The Borders

The Borders
Bagian 5 – Kantor Pusat



Malam harinya setelah kedatangan Lyam kembali, semua pegawai di Divisi Batas Senja meninggalkan kantor mereka untuk mengatasi kekacauan akibat ulah roh jahat di sebuah distrik kecil dekat kantor cabang mereka.


Sebelumnya di sore harinya ada seorang pria yang sepertinya merupakan pimpinan distrik itu yang mengajukan permohonan tentang kejanggalan yang terjadi di wilayahnya, setiap malam ada orang yang mengalami kesurupan atau mengamuk tanpa sebab yang jelas. Mengetahui hal itu seluruh anggota cabang diutus untuk menangani kasus itu.


Tidak ada yang berani membantah untuk tidak melakukan tugas itu, sebab sekarang yang memerintah mereka untuk bekerja di lapangan adalah Lyam yang telah mengambil alih tugas Kashel.


Sedangkan Kashel sendiri hanya disuruh Lyam untuk beristirahat dan menjadi bos sepenuhnya tanpa melakukan apapun. Tapi Kashel adalah Kashel, mana mau dia mendengarkan omongan Lyam.  Ada saja yang dilakukannya daripada hanya berdiam diri di kamarnya.


Sampai akhirnya karena kelelahan Kashel tertidur, waktu itu sudah larut malam juga. Ia tertidur di sofa ruang kantornya, sedangkan Lyam dia masih sibuk dengan laporan-laporan kantor yang menumpuk melakukan pekerjaan Kashel.


Lyam tidak mengganggu Kashel yang tertidur ia hanya diam saja. Lagi pula Kashel juga dalam posisi yang nyaman ketika tertidur meskipun di sofa.


Kashel tertidur hingga pagi, Lyam sudah menyelesaikan tugasnya dan sekarang bersantai di sofa yang lain tidak jauh dari Kashel. Ia sedang membaca laporan lain yang telah diselesaikannya.


Lyam dia bukanlah manusia. Jadi tidak begitu butuh istirahat, terkadang hanya sesekali saja ia terlihat tertidur atau beristirahat. Makan makanan manusia pun Lyam juga hanya ketika menghormati atau menghargai sesuatu saja, baru ia ikut makan. Ia lebih membutuhkan energi alam untuk tubuhnya ketimbang makanan manusia.


Kashel terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan tampaknya terkejut. Sangking nyamannya ia tidak menyadari jika hari sudah pagi. Ia juga bahkan tidak perduli dengan kehadiran Lyam yang berada tepat di dekatnya. Kashel sibuk dengan urusannya sendiri, ia mengecek ponselnya dan seperti mengirim chat pada Grizelle.


"Hari ini kita harus ke Kantor Pusat," kata Lyam tiba-tiba membuka percakapan di pagi itu.


"Bisakah kau pergi sendiri," kata Kashel ia sangat malas jika harus menginjakkan kakinya ke Kantor Pusat.


"Aku mendapat laporan tadi malam, kau disuruh untuk datang ke sana setelah kejadian kemarin malam. Kemunculan Portal Perbatasan yang tidak terduga saat itu, kau harus menceritakan kronologisnya." Jelas Lyam.


"Menyebalkan, apa urusan mereka atas kejadian itu. Lagipula tidak terjadi hal yang sangat mengerikan juga." Gumam Kashel.


"Kau bisa saja jika tidak ingin menuruti kemauan mereka, dengan ikut denganku." Saran Lyam.


"Ayo sekarang kita bersiap ke Kantor Pusat." Ikut dengan Lyam lebih parah daripada harus bertemu keluarganya di Kantor Pusat itulah menurut Kashel. Pergi ke Perbatasan. Dunia yang bukan dunia manusia dan juga bukan dunia roh. Tempat yang tidak ada orang lain di sana, Kashel tidak ingin memijakkan kakinya lagi di sana.


.


.


.


"Kau memang tidak berubah," Lyam terkekeh. Dan Kashel hanya diam saja.


