
"Ukh! Ini berat," Kashel terpaksa membawa Lyam kembali ke titik berkumpul dengan menggendongnya.
Lagipula, tugas mereka sudah di selesaikan. Kashel membawa Lyam di punggungnya. Beruntungnya ukuran badan Lyam setara saja dengan ukuran tubuhnya, sehingga mudah untuknya membawanya.
"Aku tidak menyangka staminaku cukup kuat juga." Gumam Kashel sendiri, ia menghindari tempat-tempat yang ia rasa memiliki energi hitam yang kuat dan memilih jalur aman. Kashel menyembunyikan botol berisi energi Roh Kegelapan.
Agar ketika bertemu dengan regu lain mereka tidak bisa mengambilnya, Kashel tidak bisa bersikap baik dan naif untuk mempercayai orang-orang licik dari akademi itu.
Kashel juga menghindari jika ia merasakan ada energi sihir regu lain yang mendekat ke arahnya. Kashel memilih bersembunyi dalam kegelapan. Lagi pula keberadaan mereka tidak bisa dirasakan. Energi Lyam menjadi tidak terasa semenjak ia tidak sadarkan diri.
"Kuharap tenagaku bisa sampai ke titik perkumpulan." Kashel mulai merasakan kelelahan, kacamata anti roh menarik staminanya dan ia juga harus membawa tubuh Lyam di punggungnya. Hal itu membuatnya harus bekerja dua kali lipat menggunakan staminanya.
"Kurasa aku telah mencapai batasanku," gumam Kashel ia menaruh Lyam yang tidak sadarkan diri kemudian Kashel terduduk dengan kasar karena kelelahan.
"Hari tidak lama lagi subuh dan waktu ujian akan berakhir. Apa yang harus aku lakukan." Kashel sudah tidak kuat lagi berjalan, kakinya terlihat gemetar saat berdiri. Jika dengan berjalan kaki dan menghindari Roh Kegelapan mereka berdua paling tidak sampai ke titik kumpul sekitar setengah jam lagi.
"Aku tidak kuat lagi, kalau aku pingsan juga. Kita berdua tidak akan lulus kali ini." Kashel mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Diam di situ pun ia akan tetap jatuh tidak sadarkan diri juga pada akhirnya, karena staminanya di serap oleh kacamata anti roh yang ia gunakan dan tidak boleh dilepaskan karena peraturan ujian.
"Ah menyebalkan! Aku tidak punya pilihan, berjalan atau tidak berjalan semuanya akan berakhir sama." Kashel berdiri dan mulai mengangkat Lyam ke punggungnya dan kembali lagi berjalan, meskipun kali ini ia sangat kelelahan.
Pandangan Kashel mengabur, ia sudah tidak kuat lagi tapi ia masih memaksakan dirinya.
"Aku harus kuat tinggal sedikit lagi," ternyata titik kumpul sudah terlihat di depan mata Kashel dan Kashel berhasil sampai di sana.
Guru pembimbing yang sepertinya memang menunggu Lyam menghampiri mereka, ia terkejut mendapati Lyam yang tidak sadarkan diri dan buru-buru membawanya masuk ke tenda darurat, agar tidak ada orang yang melihatnya. Kemudian ia keluar dan mendatangi Kashel lagi, lalu membawanya ke tenda darurat pula.
Kashel merogoh tasnya dan memberikan botol segel yang telah terisi penuh dengan energi gelap. Saat itu Kashel sedang berbaring tapi tangannya tetap berusaha mengumpulkan tugas mereka.
"Apa yang kalian berdua lakukan, apa kalian mengalahkan Roh Kegelapan di dalam satu hutan ini?!" Guru pembimbing terkejut melihat botol segel yang sangat pekat dengan energi gelap. Berarti ada begitu banyak Roh Kegelapan yang sudah mereka kalahkan sampai berakhir seperti sekarang.
Kashel hanya mengangkat tangannya memberi isyarat kalau dia belum bisa menjelaskan semuanya sekarang, kemudian dengan sisa tenaganya Kashel membuka kacamatanya membuat Kashel sangat merasa lega dan kemudian Kashel jatuh pingsan setelahnya karena kehabisan stamina.
.
.
.
Tidak lama Lyam terlihat perlahan membuka matanya, "Apa yang terjadi?" guru pembimbing yang duduk di sampingnya langsung bertanya ketika Lyam tersadar.
"Aku lengah dan terlalu bersantai, di hutan ini ada Roh Kegelapan kuat yang sedang berkeliaran." Jelas Lyam pada guru pembimbing itu.
Lyam terlihat tidak menyembunyikan kelemahannya pada guru pembimbing itu. Tapi meskipun begitu, ujian tetap dilaksanakan sampai akhirnya berakhir.
.
.
.
Kashel terlihat tertidur pulas di samping ranjang sebelah Lyam.
"Apakah dia sendiri yang membawaku sampai ke titik perkumpulan ini?" Lyam bertanya, ia tidak menyangka akan ada orang lain yang melihat kelemahannya.
