The Borders

The Borders
Bagian 75 – Liburan Telah Selesai



Keesokan paginya ...


"Kau tidak bangun Kashel?" Lyam menegur Kashel dengan suara beratnya. Membuat Kashel langsung membuka matanya terkejut. Semalam ia rupanya bergadang karena teringat dengan masa lalunya.


Kashel tidak menyangka orang yang dulu ia takuti dan tidak mau hanya sekedar dekat-dekat dengannya menjadi sedekat sekarang. Sekarang hampir setiap hari ia melihat wajah itu dengan aura yang tidak biasa, yang membuat hampir semua orang takut, tapi tidak untuk Kashel.


"Kenapa kau melihatku seperti itu, apa ada yang salah?" tanya Lyam terus memperbaiki pakaiannya.


"Tidak ada." Ketus Kashel.


"Dasar anak yang aneh." Lyam mengejek Kashel.


"Kau bilang apa?"


"Anak aneh."


"Kau yang aneh!"


"Sudahlah aku tidak ingin ribut denganmu pagi-pagi. Jika kau terlambat Grizelle akan memarahimu nanti." Ujar Guardian, Kashel menatap jam dinding di kamar itu dan melihat kurang lima menit lagi jam 8 pagi, ia punya janji dengan Grizelle sarapan bersama.


Kashel langsung melompat dari atas tempat tidur.


"Berhati-hatilah," ucap Lyam datar melihat kelakuan Kashel yang seperti itu, Kashel langsung keluar kamar dengan pakaian yang seadanya.


.


.


.


"Maafkan aku hampir terlambat," ucap Kashel mendudukkan dirinya di samping Grizelle yang sedang bersantai pagi itu, di bangku depan penginapan. Grizelle menatapi Kashel.


"Kau kurang tidur ya?"


"Iya sepertinya tadi malam aku ketiduran saat tengah malam. Ada banyak hal yang aku pikirkan semalam." Jawab Kashel.


"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kau cepat tua." Grizelle menatapi wajah Kashel.


"Tidak banyak kok, hanya teringat masa lalu." Kashel berucap santai.


"Hmm," Grizelle menelungkupkan tubuhnya di meja di depannya.


"Hoam!" Kashel menguap sembarangan.


"Wus, lalat tu masuk dalam mulutmu... Bercanda." Grizelle tersenyum memperhatikan Kashel.


"Becandamu gak lucu,"


"Ya akukan bukan orang yang pandai bercanda."


"Tapi aku sayang kamu." Kashel menyandarkan kepalanya di bahu Grizelle.


"Gak nyambung, bilang aja minta dimanja iyakan?" Grizelle mengusap puncak kepala Kashel gemas, kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Kashel, sejenak bersantai menatapi laut yang tenang di pagi itu sebelum pergi sarapan. Tangan mereka berdua saling bertautan membagi kehangatan.


.


.


.


Akhirnya liburan mereka selama beberapa hari setelahnya terkesan tenang setelah serangan di malam pertama.


"Woah aku puas!" Rigel berteriak senang, akhirnya tubuhnya bisa istirahat setelah dua tahun.


"Rasanya setelah ini aku ingin liburan selamanya." Erphan berucap ia masih belum puas menikmati liburannya.


"Haruskah aku mencari jodoh di sini?" Chain yang selama liburannya sibuk mendekati banyak wanita.


"Kuyakin tugas kantor sekarang menumpuk." Anna terlihat biasa-biasa saja.


"Kemana Freda?" Kyler celingak-celinguk. Semuanya baru sadar jika tidak ada Freda di antara mereka.


Luan masih sibuk mengumpulkan kerang di pinggir pantai saat itu, ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.


"Hei Luan berhentilah main-main jadi anak kecil!" teriak Rigel pada Luan.


"Hah?! Apa kau bilang barusan, siapa anak kecil!" teriaknya kesal dari jauh.


"Kau!" Rigel masih mengejeknya. Ia tertawa setelahnya.


Setelah itu Luan mendatangi mereka dengan raut wajah kesalnya.


"Kalian tidak tahu aku mencari kerang-kerang ini untuk bahan penelitianku." Jelas Luan membawa macam-macam kulit kerang di dalam sebuah toples.


"Tapi benar apa kata Rigel dengan kau yang seperti itu, terlihat seperti anak kecil." Ujar Anna menimpali, kerutan kesal muncul di dahi Luan.


Sedangkan Kashel dan Grizelle mereka berdua sibuk dengan dunia mereka sendiri seolah-olah tidak ada orang lain di sana. Lyam hanya memerhatikan kedua orang yang kasmaran itu, tidak berkata apa-apa. Melihat mereka Lyam malah penasaran dengan perasaan Kashel dan Grizelle itu.


.


.


.


