
Kashel takjub dengan apa yang ia lihat, saat ini ia bisa melihat sihir tanpa menggunakan kacamata rohnya. Seorang pemuda seumurannya terlihat terbang di udara dan dengan jelas menggunakan kekuatannya.
Kashel menyadari bukan matanya yang bermasalah dan dapat melihat dunia yang lain, tetapi kekuatan orang itulah yang keberadaannya dapat dilihat mata manusia biasa.
Kashel tidak kenal orang itu karena gelapnya malam. Ia tidak merasa ketakutan karena ia melihat orang itu merupakan salah satu murid di akademi dengan melihat seragamnya.
Kashel juga tidak mau berurusan dengannya, Kashel hanya diam mematung di samping pohon melihat aksi sihir pemuda yang terlihat seperti seumurannya. Akhirnya mata mereka beradu, mata pemuda itu tampak merah menyala.
Kashel yang ditatap dengan tajam seperti itu langsung ingin pergi melarikan dirinya.
"Aku harus pergi," gumam Kashel ia terkejut.
Namun, saat membalikkan badan pemuda itu sudah berdiri di hadapan Kashel sekarang. Kashel tahu siapa pemuda itu, setelah melihat wajahnya dengan jelas di kegelapan malam karena saling beradu pandang.
"Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja lewat di sini." Kashel berucap takut-takut, ia tidak bisa meremehkan kemampuan anak-anak dari kelas A. Dan orang ini adalah anak nomor satu di sekolah ini. Lyam Raymond nama pemuda itu.
Ia terkenal memiliki kemampuan sihir yang sangat tinggi bahkan tanpa memiliki roh pelindung ia bisa menguasai elemen. Tapi yang Kashel tahu, anak itu hanya memiliki satu elemen yaitu angin. Meskipun itu hanya elemen angin tidak ada yang menandinginya dalam hal kemampuan dan belajar. Nilainya nyaris sempurna.
Berbeda dengan Kashel murid yang sangat diremehkan di akademi itu, Kashel cukup terkenal dengan mantra pelindungnya yang kuat. Jika praktek Kashel bisa menggunakan kemampuannya itu untuk melindungi diri, meskipun di serangan yang ketiga Kashel akan jatuh pingsan setelahnya. Jika serangan itu kuat Kashel hanya bisa menahan dua kali serangan.
Namun tadi, Kashel melihat Lyam menggunakan elemen petir. Kashel sampai bertanya-tanya siapa anak itu. Bahkan di mata manusia biasanya Kashel bisa melihat elemennya yang seharusnya tidak Kashel lihat sama sekali.
"Sampai mana kau melihat tadi?" mata merah Lyam sekarang saling beradu pandang dengan mata hitam Kashel yang sangat gelap.
"Aku tidak melihat apa-apa. Biarkan aku pergi!" Kashel memekik ketakutan, jika sampai ia di bunuh oleh anak itu, tidak akan ada yang tahu jika ia mati di tengah hutan ini.
Kashel langsung berlari menjauh dari sana.
Sepertinya aku menggunakan kekuatanku terlalu berlebihan. Pikir Lyam ia tidak masalah sebenarnya jika ada orang yang melihatnya menggunakan kekuatannya yang sebenarnya, jika ia sedang menghadapi Roh Kegelapan yang kuat seperti barusan.
"Hutan ini sepertinya mulai tidak aman," Lyam bergumam.
"Pemuda itu, ia seharusnya tidak masuk hutan ini dan berkeliaran sendirian seperti itu." Gumamnya kemudian menghilang dalam sekejap, ia tidak perduli dengan keadaan Kashel saat itu.
.
.
.
"Syukurlah dia tidak mengejar diriku," Kashel celingak-celinguk melihat ke arah kiri dan kanan. Ia merasa tersesat. Kashel melihat jam tangannya, menunjukkan pukul delapan malam. Sudah satu jam semenjak perjalanannya dimulai.
Kashel memperhatikan kompas miliknya, tapi menggunakan kompas juga tidak ada gunanya juga karena yang ia harus lacak adalah energi milik gurunya yang bahkan tidak diberitahukan bentuk energinya seperti apa.
Kashel mencoba menggunakan kacamata rohnya lagi, ketika Kashel melihat ada Roh Kegelapan di dekatnya ia akan langsung membuka kacamatanya.
Mantra pelindung yang ia bisa gunakan selalu ia aktifkan. Agar Roh Kegelapan tidak bisa merasakan rasa takutnya, ketika Kashel bertemu Roh Kegelapan yang cukup kuat.
.
.
.
