
Kashel terlihat menjadi akrab dengan Marva dan terlihat saling berbincang malam itu.
"Jadi Kakak mengapa kau menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya?" tanya Marva penasaran.
"Aku, aku hanya tidak ingin orang tahu." Ucap Kashel menatap ke lain arah. Walaupun tidak sepenuhnya itu alasannya, karena Kashel juga harus melihat dari berbagai situasi.
"Kenapa? Kaukan bisa membanggakan dirimu dengan kekuatanmu yang sebesar itu." Ucap Marva yang tidak setuju dengan sikap Kashel.
"Aku sebenarnya tidak bangga sama sekali dengan kekuatan ini." Kashel menatap Lyam.
Lyam tidak menghiraukan hal itu, lagi pula ia sudah tahu sifat Kashel memang seperti itu apa adanya. Jika pemikiran itu berubah Lyam yakin itu bukanlah Kashel yang ia kenal.
"Kau membenci kekuatanmu?" Marva makin penasaran.
"Aku tidak membencinya, tidak juga menyukainya jadi biasa saja sebenarnya." Ujar Kashel, karena Kashel tahu mau bagaimanapun dan tidak terima seperti apapun kekuatan itu sudah menjadi bagian dari dirinya.
"Kau orang yang aneh Kak, kekuatan sebesar itu Kakak biasa saja." Marva tidak bisa percaya, kekuatan yang jika orang lain yang menggunakannya itu bisa membunuh mereka.
"Itulah aku," jelas Kashel.
.
.
.
Guardian kemudian merubah wujudnya menjadi wujud manusianya Lyam.
"Jadi Tuan Guardian punya wujud manusia." Mata Marva berbinar, Lyam hanya diam saja.
"Kapan kita pulang Lyam?" Kashel bertanya setelah dari kamar mandi.
"Kita akan pulang sebentar lagi, jika kau sudah mau pulang sekarang aku akan membukakan portal, tugas kita sudah selesai di sini." Jawab Lyam semua tergantung Kashel.
"Jadi nama Tuan Guardian adalah Lyam?" Marva terlihat bersemangat.
"Tuan tidak memberitahuku dari dulu." Ujar Marva protes.
"Tidak banyak yang tahu tentang wujud manusiaku ini." Jelas Lyam.
Terlihat dari arah pepohonan roh rubah mendekat ke arah mereka bertiga. Itu adalah roh pelindung milik Marva.
"Kau sudah kembali," Marva mengusap kepala roh rubah itu dan ukuran rubah raksasa itu mengecil, lalu melompat kepangkuan Marva.
Kashel baru menyadari, Marva baru memperlihatkan roh pelindungnya semenjak keributan tadi.
"Kau bisa terpisah lama dengan roh pelindungmu?" tanya Kashel kali ini ia cukup penasaran sekarang.
"Tidak Kak, tapi mungkin aku punya sedikit kelebihan bisa berpisah dengannya asal di sekitaran desa ini saja, selama dalam lingkup penghalang di desa ini." Jelas Marva.
"Wah! Ada kemampuan seperti itu juga rupanya." Takjub Kashel.
"Tapi, Kakak masih lebih hebat meskipun bukan keturunan asli dari desa ini kakak bisa dengan mudah mengambil alih penghalang." Ujar Marva.
"Aku hanya pernah melihat simbol sihir itu Marva, jadi aku tahu menggunakannya." Kashel tersenyum getir, perasaan kalut itu saat perasaan semua orang padanya terhubung, Kashel tidak ingin merasakannya lagi.
"Jika itu orang biasa itu tidak akan berpengaruh banyak Kakak, tidak sembarangan darah bisa menjadi penyangga desa ini. Tapi Kakak dengan mudahnya mengambil alih seperti itu."
"Aku tidak akan melakukannya lagi sungguh. Itu menyakitkan untukku, kau benar-benar kuat Marva."
"Kekuatanmu tidak akan stabil Kashel jika harus menahan tekanan-tekanan besar dari banyak orang. Mentalmu belum sekuat itu." Lyam ikut campur dengan pembahasan mereka.
"Perasaan yang kacau akan mempengaruhi jiwa The Borders, jiwa itu sebenarnya sudah membebani dirimu tanpa kau sadari. Kau tidak bisa sembarangan menerima bermacam-macam perasaan orang lain seperti itu. Kita beruntung karena masih bisa mengendalikan diri."
"Lagi pula jika kita lepas kendali, ada Paman yang menjagaku." Kashel menatap bandul yang terpasang di lehernya.
"Aku akan menjaga ini baik-baik, meskipun kau pernah membuangnya sekali waktu itu." Kashel terlihat kesal karena mengingatnya.
"Kau harus tahu juga Kashel, kekuatan milikmu suatu saat pasti akan terbebas seluruhnya, entah karena kalung itu hancur atau kau yang memilih membebaskannya semua tergantung padamu." Lyam yang duduk di dekatnya berbisik, Kashel terlihat terdiam ia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat mengetahui hal itu.