Aku tidak akan menarik tujuan hidupku karena itulah satu-satunya hal yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang. Batin Kashel, dengan keinginan yang kuat ia bisa menahan kekuatan besar yang ada di dalam dirinya. Meskipun kekuatannya di segel, ia sadar kekuatan segel itu tidak akan kuat jika ia tidak memiliki keinginan yang kuat juga untuk bertahan hidup sebagai manusia.


.


.


.


Tidak lama teman-teman Kashel satu persatu pulang dari tugas mereka, mereka tidak berani mengeluh apa-apa karena yang menyambut mereka adalah Lyam. Kashel saat ini tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka sebelum pergi ke Kantor Pusat.


Mereka semua sempat mengkhawatirkan keadaan Kashel setelah mendengar kabar Kashel harus pergi ke Kantor Pusat, mereka khawatir Kashel belum siap kembali datang ke tempat itu.


Semenjak pengangkatan pemimpin baru dan dirinya yang terpilih sebagai wadah jiwa The Borders, Kashel tidak pernah datang lagi ke sana. Kantor cabang ini berdiri karena Lyam yang mengurusnya. Atas permintaan Kashel tentu saja.


Setelah menjelaskan dia akan baik-baik saja. Teman-temannya pun tidak begitu khawatir lagi padanya, apalagi ada Lyam di sampingnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan.


.


.


.


Di tengah perjalanan menuju Kantor Pusat, Kashel memandangi bandul kalung yang menjadi simbol kekuatan yang disegel di dalam dirinya, dan merupakan salah satu simbol kesedihan pula dalam hidup Kashel.


Meskipun kesedihan itu sekarang tidak begitu menyakitkan setelah ia menemukan orang-orang yang berharga untuknya sekali lagi. Dia tidak akan lupa di balik cerita tentang bandul yang sedang dipandangnya itu juga, ada kesedihan mendalam di sana.


"Untuk apa kau menatapi benda itu?" tanya Lyam sekedar basa-basi.


"Tidak aku hanya penasaran, apa yang akan terjadi jika aku menghilangkan kalung ini," setelah memikirkan kesedihan, Kashel malah memikirkan hal lainnya lagi.


"Cobalah jika kau penasaran dengan hal itu," kata Lyam.


"Apakah tidak apa-apa sudah dua tahun ini aku memakainya tidak pernah melepaskannya. Jika pun dilepas setelah itu aku akan memakainya lagi." Ucap Kashel ia penasaran sebenarnya.


"Berikan padaku," tanpa basa-basi Kashel memberikan kalung itu pada Lyam dan tiba-tiba Lyam membuang kalung itu keluar jendela, sehingga membuat Kashel langsung terkejut.


"Hei kau gila?!"


"…."


"Kenapa tiba-tiba membuangnya, bagaimana jika segelnya rusak. Apa yang akan terjadi pada kita berdua." Kashel berteriak kesal karena ulah Lyam.


"Pak berhentikan mobilnya!" pinta Kashel pada supir yang tengah membawa mereka berdua ke kantor pusat.


"Teruskan saja pak!" kata Lyam dan supir itu mengikuti perintah Lyam daripada permintaan Kashel, terlihat sebenarnya supir itu tengah berkeringat dingin karena takut dengan Lyam akibat aura seram dari tubuhnya. Padahal supir itu tidak tahu Lyam itu sebenarnya adalah Guardian.


Tidak banyak orang yang tahu tentang ikatan Kashel dan Lyam sebagai wadah jiwa dan wujud sadar The Borders. Termasuk supir ini, ia hanya tidak tahu mengapa ia bisa gemetaran hanya dengan mendengar suara dari Lyam.


Ia tidak memperhatikan percakapan Lyam dan Kashel tentang segel barusan, meskipun Kashel mengatakannya dengan keras. Rasa takutnya membuyarkan fokusnya untuk mendengarkan kedua percakapan orang itu.


Untuk Kashel, ia memang salah satu keluarga dari keturunan Kendrick tidak ada yang mau menghormatinya karena ia dianggap orang yang terlahir gagal dari keluarga itu. Kashel menyadarinya kembali ketika supir itu lebih mendengarkan Lyam daripada dirinya.


