
"Hah! Hah!" Kashel tiba-tiba tertunduk memegang dadanya di tengah padang rumput sendirian. Ia baru saja muncul dari portal yang ia buat, kabur dari lokasi munculnya Portal Perbatasan yang sudah ia hancurkan sebelum Lyam menemukan dirinya.
"Ukh!" Kashel terbaring di padang rumput itu sambil memegang dadanya kesakitan.
Kegelapan ini, mulai mempengaruhi jiwa The Borders juga. Tidak bisa aku malah menyerang jiwa yang berbeda ini. Pikir Kashel.
"Hahaha, benar-benar licik. Tidak akan mudah untukku dikendalikan karena aku adalah diriku sendiri." Kashel bergumam.
"Tapi ini menyakitkan," ujar Kashel mengeluh berusaha berdiri. Ia merasa sesuatu yang berada di dalam dirinya itu gelap sampai Kashel tidak bisa melihat apa-apa kecuali mata The Borders yang merah menyala menatap tajam ke arahnya.
"Aku masih dalam keadaan sadarku ini sudah menjadi sebuah keajaiban." Wajah Kashel tampak pucat, ia berjalan dan membuka portal kembali ke tempat tinggalnya, pulang.
Walaupun kegelapan ada di dalam diri Kashel sekarang, Lyam tidak bisa juga menemukannya karena kendali sepenuhnya masih berada di tangan Kashel, dan kegelapan yang datang kepada Kashel ini adalah karena hubungannya dengan Guardian. Berbeda dengan sihir kegelapan dari luar yang tersentuh oleh Kashel, selama sihir itu berhubungan dengan pedang kegelapan Lyam bisa merasakan keberadaannya, jika Kashel terhubung dengan kegelapan secara langsung.
.
.
.
BRUK!
Kashel muncul dari portal dalam keadaan terjatuh saat itu Grizelle tepat berada di depan mansion sedang bersantai bersama Anna dan Meila. Melihat siapa yang jatuh terjerembab, Grizelle langsung berdiri dan berlari menghampiri Kashel, dan langsung membopongnya. Anna dan Meila hanya saling bertatapan bingung, karena Kashel yang tiba-tiba pulang.
"Apa yang terjadi?" tanya Grizelle membaringkan Kashel tampak dipenuhi oleh peluh.
"Aku kangen padamu," ujar Kashel tersenyum, membuat Grizelle merona malu. Anna dan Meila yang mendengar hal itu langsung keluar dan menutup pintu dengan pelan tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka berdua.
Kashel melangsung menarik Grizelle ke dalam pelukannya. Dan memeluknya erat.
"Kau baik-baik sajakan?" tanya Grizelle mengelus kepala Kashel lembut pria itu mendekap dan menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
"Maafkan aku seperti memanfaatkan dirimu." Ujar Kashel merasa bersalah, ia merasa bersalah karena pulang ketika hanya membutuhkan istrinya untuk menenangkan emosinya.
"Tidak usah memikirkan itu, jika aku adalah obat untukmu. Aku akan siap menjadi obat untukmu Kashel." ujar Grizelle memeluk Kashel erat, ia sangat menyayangi Kashel.
Mungkin karena perasaan murni Grizelle, kegelapan yang ada di dalam tubuh Kashel mulai menghilang dan lenyap. Kashel merasa perasaannya sedikit lega dan kemudian ia mulai tertidur dengan pulas.
Kashel tertidur seharian dengan memeluk Grizelle erat sampai akhirnya ia terbangun.
.
.
.
"Jadi ke mana lagi kau akan pergi?" tanya Grizelle sambil menyiapkan makanan untuk Kashel sebelum pergi.
"Di mana pun kegelapan muncul." Ujar Kashel memakan makanannya lahap sedangkan Grizelle yang berdiri di dekatnya mengelus kepala Kashel seperti anak kecil. Setelah selesai sebelum berangkat Kashel mencium kening Grizelle sayang.
"Jaga dirimu baik-baik! Jika kau butuh aku, pulanglah!" Grizelle melambaikan tangannya pada Kashel. Pria itu melambai balik sambil tersenyum. Di malam hari yang dipenuhi oleh bintang di malam itu, Kashel dan Grizelle berpisah dengan senyuman di antara mereka.
Kashel menghilang dengan cepat setelah ia merasakan ada Portal Perbatasan yang muncul.
.
.
.
