
"Aku manusia yang hanya ingin punya satu pasangan." Ujar Kashel ia bukan orang yang mau membagi cinta seperti itu.
Stella terlihat bingung, ia baru tahu jika manusia adalah makhluk yang seperti itu, di bangsanya para peri lelaki bahkan boleh menikah dengan lebih banyak wanita dan wanita yang tidak menyukai prianya lagi boleh pergi dari kehidupan mereka. Seperti ibu dari Stella yang telah pergi meninggalkan raja meskipun suaminya adalah raja.
"Apakah manusia makhluk yang seperti itu, aku iri mendengarnya." Mata Stella terlihat berbinar tertarik.
"Tidak semuanya sebenarnya, manusia itu macam-macam sifatnya, bahkan ada yang persis seperti bangsamu."
Karena terkadang manusia memang bersikap seperti binatang juga. Batin Kashel teringat akan manusia-manusia bejat.
"Memang semua bangsa peri punya sifat seperti itu, pasti ada yang berbedakan?" Kashel menjelaskan.
Stella menggeleng. "Semuanya, sama tidak ada bedanya." Ia mengiyakan jika memang semua peri melakukan hal seperti itu.
Entah mengapa aku jadi teringat akan binatang kucing, walaupun beda jauh karena mereka masih sayang anak. Batin Kashel membuang wajah ke arah lain. Beda ras beda juga pemikirannya itulah yang ada dalam pemikiran Kashel sekarang.
"Aku mau ke dunia manusia." Stella terlihat bersemangat.
"Jika kau ke sana kau hanya akan membahayakan nyawamu anakku." Ayahnya ikut masuk dalam percakapan mereka.
"Tapi Ayah –." Perkataannya terputus.
"Kau itu adalah pewaris takhta kerajaan ini Putriku jadi jangan berpikiran yang macam-macam." Ayahnya menegaskan semuanya.
"Baiklah Ayah, karena aku adalah calon pewaris kerajaan ini. Aku akan melindungi kerajaanku sendiri dengan tanganku." Stella yakin.
"Aku tidak ingin kau membahayakan dirimu, ini bukanlah –."
"Aku akan tetap melakukannya jika Ayah tidak mengizinkanku bertarung aku akan meninggalkan kerajaan ini." Stella mengancam. Ayahnya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Lain kali aku akan mencari pasangan manusia saja, bangsa peri tidak akan berguna jika harus di suruh berjuang seperti ini." Suara lembut milik Stella terdengar kasar, ia menghina bangsanya sendiri.
Tapi ini adalah rasmu Nona, kau juga sama seperti mereka. Tapi syukurlah jika kau punya pikiran untuk setidaknya berjuang. Batin Kashel prihatin sekaligus senang.
"Karena kau adalah anakku ayah akan membantumu juga untuk berjuang." Ujar Fellow mengeluarkan roh pelindungnya yang berwujud lebah raksasa.
Perasaan ini, gawat! Kashel membatin panik.
"Mantra pelindung!" Kashel langsung sigap mengaktifkan mantra pelindung karena tiba-tiba ada Portal Perbatasan yang muncul di hadapan mereka.
KRAK!
Suara mantra pelindung milik Kashel hancur, dan ia terpental tapi ia berhasil melindungi Stella dan Fellos. Guardian dengan sigap menangkapnya. Portal Perbatasan itu semakin menguat karena kehadiran Kashel di dekatnya.
"Cih! Sial!" Guardian mengumpat, lalu membawa Kashel yang tidak bergerak ke tempat aman. Tempat yang cukup jauh dari portal itu.
"Kashel kau baik-baik saja?" tanya Guardian. Ia kembali tersadar.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Kashel merasa kecewa karena dirinya Portal Perbatasan menguat dan Roh Kegelapan yang muncul juga menjadi banyak.
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kau hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi dan lain kali terbiasalah terhadap Portal Perbatasan jangan biarkan dirimu terpengaruh." Ujar Guardian ia bersiap menyerang. Selain Kashel Guardian juga bisa melihat kelemahan dari Portal Perbatasan dan menghancurkan intinya, hanya saja Kashel tidak bisa menyerangnya seperti Guardian yang bisa menyerang dan menghancurkannya.
"Elemen angin, sabit angin." Dengan mudahnya Guardian menghancurkan Portal Perbatasan itu. Kashel sekarang bisa ikut dengan pertarungan mereka kembali setelah Portal Perbatasan itu hancur.