.


.


.


"Apa kau gila, kenapa tidak menyuruhnya berhenti juga!" Kashel memegang kerah baju Lyam.


"Lihatlah ke arah lehermu," kata Lyam datar dan Kashel melihat ke arah lehernya. Kalungnya telah kembali.


"Sekarang kau paham kan apa yang akan terjadi jika kalungnya hilang."


"Kembali." Kashel berucap dengan suara pelan penuh keterkejutan sambil menatap kalungnya.


.


.


.


Sampailah akhirnya mereka di Kantor Pusat The Borders Organization. Tempat yang di penuhi oleh keluarga besarnya.


Sudah dua tahun ia memutuskan untuk tidak lagi memijakkan kakinya di sana, dan memutuskan untuk membuka kantor cabangnya sendiri. Jika ada urusan di Kantor Pusat Kashel akan mengirimkan orangnya untuk menghadiri pertemuan ketimbang dirinya sendiri yang pergi ke tempat itu.


Kashel hanya bisa menarik nafasnya menenangkan diri. Saat sebelum memasuki lift banyak orang yang memandangnya remeh mereka adalah orang-orang yang mengenal Kashel sejak lama.


Orang-orang ada yang berbisik dengan penampilan Kashel yang mereka anggap tidak sopan. Karena semua orang yang bekerja di sana menggunakan baju kasual rapi. Tapi Kashel tidak perduli, karena ia hanya ingin sebentar saja berada di tempat itu tidak ingin lama-lama. Setelah itu orang-orang yang menatap remeh Kashel ketakutan saat dipandangi kejam oleh Lyam.


Kashel hanya tampil dengan menggunakan sebuah jaket bewarna biru dongker dengan kaos putih polos, celana hitam longgar dan sepatu olahraga putih, ia juga menggunakan topi bewarna hitam. Sedangkan Lyam ia menggunakan kemeja hitam yang dilapisi dengan jas hitam panjang dengan pakaian serba hitam. Tubuhnya yang putih pucat dan matanya yang bewarna merah menyala, dengan rambut hitam yang lebat. Membuatnya terlihat tampan dengan pakaiannya.


Saat berjalan di samping Kashel ia lebih terlihat sebagai wali atau pengawal dari Kashel karena tubuhnya yang lebih tinggi dari Kashel. Banyak yang tidak tahu bahwa orang yang berada di samping Kashel itu adalah Guardian yang menyamar menjadi manusia. Biasanya Guardian menampakkan wujudnya dalam wujud Guardian sehingga penampilannya terlihat berbeda dari sekarang.


.


.


.


Sampailah ia di lantai paling atas gedung itu, tempat yang sepenuhnya diisi oleh keluarga besarnya. Orangtuanya, pamannya, keluarga cabang dan semua orang-orang penting keluarga Kendrick ada di sana. Dan tentu saja orang-orang yang mengetahui siapa Kashel sebenarnya.


Saat masuk di sana, ada beberapa orang yang mengetahui siapa Kashel sekarang memandangnya seperti monster, keluarga Kendrick di zaman sekarang rata-rata tidak menyukai Guardian atau Lyam yang sekarang berdiri di sisinya.


Bagi mereka Guardian hanyalah sebuah ancaman yang bisa membahayakan umat manusia karena kekuatannya yang mengerikan. Tidak seperti teman-teman Kashel di Divisi Batas Senja, meskipun mereka takut dengan Lyam mereka tidak pernah memandang Kashel sebagai monster karena menjadi bagian dari Guardian, bahkan mereka menganggap Kashel hanyalah seorang pemuda seperti biasanya.


Di sana tidak sengaja Kashel bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu." Kashel menyapa mereka sopan. Namun mereka berdua hanya melengos pergi seolah-olah tidak mengenali Kashel sebagai anak mereka. Ia juga bertemu dengan adiknya yang masih bersekolah di Akademi Spiritual. Adiknya tidak mengenali Kashel, ia hanya menatap bingung ketika orang tuanya dipanggil oleh Kashel ayah dan ibu.


