
"Kegelapan akan berkeliaran di saat bulan malam bersinar terang." Marva bercerita pada Guardian.
"Selama ini aku masih bisa menahannya, tapi belakangan ini energi hitam itu mulai menguat Tuan, jadi aku membutuhkan bantuanmu." Pinta Marva.
Kashel terlihat menatapi taman bunga warna-warni dan yang saat itu ada angin sejuk sedang bertiup, ia menikmati setiap wangi bunga yang datang ke indra penciumannya. Ia tidak ingin ikut berbaur dengan percakapan Marva dan Guardian ia hanya mendengarkan mereka saja.
"Kashel bagaimana menurutmu?" Guardian meminta pendapat Kashel yang tidak mengerti apa-apa.
"Kenapa kau harus bertanya padaku ..." Kashel yang semulanya ingin membatah langsung menghentikan ucapannya dengan suara merendah di akhir.
"Oh, maafkan aku Tuan Guardian. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan." Ujar Kashel berusaha bersikap sopan santun.
"Sudahlah Kashel, lebih baik bersikap biasa saja padaku yang kau lakukan itu sungguh tidak cocok untukmu." Guardian akhirnya mengeluarkan pendapatnya, Kashel tertunduk keningnya berkerut menahan kesal.
"Kalian berdua sepertinya sangat akrab ya," Marva yang merasa tidak dihiraukan mencoba bergabung dengan kedekatan mereka.
"Kau benar, Guardian dan aku sebenarnya sangat dekat." Kashel saat ini lebih baik memilih jujur saja ia bukan orang yang pandai berbohong, tapi malah ingin mencobanya.
"Apakah kau menerima kekuatan Guardian seperti orang terdekat Tuan Guardian."
"Paman Rainer ya, kurang lebih aku memang seperti itu dengannya." Jelas Kashel kali ini ia bisa berbicara sedikit lebih santai.
Kashel menyadari Marva menganggap dirinya masih bawahan Guardian seperti Rainer dulu.
Guardian memang baik hati mau berbagi energi sihirnya pada orang lain.
Aku sebenarnya tidak begitu membutuhkannya, sungguh. Kashel tersenyum berkata dalam hatinya.
"Pantas saja kau tidak memiliki roh pelindung." Ujar Marva, Kashel diam saja.
Kashel teringat ia pernah bertanya pada Lyam apa yang terjadi jika ia mengikat kontrak dengan Roh Pelindung. Lyam menjelaskan, jika Kashel mencobanya dirinya akan di ambil alih oleh The Borders dan naga raksasa itu akan menghancurkan Roh Pelindung itu menjadi debu. Karena mengganggu tempatnya, Kashel juga tidak akan mati. Tapi untuk beberapa saat tubuh Kashel akan diambil alih oleh The Borders agar jiwa Kashel tidak hancur karena perjanjian kontrak dengan Roh Pelindung yang mengharuskan tuan dan pelayannya mati bersama.
Keringat keluar dari pelipis Kashel, wajahnya terlihat pucat memikirkannya. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya berani-berani mengikat kontrak dengan Roh Pelindung.
"Aku juga tidak mau membayangkannya." Ujar Kashel menatap ke arah luar jendela lagi.
"Jadi apa yang akan kita lakukan nanti malam Tuan?" tanya Marva.
"Aku akan menghalau energi gelap itu. Sudah tugasku membasmi kegelapan yang mengacau di dunia ini." Jawab Guardian.
Kashel hanya diam saja membiarkan angin mengibaskan rambutnya, Kashel menikmatinya. Kashel memiliki tugas yang sama dengan Lyam, tapi dia juga harus bisa menjaga Guardian agar tidak dilahap oleh kegelapan sebagai jiwanya, Kashel memiliki kemampuan untuk menghalau energi gelap yang mempengaruhi Guardian.
.
.
.
Malam pun telah tiba ...
Suasana malam itu terasa sangat hening dan damai, hening yang tidak biasa.
"Kashel aku percayakan anak ini padamu." Ujar Guardian kemudian terbang pergi ke angkasa.
"Sebaiknya kau tidak menjadi bebanku, aku harus fokus menjaga penghalang di desa ini." Kashel hanya diam saja.
"Aku akan berusaha tidak menjadi bebanmu." Ujar Kashel mengikuti langkah Marva.
Marva kemudian duduk di altar yang di sekelilingnya telah di gambar lingkaran sihir dan mulai konsentrasi memperkuat penghalang sihir di sana.
Kashel takjub melihat cahaya kuning keemasan yang perlahan mengelilingi desa itu dan membungkusnya.
Kashel berdiri menatapi langit yang telah berubah warna menjadi kuning cerah pada saat malam hari.
.
.
.
Setelah melakukan ritual itu Marva berdiri dan meninggalkan altar.