Lyam hanya menatapi kedua orang di depannya masih tidak mengerti. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi kedua orang itu. Lalu, Lyam mencoba tersenyum pada Grizelle dan Kashel. Saat melihatnya Kashel dan Grizelle malah takut dengan senyuman Lyam yang menurut mereka berdua mengerikan.


"Kau sedang kesambet apa Lyam?" tanya Kashel.


"Memang Lyam bisa kesurupan?" tanya Grizelle berbisik penasaran.


"Bisa, contohnya seperti sekarang." Tunjuk Kashel pada Lyam.


"Pergilah roh jahat." Kashel menepuk dahi Lyam. Grizelle tertawa melihat tingkah Kashel, Lyam hanya diam saja diperlakukan seperti itu.


"Apa yang sebenarnya mereka bertiga lakukan," ujar Chain memperhatikan kelakuan Kashel terhadap Lyam.


.


.


.


Di sisi lain Freda yang tidak bersama dengan teman-temannya dicegat oleh pria berjubah hitam saat keluar dari kamar mandi.


Freda yang menganggap itu adalah musuh langsung memanggil roh pelindungnya. Roh pelindung milik Freda bersiap menyerang, dari tangannya Freda mengeluarkan pedang bayangan.


Terjadilah pertarungan sengit saat itu. Kemampuan orang itu hampir sama dengan milik Freda ia juga pengguna energi sihir hitam.


Freda kewalahan menghadapinya. Saat itu Freda berhasil menyerang pria berjubah hitam itu sehingga tudung jubah yang ia pakai terbuka dan memperlihatkan rambutnya yang putih.


Serangan Freda terhenti, kepalanya terasa sakit ia seperti mengingat sesuatu hal lagi tapi ia masih lupa.


Lyam muncul di tempat itu dan langsung menghajar orang berjubah itu hingga terpental tapi ia berhasil melarikan diri, saat Lyam mengejarnya, orang itu bisa menghilang menjadi asap hitam.


Siapa sebenarnya dia. Batin Lyam, ia tidak tahu orang-orang misterius itu siapa dan apa tujuannya.


Semua anggota Divisi Batas Senja berkumpul di sana.


"Kau tidak apa-apa Freda?" Grizelle membantu Freda berdiri.


"Terima kasih Grizelle, kepalaku hanya sedikit sakit." Jelas Freda, kemudian berjalan dengan dibantu Grizelle. Ia kemudian duduk di bangku terdekat. Anna memberikannya botol minuman.


"Aku sudah baik-baik saja teman-teman." Ucap Freda.


"Siapa orang itu tadi?" Luan penasaran.


"Sejujurnya sepertinya aku mengenalnya. Tapi, aku tidak ingat. Maafkan aku." Freda berucap sambil memegang kepalanya.


"Jangan dipaksa untuk mengingatnya Freda itu tidak baik untuk mentalmu." Luan turun tangan menangani Freda.


"Minum ini," Luan memberikan Freda ramuan obat buatannya, setelah meminumnya rasa sakit di kepala Freda mereda.


"Aku merasa lebih baik sekarang." Ujar Freda sekarang ia bisa berjalan sendiri.


"Kita harus kembali ke kantor sekarang teman-teman. Kita akan membahas semuanya di sana." Kashel mengajak teman-temannya untuk segera pulang.


Semuanya mengangguk setuju dan hari itu mereka semua mengakhiri liburan mereka dan kembali ke kesibukan mereka masing-masing.


.


.


.


"Kashel," panggil Lyam yang baru datang dari kesibukannya di luar, sedangkan Kashel sedang sibuk mendata laporan. Tidak datang melalui pintu tapi melalui portal.


"Hum, ada apa?" Kashel tidak terkejut lagi dengan kedatangan Lyam yang tiba-tiba seperti itu.


Menghilang secara tiba-tiba dan datang secara tiba-tiba pula. Kashel sudah terbiasa dengan kelakuan Lyam yang seperti hantu gentayangan itu.


Lyam tidak terikat dengan peraturan pusat ia adalah orang yang bebas sesukanya. Di divisi ini ia hanya mengikuti perintah Kashel saja.


"Kita harus pergi ke sebuah desa yang sedang memiliki masalah energi hitam kuat di sana."


"Iya, terus kenapa. Kaukan sudah biasa menghadapinya sendiri." Ucap Kashel terus mengetik di komputernya.


"Kau harus ikut ke sana Kashel."


Kashel menghentikan pekerjaannya dan menatapi Lyam dengan tampang tidak setujunya.


"Pergi sendiri saja,"


"Kau mau aku kesurupan Roh Kegelapan?"


"Hei di mana kau belajar kata-kata seperti itu?" Kashel menatapi Lyam penuh keterkejutan, seolah-olah Kashel merasa terancam karena kata-kata itu.