
"Aku sudah tidak melihat ada cahaya lagi di hati orang ini," gumam Lyam melepaskan Kashel yang barusan ia tangkap. Kemudian dari telapak tangannya muncul elemen petir, ingin mengakhiri semuanya sekarang.
Saat akan memusnahkan roh pelindungnya, Kashel langsung berlari menepis serangan Lyam dengan mantra pelindungnya sehingga membuat serangan itu memantul dan membuat atap kantor itu jebol karena terkena elemen petir milik Lyam bahkan sisa petir itu pun terlihat menyala dari luar.
Chain terkejut mendengar suara petir yang muncul tiba-tiba dari dalam kantor itu. Meskipun ia sudah tahu siapa yang melakukan hal itu.
"Kenapa kau menghalangiku, dia sudah melebihi batas. Jika dia sampai lepas, dia akan membahayakan semua orang di sekitar. Kekuatannya telah terlihat di mata orang biasa." Lyam menjelaskan energi besar itu bisa menyakiti orang biasa dan itu akan mempengaruhi dua dunia karenanya.
"Apa kau tahu Kashel, memusnahkannya berarti kita telah menyelamatkan banyak orang." Lyam berucap datar, sepertinya karena energi gelap yang pekat itu mempengaruhi Lyam juga.
Pada dasarnya The Borders lemah pada energi gelap karena hal itulah yang hampir melenyapkannya sebelum bertemu dengan Kashel wadah jiwanya.
Keseimbangan dua dunia yang tidak stabil membuat Lyam atau The Borders mudah terpengaruh oleh energi gelap kecuali Kashel, ia hanya terpengaruh ketika Lyam benar-benar kehilangan dirinya.
"Memang benar menyelamatkan dan melindungi banyak orang adalah inti dari pekerjaan ini. Tapi meskipun diriku bisa membahayakan banyak orang aku tidak akan membiarkan satu nyawa yang berdiri di hadapanku dalam bahaya.
"Aku tahu ini terkesan egois namun bagiku jika aku tidak bisa melindungi satu nyawa saja mana mungkin aku bisa melindungi banyak orang.
"Jadi biarkan diriku bertindak jika itu perlu. Urusan dengan melindungi banyak orang kita bisa pikirkan saat sudah menyelamatkan satu nyawa yang ada dihadapan kita.
"Karena masih ada waktu untuk menyelamatkan orang yang tidak berdiri dititik yang sama dengan satu orang yang dalam bahaya seperti sekarang.
"Kuharap kau mengerti Lyam." Kashel kemudian berbalik melihat pria yang tengah kesakitan digerogoti oleh kegelapan itu.
Ia melihat titik inti dari energi gelap itu, Kashel awalnya bingung harus melakukan apa. Kemudian ia teringat dengan pedang cahaya yang ia miliki.
"Pedang cahaya muncul lah," sebuah pedang muncul dari tangan Kashel. Ia akan menggunakan pedang cahaya itu untuk menghancurkan inti energi kegelapan.
"Lyam bisa kah kau mengikatnya." Kemudian Lyam berjongkok dan menyentuh lantai, mengeluarkan kemampuannya mengendalikan akar tanaman ia menggunakan akar-akar itu mengikat pria yang tengah mengamuk itu. Ia menuruti permintaan Kashel.
Roh pelindungnya tidak bisa berbuat apa-apa karena terkurung gumpalan tanah meskipun meronta.
Kashel mencoba mendekatkan diri dan perlahan menusuk inti energi gelap yang ada pada diri orang itu dengan pedangnya secara perlahan, berharap pria yang ia ingin tolong tidak terluka karenanya. Karena inti itu tepat berada di jantungnya.
Inti itu kemudian berhasil Kashel hancurkan sehingga energi gelap yang terkumpul menyebar dan menghilang.
Kashel langsung menarik pedangnya setelah itu dari dada pria itu terlihat terluka karena pedang cahaya milik Kashel.
Kashel terlihat panik takut menusuk jantung pria itu dan membunuhnya. Namun setelah diperiksa oleh Lyam, pria itu baik-baik saja hanya saja tidak sadarkan diri Kashel merasa bersyukur.
"Sebaiknya kita pergi sebelum semua orang sadar," Kashel mengajak Lyam, ia masih tidak mau orang tahu identitasnya sebenarnya. Lyam melepaskan semua ikatan mereka entah itu ikatan pada roh pelindungnya atau tuannya.