Anak itu pikir ia salah dengar karena tadi sedang asik memainkan ponselnya.


"Yoo!" sapanya pada Kashel, dan Kashel menanggapinya dengan tersenyum. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan adiknya, meskipun adiknya tidak mengenalinya, tapi ia bersyukur karena adiknya menyapa dirinya akrab.


Sejak kecil mereka berdua telah dipisahkan, meski Kashel tahu siapa orang tuanya, ia tidak pernah dicatat dalam daftar keluarga alias tidak diakui anak. Bahkan ia tahu ia memiliki adik tapi ia tidak pernah diperbolehkan untuk menemuinya, ia hanya bisa melihat adiknya yang telah bertumbuh dari jarak jauh.


Berada di tempat itu Kashel merasa ada sesuatu yang sedang memakan hatinya, ia benar-benar sedih. Tapi tidak bisa marah juga. Dan ia hanya bisa pasrah saja.


Ia pun akhirnya masuk ke dalam ruangan yang saat ini di pimpin oleh sepupunya sendiri Rai Clovis Kendrick.


"Halo Kashel lama tidak berjumpa. Kalo tidak salah sudah 2 tahun. Semenjak aku menjadi pemimpin di kantor ini." Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk berjabatan dan Kashel tentu saja membalasnya langsung.


"Dan Guardian juga, dia benar-benar selalu menempel padamu Kashel."


"Sudahlah Rai, langsung intinya saja. Kenapa kau memanggilku kemari?" tanya Kashel tidak ingin basa-basi.


"Jangan terburu-buru aku sudah lama tidak melihatmu soalnya. Kerjaan di sini sangat sibuk sampai-sampai aku tidak bisa berkunjung ke kantormu, meskipun aku ingin sekali ke sana." Rai merangkul bahu Kashel terlihat akrab, selama ini Rai sering mengirimi Kashel pesan tapi Kashel hanya membalasnya sesekali. Kebanyakan dari pesan Rai, ia meminta Kashel datang ke kantornya. Tentu saja Kashel menolaknya, karena ini panggilan resmi saja dia kemari.


Mungkin di keluarganya, hanya Rai lah yang dari dulu tidak pernah menyakiti Kashel, meskipun ia tidak menolongnya juga ketika Kashel diganggu saat masih kecil.


"Lepaskan kau berat!" Kashel menyingkirkan tangan Rai menjauh. Lyam hanya menatapi keakraban mereka.


Rai bisa menjadi pemimpin di Kantor Pusat karena Lyam yang menunjuknya sebagai pemimpin selanjutnya. Lyam melihat pemuda itu, setidaknya lebih pantas ditunjuk sebagai pemimpin karena sifatnya yang masih tidak sombong seperti kandidatnya yang lain. Ada kebaikan di hatinya mungkin hanya karena lingkungan tumbuhnya yang membuatnya bisa terlihat angkuh.


.


.


.


CEKLEK!


Seorang wanita memasuki ruangan, dia adalah sepupu Kashel dan Rai juga. Aqilla Kendrick. Dia adalah seorang gadis judes dan sangat senang menjahili Kashel dulu. Ia juga merupakan salah satu calon penerus keluarga Kendrick. Namun tidak terpilih dan sekarang ia membenci Guardian karena tidak memilihnya sebagai pemimpin. Wanita itu langsung keluar setelah melihat siapa yang di dalam bahkan menutup pintu dengan keras.


Dia tidak berubah, batin Kashel. Ia sedikit sedih karena sampai sekarang pun wanita itu tetap tidak menyukainya.


"Baiklah Kashel aku akan jelaskan, kemarin aku memeriksa kamera pengawas dari kantormu. Menyelidiki bagaimana portal itu bisa muncul."


"Lyam kau juga sudah melihatnya kan?" tanya Rai dan Lyam mengangguk.