"Terima kasih karena sudah menjaga penduduk desa." Ujar Marva mengelus kepala roh pelindungnya, ia tidak memperhatikan percakapan barusan.
"Siapa manusia itu, Marva. Kenapa aku mencium bau yang sama dengan milik Tuan Guardian." Kashel menatapi rubah itu.
"Manusia kau mengerti apa yang aku katakan?" tanyanya.
"Kakak mengerti, bahasa Joo?" Kashel hanya menatapinya saja, ternyata nama roh pelindung itu adalah Joo.
"Kau ingin berpura-pura seperti apalagi memangnya Kashel?" Lyam terlihat berdiri. Kashel setelah itu hanya mengangguk.
"Wah Kakak keren, bahkan Kesatria Penjaga Batas biasa pun tidak ada yang bisa memahami kata-kata roh pelindung." Ujar Marva, itulah alasan mengapa roh pelindung milik teman-teman Kashel pada senang menempel pada Kashel ketimbang tuannya sendiri.
Selama ini cuma Kashel yang mengerti kata-kata mereka secara bersamaan dan Kashel memiliki energi yang menarik untuk para roh pelindung mendekat padanya.
Joo bangkit dari pangkuan Marva dan datang kepangkuan Kashel.
"Inilah yang terjadi jika aku mengakuinya. Hei kembalilah ke majikanmu, dia terlibat sedih karena di tinggalkan." Kashel mengusirnya.
Roh Pelindung memiliki ketertarikan yang sama dengan Roh Kegelapan terhadap energi sihir milik Kashel. Namun, Roh Kegelapan yang pernah memakan korban manusia, biasa mengucapkan beberapa kata-kata manusia dengan lancar. Walaupun kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah kata-kata kejam semata.
"Ini enak dan menenangkan." Ucapnya kemudian melihat Lyam yang menatapnya tajam. Perlahan ia bangkit dari Kashel dan kembali kepangkuan Marva.
"Marva kau pengkhianat, kau memang pantas dimarahi Tuan Guardian." Ujar Marva tahu Guardian marah padanya. Roh Pelindung itu bersembunyi di dalam pakaian Marva.
"Hei-hei geli, hahahaha." Marva malah tertawa karenanya.
"Jadi Kakak, apakah ikatanmu dan Guardian sama dengan kami Kesatria Penjaga Batas?" tanya Marva penasaran. Kashel menggeleng.
"Tidak, kami bisa terpisah negara sekalipun. Tapi, kami terkadang tetap berbagi perasaan yang sama." Jelas Kashel.
"Kenapa Tuan Guardian mengikat kontrak denganmu?"
"Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu itu rahasia." Kashel tidak mungkin menjelaskan Guardian yang rentan terhadap energi gelap dan tugasnya adalah sebagai penyeimbang Guardian walaupun Kashel sendiri tidak begitu paham tugasnya itu bagaimana, intinya ia telah menjadi jiwa dari Guardian sendiri.
"Pasti ada alasan besar Tuan melakukan hal itu, tapi aku akan selalu berada di pihak kalian berdua. Jangan sungkan meminta bantuanku jika kalian membutuhkannya."
"Terima kasih Marva."
"Desa ini, desa yang melahirkan para Kesatria Penjaga Batas, aku akan mengajarkan apa itu arti rendah hati yang seperti Kakak lakukan. Meskipun aku juga masih sangat muda."
"Kau anak yang baik." Kashel tersenyum menanggapi ucapan Marva, sifat anak itu lebih cepat berubah dari pada yang Kashel bayangkan.
"Lyam orang berjubah yang sebelumnya. Orang yang selalu berada di lokasi kejadian roh kegelapan berada. Barusan aku menghadapinya." Kashel berbicara di belakang Lyam.
"Orang itu siapa dia sebenarnya, manusia yang bekerjasama dengan Roh Kegelapan. Hal apa yang telah mereka bayarkan untuk melakukan hal mengerikan itu."
"Nyawa orang lain Kashel, mereka tidak membayar dengan nyawanya tapi nyawa orang lain." Kashel menyadarinya. Alasan kenapa Roh Kegelapan selalu mengganggu kehidupan manusia, pasti ada orang yang menuntunnya melakukan aksinya dalam mengacau di dunia manusia.
"Manusia yang berhati iblis," gumam Kashel.
"Apa tujuannya membantu Roh Kegelapan mengacau di dunia manusia?" Kashel terlihat berpikir, tapi ia tidak memiliki jawabannya.
"Setiap segala sesuatu yang di perbuat pasti ada tujuannya Kakak, meskipun itu hanya untuk bersenang-senang." Ujar Marva.
"Kau benar, haruskah kita mencari tahu apa tujuan dari orang-orang itu bekerja sama dengan Roh Kegelapan agar kita bisa menguak dalang dari kekacauan ini." Harap Kashel.
"Tidak semudah yang kau bilang Kashel, mereka adalah orang-orang yang licik dan sangat pandai menyembunyikan jejak-jejak keberadaan mereka." Ujar Lyam, Kashel hanya diam setelahnya.