The Borders

The Borders
Bagian 87 – Munculnya Kepribadian The Borders



"Baiklah, kau memang bukan Kashel. Tapi, kami terbiasa memanggil orang ini Kashel." Erphan berucap Chain hanya diam saja.


Chain dan Erphan membayangkan kata-kata Kashel yang mengatakan. 'Kalian berdua bersenang-senanglah dengan The Borders, aku ingin istirahat.'


Kashel kau keterlaluan. Batin Chain dan Erphan bersamaan.


Malam itu The Borders yang mengambil alih tubuh Kashel, menatap bulan terang di langit. Sudah lama ia tidak merasakan menatap cahaya malam.


The Borders tahu hanya karena tanah yang spesial ini ia bisa mengambil alih kesadaran Kashel dan memakai tubuhnya, biasanya biar bagaimanapun The Borders tidak akan bisa mengambil kesadaran Kashel. Kecuali, jika pemuda itu benar-benar dalam keadaan sangat lemah, meskipun pada akhirnya ia tidak berhasil juga untuk mengambil alih, tetapi hanya memberikan tubuh Kashel kekuatan lebih yang biasanya The Borders tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya karena pengaruh kekuatan gelap.


Namun, meski The Borders berada di dalam keadaan sadar sepenuhnya sekarang. The Borders juga tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya karena tubuh Kashel memiliki batasan untuk kekuatannya, kekuatannya juga ikut tersegel dan jika dipaksakan ia akan tertidur kembali.


Sebenarnya, dibandingkan dengan Guardian, The Borders lebih berperasaan, ia tahu bagaimana perasaan manusia karena pada dasarnya The Borders menyerap hal itu untuk mempertahankan keberadaannya, karena kebencian manusia yang kuat akhirnya The Borders kehilangan kendali atas dirinya karena pengaruh kegelapan yang lebih besar. Sifat The Borders terbentuk, sesuai pengaruh dari dua dunia.


Di mana yang lebih kuat akan mempengaruhinya dan jika dalam keadaan seimbang ia akan memiliki sikap seperti saat ini, sikap saat mengambil alih diri Kashel. Ia bisa menentukan kehendaknya sendiri.


.


.


.


"Apa yang dia lakukan?" Chain berbisik bertanya pada Erphan, Kashel yang terlihat berbeda.


Leon hanya memperhatikannya ia tidak tahu apa yang sudah terjadi, teman-teman Kashel tidak ada yang mau menjelaskannya.


Namun, Leon tidak ingin cari gara-gara lagi, dengan mudahnya pria tanpa otot itu hampir saja membunuhnya jika ia mau. Tapi, ia berhasil terlepas seperti ada yang menahannya. Kemudian Leon berpikir Kashel memiliki dua kepribadian berbeda.


Kashel tampak berjongkok menatapi kolam kecil yang berada di dekat kediaman utama. Itulah yang membuat teman-teman Kashel merasa heran.


Pak Arsan saat itu tidak ada di rumahnya juga karena ada urusan di sekitaran desa, sebagai kepala desa ia adalah orang yang sibuk dan cukup bertanggung jawab dengan warganya.


.


.


.


The Borders tidak pernah melihat dunia manusia dengan jelas karena selama ini ia tinggal di dunia perbatasan dan muncul kemari karena merasakan ada kekacauan yang mengganggunya, kemudian ia bertemu dengan Kendrick saat itu.


"Menggunakan tubuh yang kecil ternyata tidak buruk juga, meskipun aku merasa sangat lemah dan tidak terbiasa dengan tubuh manusia." Gumamnya berdiri memperhatikan teman-teman Kashel yang lain.


"Hei, apakah ada tempat bagus yang bisa dilihat lagi di sekitaran sini." Ujar Kashel menatapi ketiga orang yang mengikuti mereka.


"Leon sebaiknya kau tunjukkan saja padanya tempat yang bagus di desa ini." Ujar Erphan dan Chain bersembunyi di belakang Leon.


"Kenapa kalian malah menodong aku seperti ini." Leon protes, entah sejak kapan mereka bertiga menjadi akrab seperti sekarang.


"Inikan desamu," ucap Chain santai.


"Aku ini butuh penjelasan asal kalian tahu." Leon sifat aslinya keluar kali ini ia tidak tahan jika ada hal yang di rahasiakan darinya.


"Sudahlah turuti saja, jika dia marah kita semua bisa dalam bahaya." Chain terus menyuruhnya masih belum menjelaskan.


"Jelaskan dulu padaku!" Leon nampak kesal tapi takut juga.


"Kau tahu The Borderskan. Nah itu adalah dia." Bisik Erphan pada akhirnya.


"Aku tidak percaya, bagaimana dia bisa ada di tubuh anak itu." Ujar Leon menunjuk dengan tidak sopan.


