The Borders

The Borders
Bagian 89 – Bangkitnya Kekuatan Naga Perbatasan



.


.


.


"Oh ya, ke mana Leon. Dia belum kembali." Erphan menyadari ketidak hadiran Leon.


"Kita harus mencarinya." Ujar pak Arsan khawatir pada muridnya yang ceroboh itu.


Kemudian Leon ditemukan tidak sadarkan diri. Di antara pepohonan di desa itu. Kashel hanya menatapinya.


"Akan ada kekacauan," ujar Kashel kemudian menjauh pergi setelah melihat keadaan Leon.


"Aku harus mengistirahatkan tubuh anak ini." lanjut Kashel, ia harus tidur sekarang.


Kashel tidur di kamar yang disediakan untuk tamu, karena tidak tahu cara tidur manusia Kashel diajarkan oleh Chain dan Erphan yang tidur satu kamar dengannya. Malam itu Erphan dan Chain tidak tidur dengan nyenyak karena merasa ada dua monster di dalam satu ruangan itu. Guardian juga duduk di sana semalaman.


Saat pagi hari mata mereka terlihat berkantung tidak segar. Sedangkan Kashel, ia tampak tertidur dengan pulas. The Borders merasa nyaman tidur dengan posisi seperti itu.


Sampai akhirnya ia terbangun karena Guardian yang membangunkannya.


"Kau harus sarapan pagi ini." Ujar Guardian membangunkan Kashel, Kashel langsung bangun dan berjalan ke ruang makan. Saat ini ia merasa perutnya tengah berbunyi dan tidak nyaman. Ia juga tidak pernah tahu apa itu lapar, biasanya karena hanya menyerap energi alam seperti Guardian, tapi di dalam wujud manusia Kashel, ia harus makan untuk mengisi tenaganya.


Di ruang makan, awalnya Kashel merasa tidak tertarik dengan makanan-makanan yang disajikan dengan aneh. Ini juga untuk pertama kalinya ia memegang sendok untuk makan. Tapi, ia belajar dengan cepat setelah memperhatikan orang-orang.


Saat mencicipi makanannya ia merasa sangat tertarik dengan rasa yang ia makan. Akhirnya tidak berhenti sampai ia merasa kenyang.


Leon pagi ini tampak lebih pendiam daripada biasanya, yang biasanya ia selalu membuat keributan.


Kashel hanya menatapi pemuda itu. Tidak lama ia pergi tanpa mengatakan apa-apa pula.


"Hei Leon, kau tidak boleh tidak bersikap sopan seperti itu." Ujar pak Arsan.


Kashel tidak masalah ia sepertinya sudah tahu akan ada hal apa yang akan terjadi nanti.


"Aku ingin keliling desa ini," ujar Kashel berdiri.


"Aku tidak akan lama lagi mengambil alih tubuh anak yang tidak bertanggung jawab ini, dan aku ingin menikmati sisa waktu ini." Kashel berjalan keluar ruangan pak Arsan dan yang lainnya hanya mendengarkan ucapan Kashel yang juga bersikap seenaknya saja. Guardian mengikutinya.


"Apa ada hal yang akan terjadi nanti, aku melihat kau seperti mengetahui sesuatu." Kashel menatap kemudian Guardian yang berjalan di sampingnya.


"Saat malam nanti bersiaplah, kekacauan besar akan terjadi di desa ini, sayang sekali desa yang indah ini akan rusak." Tatapan Kashel tampak serius.


"Kenapa kau masih bisa bersikap santai seperti itu meskipun sudah tahu hal apa yang akan terjadi?" Guardian bertanya.


"Aku akan mengerahkan kemampuanku kali ini, untuk menghentikan mereka, jadi biarkan saja mereka membuat rencana yang mereka banggakan untuk menaklukkanku. Agar manusia-manusia itu tahu, meskipun sekarang aku lemah, tapi bukan berarti mereka bisa meremehkanku." Kashel menjelaskan dengan santai.


"Jadi ini adalah waktu-waktu terakhirku berada di tempat ini." Lanjutnya mengepalkan tangannya sambil menatapnya.


"Kuharap kau tidak membunuh orang-orang. Itu akan merusak mental anak itu." Ujar Guardian memperingatkan.


"Aku tidak pernah berpikir untuk membunuh manusia yang tidak bersalah." Ujar Kashel, ia kemudian menghentikan langkahnya.


SYUT!


Panah lewat di depan wajah Kashel dan berakhir menancap di dinding, ia sudah tahu akan ada yang menyerangnya, Guardian yang kurang waspada saat itu tampak terlihat marah.


"Percuma, jika kau mengejar penyerang itu kau hanya membuang-buang tenagamu kau tidak akan bisa menangkapnya, simpan tenagamu untuk nanti malam." Ujar Kashel.


