The Borders

The Borders
Bagian 16 – Kebenaran tentang Lyam



Sudah beberapa hari Lyam menghilang tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Kashel mengambil alih seluruh tugas kantor, ia tidak sempat juga memikirkan ke mana Lyam pergi sangking sibuknya. Akhir-akhir ini banyak laporan tugas yang masuk ke kantornya. Belum lagi ia harus menangani klien yang meminta bantuan pada divisinya.


Pada akhirnya saat waktu senggang Kashel sempat untuk memikirkan Lyam. Ia merasa kesulitan karena rekannya yang biasanya mengerjakan pekerjaan laporannya tidak pulang-pulang.


Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya. Bukannya aku seharusnya senang jika dia tidak kembali sekalian. Batin Kashel menyangkal. Tapi tidak memungkiri ia tetap merasa khawatir pada Lyam.


.


.


.


Namun tiba-tiba Kashel yang tengah berjalan di ruangan kantornya berniat ingin keluar langsung terjatuh tubuhnya bergetar.


Kyler yang satu ruangan dengan Kashel terkejut dan langsung membantunya berdiri dan mendudukkan Kashel di sofa terdekat.


"Kau tidak apa-apa ketua?" tanya Kyler panik, melihat Kashel yang bergetar sambil mengeluarkan keringat dingin. Kashel tidak bisa fokus dengan apa yang Kyler katakan, ia tidak mendengar apapun.


Sesak, perasaan apa ini. Sudah kuduga Lyam tidak baik-baik saja. Kenapa pula Lyam pergi tanpa mengatakan apapun. Batin Kashel ia memegang dadanya yang terasa sesak, tapi tidak lama kemudian perasaan Kashel mulai membaik.


"Kau tidak apa-apa?"


Sebuah suara masuk ke dalam kepala Kashel membuatnya terkejut dan menyentuh kepalanya dengan satu tangan. Kyler masih panik dan bingung dengan sikap Kashel.


"Tidak apa-apa, tapi kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak baik-baik saja! Perasaan gelap apa barusan itu?" Kashel mengomel dalam kepalanya, meminta penjelasan.


"Jika aku membawamu juga ku yakin kau akan langsung menolaknya,"


"Tentu saja aku tidak akan ikut." Kashel langsung menjawab dengan penolakan yang tegas.


"Aku pergi menenangkan diri. Aku akan segera kembali." Lyam berkata tanpa menjelaskan apapun, pikiran mereka pun berhenti terhubung setelahnya.


Kenapa tadi rasanya begitu gelap, apa sebenarnya yang terjadi. Kashel menyandarkan dirinya di sofa sambil menarik nafas lega. Kyler datang membawakannya air minum.


"Ketua minumlah, apa kau baik-baik saja?" Kyler bertanya lagi ia masih khawatir.


"Terima kasih, aku tidak apa-apa." Kashel menerima air minum yang diberikan oleh Kyler dan meminumnya. Kyler pun setelah itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Kyler tidak banyak bertanya, meskipun Kashel tidak menjelaskan apapun padanya. Kyler pikir ketuanya hanya kelelahan saja karena kurang istirahat.


.


.


.


Terlihat Lyam yang berdiri di atas sebuah pilar putih raksasa. Pilar itu melayang di udara di tempat yang hanya terlihat langit di sekelilingnya namun berbeda dengan langit pada umumnya langit di tempat itu dipenuhi oleh warna-warni yang abstrak walaupun didominasi oleh warna hitam, tempat ini adalah dunia perbatasan.


Tempat yang berada di antara Dunia Manusia dan Dunia Roh yang dipenuhi oleh keseimbangan gelap dan terang. Tempat di mana Guardian menenangkan diri jika terjadi sesuatu pada tubuh dan jiwa mereka. Tempat asal dari The Borders sebelum terlihat di mata manusia, wilayah yang tidak bisa didatangi oleh siapapun selain mereka yang punya hubungan erat dengan The Borders.


Lyam membuka portal dan melewatinya, Kashel yang berada di kantornya juga merasakan sebentar lagi Lyam akan benar-benar kembali. Ia bisa merasakan Lyam melewati sebuah portal yang ia buat.


Dan sebenarnya Kashel sudah tahu ke mana Lyam pergi sebelumnya tanpa mengatakannya sekalipun pada Kashel, karena Kashel tahu hanya tempat itu bagi Guardian untuk menenangkan diri, setelah Kashel mendengar alasan Lyam.


