
"Aku baru bisa melihat Roh Kegelapan sekitar tiga tahun yang lalu, itu semua karena dia!" Kashel menunjuk Lyam dan pria itu hanya tersenyum simpul sambil terus mengemudikan kapal mereka.
"Apa kau masih menyalahkan takdir yang memilihmu Kashel." Ujar Lyam. Dari awal Lyam dan Kashel sebenarnya telah ditakdirkan terikat.
"Benar tapi aku sudah tidak menyalahkan takdir, aku bahkan bertemu dengan Lyam semenjak aku masih kecil, dan karena Lyam juga aku punya tujuan hidup, tapi dia juga yang menghancurkannya benar-benar konyol." Gumam Kashel membuang nafas panjang.
"Tapi karena dia juga aku bertemu kalian semua." Lanjut Kashel lagi. Lyam hanya diam saja mendengarkan sambil fokus menjadi nahkoda kapal dadakan. Setelah itu terjadi keheningan sejenak.
"Lyam memang hebat dia serba bisa." Ujar Anna takjub, bahkan mereka semua tidak tahu mengemudikan kapal.
"Aku cuma penasaran, Lyam kaukan tidak tahu memasak. Bagaimana kau bisa menciptakan pil sihir makanan?" tanya Kashel, ia penasaran. Kashel tahu tidak ada sihir yang mempan terhadapnya kecuali milik Lyam.
"Aku tidak tahu cara memasak makanan manusia, bukan berarti aku tidak bisa membuat pil sihir Kashel, hanya saja jika itu pemilik sihir biasa bukan kamu. Makanan itu beracun dan mematikan karena mengandung sihirku." Ujar Lyam membuat Kashel menelan ludahnya takut.
"Kau memberikan aku racun."
"Catatan utamanya, bukan kamu Kashel. Kamu pengecualiannya." Ujar Lyam menekankan kata-katanya.
"Sama halnya kekuatan sihir penyembuh, aku dan kamu punya. Tapi, yang bisa menerimanya hanyalah orang yang memiliki energi yang cocok dengan kita. Jika berfungsi pun itu akan mempengaruhi penyembuhannya. Orang itu akan merasakan rasa sakit lebih daripada luka yang ia terima. Dan yang tidak cocok ia akan perlahan-lahan mati." Lyam bahkan menjelaskannya dengan santai. Kashel hanya menatapi Lyam termenung.
"Kashel kau adalah manusia biasa yang benar-benar berbeda, kau keren." Ujar Luan. Anna dan Luan mengacungi Kashel jempol secara bersamaan.
"Eee, tidak ada kebanggaan. Karena pekerjaan ini merepotkan." Ujar Kashel melambai-lambaikan tangannya sambil memasang wajah lelahnya.
"Tapi kau harus tetap melakukannya." Timpal Lyam.
"Ya, aku sudah tahu. Jadi biarkan aku mengeluh tentang apa yang kurasakan sekarang. Kau dengarkan saja, oke." Ujar Kashel kemudian bersandar santai di tempat duduknya.
"Kashel kudengar kau tidak dianggap sama sekali oleh keluargamu bahkan tidak dihiraukan sama sekali, dan juga terkadang ditindas. Bagaimana kau bisa tumbuh jadi orang sebaik ini?" Luan penasaran, anak yang dididik dengan kejam, bisa benar-benar memahami perasaan orang lain, bagi Luan itu adalah hal yang luar biasa.
"Aku tidak tahu sih, aku dulu bahkan tidak tahu hal baik dan buruk itu hal yang seperti apa. Sepertinya karena aku terlalu banyak membaca buku, jadi hal itu jadi mempengaruhi hidupku. Mungkin itu lebih baik, karena dalam hidupku tak ada yang mengajariku benar dan salah. Dan karena membaca buku lah aku menjadi mengerti kehidupan ini, kehidupan yang kupilih."
Kashel belajar berbagai macam hal dari buku sejak dulu, sampai akhirnya ia bertemu juga dengan orang-orang yang peduli padanya, orang-orang yang ia cari.
"Kau memang terbaik Kashel, wajar saja jika dirimu diembankan tugas yang berat karena itu memang cocok untukmu yang memiliki kebaikan besar di hati, jika itu aku. Aku mungkin akan berpikir untuk balas dendam tapi kau tidak." Anna berucap bagaimana jika itu dia yang berada di posisi Kashel.