Beruntungnya saat mereka kembali, yang menyambut kedatangan mereka adalah guru pembimbing yang merupakan orangnya Lyam, pria itu sebenarnya bukanlah manusia tapi energi sihir milik Lyam yang menyamar.
Ia juga baru menjadi guru di akademi setelah Lyam memilih menjadi murid di sana. Mendampingi Lyam takut jika hal sekarang yang telah terjadi.
"Aku tidak percaya kegelapan sudah mulai sekuat ini," Lyam memperhatikan telapak tangannya dan kemudian menatap Kashel.
"Pemuda ini, hanya dengan menyentuhku kegelapan yang ingin melahap keberadaanku langsung begitu mudah ia lenyapkan. Bahkan aku sendiri kewalahan karena menangani kegelapan itu." Lyam bergumam sambil menatap Kashel.
"Apakah masih ada waktu untuknya?" Lyam ingin memberikan waktu untuk Kashel menjadi apa yang ia inginkan, tapi waktu itu mungkin tidak akan lama lagi.
"Maafkan aku karena akan merenggut kehidupan yang paling kau inginkan Kashel." Lyam tidak tega tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kashel tidak bergeming, mungkin butuh waktu untuknya memulihkan diri dan mengembalikan staminanya yang telah terkuras.
"Kurasa sihirku pasti berguna untuknya," Lyam mulai mengeluarkan sihirnya. Sihir penyembuh, terlihat energi sihir yang disalurkan Lyam ke Kashel berwarna hijau cerah.
Sepertinya itu benar-benar berpengaruh untuk Kashel, berbeda dari sihir lainnya. Terlihat Kashel mulai menggerakkan tangannya.
.
.
.
Apa ini, mengapa rasanya ada sesuatu yang mengalir di tubuhku. Alam bawah sadar Kashel mulai sadar akan energi yang masuk ke tubuhnya.
Kemudian Kashel melihat di sekitarnya, ia pikir telah sadar saat itu. Tapi kemudian ia melihat ruangan putih yang luas kemudian samar-samar ia melihat Lyam di sana.
"Kenapa ada Lyam di situ, ini sebenarnya di mana?" tanya Kashel tapi karena merasa sedikit akrab dengan Lyam Kashel ingin menyapa dan bertanya padanya.
"Hei Lyam apa yang terjadi sebenarnya mengapa kita berada di tempat ini?" Kashel menyentuh bahu Lyam, tapi pemuda itu hanya diam ia terlihat tertidur tapi sambil berdiri.
Kemudian Kashel terkejut dengan kehadiran energi yang sangat besar meliputi dirinya dan itu berasal dari Lyam.
"A-apa ini?!" Kashel berlari menjauh karena sangking terkejutnya.
Saat ia merasa ia sudah sangat jauh ia melihat wujud Lyam yang sudah menjadi naga raksasa. Kashel ketakutan setengah mati, karena ia tidak tahu itu apa.
"Uaaa!" Kashel langsung bangun terduduk. Lyam masih melanjutkan mentransfer energinya pada Kashel.
"Ka-kau, menjauh dariku, Monster!" Kashel berteriak melompat dari kasurnya dan menjauhi Lyam.
"Kau, jika kau tidak mau menjauh dariku aku akan berteriak agar semua orang tau bahwa kau bukan manusia." Kashel marah-marah tidak jelas.
Lyam tersenyum menanggapi sikap Kashel, "Berteriaklah jika kau berani." Lyam menatap tajam Kashel sampai pria itu menciut ketakutan di lantai.
Lyam mendekati Kashel perlahan-lahan dan ia bermaksud mengulurkan tangannya bermaksud membantu Kashel berdiri.
PLAK!
Suara Kashel menepis tangan Lyam menjauh darinya.
"Menjauh dariku!"
"…."
"Apa yang kau mau dariku!
"…."
"Aku, tidak mau dekat denganmu lagi!" Kashel kali ini membentak Lyam dan Kashel sudah berdiri sendiri menatapi Lyam dengan tatapan marah dan beraninya.
"Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu kali ini. Kita akan bertemu lagi ketika waktunya telah tiba Kashel, kuharap kau telah siap pada waktu itu." Lyam berbalik sekilas ia tersenyum simpul dan dalam beberapa langkah Lyam berubah menjadi seorang berjubah hitam kemudian lenyap entah kemana, menjadi asap yang menghilang ditiup oleh angin.
Kashel menutup mulut dengan satu tangannya sangking terkejutnya, meskipun melihat dari belakang Kashel tahu itu adalah Guardian.
Lyam adalah Guardian wujud sadar dari The Borders makhluk yang Kashel liat persis dari dalam buku yang ia baca, Kashel menyadari naga raksasa yang ia lihat di alam bawah sadarnya itu adalah The Border, naga perbatasan alias Penjaga Batas.
Kashel tidak menyangka selama ini orang yang sudah dekat dengannya itu adalah Guardian.
Pada akhirnya Kashel tidak pernah tahu apa tujuan Guardian mendekatinya sampai waktu yang Lyam sebut tiba.
.
.
.