Stella terlihat berjuang keras menghadapi Roh Kegelapan berbentuk Orc besar di hadapannya, jika di dalam dunia fiksi ras ini adalah musuh alami bangsa Elf dan Manusia. Dan akhirnya menjadi kenyataan di dunia nyata.
Bersamaan dengan hancurnya Portal Perbatasan, badai kegelapan datang di antara mereka. Stella dan ayahnya masih fokus menghalau Orc yang ingin menyerang mereka.
Mereka berdua kewalahan karena harus menghadapi tiga Orc sekaligus, menggunakan elemen api dan angin.
Stella terlihat bersemangat walaupun kelelahan, sedangkan ayahnya merasa sudah tidak sanggup lagi menanggung beban yang diterimanya.
"Aku tampak sudah tua."
"Untuk Elf ayah itu masih setengah umur, makanya sering-sering berlatih bertarung." Putrinya malah menceramahinya.
DUAR!
Pukulan palu raksasa membuat tanah yang dipijak Stella dan Fellos retak, beruntungnya roh pelindung yang mereka miliki bisa membawa mereka terbang sehingga tidak terjebak di dalam retakan itu.
Namun ayunan ketiga Orc itu tepat menyasar ke arah mereka berdua dan mengenainya, mereka berdua terlempar jatuh ke tanah dengan keras. Darah keluar dari mulut mereka karena pukulan keras itu.
Satu pukulan lagi mereka akan mati. Tetapi, portal terbuka Kashel muncul di hadapan mereka dengan pedang cahayanya, ia baru saja memulihkan tenaganya.
SRAT!
Ketiga Orc itu langsung hancur dengan sekali tebasan panjang milik energi sihir Kashel yang bercampur dengan pedang cahaya. Membuat ketiga Orc itu langsung menjadi debu.
Stella dan Fellos terperanjat kaget saat melihat kekuatan Kashel yang dahsyat seperti itu.
"Kau siapa sebenarnya?" Fellos bertanya, Kashel hanya memunggunginya tanpa menatapnya. Pedang cahayanya kembali kebentuk semula bercahaya. Tapi, tampak seperti pedang pada umumnya ketika dipegang.
"Sebenarnya Orc itu lemah, tapi kalian kurang latihan bertarung makanya kewalahan." Ujar Kashel menjelaskan tanpa menatap mereka. Karena memang kenyataannya seperti itu, jika ras Peri mau mereka memang jauh lebih unggul daripada manusia dalam sihir. Tapi sayangnya mereka malah jadi pengecut.
"Baiklah kalian urus sisanya, aku akan membantu Guardian." Ujar Kashel berlari dan memanjat tangga tanah yang Guardian buat.
Fellos dan putrinya pun menghadapi roh-roh lemah yang sedang berkumpul. Tapi kemudian, rakyatnya yang lain mulai ikut menyerang bersama.
Mata Stella berbinar, akhirnya mereka semua mau mencoba untuk melawan kali ini, tidak hanya bersembunyi saja.
"Yang Mulia, kami akan bertarung bersama kalian. Kami tidak akan bersembunyi lagi." Ujar salah satu rakyatnya. Mereka semua adalah bangsa yang mengikat kehidupan mereka dengan roh pelindung sejak lahir. Karena bangsa peri itu memang berbeda. Semangat mereka membara karena melihat pemimpin mereka yang bertarung dengan sekuat tenaga.
"Kau sudah baikan rupanya." Guardian berucap saat Kashel datang ke arahnya, ia terengah-engah karena harus memanjat di tempat tinggi.
"Kau parah sekali! Orang dalam bahaya kau biarkan saja mereka di bawah sana bertarung." Kashel mengomel, meskipun pernah marah dan ingin membiarkan bangsa peri dilahap kegelapan, pada akhirnya Kashel tidak bisa membiarkan hal itu juga dan tetap melindunginya.
"Ada kau yang berjaga di sana Kashel." Ucapan Guardian membuat Kashel tertohok.
"Bagaimana jika aku belum pulih tadi, itu sudah sangat hampir saja kau tahu." Kashel terus mengoceh di tengah kegelapan yang terus mendekat.
"Asal kau tahu Kashel, dulu sekali aku sebenarnya bukan orang yang begitu peduli dengan kehidupan orang lain sebelumnya. Asal aku bisa menyeimbangkan dua dunia, aku tidak peduli berapa banyak orang yang mati dan berkorban." Guardian berkata dengan nada datar.