
"Kau bukanlah orang terpilih, tapi tubuhmu bisa mempergunakan kekuatan itu, dan juga jika kau ingin bertahan hidup kau harus selalu mempergunakan kemampuanmu itu, jika tidak tubuhmu akan meledak. Akibat energi sihir yang berkembang." Guardian menjelaskan semuanya pada Rainer.
"Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku, Tuan." Ucapnya ia menangis. Ia sangat terpukul atas kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Di desa itu hanya dia seoranglah yang berhasil selamat.
Roh Kegelapan yang menyerang desa tempat Rainer berasal berhasil melarikan diri. Tapi Rainer tidak menyalahkan Guardian yang datang terlambat di desanya.
Ia bertekad akan mengalahkan energi gelap yang sudah merusak kebahagiaannya dan membalaskan dendam seluruh keluarganya.
Sejak saat itu ia mengikuti ke mana pun Guardian pergi, dan pada akhirnya ia memilih bekerja di Kantor Pusat The Borders Organization dan menerima berbagai macam tugas dari sana, karena ia tidak selamanya bisa mengikuti Guardian ke mana pun. Ia juga punya batasan, tapi terkadang Guardian bisa memberikan tugas khusus untuknya yang Kantor Pusat tidak bisa ikut campur di dalamnya.
Rainer sering merasa tidak nyaman dengan kemampuan yang ia miliki, karena ia tidaklah cocok dengan energi milik Guardian. Jadi untuk mengatasi itu Rainer sering mengalihkannya dengan mengisap rokok.
.
.
.
Jadi sekarang setelah apa yang terjadi di masa lalunya, Rainer akan melakukan apapun untuk menjaga orang yang berharga untuknya tidak akan membiarkan kejadian di masa lalunya terulang kembali.
Dengan jadinya ia sebagai Kesatria Penjaga Batas, Rainer ingin melindungi kebahagiaan semua orang, meskipun apa yang ia lakukan tidaklah berarti banyak untuk orang lain. Dengan senang hati ia melakukannya.
Rainer ingin melihat Kashel bahagia di jalan pilihannya sendiri, seperti orang tua yang mendukung anaknya.
Namun yang mempertemukannya dengan Kashel adalah takdir yang sudah menantinya. Meski begitu, Rainer ingin Kashel tetap menjadi dirinya sendiri.
.
.
.
"Paman, sudah waktunya makan siang." Kashel mengajak Rainer makan di siang itu membuyarkan semua lamunan Rainer. Kashel masih merasa tidak nyaman karena memikirkan hal-hal tentang simbol sihir terlarang itu. Tapi, Kashel tidak ingin membahasnya lagi.
"Ada Paman?" tanya Kashel memergoki Rainer yang menatapinya.
"Aku hanya punya punya permintaan untukmu." Ucap Rainer melanjutkan makannya.
"Apa itu Paman, kuharap bukan permintaan aneh-aneh?" tanya Kashel, masih tidak enak hati.
"Permintaan Paman di masa depan nanti, Paman mau Kashel miliki teman yang banyak dan tetap menjadi dirimu sendiri apa adanya." Ucap Rainer memberitahukan permintaannya.
"Umm, aku akan mencari teman yang banyaak. Dan jika nanti aku sukses lalu punya banyak teman, Paman harus melihatnya dan harus bangga padaku. Hahahaha." Ucap Kashel bersemangat. Bersama Rainer, Kashel merasa punya tujuan hidup yang jelas.
"Paman harus melihatnya nanti." Ucap Kashel, Rainer hanya tersenyum.
"Lanjutkan makanmu keburu dingin nanti." Ucap Rainer mengalihkan pembicaraan mereka.
"Paman aku ingin mendengar masa lalu Paman, apa Paman mau menceritakannya." Kashel merasa bahwa mereka berdua meskipun dekat dalam satu tahun lebih ini ada banyak hal yang belum diketahui.
"Tentu saja, Paman akan menceritakannya padamu, tapi kamu jangan menangis yaa." Ucap Rainer.
"Aku kuat Paman," Kashel merasa yakin.
Setelah mendengar penjelasan Rainer. Kashel menangis juga ternyata, ia tidak kuat mendengar masa lalu Rainer yang amat menyedihkan. Tapi Rainer tidak memberitahu jika ia mendapatkan kekuatan dari Guardian.
"Tidak perlu menangis Kashel, kau itu laki-laki yang sudah dewasa seharusnya." Ucap Rainer panik, ia tidak tahu menenangkan orang yang sedang menangis.
"Kisah Paman sangat sedih. Aku tidak bisa tidak menangis Paman, maafkan aku." Kashel menyapu air matanya.
