The Borders

The Borders
Bagian 13 – Kasus Roh Penghisap Jiwa



Laporan Kantor Pusat masuk ke Divisi Batas Senja. Sebuah amplop merah, tanda kasus berbahaya. Dibawakan oleh Anna, Anna adalah orang yang menjadi jembatan divisi Kashel dan Kantor Pusat. Tentu saja kesetiaannya untuk menjadi pegawai Kashel.


Kashel membaca dan melihat laporan itu dengan perasaan ragu, melihat korban-korban yang telah berjatuhan. Foto-foto korban yang semua mayatnya mengering seperti di hisap sampai menyisakan kulit dan tulang.


"Kenapa divisi kita malah yang dimintai menghadapi tugas begini, inikan kasus berbahaya." Gumam Kashel sedikit kesal. Iya tidak ingin menempatkan teman-temannya untuk kasus seperti itu. Meskipun teman-temannya terkenal cekatan sekalipun. Itu seharusnya tugas Kantor Pusat yang menangani kasus berbahaya.


"Kau juga disuruh membaca surat yang ada di dalam amplop itu." Jelas Anna dan  Kashel menemukan sebuah amplop tersendiri, surat resmi dari Kantor Pusat.


Sampai sebegininya, batin Kashel. Kashel membaca surat resmi itu lalu memasang wajah jengkelnya. Orang yang diminta untuk menangani kasus itu adalah Kashel sendiri, bahkan pusat sampai mengiriminya surat resmi.


"Haha, orang-orang ini." Kashel meremas surat itu sambil tertawa seram. Anna pergi meninggalkan ruangan Kashel setelah itu.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya, itu dari Rai.


Karena kau sudah menangani kasus Roh Pembangkit Kesedihan dengan baik, kali ini aku akan memberikanmu tugas baru mengatasi Roh Penghisap Jiwa. Jangan menolaknya ini perintah resmi. Jangan juga marah padaku.


Kashel langsung mematikan ponselnya, tanpa membalas pesan itu. Ia hanya menarik nafasnya pasrah. Selama satu tahunan lebih ini Kashel, memang belum menjalankan tugas berat di divisinya, dan salahnya kemarin Kashel menerima tugas yang akan membuatnya repot seterusnya. Biasanya anggota divisinya hanya digunakan untuk menjadi bala bantuan dengan membantu tugas setiap divisi ke sana kemari.


"Ada masalah apa?" Lyam datang dari arah luar kantor. Melihat Kashel yang lesu bersandar di kursi kerjanya ia memainkan kursi itu memutarnya ke kiri dan kanan. Kashel diam saja, hanya menunjuk apa yang ada di meja. Lyam kemudian mengambil berkas itu dan membacanya.


"Kasus ini memang harus segera ditangani, roh ini akan membahayakan keseimbangan dunia jika dibiarkan." Lyam bergumam menjelaskan jika itu memang adalah tugas yang harus mereka jalani, Kashel mendengus pasrah lagi merasa beban di pundaknya itu terlalu berat. Tapi tidak bisa menolaknya pula.


.


.


.


Kyler datang memasuki ruangan Kashel, membawakan laporan pekerjaannya. Ia tidak sengaja melihat laporan milik Kashel, ia langsung tertarik karena tahu kasus itu juga.


"Wah ketua mendapatkan perintah untuk menangani kasus ini rupanya," Kyler bersemangat melihat laporan itu. Lyam tidak perduli dengan pemuda itu. Ia sedang menatapi langit yang berubah menjadi gelap sepertinya akan hujan. Kashel terlihat memijat dahinya melihat tingkah Kyler.


"Ketua aku mau mengambil kasus ini." Pinta Kyler.


"Kasus itu berbahaya, aku tidak bisa membiarkan kalian dalam bahaya karena menangani kasus ini." Ucap Kashel ia masih memain-mainkan kursi kerjanya.


"Tidak apa ketua, asal Ketua tahu aku sudah pernah hampir mati satu kali." Jelas Kyler.


"Dan aku tidak akan membiarkanmu mengalami rasa sakit kematian yang kedua kali." Kashel masih tidak tenang apalagi setelah mendengarkan penjelasan Kyler, ia tidak ingin teman-temannya terluka.


"Aku sendiri yang ditugaskan menangani kasus ini," kata Kashel menjelaskan pada Kyler.


"Biarkan aku ikut mendampingi Ketua," Kyler tetap memaksa.


"Kau akan mati jika sampai lengah dalam kasus ini." Lyam ikut bicara dan Kyler tersentak kaget karena kata-kata tajam Lyam.


