
Kashel yang tidak tega dengan Freda yang terluka, langsung buru-buru kembali ke kantor dan mengantar Freda ke ruang perawatan kantor tersebut. Tapi saat akan pergi menemui Grizelle, Freda memegang tangannya.
"Ada apa?" tanya Kashel.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Freda wajahnya terlihat memerah.
"Cepat katakan Freda, aku ada urusan." Kashel terlihat mendesak Freda, sekarang tidak ada waktu untuknya berbasa-basi dengan orang lain.
"Maafkan aku Kashel, aku tahu kau memiliki kekasih. Tapi aku ingin mengatakan tentang perasaanku padamu, aku mencintaimu Kashel." Freda mengutarakan perasaannya sambil memegangi tangan Kashel erat.
"Bersamalah denganku," ucapnya lagi.
"Maafkan aku, aku tidak bisa. Sudah ada orang yang mengisi kekosongan di hati ini dan kau sudah tahu dia siapa." Kashel melepaskan tangan Freda perlahan.
"Apa kau tidak ingin bersama denganku karena ia orang yang pertama kau temui dan baik padamu? Jika seperti itu mengapa kau tidak berpikir jika seandainya akulah orang pertama yang kau temui?" Freda tahu sedikit tentang masa lalu Kashel yang menyedihkan dari cerita teman-temannya. Grizelle adalah wanita pertama yang perduli pada keadaan Kashel dan selalu ada di sisinya.
Sehingga Freda menganggap cinta Kashel pada Grizelle hanya karena sebuah ketulusan palsu belaka, akibat pertemuannya yang tepat ketika Kashel membutuhkan perhatian seseorang.
"Aku benar-benar mencintainya Freda, entah itu dipertemukan di bagian mana pun di masa depan atau masa lalu, ia gadis yang berbeda. Bahkan aku sendiri pun tidak akan merelakannya jika ia bersama dengan orang lain." Ia melihat bagaimana Grizelle yang selalu tersenyum padanya, menahan rasa khawatirnya karena pekerjaan Kashel.
"Ia satu-satunya orang yang tahu tentangku Freda," jelas Kashel
"Dan orang yang aku percaya untuk menjadi tempatku berkeluh kesah." Kashel berucap sambil tersenyum ia memikirkan Grizelle saat itu.
"Ya aku tahu maafkan aku, membuat wanita itu salah paham." Freda berusaha mengikhlaskan Kashel, ia sadar tidak bisa memaksakan perasaannya pada Kashel yang benar-benar tulus menyayangi Grizelle.
.
.
.
"Kau mau kemana Kashel?" Lyam menegur Kashel saat melewati pintu keluar kantor itu. Lyam sepertinya memang sedang menunggunya di luar kantor.
"Aku mau menemui Grizelle." Jelas Kashel sambil terus berjalan.
"Kau lebih pantas bersama dengan Freda Kashel, dia yang lebih cocok bersanding denganmu." Lyam berucap, ia mendukung hubungan Kashel dan Freda sedari awal.
"Sudah kubilang jangan ikut campur urusan pribadiku!" Kashel membentak Lyam.
"Kau harus tahu kau siapa Kashel kau bukan manusia biasa lagi, orang yang berada di sisimu harus lebih kuat juga." Lyam terus mengoceh tentang pendapatnya.
"Kekuatan, kekuatan apanya!" Kashel benar-benar marah kali ini.
"Jika saja dengan membencimu aku bisa mencapai tujuan hidup yang aku inginkan dan menghilangkan kekuatan ini, maka aku akan membencimu dengan sepenuh hati." Kashel berkata dingin, ia benar-benar marah pada Lyam saat itu. Kemarahan itu bahkan sampai ke perasaan Lyam sendiri, membuat Lyam terdiam karenanya.
"Lyam mulai sekarang dan seterusnya aku perintahkan kau jaga Grizelle seperti kau menjaga diriku, tanam itu baik-baik dalam kepalamu." Perkataan Kashel benar-benar tegas, Lyam bahkan tidak bisa menentang perkataan itu, Kashel mengucapkannya dengan sepenuh hatinya.
"Baik." Hanya jawaban itu yang dapat keluar dari mulut Lyam. Perintah yang Kashel buat kali ini begitu mutlak untuknya.