"Lagipula saat ini, aku sudah punya kau Kashel sebagai keluargaku." Rainer tersenyum dan mengambil sekotak coklat.
"Kudengar coklat bagus untuk mengembalikan suasana hati menjadi lebih baik." Rainer menyodorkan coklat itu kepada Kashel.
"Aku bukan anak kecil lagi Paman." Ujar Kashel merasa seperti anak kecil yang sedang dibujuk karena telah menangis, meskipun ia tidak pernah dibujuk oleh siapapun ketika menangis di masa kecilnya dulu.
.
.
.
Setelah itu Kashel dan Rainer berbicara banyak hal dan berbincang bersama, tapi sebenarnya kebersamaan mereka tidak akan lama lagi.
.
.
.
.
Sudah banyak hal yang Kashel dan Rainer lalui sebagai rekan, waktu magang bersama Rainer telah berakhir.
"Terima kasih Paman telah membimbingku," ucap Kashel, Rainer menyerahkan sebuah berkas yang sepertinya itu adalah sebuah sertifikat tanda telah selesainya kegiatan magang yang dilakukan Kashel. Satu bulan lagi akan ditunjuknya pemimpin baru The Borders Organization dan setelah itu Kashel akan bebas sepenuhnya.
"Jadi Kashel, apa yang ingin kau lakukan satu bulan ke depan?" tanya Rainer yang sedang merayakan kelulusan Kashel sebagai Kesatria Penjaga Batas. Ia saat ini berada di tempat tinggal yang Rainer sewa.
"Aku ingin istirahat Paman, untuk saat ini. Aku tidak ingin memikirkannya dulu." Ucap Kashel ia ingin bersantai, ia ingin menikmati kebebasannya sejenak.
"Ah, ke depannya aku akan melakukan tugasku sebagai Kesatria Penjaga Batas seorang diri lagi." Ucap Rainer, mencari simpati Kashel.
"Huwaaa! Maafkan aku Paman, aku tidak bisa mengikuti Paman lagi." Kashel merasa tidak enak, ia ingin selalu dekat dengan Rainer tapi ia juga sudah membulatkan tekadnya untuk mengejar impiannya sendiri.
"Hahaha, tidak apa-apa Kashel. Lakukanlah yang kamu suka untuk saat ini, tapi kita memang akan jarang bertemu. Karena aku juga harus bekerja, tinggallah di sini sesukamu. Aku akan kembali jika tugasku sudah selesai. Dan makan-makan enak bersama denganmu." Rainer menepuk-nepuk bahu Kashel yang sebentar lagi berusia 20 tahun, kurang lebih dua bulan lagi.
"Aku akan selalu menunggu Paman pulang, jadi jangan lama-lama ya tugasnya." Ujar Kashel.
.
.
.
Dua minggu sebelum acara ditunjuknya pemimpin The Borders Organization. Hari itu adalah hari Rainer berumur ke-40 tahun. Kashel menyiapkan hadiah kecil-kecilan untuk Rainer.
PLOP!
Kertas warna-warni mengkilat kecil terbang di udara.
"Selamat ulang Paman, semoga panjang umur." Kashel mengucapkan selamat kepada bertambahnya umur Rainer.
"Astaga, aku tidak menyangka sudah bertambah tua, hahaha." Rainer sangat bersemangat.
"Ucapkan keinginan Paman," ujar Kashel.
"Aku ingin bisa merayakan ulang tahun Kashel juga bulan depan." Doa yang Rainer pinta cukup sederhana tapi membuat Kashel terharu, seperti waktu itu akan sulit dicapai nantinya.
"Ayo kita bersenang-senang saat ulang tahunku bulan depan. Sekarang kita nikmati acara Paman." Ujar Kashel bersemangat.
Rainer yang jarang pulang sebelumnya jadi sering pulang ke tempat tinggalnya meskipun hanya kamar sewa, karena ada seseorang yang ia anggap keluarganya menantinya pulang. Rainer ingin kebahagiaan ini bisa berlangsung lebih lama lagi.
Mereka menghabiskan siang itu dengan memakan kue yang Kashel buat.
Rainer tertidur setelahnya ia kelelahan karena semalam ia harus berhadapan dengan Roh Kegelapan. Ia tertidur di atas sofa setelah merasa kenyang, demi menemani Kashel ia sedikit bertahan lebih lama untuk tidak tertidur meskipun lelah.
"Maafkan aku Paman, seharusnya Paman beristirahat dari tadi." Gumam Kashel menyelimuti Rainer, kemudian ia membersihkan sampah-sampah yang berserakan di lantai karena pesta ulang tahun kecil-kecilan mereka telah berakhir.