"Aku akan tetap ikut!" Kyler sangat yakin akan hal itu.


"Baiklah, tapi kau harus mendengarkan perintah dariku. Jangan bersikap seenaknya seperti anak kecil, jangan pernah meremehkan musuhmu." Kashel memperingatkan Kyler. Mengingat bagaimana pertamakali Kyler bertindak dulu membuat Kashel harus waspada ketika mengikut sertakan Kyler.


.


.


.


Malam pun telah tiba, saatnya Kashel, Lyam dan Kyler juga roh pelindungnya Quirin. Bersiap pergi menangani kasus itu.


Mereka langsung memakai atribut bertarung mereka. Kashel mengenakan jubah hitam dan juga topeng yang senada dengan Lyam. Kyler juga menggunakan pakaian hitamnya. Karena ini kasus berbahaya jadi dari awal mereka harus dalam keadaan siap bertarung.


Teman-teman Kashel takjub dengan penampilan Kashel yang seperti itu mereka memang menanti Kashel yang serius, setelah ia menerima kasus yang berbahaya. Mereka tidak pernah melihat Kashel dalam atribut bertarungnya. Ini perdana untuknya. Kashel malu setengah mati, sehingga ia lari ke pojokan dan berjongkok di sana.


Ia ingin ganti pakaian seperti biasanya, tapi identitasnya akan diketahui banyak orang karena kasus ini di tengah kota dan tentu saja akan ada orang-orang dari Kantor Pusat juga. Ia terpaksa berubah menjadi Guardian seperti Lyam.


Hal yang paling tidak diinginkannya, dengan menggunakan pakaian ini. Identitasnya tidak akan diketahui banyak orang, pakaian yang ia kenakan itu tidak akan sobek atau rusak, meskipun terkena serangan fatal.


Karena pakaian yang digunakan itu dibuat dengan kemampuan sihir dan harus dilepaskan dengan sihir pula. Parahnya Kashel tidak tahu sihir mengganti pakaian itu juga, kalau tidak Lyam yang mengurusnya.


Chain sempat mengambil gambar Kashel yang seperti itu dan mengirimkannya pada Grizelle juga. Kashel sempat kesal karena Chain memotretnya. Tapi Grizelle yang langsung membalasnya dengan gambar hati, membuat Kashel jadi bersemangat.


.


.


.


Merasakan aura dari kekuatan Kashel, teman-temannya tidak bisa membedakan aura Kashel dan Lyam, sehingga Lyam terasa menjadi dua orang.


"Aku tidak suka ini," gumam Kashel merasakan kekuatannya mengalir. Meskipun ada kekuatan yang mengalir tetap saja Kashel tidak ahli dalam beladiri, sehingga ia hanya bisa menggunakan kemampuan sihirnya untuk bertahan. Walaupun memaksa menggunakannya berlebihan akan membebani tubuh Kashel juga.


"Kau tidak apa-apa?" Kashel khawatir pada Kyler, Kashel tahu saat ini aura yang dikeluarkan olehnya tidak jauh berbeda dengan Lyam. Kyler menggeleng bukannya takut, ia malah tambah takjub dengan kemampuan yang dimiliki Kashel.


Woah, mentalnya kuat. Batin teman-teman Kashel takjub pada Kyler.


Setelah menunggu sampai Portal Perbatasan yang mengacau muncul, dan mengirimkan seluruh informasi kepada anggota The Borders Organization. Kashel, Lyam, dan Kyler juga Quirin berangkat menuju lokasi kejadian.


Di sana mereka melihat banyak Kesatria Penjaga Batas dari berbagai macam divisi. Orang-orang berbisik tentang Guardian yang berada di antara mereka dan juga tentu saja Kashel wadah jiwanya yang tidak banyak orang tahu siapa identitas sebenarnya dia.


Mereka tidak menyangka kasus ini, akan diatasi oleh Guardian langsung. Mungkin karena korbannya yang sudah banyak, dan mulai menakuti banyak orang pula. Sejauh ini ada tujuh korban jiwa yang sudah melayang. Itulah pikiran mereka.


"Sekarang bukan waktunya bergosip, bekerjalah sesuai yang diperintahkan untuk kalian. Agar tidak ada jatuh korban lagi." Lyam berbicara tegas Kashel yang gugup hanya diam saja berharap tidak ada orang yang mengenalinya. Semua orang langsung bubar dan pergi ke tempat penjagaan mereka masing-masing.