"Aku tidak mengerti bisa kau jelaskan," bingung Kashel, ia belum sempat memeriksa kamera pengawas kantornya setelah kejadian itu, ia hanya mengirimkan datanya saja ke kantor pusat.


"Setelah semua teman-temanmu datang di pagi itu. Siangnya ada orang yang menggunakan jubah berkeliaran di halaman kantor. Apa kau kenal dia?" Rai menjelaskan sambil memperlihatkan rekaman video itu.


"Aku tidak kenal dia." Jawab Kashel, melihat isi rekaman video itu.


"Kalau dia bukan manusia aku pasti merasakan kehadiran asing di sana karena mantra pembatas, tapi aku tidak merasakan apa-apa berarti dia manusia. Tapi apa yang dia lakukan disitu?" Kashel bertanya lagi tidak paham.


"Perhatikan, sepertinya dia melemparkan sesuatu dinsitu." Rai berkata sambil menunjuk monitor.


"Malamnya, benda yang ia lemparkan itu berubah menjadi portal perbatasan." Jelas Rai lagi mempercepat videonya.


"Apa! Jadi benda itu mengandung kekuatan perbatasan. Ya aku ingat, di jam itu kami semua sedang makan siang dan setelah itu aku merasakan hal yang tidak enak. Tapi tidak sama seperti ketika aku merasakan adanya portal perbatasan terbuka. Namun rasanya membuatku tidak nyaman." Jelas Kashel, ia ingat kejadian siang itu.


"Benda apa itu sebenarnya?" Kashel bertanya lagi.


"Sepertinya pecahan kristal," jelas Rai.


"Mungkin itu adalah bagian dari The Borders yang menghilang, meskipun aku tidak tahu itu bagian apa." Lyam menyela.


"Bagian apa?" Bingung Kashel ia bahkan lebih bingung lagi karena tidak pernah memperhatikan The Borders sendiri dan Lyam tidak tahan untuk tidak bertanya karena melihat kebingungan Kashel.


"Kau tidak ingin pura-pura kalau tidak melihat The Borders yang aslikan?" tanya Lyam dingin menatap Kashel.


"Hehe, sebenarnya aku tidak pernah berani menatap makhluk itu. Karena terlalu menyeramkan. Dia sangat besar, bahkan jika itu matanya saja aku tetap terlihat kecil. Aku tidak pernah melihatnya dengan benar." Kashel berbicara canggung, Rai hanya dapat menepuk jidatnya mengetahui fakta bahwa Kashel saja takut dengan kekuatannya sendiri, apalagi orang lain. Dan Lyam untuk pertamakalinya terlihat terkejut dengan apa yang barusan Kashel bilang.


"Kau benar-benar keterlaluan Kashel, kekuatan itu milikmu setidaknya perhatikan itu dengan baik. Bahkan hanya dengan menutup mata kau bisa melihatnya di dalam dirimu." Jelas Lyam menunjuk-nunjuk dahi Kashel.


"Stop! Kau saja yang lihat monster itu kalau mau, itu kan kau sendiri. Melihatmu saja itu sudah menguras mental." Ketus Kashel menjauhkan tangan Lyam.


"Jika aku monster, kau itu monster juga karena kau jiwanya." Lyam tersenyum meledek.


"Tapi aku jadi begini karena kau juga!" Kashel masih tidak mau kalah.


"Meskipun begitu itu tidak mengubah fakta bahwa kau juga sama." Lyam melanjutkan kata-katanya, Kashel tetap merasa kesal walau tidak bisa menyangkal kenyataan itu.


"Pfttth! Sudah-sudah kalian berdua jangan berdebat." Rai menahan tawanya.


Tapi Kashel yang kesal membuang wajahnya tidak ingin menatap Lyam. Sedangkan Lyam ia tetap seperti biasanya.


"Setidaknya kita sudah tahu bahwa kristal itu adalah bagian tubuh dari The Borders entah itu bagian apa." Ucap Rai, kemudian Kashel dan Lyam terlihat serius kembali. Mereka hanya harus mencari tahu siapa orang misterius itu, mengapa ia memiliki bagian tubuh The Borders.