The Borders

The Borders
Bagian 152 – Batu Elemen Petir di Tangan Musuh



Langit berubah gelap pagi itu, tampaknya itu bukan sesuatu yang baik. Di mata orang-orang biasa tidak terjadi apa-apa tapi di mata para manusia yang memiliki kemampuan spesial itu adalah hal yang berbeda.


Seperti yang Kashel rasakan sekarang, ia merasa ada kekuatan gelap yang terasa sedang dikuatkan.


"Apa lagi kali ini?" gumam Kashel terus menatap ke arah langit, pagi itu ia sedang bersantai. Tiba-tiba Kashel terkejut karena ada garis kilat yang menyambar membelah langit.


.


.


.


Di lain sisi batu elemen petir berhasil ditaklukan oleh Sekte Sihir Hitam tanpa sepengetahuan Kashel dan kawan-kawannya.


Teman-teman Kashel semuanya muncul di tempat yang Kashel janjikan dengan mereka untuk bertemu.


"Loh semuanya kenapa malah muncul di sini?" bingung Kashel.


"Habisnya sudah lama kita tidak berkumpul Kashel." timpal Rigel.


"Baru beberapa minggu." Kata Kashel


"Tapi tidak seru, kapan kita bisa berkumpul lagi di rumah." Kyler sedih.


"Kita harus bisa menyelesaikan masalah energi gelap ini."


"Kashel nanti aku mau ikut pergi ke reruntuhan." Luan menawarkan dirinya.


"Umm, oke." Kashel langsung menerimanya.


"Tapi sebelum itu kita memiliki satu masalah lagi."


"Kashel benar, apakah kalian semua melihat garisan petir di langit?" tanya Anna yang juga ada di sana.


"Batu elemen petir sepertinya telah jatuh ke tangan yang salah." Ujar Erphan menyadari.


"Ini gawat!" heboh Chain.


"Yang harus kita lakukan sekarang adalah menghentikan pengguna batu sihir itu." Ujar Rigel.


"Hah! Hah!" seseorang dengan pakaian hitam, topi, dan masker yang menutup mulutnya mendatangi Kashel dan teman-temannya dengan nafas memburu.


"Kalian jangan lupakan aku dong!" teriak orang itu yang ternyata adalah Rai.


"Aku merasakan perasaan tidak bagus, jadi aku ikut berkumpul bersama kalian di sini. Aku merasa ada getaran aneh pada elemen yang kumiliki." Jelas Rai langsung duduk di kursi terdekat.


"Ah Rai benar, dari tadi malam aku merasa ada yang aneh pada aliran sihirku." Ujar Chain baru ingat.


"Jika benar batu elemen petir jatuh ke tangan musuh ini akan sangat berbahaya." Ucap Luan dan Kashel hanya diam saja


"Jika aku menghadapinya pasti aku akan dihadang oleh Lyam." Kashel tidak bisa berbuat apa-apa, karena sihir Lyam yang terhubung oleh kegelapan membuat Lyam bisa melacak keberadaan Kashel jika Kashel menghadapi kegelapan.


"Kashel kau punya kami semua, jangan khawatir. Ada kami yang akan menghadapi pengguna batu elemen petir itu." Ujar Rai menyakinkan dan semuanya mengangguk mengiyakan.


"Mungkin kita semua akan terluka, karena melawan petir seharusnya tidak akan mudah. Tapi, kami tidak akan mati." Rigel meyakinkan Kashel yang tampak tidak mempercayai temannya, namun Kashel tidak bisa berbuat apa-apa juga tanpa temannya.


.


.


.


Ternyata kemunculan Portal Perbatasan itu hanyalah sebuah pancingan untuk mendatangkan Kashel ke sana.


Kashel tahu siapa yang telah menggunakan batu elemen petir itu. Kashel tidak mengenal orang itu tapi Kashel bisa merasakan bahwa orang itu adalah penggunanya karena Kashel merasakan energi sihir kuat yang menguar pada tubuhnya.


Tapi tidak hanya di situ, di sana ada Freda yang telah memimpin pasukan Sekte Sihir Hitam yang tengah berkumpul. Mereka semua tidak menyangka akan menghadapi Freda hari ini.


"Halo semua teman-temanku. Hari ini kalian semua akan berakhir di tanganku." Ucapnya sambil memegang pedang bayangan di tangannya. Kashel menatap Freda marah.


