
"Kau sebaiknya pergi Kashel, buka kacamatamu." Rainer menyuruh Kashel pergi. Rainer tidak bisa meremehkan Roh Kegelapan yang ia lawan.
Kashel kemudian memangku Rainer yang tengah terluka. Troll itu kemudian mengeluarkan kekuatannya lagi dan menembakkan elemen es ke arah Kashel dan Rainer.
"Mantra pelindung!" teriak Kashel, kali ini Kashel mengaktifkan mantra pelindungnya.
Mantra pelindung milik Rainer yang masih aktif pada tubuh Kashel bersatu dengan mantra pelindung milik Kashel, sehingga serangan itu bisa ditangkis oleh mereka berdua. Sehingga sempat beberapa waktu serangan terhenti, Rainer yang beristirahat sebentar ternyata sudah pulih dari luka-lukanya.
"Sepertinya aku harus serius kali ini. Terima kasih Kashel telah membantuku memulihkan diri." Rainer berdiri dengan kuda-kuda menyerang.
"Paman, benar sudah tidak apa-apa?" tanya Kashel masih khawatir.
"Sebaiknya kau khawatirkan dirimu sendiri anak muda." Rainer kemudian melesat dengan kecepatan penuh mata sebelah kiri milik Rainer terlihat berubah jadi merah dan kekuatannya pun meningkat beberapa kali lipat. Rainer menyerang seluruh titik vital Roh Kegelapan itu.
Roh Kegelapan yang sudah kewalahan itu tidak bisa berbuat banyak setelah Rainer menggunakan kekuatan seriusnya.
Sebelumnya juga makhluk itu telah terluka dengan beberapa sambaran petir pada tubuh Troll tersebut. Troll itu pun akhirnya lenyap menjadi asap hitam yang perlahan-lahan menghilang dengan sendirinya.
Perlahan ruang yang dibuat Roh Kegelapan berubah kembali menjadi kamar tidur biasanya. Kamar bernomor 666 sudah tidak seram dan berbahaya seperti sebelumnya.
Rainer yang kelelahan terduduk di lantai dekat sofa kamar setelah itu, ia bersandar di sana. Kemudian mengambil kotak rokok di sakunya dan membukanya, lalu mengambilnya sebatang membakarnya dan menghisapnya.
Ia benar-benar menikmati asap rokok yang melewati paru-parunya.
"Paman, kau sudah baik-baik saja?" tanya Kashel berjalan ke arahnya dengan tertatih.
Lalu kemudian Kashel melihat luka di tangan Rainer sedikit demi sedikit sembuh dan bekasnya pun menghilang cukup cepat.
"Wah, Paman punya kemampuan regenerasi?" tanya Kashel takjub.
"Kashel jika kau mau kekuatan seperti ini kau bisa mendapatkannya." Rainer berkata sambil terus menghisap asap rokoknya. Kashel langsung menggeleng.
"Tidak aku tidak menginginkannya, Paman." Setelah berkata seperti itu Kashel tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Rupanya ia sedang menahan dirinya yang telah kehabisan stamina karena sangat khawatir pada Rainer.
"Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri daripada orang lain, Kashel."
Rainer kemudian berdiri mengangkat tubuh Kashel yang tidak sadarkan diri ke atas tempat tidur. Kemudian ia bejalan ke arah jendela dan mendudukkan dirinya pada sofa di dekat jendela sambil menghisap rokoknya di sana.
Tidak lama kemudian, sosok berjubah hitam datang menghampiri Rainer.
"Apa kau baik-baik saja Rainer?" tanya makhluk berjubah hitam itu mendekati Rainer.
Dengan terbang ia masuk melalui jendela dan kemudian berdiri di hadapan Rainer menatapinya dengan mata merahnya wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh energi sihir pekat bewarna hitam.
"Seperti yang kau lihat, aku tidak sehat tapi tidak sakit juga." Jelas Rainer sambil terus mengisap rokoknya bersandar di sofa, santai.
"Tuan Guardian, jadi itu anak yang kau maksud." Rainer menatap Kashel yang tertidur dengan pulas. Makhluk yang ternyata adalah Guardian itu pun menatapi Kashel.
"Kuharap kau bisa menjaganya sampai waktunya tiba, Rainer." Ucap Guardian mempercayakan menjaga Kashel kepadanya.
"Baik, Tuanku." Rainer langsung menjawab Guardian dengan serius kali ini.
"Aku tidak menyangka akan menemukannya, di saat aku memilih untuk mencari cara lain menghilangkan energi kegelapan yang akan melahap keberadaanku." Ungkap Guardian menatap telapak tangannya kemudian menatap Kashel.
"Anak yang membuatku tertarik semenjak ia dilahirkan ke dunia ini, ternyata ia adalah orangnya, orang yang kucari.
