
Sekarang Kashel dan Lyam sudah berdiri di depan Kantor Pusat The Borders Organization, kantor yang terdiri dari 12 lantai dan memiliki puluhan ruang kerja yang luas. Meskipun pekerjaannya selama seminggu penuh ini ada di lapangan, tapi setelah tugas selesai mereka harus kembali ke Kantor Pusat setelahnya.
Bisik-bisik mulai terdengar saat Kashel dan Lyam memasuki Kantor Pusat.
"Hei itu bukannya si Kendrick yang gagal?"
"Dia masih hidup rupanya."
"...."
Banyak pembicaraan yang lewat melalui telinga Kashel.
Aku masih mendengar semuanya. Pikir Kashel, tidak menyangka indera pendengarannya yang dipertajam bisa membuat Kashel tidak enak hati karena ternyata ada banyak orang yang membicarakannya diam-diam.
Kashel langsung dipandu ke ruangannya sesaat sudah menyerahkan surat administrasi tentang tugasnya sekarang.
Ruangan kerja Kashel ada di lantai 6. Di departemen ini ada banyak orang-orang yang tidak mengenal Kashel dan super sibuk dengan pekerjaan mereka.
Sepertinya ruangan ini dikhususkan untuk orang-orang dari kantor cabang yang ditugaskan di Kantor Pusat. Kashel baru memahami ini.
"Kashel!" Dirga menyambut kedatangan Kashel.
"Dirga!" seru Kashel tidak percaya ia akan bertemu dengan Dirga di sini.
"Wah aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Dirga menyalami Kashel akrab.
"Kenapa kau ada di departemen ini?" tanya Kashel penasaran.
"Ah aku yang bertanggung jawab atas departemen ini sekarang dan seminggu ke depan." Ujar Dirga.
"Aku akan menjadi atasanmu." Gumam Dirga ragu, mengetahui Lyam yang merupakan Guardian di sampingnya.
"Tidak usah sungkan seperti itu, aku senang karena kau atasannya." Kashel merangkul Dirga, tapi setelah melihat tatapan orang-orang. Kashel langsung menghentikan aksinya itu.
"Ah aku lupa, kedekatan kita di sini tidak bisa terlalu mencolok seharusnya." Ujar Kashel berbisik.
"Tapi aku mau bisa akrab dengan Kashel, kita itu jarang bertemu." Ujar Dirga merasa tidak nyaman karena Kashel bersikap sungkan padanya.
"Kau harus bersikap adil sebagai ketua departemen ini, jangan membuat orang lain iri padaku. Aku ke mejaku kalau begitu." Kashel membungkuk hormat sebelum beranjak pergi, begitu pula Lyam. Dirga merasa tambah tidak enak hati karenanya.
......................
Kashel merapikan barang-barangnya.
"Hai kau dari departemen mana?" tanya seorang pria dan ada teman wanitanya yang duduk di meja sampingnya. Dari meja kantor ia hanya terhalang oleh penghalang kayu jati yang apa bila mereka berdiri bisa melihat orang di meja sampingnya, sehingga masih bisa berkomunikasi meskipun di tempat yang berbeda.
"Aku dari Divisi Batas Senja." Ujar Kashel langsung, orang di balik penghalang itu langsung berdiri melihat Kashel dari atas penghalangnya.
"Serius?!" kagetnya.
"Apa lagi yang tidak kuseriuskan, kenapa memangnya?" tanya Kashel masih merapikan mejanya.
"Aku adalah perwakilan Kantor Pusat untuk departemen gabungan ini. Namaku Joan dan ada Lucy rekan yang akan membantuku.
"Namaku Kashel dan dia adalah Lyam." Kashel memperkenalkan diri sekarang ia menatap Joan sopan, Joan malah tambah menatapi Kashel penasaran.
"Kau Kendrick?" tanya Joan sedikit berpikir. Kashel hanya diam, meskipun membawa nama itu di belakang namanya. Sekarang itu tidak lebih dari hanya sekedar nama. Dia sudah dibuang dari keluarga utama.
"Itu dulu, iya." Kashel berucap, membuat Joan terbengong. Kemudian Joan bermaksud menakuti Kashel dengan energi sihirnya yang besar.
"Ada apa?" bingung Kashel karena Joan menatapi Kashel seperti itu. Kashel itu sudah merasakan tekanan-tekanan energi sihir milik orang-orang di Kantor Pusat dari tadi semenjak kehadirannya di sana. Tapi, tetap bagi Kashel tidak ada yang lebih kuat tekanannya dibandingkan dengan The Borders dan pengaruh energi gelap.