Kashel bisa merasakan apapun yang muncul melalui Portal Perbatasan, tapi perasaan yang Kashel rasakan tidak seperti ketika ia melalui portal yang ia buat untuk dilalui dirinya sendiri. Perasaan itu tidak begitu mengganggunya tapi cukup untuk Kashel tahu saja.


.


.


.


Setelah diciptakan, Lyam diberikan nama oleh seorang wanita yang merupakan istri dari Kendrick. Wanita itu memberikan Guardian nama Lyam Raymond.


Lyam menggunakan nama itu ketika Lyam mengubah identitasnya menjadi manusia biasa. Dan orang memanggilnya Guardian ketika Lyam bersikap serius sebagai wujud kesadaran dari The Borders.


Sejak diciptakan Lyam tahu jika, di dalam tubuhnya terdapat kegelapan yang sedang melahapnya secara perlahan dan Lyam memerlukan seseorang untuk dijadikan wadah jiwanya. Karena Lyam tahu, Lyam tidak bisa melakukan semuanya sendirian.


Lyam hanya tahu, tujuannya diciptakan untuk menjaga keseimbangan dua dunia. Agar dunia tidak hancur akibat ketidakseimbangan itu.


Selama Lyam hidup, Lyam tidak akan pernah membiarkan Roh Kegelapan menjadi kuat dan mengganggu ketentraman hidup manusia biasa yang tidak tahu apa-apa, dan lagi-lagi tujuannya hanyalah melindungi keseimbangan dua dunia, tanpa alasan apapun.


Lyam tidak tahu tentang perasaan manusia ataupun roh kegelapan, meskipun Lyam menjadi penyeimbang di antara mereka, Lyam tidak mengerti apa-apa.


Di sini yang ia tahu karena kekuatan gelap menguat dan mengganggu Dunia Cahaya. Maka seorang yang harus menjadi wadah jiwanya, harus dari kalangan makhluk dunia cahaya yaitu manusia. Tentu saja tujuan akhirnya untuk menjaga keseimbangan itu.


Lyam terus mencarinya selama beratus-ratus tahun, dengan terus mempertahankan agar kegelapan tidak melahap keberadaannya. Meninggalkan keluarga Kendrick yang ia jaga dan terus mencari manusia yang cocok untuk dijadikan wadah jiwa.


Lyam tahu jika ia melakukan hal itu, suatu saat Lyam juga akan mati seperti wadah dari jiwanya yang merupakan manusia.


Tapi mau tidak mau Lyam harus melakukannya untuk keseimbangan dua dunia dan jika tidak melakukannya Lyam juga akan tetap lenyap karena ditelan kegelapan.


Selama beratus-ratus tahun Lyam bertemu dengan berbagai macam manusia, tapi Lyam tidak pernah mengerti perasaan manusia. Dalam hatinya tetap hanya ada perasaan yang kosong namun ia tidak pernah sama sekali ingin memikirkannya.


Lyam selalu menguji coba kekuatannya pada orang-orang yang dirasa memiliki kecocokan dengan kekuatannya.


Tapi pada akhirnya mereka ada yang menjadi gila dan tidak terkendali, atau paling tidak hanya sampai tidak bisa menerima kemampuan itu lebih banyak lagi atau mereka akan hancur dan mati.


Di tengah-tengah kekuatan gelap yang terus menyebar di dalam tubuhnya. Lyam memutuskan untuk mencoba menjadi seorang murid di Akademi Spiritual mencoba memahami perasaan manusia. Makhluk dari dunia cahaya, untuk mencari cahayanya sendiri.


Hanya sekedar mencoba-coba menjadi manusia biasa, tapi tidak sengaja ia bertemu kembali dengan anak kecil yang dulunya pernah ia berikan sebuah buku.


Dari awal Lyam bertemu dengannya ia sangat tertarik melihatnya, matanya yang hitam kelam penuh dengan kekosongan. Seolah ada ruang tidak terbatas dalam tubuhnya.


Ia kebetulan terkenal di Akademi Spiritual karena kemampuan mantra pelindung kuat yang ia miliki. Lyam sebenarnya hanya ingin mencoba kemampuannya yang terkenal itu. Kemampuan mantra tanpa energi sihir, tapi menggunakan energi dari tubuhnya sendiri, melalui darah yang ia teteskan pada sebuah kertas mantra.