"Kau pikir kami akan mati dengan mudah?" Kyler maju menyombongkan dirinya.


"Kalian telah terpojok di sini." Ungkap Freda ia merasa lebih unggul karena memiliki pasukan sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan Kashel dan teman-temannya.


Semua teman-teman Kashel telah bersiap dalam posisi siap menyerang mereka. "Meskipun jumlah kami sedikit jangan remehkan kami." Ujar Rai bersemangat. Ia bersiap dengan Chain yang memiliki elemen yang sama dengannya untuk menghadapi pengguna batu elemen.


Kashel sudah menghilang dari tempatnya karena harus memancing Lyam menjauh dari teman-temannya, karena Kashel lebih khawatir pada Lyam dan menganggap Lyam lebih berbahaya dari pada puluhan musuh-musuhnya.


Kyler yang memiliki elemen air menghadapi Freda karena kekuatan elemennya yang mudah dibentuk lebih cocok untuk berhadapan dengan Freda.


"Aku tidak percaya, akhirnya aku harus berhadapan denganmu. Mantan temanku." Ujar Kyler bersiap dengan pedang es miliknya.


"Ternyata jika batu elemen sihir menyatu dengan orang, batu itu tidak akan menyebarkan pengaruhnya pada orang-orang." Rai bersiap menyerang dengan roh pelindungnya.


"Sepertinya pertarungan ini akan lebih berat dari pada yang dibayangkan." Chain berucap kali ini ia tidak bisa meremehkan musuhnya yang sekarang seluruh tubuhnya di selimuti oleh petir begitu juga roh pelindung miliknya.


"Wah! Hari ini akan ada banyak sekali musuh yang kita hadapi." gumam Rigel karena kemampuannya yang bisa membuat membakar semuanya dengan alami ia memilih untuk menghadapi antek-antek Sekte Sihir Hitam yang kekuatannya tidak bisa ia remehkan juga.


"Kau benar." Ucap Anna singkat, karena ia juga memiliki kemampuan berskala besar yang cukup merepotkan.


Sedangkan Luan ia fokus dengan menjaga energi teman-temannya agar asap kegelapan tidak mempengaruhi mereka seperti racun. Erphan menjaga Luan sembari melumpuhkan orang-orang yang sudah lengah dalam pertarungannya atau melumpuhkan orang-orang yang mengganggu pekerjaan Luan.


Kyler dan Freda sudah memulai pertarungannya lebih dulu.


TRANG!


Es dan bayangan beradu. Kyler dan Freda saling bertatapan sekarang mereka sama kuatnya. Freda yang lebih berpengalaman dari Kyler tampak lebih lincah, tapi gaya bertarung Kyler yang kacau serta kekuatannya yang tidak biasa bisa menyeimbangi kekuatan Kyler. Pemuda ini memang tidak bisa diremehkan walaupun dia mendapatkan kekuatannya di ambang kematian dan karena hal itu ia menjadi diremehkan, tapi Kyler membuktikan bahwa dia kuat.


SRAT!


CLING!


TRANG!


Berkali-kali pedang elemen lepas dan pecah dari tangan mereka, dengan cepat pula mereka membuat pedang yang baru dengan elemen yang mereka miliki.


Kyler tampak terluka di pipinya karena serangan bayangan dan Freda tampak terluka di lengannya karena serpihan es milik Kyler. Tidak ada kata-kata saling meremehkan di antara mereka, di sini siapa yang pertama kali kehabisan tenaga ia akan berakhir dengan kekalahan.


Di lain sisi, Chain dan Rai kewalahan menghadapi pemilik batu elemen sihir petir, tubuh mereka sudah terlihat kotor karena beberapa kali terlempar karena serangan petir milik musuhnya.


"Kita mendapat musuh yang kuat." Gumam Rai pada Chain yang ada di sampingnya.


BLAR!


Chain menangkis serangan petir kuat itu dengan elemen anginnya.


"Panah petir!" ujar Rai membuat setiap serpihan roh pelindungnya mengeluarkan petir dan serangannya tertuju pada pengguna batu elemen itu.


Mereka berhasil melukai pengguna batu elemen itu, tapi belum bisa melumpuhkannya dan serangan balasan mulai datang bertubi-tubi kepada Rai dan Chain saat itu.