasa terganggu karena Rai.
"Kuharap kita bisa akrab ke depannya." Rai berucap setelah itu ia pergi dari meja makan itu karena makan siangnya sudah habis.
"Apa kau kenal anak itu?" tanya Rainer penasaran.
"Aku tidak begitu akrab dengannya, Paman. Tapi dia adalah sepupuku." Jawab Kashel.
"Tapi kalian terlihat akrab." Rainer telah menghabiskan makan siangnya juga.
"Apakah terlihat seperti itu?" Kashel bertanya bingung.
"Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Rainer.
"Tidak Paman, aku tidak benci dia. Aku senang bisa akrab dengan salah satu keluargaku." Kashel terlihat tersenyum tulus.
"Aku tidak menyangka jika dia mau-mau saja dekat denganku." Ucap Kashel lagi kali ini menatap Rainer, pria itu hanya diam saja. Rainer merasa bangga Kashel sedikit lebih berkembang dari sebelumnya yang terkesan seperti orang yang sangat kaku.
.
.
.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Tidak terasa sudah satu tahun Kashel menjadi rekan Rainer, Kashel sudah menjadi orang yang lebih berani dengan Roh Kegelapan lebih daripada sebelumnya. Setidaknya bisa untuk menjaganya dirinya sendiri.
Sampailah ketika ia mendapat tugas baru yang lebih sulit dari Guardian.
.
.
.
"Misi kali ini, adalah misi pribadi dariku. Aku ingin kalian mencari pedang cahaya Rainer." Ucap Guardian yang berbicara pada Rainer.
"Di manakah keberadaan pedang cahaya itu kira-kira, Tuan?" tanya Rainer menatap Guardian.
"Di benua Barat yang dijaga oleh Kesatria Cahaya, kalian hanya perlu berjalan ke arah barat." Jelas Guardian, ia tidak menunjukkan tempatnya secara jelas.
"Aku sudah terkontaminasi oleh kegelapan Rainer," jawab Guardian. Ia menatap Kashel yang tertidur lelap setelah selesai menjalankan misi, seperti biasanya ia telah kehabisan tenaga.
"Hanya kau dan anak itu yang bisa mengambil pedang itu." Ucap Guardian lagi.
"Bagaimana jika kami tidak sanggup?" Rainer masih merasa tidak yakin.
"Selama makhluk dari Dunia Cahaya ingin kedamaian, makhluk penjaga itu pasti mengerti tetapi jika aku yang datang ke sana itu hanya akan membuat kekacauan Rainer." Jelas Guardian.
"Kau tahu, di dalam diriku kegelapan telah menanamkan pedangnya di sini." Guardian menunjuk dirinya sendiri. Alasan mengapa The Borders perlahan dilahap kegelapan salah satunya adalah karena adanya pedang kegelapan di dalam dirinya. Rainer terkejut ketika mengetahui fakta itu.
"Saya akan pergi mencarinya Tuan." Rainer langsung menerimanya tanpa bertanya lagi, jika ada kegelapan yang kuat di dalam diri Guardian, ia harus dengan cepat menemukan penyeimbang kegelapan itu yaitu pedang cahaya.
Pedang cahaya terbentuk oleh energi tulus dan murni dari hati manusia, tidak ada kebencian dalam terbentuknya pedang itu. Bersama pedang itu Kesatria Cahaya lahir dan berubah menjadi penjaganya. Tapi makhluk itu tidak akan membiarkan orang dengan hati kotor mengambilnya.
Jika Naga Cahaya sampai marah kegelapan akan menguat dan bisa membahayakan dunia, makanya Guardian lebih baik mengutus Rainer dan Kashel sebagai perwakilan dari Dunia Cahaya untuk menjaga dari marahnya Kesatria Cahaya.