"Tapi dia bisa mengubah pendirianku, jika itu aku yang dulu mungkin saat bertemu dengan orang yang tepat aku tidak akan memberikannya waktu kebebasan sama sekali."
"Namun, kali ini melihat seluruh kesedihan anak ini, apapun pilihannya dengan kekuatannya yang ia dapatkan aku akan selalu mendukung keputusannya, entah itu di jalan yang gelap atau pun yang terang.
Guardian memang terlihat sedikit berubah dari biasanya, Guardian yang tidak pernah mempedulikan tentang keadaan orang lain berubah menjadi orang yang perduli, bahkan menanyakan keadaan Rainer.
Rainer merasa Guardian telah sedikit berubah dari sifatnya yang sebelumnya, makhluk yang tidak memiliki perasaan sama sekali.
Apa yang sebenarnya yang kau lihat dari anak ini, sehingga kau bisa berubah drastis seperti ini. Batin Rainer tidak percaya Kashel bisa merubah pendirian Guardian yang kejam.
Makhluk yang sebelumnya hanya tahu menjaga perbatasan dua dunia, tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya intinya tugasnya terlaksanakan.
"Apa Tuan ingin menyalurkan energi kepada anak itu?" tanya Rainer.
"Tidak, aku akan membiarkan dia beristirahat dengan tenang, karena jika menggunakan energiku dia akan langsung bangun dengan keadaan terkejut. Seperti terakhir kali.
"Aku tidak ingin mengganggu kesehatan mentalnya untuk beberapa tahun yang akan datang, biarkan dia bahagia dengan keinginannya sendiri." Lyam kemudian pergi setelah itu, ia menghilang tanpa jejak apapun.
"Sepertinya aku harus beristirahat juga," Rainer mempercepat menghabiskan rokoknya ingin tidur dan melanjutkan kegiatannya keesokan hari. Akhirnya, sampai matahari terbit Kashel belum juga membuka matanya.
Ternyata akibat serangan Troll tadi malam itu benar-benar menguras tenaga Kashel. Dalam seumur hidupnya baru pertama kali ia terkena serangan dari Roh Kegelapan secara langsung.
Beruntungnya Kashel menggunakan mantra pelindung agar dia tidak terluka parah, tapi karena hal itu Kashel malah tertidur lebih lama daripada biasanya.
Mungkin ini juga akibat dari energi kegelapan yang menguras staminanya sebelum bertarung dengan wujud asli dari Roh Kegelapan itu.
Saat sinar matahari mulai tinggi Kashel perlahan membuka matanya, ia merasa tidurnya nyenyak sekali setelah tiba-tiba jatuh tersungkur karena mengkhawatirkan Rainer.
"Paman!" Kashel langsung bangun terduduk setelah mengingat kejadian semalam. Ia kemudian melihat Rainer yang sedang duduk di sofa bersantai sambil menyeruput kopinya.
"Oh jadi kau sudah sadar Kashel." Rainer berdiri sembari memeriksa keadaan Kashel.
"Makanlah ini," Reiner menyodorkan minuman vitamin agar Kashel meminumnya dan tenaganya bisa pulih kembali.
"Terima kasih Paman, syukurlah Paman baik-baik saja." Kashel terlihat lega melihat Rainer yang baik-baik saja.
"Seharusnya kau tidak perlu khawatir padaku Kashel, khawatirkan dirimu sendiri." Rainer kembali ke tempat duduknya dan mulai membaca kertas laporan.
Rainer sibuk meneliti tugas yang akan mereka terima selanjutnya, memang bukan malam ini mereka mengerjakannya tapi Rainer benar-benar merencanakan semuanya dengan matang agar mereka tidak terluka seperti sebelumnya terutama ia harus menjaga Kashel juga.
Kashel turun dari tempat tidurnya dan mulai mendekati Rainer, ia juga ingin tahu apa yang dikerjakan oleh orang itu.
"Apakah kau mau membantuku?" tanya Rainer pada Kashel yang mendekatinya.
"Jika ada yang bisa kubantu aku akan membantunya, Paman." Ujar Kashel langsung menerimanya tanpa penolakan.
"Baiklah tolong bantu aku menyusun laporan ini," Rainer memberikan sebuah laptop dan tumpukan kertas yang tebal kepada Kashel membuat pemuda itu terperangah kaget.
"Jadi, apa kau sanggup melakukannya?" Rainer terlihat tidak yakin dengan Kashel.
"Umm, aku akan berusaha Paman." Kashel mengangguk yakin.
"Baiklah sebelum itu mari kita sarapan dulu, aku tidak ingin kau jatuh pingsan karena mengerjakan tugas laporan sebanyak itu." Ajak Rainer sebelum melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.