
Argai terlihat terkekeh, ia sadar antara Guardian dan Kashel memang ada ikatan karena normalnya manusia biasa tidak sembarangan bisa memerintah Guardian seenak mereka. Bahkan Guardian tidak membantah Kashel sama sekali dan langsung menuruti perkataannya dengan patuh.
"Aku melihat gambar peta reruntuhan istana ini, di dalam kobaran api barusan." Ujar Lyam singkat dan teman-teman Kashel mendengarkan dengan seksama.
"Kita sudah hampir sampai di tempat batu sihir itu berada." Ujar Guardian melanjutkan.
"Apakah masih ada jebakan-jebakan lain?" tanya Argai memastikan.
"Seharusnya ada satu yang terakhir tepat di tempat ini." Guardian berucap, Kyler yang berbaring langsung duduk setelah mendengarnya.
"Kenapa baru bilang?!" Kashel langsung berdiri terkejut.
Mereka berempat langsung waspada dengan sekitarnya.
"Apa lawan kita selanjutnya Lyam?" Kashel bertanya lagi.
"Bola api ...." Tepat saat Lyam menyelesaikan kata-katanya, sebuah bola api melesat ke arah mereka.
"Ini merepotkan, mantra pelindung!" Kashel langsung mengaktifkan mantra pelindungnya dan melindungi teman-temannya.
Kemampuan Lyam untuk membuat dimensi berbeda tidak bisa juga digunakan di sini. Sebagai segel yang kuat. Tempat ini juga, membatasi beberapa kekuatan yang merubah bentuk dimensi, karena segel di tempat ini menggunakan tumbal nyawa manusia. Seperti halnya segel milik Rainer yang menyegel kekuatan Kashel, tapi segel milik Rainer ini agak spesial karena bahan dasar segelnya adalah kekuatan sihir dari The Borders itu sendiri, sehingga bisa menahan kekuatan The Borders sampai bertahun-tahun lamanya.
Jika itu segel dengan pengorbanan dengan nyawa manusia biasa atau penyihir umumnya, apabila kekuatan The Borders sungguh-sungguh digunakan segel apapun itu pasti akan tetap bisa dihancurkan meskipun tetap bisa menahan kekuatan perbatasan beberapa waktu. Tapi, di dalam tanah seperti itu juga akan berakhir cukup berbahaya jika dipaksakan. Salah-salah mereka akan berakhir tertimbun oleh reruntuhan.
"Kekuatanku tidak berfungsi untuk mengamankan kita dari serangan bola-bola api yang akan datang, Kashel aku akan menyerahkan perlindungan semuanya padamu." Kashel hanya tersenyum kecut. Ia tidak yakin bisa menahannya jika itu sebuah ledakan besar dan serangan bertubi-tubi yang lama. Kecuali jika Kashel memilih kekuatannya untuk lepas kendali.
Aku akan menghalaunya dengan sihir yang lain jika mantra pelindungku tidak kuat, aku tidak boleh lepas kendali. Batin Kashel menyakinkan dirinya. Sekarang serangan datang satu persatu seperti hujan yang menghantamnya. Teman-temannya tidak tinggal diam dan membantu Kashel Freda dengan kemampuan bayangannya membuatkan tameng berlapis-lapis. Kyler dengan elemen es nya juga membantu meskipun sekarang tenaganya belum sepenuhnya pulih. Argai juga membuat tameng berlapis dari elemen tanahnya.
Serangan bertubi-tubi itu tidak berhenti dalam beberapa waktu, Lyam pergi mencari titik lemah dari bola-bola api itu sehingga ia punya tugasnya sendiri yaitu menghentikan serangan jebakan sihir tersebut. Freda mulai jatuh kelelahan karena kehabisan energi sihir.
Teman-teman Kashel satu persatu sudah kehabisan tenaga mereka dan terduduk di dalam mantra penghalang Kashel.
"Apakah kita akan mati di sini?" Kyler tergeletak di tanah sudah pasrah, ia sudah punya tenaga lagi sekarang.
Ini mengesalkan, berapa lama aku bisa bertahan sekarang, dulu saat aku masih di akademi aku hanya bisa menahan empat serangan sekaligus dan setelah itu aku sudah tidak dalam keadaan sadar.
Sekarang aku bisa menahannya lebih banyak, tapi mantra penghalang ini tidak akan bertahan lebih lama lagi, Lyam cepatlah. Kashel membatin.
KRAK!
Penghalang milik Kashel mulai hancur.
"Elemen tanah, tameng tanah!" Kashel dengan cepat merubah mantra penghalangnya menjadi elemen tameng tanah tepat saat mantra pelindungnya hancur. Ia langsung jatuh terduduk karena memaksakan diri, api di tangannya membesar. Karena tidak seharusnya ia menggunakan, elemen lain selain api di sini. Aliran sihir Kashel langsung menjadi kacau.
"Lyam cepatlah." Pikir Kashel.