"Aku tidak bisa berpikir sejahat itu." Kashel tersenyum canggung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh iya, kupikir Dirga itu adalah orang yang cukup sombong." Anna tidak tahan dengan pemuda itu.
"Sudahlah tidak apa-apa, aku sudah sering bertemu dengan orang sepertinya." Kashel melerai.
Walaupun Dirga terkesan sombong, tapi tatapan matanya mengingatkan Kashel di masa lalu. Tatapan ketidak keinginan akan sesuatu Kashel mengingat dirinya di masa lalu.
"Hei, sudah waktunya makan siang." Kashel memanggilnya akrab tapi ia tidak dihiraukan.
"Kau ada masalah apa memangnya denganku sih." Kashel akhirnya merasa kesal juga.
"Aku tidak akan menurut pada orang yang lebih lemah dariku, karena hanya akan menyusahkanku. Aku benci ini, ketika harus menggunakan kekuatanku yang berbeda dari orang lain." Ujarnya, akhirnya Kashel tahu alasannya, di dunia ini tidak dia sendiri yang membenci kekuatannya, kali ini ia bertemu dengan orang yang sama dengannya di hadapannya.
"Sudahlah, maafkan aku yang lemah ini. Tapi jika kau tidak mau, kau bisa saja tidak menggunakan kekuatanmukan jika tidak mau." Ujar Kashel meninggalkan Dirga masuk ke dalam ruangan kapal.
Dirga tidak lama datang untuk ikut makan siang bersama dengan yang lainnya.
Wajah Luan dan Anna terlihat tidak nyaman ketika memandangi Dirga yang memiliki pandangan kosong. Kashel nampak biasa-biasa saja, ia makan dengan santai tidak terganggu sedikit pun. Dirga tidak peduli pada Lyam yang tidak ikut makan bersama mereka juga.
.
.
.
Kashel duduk di dekat Lyam. Setelah makan siang. Luan dan Anna memilih untuk tidur siang. Beruntungnya di antara mereka tidak ada yang mengalami mabuk laut. Di tambah ombak laut kala itu cukup tenang.
"Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan." Lyam menebak dan Kashel langsung menjentikkan jarinya.
"Kau sudah memahami orang itu dari awalkan Lyam?" tanya Kashel.
"Ya, orang yang memiliki pandangan mata yang sama persis seperti dirimu dulu. Ketika kau terpilih sebagai wadah jiwa, kebencian padaku tidak lebih tepatnya kekuatanmu sendiri." Ujar Lyam terus fokus memegang kemudi kapal.
"Lyam memang hebat." Kashel tidak bisa berkata apa-apa lagi sambil menepuk tangannya pura-pura takjub.
"Tapi apa yang harus kulakukan agar orang sepertinya mau menjalani hidup dengan baik." Kashel ingin membantunya.
"Tidak ada, semua keputusan itu hanya berada di tangan mereka sendiri, jika mereka ingin seperti itu terus. Mau kau memotivasi seperti apapun itu tidak akan pernah berguna." Lyam menatap ke arah Kashel.
"Kau memang kejam Lyam," Kashel menyangga wajahnya dengan telapak tangannya ikut menatap ke depan. Perkataan Lyam memang tidak salah, tapi membiarkan orang frustasi sendiri tanpa membantu itu juga salah, jika ia berniat bunuh diri itu akan sangat berbahaya.
Kashel sadar tidak banyak orang yang bisa melewati masa-masa tertekan seperti dirinya. Karena Lyam benar-benar membiarkannya dengan kejam. Bahkan membiarkan Kashel sendirian di Dunia Perbatasan. Sebagai manusia Kashel benar-benar merasa kesepian di sana. Tidak ingin lagi ke sana itu adalah hal yang Kashel inginkan. Karena di saat dia benar-benar terpukul Kashel diajarkan untuk bisa bangkit sendiri dari kesedihannya. Setengah tahun, itu waktu yang cukup lama bagi Kashel sampai Kashel meminta untuk dipulangkan dengan tegas pada Lyam. Ia yang berputus asa ingin bangkit sekali lagi. Berkat Rainer Kashel masih bisa menjalankan hidupnya dengan baik, karena sihir yang amat besar yang berada di dalam diri Kashel telah di segel dan hanya menyisakan kekuatannya sedikit saja.
.
.
.