"Ritualnya telah selesai, kita bisa pergi mencari tempat aman. Sekarang seluruh desa ini adalah tubuhku. Apapun yang menyerangnya aku akan merasakan rasa sakitnya." Marva menjelaskan pada Kashel.
Marva bisa merasakan perasaan seluruh penduduk desa, entah itu rasa takut, marah ataupun senang. Semua orang menjadi satu dengannya.
Kecuali Kashel pria yang di sampingnya itu ia tidak bisa merasakan apapun, hanya ketenangan.
Siapa sebenarnya dia. Marva penasaran menatap Kashel.
"Kau siapa sebenarnya?" Marva bertanya datar pandangan mata hijaunya tampak kosong.
"Hei apa perasaan semua orang di desa ini mempengaruhi dirimu?" Kashel merasa khawatir.
"Tidak, perasaanmu terlihat seperti milik Tuan Guardian. Aku tidak bisa merasakannya." Ujar Marva menatap Kashel dengan pandangan kosong.
Astaga, kekuatan ini ternyata tidak bisa disembunyikan sepenuhnya ternyata. Batin Kashel ia terlihat berpikir.
"Mungkin karena pengaruh sihir yang ada pada tubuhkukan milik Guardian." Ujar Kashel lagi pula ia tidak sepenuhnya berbohong. Marva menggeleng tidak percaya.
"Orang sebelumnya, yang memiliki sihir Tuan Guardian, perasaannya masih terlihat." Kashel tidak tahu harus berkata apa lagi, lagi pula tidak ada alasan untuknya terus berbohong, tapi ia juga tidak mau menjelaskannya.
DUAR!
Ledakan dan angin berhembus di samping Kashel dan Marva membuat keributan di tengah desa itu.
Kashel menghindari serangan itu dengan cepat, saat ini ia merasakan ada energi gelap di dekatnya. Halaman rumah itu terlihat berlubang cukup dalam, jika mereka terkena serangan barusan bisa-bisa mereka terluka parah bahkan mati. Kashel menjaga tubuh Marva yang lemah, Marva tidak bisa bertarung karena harus membagi sihirnya untuk membuat perisai di kota itu.
"Siapa kau sebenarnya?" Marva menatap Kashel.
"Masih sempat-sempatnya kau bertanya di saat seperti ini." Ujar Kashel bersiap bertahan, ia kemudian membakar kertas mantra pelindungnya.
"Mantra pelindung," ucapnya mengaktifkan mantra itu. Kashel melindungi Marva dengan kemampuannya sendiri.
"Bagaimana makhluk itu bisa masuk di desa ini?" tanya Kashel bingung.
"Argh!" rintih Marva.
"Kau tidak apa-apa?" panik Kashel.
"Perasaan benci dan gelap dari orang itu terlalu kuat." Marva bergetar menunjuk ke arah pria berjubah itu.
.
.
.
Serangan mendadak mengenai mantra pelindung Kashel.
"Uhuk!" Kashel tidak bisa lagi menggunakan mantra pelindungnya. Tapi karena terdesak tanpa sadar, kemampuan pemulihan diri dari Kashel bangkit.
Aku kehilangan fokusku untuk membuat batasan. Batin Kashel ia sudah merasa lebih baik.
Namun belum sempat mengaktifkan mantra yang baru. Serangan mendadak sudah berada di depan Kashel.
DUAR!
Ledakan besar terjadi, tetapi tidak ada siapa-siapa disana. Hanya sebuah kacamata yang hancur tertinggal di sana.
BRUK!
Dua orang muncul dari dalam portal di tempat berbeda beberapa saat serangan itu seharusnya mengenai mereka berdua telak.
"Aduh!" Kashel jatuh dengan ditindih oleh Marva yang berada di atas tubuhnya.
Aku merasa sangat tidak ahli dan keren dalam menggunakan portal. Batin Kashel, ia sangat jarang menggunakan kemampuannya itu.
"Kau bisa menggunakan portal, siapa sebenarnya kau ini?" tanya Marva terkejut.
"Kau berisik! Kenapa harus membahas itu terus sih." Kashel merasa jengkel.
"Ya, karena aku penasaran." Marva masih memiliki tenaga untuk berdebat dengan Kashel rupanya walaupun bergerak ia harus dibantu.
"Aku tidak mau mengatakannya padamu mengerti." Kashel berucap berdiri di depan Marva, membuat pemuda itu terdiam.
"Rupanya kalian ada di sini." Pria berjubah itu sudah berada di belakang Kashel dan membuat Kashel terbelalak kaget.
"Api hitam," gumamnya menyerang Kashel dengan api hitam yang besar, Kashel dengan tenaganya mengangkat Marva dan membawanya kabur.
"Aku tidak kuat lagi."
BRUK!
Kashel terjatuh.