Guardian mencari pedang itu ingin menyeimbangkan kegelapan kuat yang ada di dalam dirinya, menyeimbangkan kekuatan pedang kegelapan yang ada di dalam dirinya dengan pedang cahaya. Guardian tidak menyadari dalam pertarungannya selama ini dengan kegelapan, ternyata dirinya telah ditanamkan pedang kegelapan tanpa sepengetahuannya.
Untuk sekarang bahkan jika mengikat kontrak dengan Kashel pun itu tidak akan bertahan lama. Meskipun Kashel kuat, tapi Lyam ia pasti akan berpindah haluan mengikuti jalan kegelapan karena pengaruh kegelapan itu.
Makanya Lyam butuh pedang cahaya, untuk mempertahankannya agar tidak menjadi musuh manusia dan agar tetap berada di jalan keadilan.
.
.
.
Kashel sudah bangun dari tidurnya dan kali ini Kashel sedang menyiapkan sarapan pagi mereka. Rainer terlihat sibuk di depan laptopnya sambil memangku laptop itu di pangkuannya menulis laporan. Ia belum menceritakan pada Kashel bahwa mereka akan pergi ke benua Barat beberapa hari lagi untuk mencari pedang cahaya.
Tugas ini dilakukan tanpa sepengetahuan dari Kantor Pusat, dan Rainer sedang menyiapkan alasannya untuk mengambil cuti beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan, yang mendanai kepergian mereka berdua adalah Guardian.
Jadi mereka berdua tidak perlu khawatir kelaparan karena pergi ke tempat jauh tanpa memiliki bekal apa-apa. Guardian tidak bisa mengantar kepergian mereka secara langsung ke tempat tujuan karena itu akan mempengaruhi sang penjaga pedang. Kegelapan pada Lyam akan mempengaruhi, penilaian sang Kesatria Cahaya pada Kashel dan Rainer jika mereka nekat mengikuti jalan yang dilalui oleh Guardian. Bisa-bisa mereka akan dianggap bekerja sama dengan kegelapan.
"Paman, sarapannya sudah siap." Kashel sudah duduk duluan di meja makan kecil di dalam kamar itu menunggu Rainer untuk makan bersamanya.
Mendengar ajakan Kashel, Rainer menghentikan pekerjaannya sejenak menaruh laptopnya ke samping dan bergegas ke meja makan.
"Wah ada acara apa ini, banyak sekali kau masak untuk sarapan Kashel." Rainer memperhatikan menu makanan pagi itu.
"Aku hanya merasa sangat segar, Paman. Makanya bisa masak makanan ini." Jelas Kashel.
"Ini enak, kau benar-benar hebat dalam memanjakan lidah Pamanmu ini." Rainer memuji masakan Kashel setelah mencicipinya. Sudah lama Rainer mengetahui Kashel pandai memasak, jadi mereka sedikit mengurangi gaya hidup mereka yang suka makan-makanan cepat saji di luar sana.
"Paman mau tambah?" Kashel memberikan lauk tambahan pada Rainer yang terlihat sangat menikmati makanan itu. Sedangkan Kashel makan dengan lahap juga di sampingnya.
"Aku kenyang!" Rainer menyandarkan dirinya ke kursi, ia merasa hidup lagi. Tanpa mengeluarkan banyak uang ia bisa makan-makanan yang enak juga pada akhirnya.
.
.
.
Setelah Kashel membereskan meja makan dan membersihkannya. Rainer terlihat menatap Kashel serius ingin berbicara sesuatu.
"Kashel ada yang harus aku bicarakan denganmu." Ujar Rainer dengan tampang seriusnya.
"Apa itu, Paman?" tanya Kashel.
"Kita akan menjalankan misi berbahaya Kashel, mencari pedang cahaya ke benua Barat. Apa kau bersedia ikut denganku?" tanya Rainer, Kashel meneguk ludahnya takut tetapi kemudian ia mengangguk mengiyakan.
"Aku akan ikut ke mana pun Paman pergi." Ujar Kashel merasa telah yakin.