Yang pada akhirnya tidak sengaja menemukan orang yang dicarinya selama beratus-ratus tahun lamanya, takdir membimbing Lyam pada sebuah ketidaksengajaan. Mungkin Lyam tidak akan bertemu dengannya lagi jika ia tidak masuk di Akademi Spiritual saat itu.


Jika itu Lyam yang beratus-ratus tahun lalu, ia akan langsung menjadikannya wadah jiwanya tanpa memberikannya batas waktu sekalipun.


Tapi setelah mengintip perasaan Kashel, perasaan yang tidak pernah Lyam rasakan. Keinginan kuat milik Kashel, perasaan manusia.


Lyam bisa merasakan perasaan Kashel ketika kekuatan Lyam dan mantra milik Kashel beresonansi. Kashel yang memohon ampun karena merasakan kekuatan besar sekaligus kegelapan milik Lyam. Tapi Lyam merasakan kehangatan dan cahaya yang tulus dari hati Kashel.


Kegelapan yang ada pada dirinya memudar tidak seperti sebelumnya, mungkin karena diserap oleh perasaan kuat yang dimiliki oleh Kashel ketika kekuatan mereka beresonansi.


Setelah mengetahui hal itu, dan mendapati Kashel yang marah padanya bahkan Kashel tahu ia bukan manusia. Lyam menghilang setelahnya bermaksud memberikan Kashel waktu menjalani kehidupannya sebagai manusia biasa seperti yang ia inginkan.


Karena pada akhirnya Kashel akan memiliki takdir yang berbanding terbalik dengan apa yang ia mau untuk hidupnya sendiri.


Setelah merasakan perasaan yang dimiliki Kashel, Lyam sebenarnya tidak tega jika harus memaksa pemuda itu menjadi bagian dari dirinya. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain menjadikan Kashel wadah jiwanya karena kegelapan tetap melahap dirinya secara perlahan dan itu akan mengacaukan semuanya.


Kashel pun pada akhirnya dipaksa untuk menjadi wadah jiwanya pada akhirnya. Dari sebelum itu Lyam sudah bersumpah untuk setia mengikuti Kashel ke mana pun, mendukungnya dalam hal apapun.


Apapun jalan yang Kashel pilih, ia akan terus mengikutinya entah itu jalan kegelapan atau cahaya. Walaupun seharusnya setelah menemukan wadah jiwanya mereka harus tinggal di perbatasan untuk menjaga keseimbangan di sana.


Tapi Lyam memilih untuk mengikuti Kashel kemanapun. Ia percaya dengan kemampuan Kashel, pada akhirnya ia bisa menjaga keseimbangan dua dunia tanpa harus mengorbankan apapun lagi.


.


.


.


Lyam sudah sampai di depan Kantor Divisi Batas Senja. Ia membuka pintu dan masuk ke sana. Menemukan teman-teman Kashel ia merasakan kehangatan di sana, yang sebelumnya yang ia rasakan di dalam dirinya hanyalah sebuah ruang kosong yang gelap.


"Kau sudah kembali, selamat datang." Kashel menyambut Lyam. Dan Lyam hanya mengangguk dingin seperti biasanya.


"Aku butuh penjelasan!" Kashel langsung mengomel pada Lyam setelah itu, kejadian tadi benar-benar mengganggunya.


"Baca pikiranku." Jawaban singkat Lyam yang menohok Kashel, Kashel tidak akan pernah melakukannya karena ia benci pikirannya terhubung dengan orang lain.


Lebih baik Kashel tidak tahu daripada harus melakukannya.


Lyam tidak akan menceritakannya, selain Kashel sendiri yang mencari tahu. Sebenarnya saat Kashel mengamuk karena amarahnya kegelapan yang sudah memudar mulai melahap Lyam kembali.


Jadi ia langsung buru-buru untuk menenangkan diri, karena kalau tidak ia yang akan mengamuk dan Kashel sudah pasti terpengaruh karenanya. Seperti sebelumnya ketika ia menyingkirkan kegelapan itu Kashel langsung merasakannya.


Kashel sebenarnya tahu, jika dirinya dijadikan wadah jiwa untuk menenangkan kegelapan yang ada di dalam diri Lyam. Kashel sebenarnya menyangkalnya berkata ia tidak bisa, tapi Lyam hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis. Karena jika Kashel tidak bisa sudah lama ia mati, atau paling tidak kehilangan perasaannya sebagai manusia.