Kashel menyadari ada seseorang yang datang ke arahnya. Ternyata itu Rai yang sedang menjalankan tugas di situ juga.


"Kau keren dengan tampilan seperti ini, Kashel." Ucap Rai yang tiba-tiba merangkul Kashel, meskipun dari jauh pria itu tetap tahu kalau itu adalah Kashel. Kyler hanya melihat tingkah mereka, ia masih dendam dengan keluarga Kendrick kecuali dengan Kashel. Terutama Rai orang yang pernah mengalahkannya dulu.


"Berisik, bisa kau tutup mulut. Kalau ada orang yang dengar percuma saja aku menyamar. Dan jangan sok akrab." Ketus Kashel pada Rai pria itu berisik menurutnya, beruntung di situ tidak ada orang. Hanya mereka-mereka saja.


"Iya-iya. Oh rupanya ada si pengacau kecil juga di sini." Rai menatapi Kyler yang menatapinya dengan ekspresi tidak bersahabat, terakhir kali ia bertemu dengan pemuda itu saat Kyler menantangnya di Kantor Pusat dan ia berakhir dikalahkan oleh Rai. Bukan karena Kyler tidak kuat, tapi kalah pengalaman dengan Rai.


"Kau masih marah padaku?" Rai juga ingin mendekati Kyler.


"Jangan dekat-dekat," Kyler melompat menjauh dari Rai. Tiba-tiba, Rai sudah berada di belakang Kyler membuat pemuda itu terkejut. Iya sudah dirangkul akrab oleh Rai.


"Dasar anak tidak tahu sopan santun." Rai memutar-mutar tinjunya di kepala Kyler.


"Berhenti!" Kyler menjauh lagi dari Rai.


"Sudah cukup main-mainnya," Lyam berucap, akhirnya semua diam.


"Kyler kau malam ini ditugaskan untuk bekerja sama dengan pemuda itu." Tunjuk Lyam ke arah Rai, Kyler tidak berani menolak karena itu perintahnya Lyam, meskipun ia sangat ingin protes.


Kashel diam saja dari tadi. Ia merasakan hawa kegelapan yang pekat tidak jauh dari mereka. Setelah itu mereka juga merasakan hal yang sama musuh mereka mulai menampakkan dirinya.


"Kashel ayo pergi," Lyam mengajak Kashel pergi bersamanya.


"Kyler dengarkan ucapan Rai, jangan sampai terluka. Rai juga jaga diri baik-baik." Kashel kemudian pergi bersama Lyam melompat dengan cepat ke arah tempat yang dipenuhi aura kegelapan.


"Kau tidak perlu khawatir padaku!" Rai melambaikan tangannya, dan kemudian menatapi Kyler yang masih memandangnya tidak bersahabat. Tapi ia akan menahan diri, karena itu perintah dari ketua yang ia hormati.


.


.


.


Kashel mendapati aura kegelapan yang muncul dari tengah air mancur yang ada di kota.


"Energi ini mengerikan," kata Kashel. Tapi kemudian ia merasakan hawa itu tidak dari arah situ saja namun di banyak tempat.


"Roh kegelapan itu mengecoh kita," kata Lyam.


"Dia menebarkan energinya di berbagai tempat agar kita tidak bisa menemukan tubuhnya yang asli." Jelas Lyam.


"Kuharap kali ini tidak jatuh korban jiwa," ucap Kashel berharap.


"Kita harus memusnahkan energi ini terlebih dahulu agar tidak mempengaruhi orang-orang di sekitar." Lyam menggunakan kemampuan pemusnah kegelapan dengan menebaskan pedang yang mengeluarkan cahaya yang memusnahkan kegelapan itu.


Sedangkan Kashel menggunakan kekuatan penghalang yang menggunakan energi sihirnya kali ini agar tidak terjadi kerusakan besar akibat ledakan tersebut. Karena kekuatan yang di miliki Guardian bisa dilihat oleh manusia biasa juga.


Makanya terkadang Lyam tidak menggunakan kekuatan elemennya agar menghindari membuat kerusakan di daerah sekitarnya dan agar tidak dilihat oleh orang-orang.


Berbeda dengan kekuatan Roh Pelindung yang hanya bisa dilihat oleh orang berkemampuan spesial dan serangan yang bisa menerima serangan orang dengan kemampuan spesial pula. Kekuatan dari Guardian itu dapat mempengaruhi dua dunia. Dan kekuatan inilah yang dicari oleh Roh Kegelapan dengan cara memakan jiwa manusia.