"Bertahanlah sebentar lagi Kashel." Lyam menjawab pikiran Kashel. Kashel nampak terkejut.
Akibat energi sihirnya yang kacau sekarang Kashel tidak bisa mengendalikan terhubungnya pikirannya dengan Lyam. Ia tidak sengaja mengaktifkan kemampuan itu.
Lyam di luar tameng yang Kashel buat sedang memeriksa satu persatu tempat muncul bola-bola api itu. Ia menggunakan tameng api dan pedang api untuk menghalau serangan-serangan bertubi-tubi yang datang. Saat ini tempat itu berubah menjadi lautan ledakan sihir yang di dalamnya ada lima orang yang sedang berusaha bertahan hidup.
Tameng tanah yang Kashel buat cukup tebal dan kuat. Sehingga bisa membuat mereka terlindung untuk beberapa saat dari ledakkan ledakan besar itu. Meskipun sekarang karena hal itu api yang keluar dari telapak tangan Kashel menjadi sampai sikunya sekarang.
Tempat itu tidak begitu luas tapi cukup untuk mereka untuk tinggal di sana setidaknya tidak berdesakan. Kashel menjauhi temannya, karena lepas kendali dengan kekuatan apinya. Ia tidak ingin dekat dengan teman-temannya karena Kashel tahu apa yang keluar dari lengannya itu saat ini sepertinya sangat panas. Bahkan Kashel bisa merasakan panas pada lengannya.
"Maafkan aku," Kashel memegangi lengannya yang terbakar, tempat itu jadi terang karena api Kashel. Dan tetap sejuk dengan adanya sisa sihir dari Kyler yang terus membantu mendinginkan mereka dari serangan luar.
"Jangan menyalahkan dirimu Kashel, kami tidak apa-apa. Berkatmu juga kita semua masih bisa hidup." Mereka bertiga tampaknya sudah pulih kembali setelah mengonsumsi suplemen sihir dan beristirahat sebentar. Tapi, mereka tidak perlu menggunakan kemampuan mereka saat ini karena tameng Kashel sangat kuat, bahkan jika mereka keluar perlu memikirkan cara untuk keluar dari tempat itu. Meskipun begitu entah mengapa tempat itu masih memiliki pasokan oksigen yang cukup.
Sihir dengan alami bisa melindungi penggunanya yang merupakan manusia ketika mereka sangat membutuhkan oksigen untuk bernafas, sehingga oksigen itu terserap dari luar dan diberikan pada pengguna mereka dan yang berada di sekitarnya.
"Ternyata kau juga bisa menggunakan elemen tanah ya, persis sama seperti Guardian." Ujar Argai tertarik lagi dengan kemampuan Kashel.
"Kau sepertinya sangat penasaran, itu memang benar aku terikat dengan Guardian. Dan bisa menggunakan kekuatannya." Kashel berbicara jujur kali ini ia sudah tidak tertarik lagi untuk menyembunyikannya.
"Guardian terikat dengan orang lain, apa yang terjadi pada Guardian jika kau terluka dan mati?" Argai malah tertarik dengan hal lain.
"Kenapa kau malah tertarik dengan hal itu?" Kashel penasaran.
"Tidak ada, aku hanya penasaran." Ujar Argai.
Kashel tidak mungkin memberitahukan kelemahan itu, bagaimana ikatannya dengan Guardian dan bagaimana pentingnya dirinya untuk Guardian. Bahkan teman Kashel tidak tahu banyak. Hanya Guardian yang tahu pasti dengan ikatan yang mereka alami.
"Kurasa tidak akan ada pengaruh apa-apa. Guardian itu kuat." Kashel berbohong tentang kenyataan yang sesungguhnya. Ia masih mengingat perkataan Lyam. Tentang tidak boleh percaya pada orang lain yang baru dikenalnya.
"Begitu ya," ujarnya kemudian berdiam diri lagi Kashel tidak melakukan apapun setelah itu.
SRAAAA!
Tiba-tiba tanah yang membungkus mereka berempat berubah menjadi pasir rapuh kemudian hancur, membuat Kashel terkejut dan langsung berdiri.
Di belakang Kashel ada Lyam yang sedang berdiri dengan tatapan mata merahnya, ia tidak menjadi Guardian tapi sekarang seluruh tubuhnya terbakar dengan api. Kontrol sihirnya kacau.
Teman-teman Kashel terlihat ketakutan melihat ke arah belakang tubuh Kashel. Kashel menoleh pelan-pelan. Melihat apa yang sekarang ada di belakangnya. Ternyata Lyam dengan seluruh tubuh yang terbakar apa menyala.
"Pfhht! Bwahaha!" Kashel malah tertawa melihat penampilan Lyam yang seperti itu.
"Monster api." Lanjut Kashel mengejek Lyam.
Baru saja serangan terhenti Kashel malah menertawai Lyam, ia sudah tidak ingat dengan kejadian yang hampir membuat nyawa mereka melayang.