"Ada apa?" ada aura yang berbeda mendekati mereka bertiga, roh pelindung milik mereka semua yang awalnya berada di luar tubuh langsung bersembunyi di dalam tubuh tuannya masing-masing mencari aman.


Kashel tidak mendengar ucapan mereka, The Borders masih beradaptasi dengan dirinya yang ia rasa menjadi sangat lemah dan rapuh itu. Memikirkan, hal yang tidak penting. Jika memaksa tubuh itu bergerak sangat cepat, tubuh itu akan hancur menjadi kepingan debu. Tentu saja The Borders tidak akan membiarkan hal itu, ia akan menjaga tubuh anak ini dengan baik, sampai waktu tubuh itu kuat untuk menerima kekuatannya.


Kashel kembalilah secepatnya, kau ingin membuat kami gila di sini. Pikir Erphan ia merasa tertekan.


Ini menakutkan, bahkan roh pelindungku takut padanya. Dia memang benar-benar Naga Agung itu. Batin Leon menatap Kashel.


"Ada apa Naga kecil?" Kashel menanyakan ekspresi yang aneh pada Leon saat menatapnya.


"Ah, aku akan mengantarkanmu keliling desa ini. Tapi ini sudah malam Kashel, seharusnya kita beristirahat." Leon berucap.


"Kau benar, mungkin aku sedikit bersemangat."


"Aku merasa, dia seperti anak kecil." Chain berbisik ke Erphan.


"Shhht!" Erphan menyuruh Chain diam mereka tidak perlu mencari gara-gara lagi.


.


.


.


Kashel terlihat tidak tidur malam itu. Ia menghabiskan beberapa jam di luar.


"Kashel sebaiknya kau menggunakan jaket ini, ini malam yang dingin untuk manusia." Erphan membawakan pakaian pada Kashel.


"Tubuh manusia ini begitu lemah." Ujar Kashel pada dirinya sendiri.


"Kami hanya makhluk yang rapuh asal kau tahu Kashel." Ujar Erphan kemudian masuk lagi kembali ke kamarnya.


"Aku khawatir pada Kashel tapi itu juga menakutkan." Erphan merosot ke lantai saat berada di dalam kamarnya.


"Kau memang berani." Ujar Chain yang hanya duduk saja.


"Ke tempat ini, tenaga kita malah dihabiskan untuk menjaga Kashel yang bertukar jiwa dengan The Borders. Kashel lari dari tanggung jawabnya, entah apa yang dipikirkan oleh ketua kita itu." Chain terus menggerutu.


Pak Arsan kembali dari pekerjaannya saat larut malam.


"Nak, Kashel kenapa kau duduk di sini tengah malam seperti ini?" tanya pak Arsan mengkhawatirkan Kashel. Kemudian mata merah itu menatapnya. Sebagai ketua dari desa itu pak Arsan tahu itu siapa, meskipun Kashel tidak menjelaskan tentang dirinya sama sekali saat itu.


"Tuanku, Naga Agung." Pak Arsan langsung menunduk hormat.


"Kau siapa? Bagaimana kau bisa mengenaliku." Kashel berdiri. Pak Arsan menunduk hormat.


"Tidak mungkin saya tidak mengenali Tuanku, energi milik Tuanlah yang menyertai tanah ini dengan sumber sihir yang berbeda dari yang lainnya." Pak Arsan menjelaskannya.


"Tapi ada Naga kecil yang tidak mengetahui siapa aku." Ujar Kashel dengan tatapan tegasnya.


"Maafkan saya Tuanku, dia adalah murid saya yang masih muda. Dia masih belum pernah melihat prasasti bersejarah desa ini Tuanku." Pak Arsan menjelaskan dan Kashel nampaknya setelah itu tidak tertarik lagi.


"Sejujurnya ini pertama kali untuk diriku melihat dunia manusia sejelas ini." Jelas Kashel.


"Bagaimana Tuanku bisa berada di tubuh anak ini?" tanya Pak Arsan sopan.


"Kau tidak perlu tahu tentang itu." Kashel berucap datar sifatnya sungguh bertolak belakang dengan Kashel yang asli, yang lebih sopan kepada orang yang lebih tua darinya.


"Tuanku, aku memiliki sebuah benda peninggalan dari Tuanku." Ujar pak Arsan, mendengar perbincangan itu Erphan dan Chain keluar dari kamarnya.


"Apa itu?" tanya Kashel.


"Mari ikuti saya," ujar pak Arsan. Kashel membuntutinya menuju sebuah ruangan. Erphan dan Chain yang penasaran juga mengikutinya setelah mendengar percakapan mereka karena kamar mereka yang dekat dengan halaman, ditambah itu juga merupakan pekerjaan mereka.