Setelah melakukan itu, Lyam menatapi Joan tajam. Dan malah membuat pemuda itu menciut dibuatnya. Dan langsung kembali duduk di kursinya.
"Hah? Kenapa?" Kashel malah bingung menatap Lyam yang tiba-tiba ekspresinya berubah saat itu.
"Pekalah pada sekitar, pada orang yang sedang menantangmu." Ujar Lyam, Kashel tampak seperti orang bingung, ia merasa ada energi sihir cukup besar keluar dari tubuh Joan tapi Kashel menganggapnya itu adalah hal yang biasa.
Menyebalkan, orang yang bersama dengan pemuda Kendrick itu memiliki aura yang lebih menyeramkan lagi, hanya dengan tatapannya aku seperti ditusuk.
Padahal warna mata Kashel dan Lyam itu sama, walaupun warna mata Kashel sedikit lebih redup. Tapi hal itu tetap akan tampak dengan jelas jika Kashel tidak mengenakan kacamata saat ini, Kashel jika berada di luar ia senang mengenakan kacamata bening yang memantulkan cahaya dari warna matanya sehingga orang tidak melihat warna matanya yang berbeda dari manusia biasa dengan jelas.
Namun, akhir-akhir ini Kashel tidak pernah lagi menggunakan kacamata anti roh miliknya dan hanya menggunakan kacamata dengan lensa biasa. Mungkin dia sudah menerima takdirnya dengan lebih baik dari pada tiga tahun yang lalu.
.
.
.
Dirga datang membuat perintah terlihat tampak sedang berpikir. "Malam ini kalian akan ditugaskan melacak jejak Roh Kegelapan di sekitaran kota dan setiap timnya terdiri dari dua kantor yang berbeda, jadi satu tim ada empat orang.
"Dirga aku akan bekerja sama dengan anak dari Divisi Batas Senja ini!" teriaknya merangkul Kashel akrab.
"Ah benar, aku sebenarnya bingung ingin memasangkan Kashel dengan siapa. Baiklah, Kantor Pusat akan berpasangan dengan Divisi Batas Senja."
Semua dari cabang lain berbisik-bisik mengamati Kashel, Kashel dengan jelas mendengar apa yang mereka omongkan sebenarnya. Tapi, Kashel hanya menghela nafasnya tidak ingin protes, sedangkan Lyam ia hanya berekspresi datar saja tidak ada yang berubah.
...----------------...
Malam harinya saat mereka semua bersiap menjalankan misi Joan, Kashel, Lucy dan Lyam sedang bersiap. Lucy tampak sangat tertarik dengan ketampanan Lyam.
"Hei apa wujud Roh Pelindungmu?" tanya Joan pada Kashel yang tengah fokus memperhatikan peta tujuan mereka.
"Ah..." Kashel malah menatap Lyam.
"Aku tidak punya roh pelindung." Ujar Kashel menatap peta lagi.
"Apa? Bagaimana mungkin kau yang lemah tidak punya roh pelindung." Terkejut Joan, melihat tatapan mata Lyam yang sudah menahan marah itu membuat Joan merinding ketakutan.
Joan bukan takut pada Kashel tapi lebih takut pada orang yang berada di sampingnya.
"Hei sudahlah, kita harus melakukan pekerjaan ini dengan baik." Ujar Kashel tidak ingin membahasnya lagi, ia tahu Lyam merasa terganggu karena pertanyaan Joan.
Kashel sudah tahu tentang Joan yang meremehkannya. Tapi Kashel tidak peduli, ia biasa saja terhadap orang-orang yang memperlakukannya sama, meremehkannya. Sudah sering, itulah pemikiran Kashel.
"Aku akan melindungimu, jika ada yang membuatmu kewalahan." Ujar Joan baik menawarkan diri. Lucy dan Lyam hanya diam saja melihat kelakuan Joan yang terus dekat-dekat dengan Kashel entah apa tujuannya.
"Terima kasih tidak usah dipikirkan, aku bisa melindungi diriku sendiri kok. Jadi sebisa mungkin aku tidak akan menyusahkanmu." Ujar Kashel tersenyum ramah.
"Meskipun mungkin aku lemah, aku sudah bertemu banyak hal dan sampai saat ini aku masih tetap bertahan hidup itu adalah keajaiban." Kashel berucap lagi.
"Ayo Kashel." Akhirnya Lyam yang sedari tadi diam membuka suara.
"Wah Lyam orang yang sangat keren ya." Lucy juga membuka suaranya kagum dengan karismanya Lyam.
Dan kau sudah salah telah kagum pada makhluk tanpa perasaan ini, Nona. Batin Kashel ingin ia menepuk jidatnya.