"Tu-tunggu, kau siapa?" pria yang telah setengah sadar itu menarik tangan Kashel, membuat Kashel terkejut karenanya. Kashel hanya tersenyum menanggapinya.
"Terima kasih," ucapnya pandangannya kabur saat itu sehingga ia tidak melihat dengan jelas wajah Kashel belum lagi tempat itu tidak begitu dimasuki oleh cahaya hanya cahaya remang-remang saja.
"Sudah tugas kami paman, menolong orang lain. Setelah ini kuharap paman hidup dengan baik." Pria itu kemudian jatuh pingsan lagi. Kashel langsung meninggalkan lokasi kejadian bersama Chain dan Lyam.
Pusat menangani sisanya, kasus ini kemudian dirahasiakan siapa orang telah menyelesaikannya.
.
.
.
Sedangkan Lyam berdiam diri di ruangannya meratapi sesuatu, ia memikirkan dirinya yang hanya tahu menyingkirkan saja.
Ia merasa tertinggal pada Kashel yang masih sangat muda, anak itu sangat menghargai kehidupan orang lain lebih dari apapun. Dan Lyam merasa bersyukur karena telah terikat padanya.
Perasaan yang tulus untuk bisa melindungi semua orang yang masih berhak untuk hidup. Bahkan kegelapan yang ingin melahap keberadaan Lyam tidak bisa karena ketulusan Kashel sebagai perwakilan dari dunia cahaya. Meskipun rintangan kehidupannya sangat berat dan terjal. Kashel pantang berputus asa, selalu memilih untuk tetap tersenyum.
.
.
.
"Beruntung kau tidak terluka parah Kashel, tapi tetap saja ini memerlukan beberapa jahitan." Luan masih sibuk mengobati Kashel.
"Uhh, pelan-pelan Luan." Kashel kesakitan.
"Bukankah akan lebih mudah jika kau menggunakan kekuatan regenerasimu." Ucap Luan tidak tega sebenarnya melihat Kashel seperti itu.
"Tidak," Kashel berucap sambil menggeleng.
"Jujur saja itu sangat tidak normal." Kashel berucap lagi seperti orang yang mengajarkan sesuatu.
"Hais, kau masih menganggap dirimu normal setelah semuanya." Luan hanya basa-basi.
"Tentu saja jawabannya adalah ya," Kashel memasang kacamata yang ia biasa kenakan, kacamata anti roh.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Kashel," ucap Luan terus mengobati luka Kashel.
"Kau orang yang aneh," lanjut Luan lagi.
"Aku tidak aneh, aku hanya merasa aku normal." Kashel masih tetap kekeuh kalau ia itu normal.
"Benar kau normal Kashel," Luan mengalah pada Kashel.
"Istirahatlah pulihkan tenaga milikmu," Luan menyuruh Kashel berbaring setelahnya. Kashel menurutinya dan membaringkan dirinya di ranjang perawatan.
Kemudian Kashel menatap telapak tangannya, ia sadar ada kekuatan yang berbeda pada dirinya. Terutama saat Lyam menggunakan bermacam-macam elemen yang bisa ia gunakan.
Menyeret Kashel kepada fakta bahwa ia juga sama saja seperti Lyam.
"Air, tanah, api, angin, petir, tumbuhan, cahaya membuka portal. Ditambah kemampuan regenerasi menyembuhkan luka dengan cepat. Hahahaha, apanya yang normal." Kashel mentertawakan dirinya sendiri. Tapi meski begitu itulah cara Kashel tetap berusaha menghibur dirinya sendiri.
Ditambah lagi, Lyam pernah berkata. Itu hanya kemampuan dasar yang harus di milikinya, masih banyak lagi kemampuan lain yang ia belum tahu.
Mengerikan. Batin Kashel memikirkannya, ia tetap masih takut pada kekuatannya sendiri.
Bagaimana aku bisa mengendalikan kekuatan yang lainnya, sedangkan dasarnya saja aku sering kehilangan kendali. Kashel tidak tahu lagi, ia tidak mau memikirkannya. Ia hanya ingin menjalani hidup dengan apa adanya.
Kemudian ia mengingat teman-temannya yang hanya bisa mengendalikan satu atau dua elemen, Kashel merasa iri dengan mereka.
"Ah sudahlah, daripada memikirkan itu sebaiknya aku tidur dan istirahat. Lagi pula sampai saat ini, cuma Lyam seorang yang menggunakan kemampuan itu bukan aku." Kashel terus bergumam sendiri.
"Tapi tetap saja," Kashel menarik nafasnya pasrah, kemudian mencoba tidur.