"Tempat ini sepertinya aman." Kashel memanjat ke atas sebuah batu di sekitar situ dan berdiri di sana.
"Ke arah utara," Kashel sedikit bersemangat.
"Semoga kali ini benar," Kashel membuka kacamatanya, ia terduduk setelah itu. Karena energi di hutan ini kuat saat mata batin Kashel dibuka itu membuat Kashel merasa begitu lelah.
"Kuharap tujuanku benar, dan aku bisa sampai ke sana sebelum tidak sadarkan diri." Kashel berdiri dan mulai ke arah utara sesuai yang ia rasakan.
Mantra pelindung milik Kashel sepertinya terkena benturan dengan Roh Kegelapan yang lemah. Kashel bisa merasakannya meskipun ia tidak menggunakan kacamata rohnya. Karena perasaannya yang kalut dan takut Roh Kegelapan mempengaruhi mantranya.
Roh Kegelapan merasakan keberadaannya, sepertinya mendekat ke arahnya, dan itu mempengaruhi mantra pelindung Kashel. Jika tidak ada mantra itu, ia bisa dalam bahaya.
.
.
.
"Aku lelah," Kashel berucap sambil meminum air yang ia bawa, sudah tiga jam ia berjalan dan sekarang sudah masuk jam sepuluh malam. Ujiannya berakhir satu jam lagi.
Di perjalanan Kashel sering bertemu dengan regu-regu lain yang terlihat sedang bertarung, itu membuat Kashel sedikit menghilangkan rasa ketakutannya karena melihat orang-orang di jalan yang dilaluinya.
Bahkan Kashel sempat menolong regu lain dari kelas B. Kashel memberikan kotak obat yang ia bawa untuk yang terluka setelah menghadapi Roh Kegelapan sebelum ia melanjutkan lagi perjalanannya. Ia merasa tidak membutuhkan itu karena ia tahu ia tidak bisa bertarung dan masih bisa menghindari para Roh Kegelapan.
Kashel memasang kacamata rohnya, ia langsung berlari setelah itu. Terlihat ada gurunya yang tengah menunggu di sana.
Ada banyak orang yang sudah mencapai tempat tujuan, kebanyakan dari mereka adalah yang mempunyai roh pelindung yang bisa terbang. Dan rata-rata itu adalah anak-anak dari kelas A dan B, teman sekelasnya baru beberapa yang kembali. Bahkan regu yang meninggalkannya belum sampai.
.
.
.
Kashel tersenyum senang ia bisa menyelesaikan ujian itu, terlihat Lyam menatapi Kashel, ia berdiri di samping guru mereka. Orang biasa yang bisa melacak energi sihir dengan baik dan bisa membedakannya antara energi gelap, netral dan murni. Energi murni ini milik Kesatria Penjaga Batas yang mengikat kontrak dengan roh pelindung. Sedangkan energi sibir dalam ujian ini adalah energi sihir yang dimodifikasi dengan ramuan sihir.
Lyam tertarik dengannya, Lyam tahu kemampuan Kashel hanya dengan mengamatinya. Karena bahkan itu Kesatria Penjaga Batas biasa saja, tidak akan bisa melakukan itu dengan baik.
"Kemana regu timmu?" tanya guru pembimbing mendatangi Kashel.
"Maafkan aku guru, aku terpisah dengan mereka." Kashel menjelaskan tidak ingin mengatakan bahwa ia sebenarnya ditinggalkan.
"Apa kau meninggalkan mereka?" Guru itu seperti mengintimidasi Kashel, Kashel tertunduk dan berpikir apakah itu salahnya lagi.
"Guru, dia tidak akan meninggalkan teman-temannya dalam keadaan seperti itu. Gurukan tahu jika dia tidak memiliki kemampuan sihir. Sudah pasti teman-temannya yang meninggalkan dia terlebih dahulu karena menganggapnya beban. Sepertinya temannya tidak tahu kalau dia bisa mengantarkan sampai sini, mereka terlalu meremehkannya." Lyam tiba-tiba muncul berdiri di samping gurunya, guru itu tampak mengeluarkan keringat dingin saat mendengar ucapan Lyam.
"Apakah benar begitu?" tanya guru itu kepada Kashel dan Kashel hanya berani mengangguk, dari awal perjalanannya. Kashel telah berusaha sendiri, teman-temannya tidak perduli padanya. Keuntungan dirinya hanyalah tidak harus bertarung dengan Roh Kegelapan.
.
.
.
Tidak lama setelah itu regu Kashel yang awalnya meninggalkannya telah sampai dalam keadaan luka-luka.