Akhirnya Lyam bisa sedikit memahami perasaan Kashel pada gadis itu yang tidak bisa dipermainkan sama sekali, seperti apa yang dipikirkannya. Perasaan manusia jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan.
Kashel pun menemui Grizelle kembali setelah itu.
.
.
Namun, karena Grizelle yang marah padanya malam itu, ia tidak mau menemui Kashel sama sekali. Meskipun Kashel menelponnya berkali-kali.
Zelle, tolong keluar aku mau bertemu denganmu?
Sebuah pesan teks masuk di ponsel Grizelle. Beruntungnya Grizelle selalu memperhatikan ponselnya, sehingga tahu apa yang dilakukan oleh pria itu.
Sebaiknya kau pulang Kashel, bukankah berbahaya untukmu berada di luar saat malam seperti ini.
Grizelle tahu semua tentang Kashel. Ia tidak ingin berbasa-basi juga, ia terlalu kesal untuk saat ini.
Pulanglah aku tidak mau bertemu denganmu, aku juga tidak mau jika kamu dalam bahaya.
Grizelle terus mengirim pesannya. Tidak ingin membiarkan pria itu terluka.
TOK! TOK!
Tiba-tiba suara jendela kamar Grizelle ada yang mengetuk Grizelle cukup terkejut karena hal itu, sempat membuat Grizelle tersentak kaget.
Grizelle langsung membuka jendelanya, saat tahu itu siapa dan sudah jelas itu pasti Kashel. "Kan aku sudah bilang kau sebaiknya pulang kenapa malah ke sini?" tanya Grizelle menahan emosinya agar tidak membuat keributan ia membuka jendelanya, menahan suara agar tidak nyaring dan didengar oleh tetangganya.
Kashel dengan santai ingin masuk lewat jendela, ia juga tidak berkata apa-apa. Pokoknya saat itu ia bersikap tidak tahu malu karena Grizelle yang marah padanya.
Tentu saja Grizelle langsung melarangnya. "Sebentar biar aku keluar." Grizelle langsung pergi keluar kamarnya. Orang tua Grizelle malam itu kebetulan tidak ada di rumah juga.
Walaupun sebenarnya, Kashel sudah kenal akrab dengan orang tua Grizelle, dan diperlakukan seperti anak sendiri. Tapi karena Grizelle yang marah padanya membuat Kashel harus menemuinya melalui jendela, karena jika lewat pintu depan Grizelle tidak akan membukakannya.
"Kenapa kau datang ke sini?" Grizelle berbicara pada Kashel dengan tampang tidak bersahabat. Setelah keluar dari pintu rumahnya.
"Kau marah padaku?" tanya Kashel, pura-pura tidak mengerti.
"Ya!" Jawaban Grizelle singkat membuang wajah ke lain arah. Karena mau semarah apapun ia pada Kashel, ia masih ingin memaafkannya. Grizelle tidak bisa benar-benar marah pada Kashel karena hatinya.
"Maafkan aku, karena aku tidak bisa memahami perasaanmu." Kashel tertunduk merasa bersalah. Grizelle hanya diam saja menanggapinya.
"Kau tidak apa-apa di sini?" Grizelle malah memikirkan hal lain, ia khawatir pada Kashel. Ia tidak ingin Kashel diganggu oleh Roh Kegelapan itulah yang Grizelle tahu, jika Kashel jauh dari kantor tanpa Lyam.
"Kembalilah ke kantormu." Pinta Grizelle pada Kashel. Wanita itu tidak tega.
"Aku tidak mau, aku ingin berbicara empat mata denganmu." Ucap Kashel tegas, ia ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini tidak perduli apapun yang akan terjadi pada dirinya.
"Hais, aku ingin marah padamu hari ini tapi ketika melihat wajahmu aku malah tidak bisa marah." Grizelle memijat dahinya, memikirkan betapa ia mencintai pria itu. Ia mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan jelas.
"Ayo mengobrol di sana di kantormu, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa jika kau berada di sini," Kashel ingin memeluk Grizelle setelah itu dan Grizelle mendorongnya menjauh.
"Aku masih marah padamu," Grizelle berucap lagi, Kashel memasang wajah cemberutnya.
.
.
.