The Borders

The Borders
Bagian 51 – Pertemuan dengan Rainer



Tidak ada yang spesial dalam materi mantra penyegelan bagi Kashel. Ia bisa menggambar simbol mantra penyegel dengan baik tapi tidak bisa mengaktifkannya jadi nilai yang ia dapatkan pada materi ini hanya setengahnya saja.


.


.


.


Sekarang sudah memasuki materi tentang mantra penyembuh, di materi ini mereka mempelajari cara meracik obat sihir.


Dengan bahan-bahan herbal dan simbol-simbol sihir mereka kemudian membuat sebuah obat yang bisa digunakan oleh para Kesatria Penjaga Batas ketika mereka dalam keadaan terluka atau terdesak. Tapi karena harus menggunakan pengontrolan energi sihir yang baik, banyak dari mereka yang gagal dalam ujian ini. Karena salah-salah dalam pengontrolan energi, obat sihir itu malah akan menjadi racun untuk tubuh para Kesatria Penjaga Batas.


Bahkan dalam prakteknya ada yang membuat sebuah ledakan karena pengontrolan energi sihir yang kurang baik.


Kashel mendapatkan nilai yang cukup baik walaupun tidak sebaik nilai mantra pelindung, karena ia bisa meracik obat herbal alami walaupun tanpa energi sihir.


Di bulan terakhir tahun pelajarannya, mereka mempelajari materi tentang mantra penghapus ingatan, hanya singkat saja dalam materi ini karena mantra ini adalah ilmu sihir terlarang yang tidak boleh digunakan kepada orang lain sembarangan karena bisa mempengaruhi mental orang lain yang terkena dampaknya.


Mantra penghapus ingatan juga tidak bisa berfungsi secara permanen, ada batas waktu yang ditentukan tergantung seberapa kuat energi sihir penggunanya.


.


.


.


Tidak terasa acara kelulusan mereka pun dimulai. Kashel mendapatkan ijazah juga pada akhirnya. Ia merasa senang meskipun mendapat nilai rata-rata. Tapi benda itu bisa menjadi pegangan hidupnya ke depannya.


"Baiklah setelah aku selesai magang dan pemimpin organisasi selanjutnya telah ditentukan aku akan melanjutkan sekolahku lagi demi memperbaiki nilai ini dan menjalani kehidupanku dengan baik di luar sana." Kashel berharap banyak kedepannya tentang kehidupannya.


Ia telah mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan di luar sana agar suatu saat ia bisa menjalani kehidupan seperti pada orang umumnya.


Rencananya dalam dua tahun magangnya di kantor The Borders Organization. Ia mungkin bisa menabung uang untuk melanjutkan sekolahnya kelak dan memperbaiki nilainya yang hanya rata-rata dan mendapat pekerjaan yang baik setelah itu.


.


.


.


Di sinilah Kashel sekarang berada di depan Kantor Magang The Borders Organization. Bukan Kantor plPusat hanya kantor biasa yang menangani anak-anak magang.


Para Kesatria Penjaga Patas bekerja secara kelompok. Pegawai magang dipekerjakan hanya dengan dua orang pada setiap timnya biasanya tugas pegawai magang untuk membantu anggota Kesatria Penjaga Batas lain dalam menjalankan tugas mereka.


Kashel saat itu sedang menunggu seorang yang akan menjadi rekan timnya, biasanya yang menjadi rekan tim itu adalah orang yang berpengalaman dalam melakukan pekerjaan membasmi roh bukan pegawai yang sama-sama magang.


Kashel selalu berharap ia bisa menemukan orang baik yang bisa membimbingnya dalam menjalankan tugasnya nanti, bukan orang yang akan merundungnya seperti sebelum-sebelumnya ia berharap menemukan orang yang baik kali ini.


Kemudian seseorang pria paruh baya berambut putih sebahu, rambutnya sedikit bergelombang, memiliki mata kuning cerah menggunakan topi fedora dengan setelan jas dan jubah yang panjangnya sepinggang. Datang ke arah Kashel sambil mengisap sebuah rokok.


Kashel takjub melihat aura orang itu menurut Kashel orang itu sungguh berkarisma.


Kemudian ia menghampiri Kashel dan mulai mengajaknya berbicara.


.


.


.


"Apakah kau anak yang bernama Kashel?" tanyanya, ia mendudukkan diri sambil terus mengisap rokoknya.


"Iya saya sendiri," Kashel berbicara dengan sopan.


"Tidak usah terlalu formal denganku," orang itu mematikan rokok yang ia isap, terlihat sedikit lagi telah terbakar habis sampai ke puntung rokoknya. Dan mengambil satu yang baru dari kotaknya yang ia simpan di saku.


Kashel hanya memperhatikannya. Sembari mengangguk, ia merasa gugup karena bertemu dengan orang baru.


"Ah maaf Pak aku tidak merokok." Kashel menolak sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Kau anak yang baik rupanya."Orang itu menyimpan kotak rokoknya kembali di sakunya.


"Aku bukan orang yang sebaik itu Pak," ucap Kashel sambil tersenyum ramah.


"Tidak ada orang baik yang mengatakan dirinya baik Nak. Biasanya orang baik terlihat, ketika orang melihatnya baik." Pria berambut putih itu berbicara sambil terus mengisap rokoknya.