Apakah sudah hilang. Pikir Kashel merasa bingung. Jangan-jangan ini jebakan lagi. Kashel langsung was-was dengan sekitarnya.
"Aku baru saja, lepas dari belenggu kegelapan." Protes Kashel bergumam. Di tangan kanannya telah memegang pedang cahaya yang siap ia hunuskan kapan saja.
TRING!
TRANG!
PRANG!
Kashel melompat dengan lincah sambil menghindar dari berbagai macam jebakan senjata tajam yang banyak datang ke arahnya.
SYUT!
Satu anak panah lewat di samping pipi Kashel dan tertancap di batang pohon, panah itu benar-benar meleset. Kashel menghindarinya dengan sangat tenang. Saat ini Kashel tidak ingin menggunakan emosinya untuk menghadapi orang-orang yang berasal dari Sekte Sihir Hitam.
Aku harus tenang. Batin Kashel, ia tidak ingin dikuasai oleh emosinya sama sekali. Agar tidak pengaruhi oleh kegelapan.
Kashel langsung menghilang saat merasa di sana hanyalah sebuah jebakan belaka.
"Mereka mulai bisa mengendalikan Portal Perbatasan." Gumam Kashel berjalan sendirian di tengah malam itu.
"Batu kristal hitam itu, berapa besar sebenarnya batu itu." Gerutu Kashel, ia merasa kesal. Kemudian menendang batu di dekatnya batu itu mengenai batang pohon dan batang pohon berlubang karena batu yang Kashel tendang.
Kekuatanku sampai tidak terkontrol. Batin Kashel ia juga sampai terkejut karena hal itu. Ia tidak bisa membayangkan jika tadi batu itu mengenai orang.
Kashel merasakan ada energi kegelapan kuat tidak jauh darinya. Dan langsung datang ke arah energi gelap itu. Itu adalah badai kegelapan.
Kashel langsung membuat pijakan angin untuk menghancurkan inti hitam. Kashel tidak bisa membiarkan badai kegelapan itu membuat kerusakan dan membahayakan nyawa orang lain.
Kashel tidak menyangka jika kali ini orang yang menghadangnya adalah Lyam.
"Hei kau Lyam! Ingat tugasmu, bukankah dulu pekerjaanmu membasmi badai kegelapan ini!" teriak Kashel. Ia menghindari setiap serangan gelap yang di tembakan ke arahnya.
Jika berhasil kena Kashel menebas kegelapan itu dengan pedang cahaya miliknya. Kashel tidak ingin memperdulikan Lyam karena Kashel tidak akan bisa mengalahkan Lyam atau pun sebaliknya.
Kashel memfokuskan dirinya untuk menghancurkan inti hitam, tidak perduli dengan Lyam. Lyam juga sebenarnya tidak tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap Kashel, ia tidak bisa membunuh Kashel karena jika ia membunuh Kashel, ia juga akan mati.
Namun, Lyam yang sekarang tidak akan segan-segan membunuh orang. Dan ia ingin membuat Kashel berada di samping.
Aku manusia, dan aku punya perasaan sendiri. Meskipun kegelapan mempengaruhi dengan kuat, tapi cahaya yang ditanamkan di hatiku lebih alami dibandingkan perasaan yang dibuat-buat untuk mencuci otakku. Pikir Kashel setelah ia beberapa kali menerima serangan kegelapan Lyam.
Serangan pertama dihalau oleh Kashel dengan mantra pelindungnya dan serangan berikutnya menghancurkan mantra pelindung Kashel bagi Kashel serangan itu sangat kuat, karena biar bagaimanapun Kashel adalah serangan The Borders juga, energi dari tubuhnya bukanlah tandingan The Borders. Dan serangan ketiga tepat mengenai Kashel sehingga Kashel tampak terbakar oleh api hitam.
Di tengah kegelapan merasuki dirinya Kashel langsung menebas inti hitam dan menghancurkannya. Kashel turun dengan pelan ke tanah dan berjongkok Kashel berusaha menenangkan diri.
"Hei! Hei! Santailah." Ujar Kashel saat melihat Lyam akan menyerangnya lagi dengan kegelapan untuk mempengaruhi Kashel.
Saat Lyam menyerangnya Kashel sempat menghalau serangan itu dengan pedang cahaya. Asap kegelapan yang menyelimuti Kashel mulai menghilang. Kashel sedang mikirkan caranya untuk lari sekarang, jika terus-terusan terkena serangan energi hitam Kashel akan benar-benar kehilangan kesadarannya juga.