"Sebenarnya siapakah musuh kita kali ini?" tanya Guardian.


"Jika kau ingin tahu aku akan mengatakannya, seluruh desa ini." Kashel menekankan kata-katanya di akhir kalimat.


"Tidak, makanan itu tidak beracun. Saat ini seluruh desa dalam keadaan sadar karena kegelapan belum kuat. Tapi nanti malam, mereka tidak akan bisa menolak." Kashel tidak memperdulikan panah barusan dan melanjutkan perjalananya.


"Bagaimana dengan kita yang sangat rentan dengan kegelapan."


"Aku akan menggunakan kemampuan anak ini secara efektif. Aku akan memaksakan kemampuan yang bisa menetralkan energi gelap anak ini." Ujar Kashel.


"Walaupun ia akan berakhir dengan kelelahan, ia tidak akan mati. Dan aku akan kembali tertidur. Aku akan menggunakan kekuatan dari tanah ini. Untuk membangkitkan seluruh kemampuanku, demi melindungi tanah ini pula." Ujar Kashel.


"Anak yang bernama Leon itu, naga kecil. Dia adalah pemilik tanah ini dan bisa menggunakan kekuatanku juga karena tanah ini. Anak itu berbahaya, dan sekarang kegelapan mempengaruhi dirinya tanpa dia sadari."


"Apa kita harus membunuhnya."


"Kau tidak perlu mengotori tanganmu, aku yakin anak ini tidak akan menyukainya. Ada aku di sini aku akan menanganinya." Ujar Kashel, ia tidak ingin Kashel marah karena melakukan hal ceroboh mencelakai orang-orang pentingnya.


"Baiklah, aku mempercayai dirimu, The Borders." Guardian langsung menurut.


Kashel benar-benar menikmati waktunya mengelilingi tanahnya, ia ingin mengingat setiap bentuk di desa itu.


Guardian diam-diam telah menjelaskan keadaannya pada teman-teman Kashel. Pada akhirnya meskipun takut, Chain dan Erphan membuntuti Guardian dan Kashel.


Setelah pulang dari tugas ini aku akan minta cuti. Pikir Chain mentalnya benar-benar terganggu sekarang.


.


.


.


TAP!


TAP!


TAP!


Terdengar seorang melangkahkan kakinya di lorong bawah tanah. Dia adalah seorang laki-laki.


Di dalam lorong itu ada sebuah altar batu yang bertuliskan mantra sihir di sekelilingnya.


Kemudian pria itu membuka bajunya yang di tubuhnya ada lambang tato naga yang memenuhi tubuhnya. Tato itu kemudian bergerak dan berubah menjadi roh pelindungnya. Dia adalah Leon.


Tatapan matanya kosong, sepertinya ia dipengaruhi oleh sesuatu. Sehingga sepertinya ingin melakukan ritual terlarang di altar batu itu. Padahal ia belum tahu adanya tempat itu.


"Sebagai tuan muda yang terpilih oleh tanah ini. Aku ingin semua orang yang tinggal di tanah ini menuruti semua perkataanku." Kemudian ia menyayat telapak tangannya dan meneteskannya kepada mantra sihir, sehingga altar itu bersinar namun bercampur dengan energi gelap.


Kashel yang tengah malam itu hanya menatapi bulan di langit terlihat memejamkan matanya.


"Sepertinya malam ini akan menjadi sangat panjang." Di depan Kashel, ada Guardian, Chain dan Erphan yang merasakan energi besar tengah keluar dari tanah desa ini. Terlihat cahaya kuning yang keluar dari tanah yang mereka pijak naik ke langit malam dan bulan di langit berubah menjadi merah darah.


"Kekuatanku bangkit." Kashel membuka matanya yang telah berubah menjadi merah menyala lebih terang daripada sebelumnya. Jiwa Kashel yang tengah tertidur saat itu langsung terperanjat kaget ia bangun dari tidurnya.


Ia merasakan kekuatan besar melingkupi dirinya.


"Apa lagi ini, kenapa tiba-tiba?" Kashel terangkat ke udara di dalam alam bawah sadarnya jiwanya terikat. Ia ingin mengambil alih dirinya saat itu, tapi terlambat saat ini The Borders sepenuhnya bangkit dari dirinya. Guardian, ia lenyap dan sepenuhnya bersatu dengan Kashel dan di sana ia bertemu dengan jiwa Kashel.


"Apa yang terjadi?" akhirnya Kashel bertanya pada Guardian yang ada di hadapannya.


"The Borders saat ini bangkit dan mengambil alih semuanya, tidak ada yang bisa kita lakukan." Saat menjelaskan itu Guardian tertidur.


"Hei Lyam, aaaarg!" Kashel berteriak saat itu. Ia merasakan apa yang terjadi pada dirinya. Hanya bisa melihat semuanya tanpa bisa melakukan apa-apa.