"Mulai besok malam sampai dua tahun ke depan, aku dan kamu akan menjadi rekan kerja." Pria itu kemudian menatap Kashel dan menjelaskan.


"Orang biasa memanggilku Rainer." Ucapnya memperkenalkan diri, saat ini ia menghentikan acara merokoknya.


"Satu lagi jangan panggil aku Bapak panggil saja aku Paman biar terasa lebih akrab." Ucap pria itu kepada Kashel, Kashel yang masih canggung hanya mengangguk mengiyakan.


"Namaku Erza Kashel Kendrick, panggil saja Kashel." Kashel memperkenalkan dirinya takut-takut. Rainer hanya menatapinya tidak berkata apa-apa. Kashel sudah bersiap dirinya akan dihina seperti sebelum-sebelumnya karena menyandang nama besar Kendrick.


"Kuharap kau tidak merasa bosan padaku ya, semoga kita bisa akrab. Karena sebelumnya aku tidak pernah punya rekan kerja." Ucap Rainer berusaha mengakrabkan diri pada Kashel, karena ini pertama kali untuknya juga. Ia tidak memikirkan tentang selak beluk keluarga Kashel.


"Seharusnya aku yang bilang seperti itu Paman, aku bukanlah orang yang seperti Paman pikirkan. Aku juga tidak punya pengalaman bekerja bersama dengan orang lain dengan baik." Kashel menjelaskan tidak berani menatap wajah Rainer.


"Mungkin kehadiranku menjadi rekan Paman hanya akan menyusahkan Paman saja tapi jika ada apa-apa, aku akan berusaha membantu Paman sebisaku." Kashel berucap yakin.


"Kau tidak perlu khawatir, sebenarnya aku sudah terbiasa bekerja sendiri tapi kali ini aku yang akan menjagamu Kashel." Ucap Rainer melanjutkan kata-katanya.


Usia Rainer saat itu mungkin sudah sekitar tiga puluh delapan tahun, dua puluh tahun lebih tua daripada Kashel. Jadi Rainer ingin menjadi wali untuk Kashel.


.


.


.


"Jadi Paman, sekarang hal apa yang harus kita lakukan pertamakali untuk memulai pekerjaan ini?" tanya Kashel ingin meminta pengarahan kepada Rainer.


"Kau ikutlah denganku tidak perlu terlalu kaku dalam melakukan pekerjaan ini." Rainer mengajak Kashel pergi ke suatu tempat.


Alangkah terkejutnya Kashel karena Rainer malah membawanya pergi ke sebuah restoran dan mengajaknya makan di sana.


"Apakah ketika bekerja, kita tidak apa-apa melakukan hal semacam ini Paman?" tanya Kashel agak takut, selama ini ia selalu melakukan hal dengan sungguh-sungguh dan serius.


"Kau itu masih muda, nikmatilah masa mudamu selagi kau bisa menikmatinya. Masuklah biar Paman yang traktir." Rainer menepuk kepala Kashel ingin mengakrabkan diri.


"Inilah cara kerjaku, hahaha." Rainer malah bersenang-senang di dalam pekerjaannya.


"Nikmatilah Kashel jangan sungkan untuk memakannya jika kau lapar," Rainer menyorongkan sebuah sup kepada Kashel.


Kashel menerimanya dengan sopan karena ia tidak pernah bertemu dengan orang seperti Rainer sebelumnya dan sebenarnya ini pertama kali Kashel pergi ke restoran.


"Terima kasih, Paman." Entah mengapa Kashel terlihat begitu senang dengan kebaikan Rainer. Kashel adalah manusia yang hampir tidak pernah menerima kebaikan orang lain, jadi ketika ada orang lain yang baik padanya maka ia akan sangat bahagia.


Kashel memakan makanannya dengan lahap dan Rainer menyuruhnya untuk tambah jika Kashel masih merasakan lapar, mengatakan tidak perlu sungkan kepadanya.


"Jadi Paman, apa yang sebenarnya harus kita kerjakan malam ini?" Kashel bertanya lagi.


"Sebenarnya tempat inilah yang akan menjadi tempat kita bekerja pada malam hari ini. Di salah satu kamar ini terdapat kamar yang menjadi tempat persembunyian Roh Kegelapan di dalamnya." Rainer menjelaskan setelah Kashel merasa kenyang memakan makanannya. Jadi, sebenarnya sedari awal mereka tidak hanya bermaksud untuk makan di dalam restoran tersebut.


"Di dalam kamar itu sudah banyak orang yang mengalami sakit setelah menginap di dalamnya, dan tugas kita adalah membersihkan Roh Kegelapan itu." Rainer beranjak pergi dari kursinya dan Kashel mengikutinya di belakang.


Setelah membayar makanannya, Rainer kemudian pergi ke meja resepsionis untuk memesan kamar.


Kemudian ia memberikan kode yang membuat resepsionis itu mengerti bahwa Rainer berasal dari The Borders Organization, orang-orang yang mereka panggil untuk menyelesaikan masalah pada penginapan mereka.


Kemudian Rainer diberikan kunci kamar bernomor 666. Lalu, misi pertama Kashel dan Rainer sebagai rekan dimulai pada malam itu.