The Borders

The Borders
Bagian 115 – Pertarungan Di Pagi Hari



Sihir asap hitam itu menghilang saat menyentuh Grizelle.


"Kau tidak apa-apa?" Kashel langsung bertanya karena Grizelle hanya diam saja.


"Aku tidak apa-apa hanya terkejut saja." Ucap Grizelle ia hanya teringat dengan masa lalunya dulu saat Roh Kegelapan itu mengenai dirinya, semasa kecil ia ternyata bisa melihat Roh Kegelapan. Tapi kemampuan itu menghilang dan Grizelle tumbuh menjadi gadis biasa.


"Jangan lakukan itu lagi." Kashel langsung memeluk istrinya erat.


"Ayo Kashel kita ke Lyam." Grizelle langsung memapah Kashel dengan cepat tidak ingin memperdulikan kejadian tadi.


Lyam tidak jauh dari mereka. Tapi halangannya pergi mendatangi Lyam cukup berat karena harus menghancurkan asap kegelapan.


Di situ Kashel sadar Grizelle bisa terhindar dari kekuatan sihir kegelapan.


Kashel terlihat mulai baik-baik saja saat ia berada di dekat Lyam dan menetralkan kegelapan yang membuat Lyam tidak bisa apa-apa.


"Kegelapan sialan!" ujar Lyam marah.


"Kali ini kau harus berterima kasih pada istriku Lyam. Karena dia aku sempat selamat dari serangan kegelapan." Kashel berbicara saat mereka berdua sudah dalam keadaan tersadar sepenuhnya.


"Apa maksudmu?" tanya Lyam tidak mengerti.


"Entah apa yang ada di dalam hatinya, tapi Grizelle bisa menghalau sihir kegelapan itu untuk dirinya sendiri. Yang bahkan itu adalah kelemahanmu." Kashel menjelaskan sambil siap bertarung. Meskipun tidak perlu sampai khawatir pada Grizelle masalah sihir hitam. Kashel masih tetap akan menjaga Grizelle di sampingnya. Karena Kashel takut jika Grizelle disandera oleh orang dari Sekte Sihir Hitam yang juga merupakan manusia. Mereka adalah orang yang licik demi mencapai tujuan mereka, dan Kashel tidak akan membiarkannya, karena Kashel tahu kelemahan dirinya adalah Grizelle.


Demi menghindari pengaruh kegelapan, yang membawa mereka ke dimensi berbeda Kashel harus bertarung berdekatan dengan Lyam. Tapi, Kashel tidak bisa keluar dari bangunan itu karena pengaruh Portal Perbatasan yang mengubah dimensi mereka saat ini. Teman-teman Kashel sangat berjuang dengan keras di luar sana, tapi Kashel tidak tahu harus berbuat apa untuk mereka.


"Ah bisakah kita dibiarkan istirahat walau sebentar saja," Chain menggerutu kelelahan. Semenjak malam tadi ia harus bertarung habis-habisan dengan Roh Kegelapan, bahkan pagi ini juga.


"Hei teman-teman! Sebaiknya kita bertarung di dalam kantor ini saja!" teriak Kashel ke arah luar ia tidak bisa keluar dari kantornya sekarang. Jadi hanya berteriak dari jendela demi menghindari Portal Perbatasan. Saat ini mereka bertiga berada di lantai satu kantor itu.


"Apa tidak apa-apa Kashel. Kantor akan hancur." Rigel berucap masih tidak mengerti dengan situasi dunia mereka.


"Hei sadarlah, benar apa yang Kashel bilang kita sedang berada di dimensi berbeda dan saat ini tempat ini berbeda dengan dunia nyata tidak masalah jika tempat ini hancur. Tidak akan ada pengaruhnya dengan dunia nyata." Erphan berucap ia juga baru sadar akan hal itu.


"Benarkah, kalau begitu ayo kita buat strategi di dalam kantor." Kata Luan, setelah mengatakan itu semuanya mundur masuk ke dalam kantor mereka.


Lyam menciptakan pelindung miliknya di atap kantor mereka, agar Roh Kegelapan tidak menghancurkan kantor tempat mereka berlindung dari Portal Perbatasan. Tapi ia tidak menutup jalan masuk dari bawah, agar bisa memancing roh-roh kegelapan mendatangi mereka dan memberantasnya.


"Tempat ini cukup sempit jika untuk bertarung." Kyler berucap, ia tampaknya masih trauma akan pertarungan sempit di reruntuhan.


"Jika kau mau kita semua bisa bertarung di luar, paling tidak, ada yang bisa menghancurkan inti Portal Perbatasan, tapi jika kalian tidak ingin menghabiskan banyak tenaga ya bertarung di sini. Aku tidak  bisa bertarung jauh dari Lyam sekarang dan aku juga harus menjaga istriku." Kashel tidak peduli, ia akan memikirkan cara untuk membuat semuanya aman.


"Aku punya ide, sebaiknya kau dan Lyam hancurkan Portal Perbatasan itu dulu. Grizelle biar aku yang jaga, aku akan menjaganya dengan nyawaku. Lagi pula hanya sebentarkan." Rigel langsung mengutarakan keinginannya.


Sial. Kashel terlihat kesal, ia merasa dipojokkan.


"Kashel tenanglah," Grizelle menenangkan Kashel yang mengeluarkan energi sihirnya sembarangan. Membuat teman-temannya menelan ludah takut.


"Heh, Kashel teryata bisa lebih menyeramkan dibandingkan Roh Kegelapan yang kita hadapi." Luan berucap bersiap dengan sihir cahayanya karena ada salah satu Roh Kegelapan berwujud monster menghancurkan dinding kantor itu.


Kashel menarik nafasnya dan menghembuskannya berusaha untuk tenang kembali.


Grizelle tidak akan membuat Kashel khawatir jadi ia akan menjaga dirinya dengan baik meskipun tidak bisa melakukan hal apapun. Grizelle tidak merasa ketakutan sedikit pun. Ia juga tidak melihat apapun Roh Kegelapan yang menyerang mereka semua, Grizelle hanya melihat bahwa dinding kantor itu telah runtuh dengan sendirinya.


Di penglihatan Grizelle pun tempat mereka sekarang berada, hanya berubah warnanya menjadi abu-abu dan tampak tenang. Tidak gelap keungu-unguan seperti di penglihatan Kashel dan yang lainnya.


Luan menyerang Roh Kegelapan itu, Grizelle hanya melihat dinding-dinding di hadapan mereka runtuh dengan sendirinya. Ia hanya menatapinya bingung.


"Grizelle kau tidak takut?" tanya Kashel khawatir, Kashel masih takut jika Grizelle merasakan ketakutan ia akan diincar oleh kegelapan kuat.


"Hah? Tidak, karena aku tidak melihat apa-apa mungkin aku hanya melihat dinding di sana runtuh dengan sendirinya." Ujar Grizelle sambil menunjuk dinding di depan mereka. Luan sudah mengalahkan Roh Kegelapan itu.


"Untuk pertama kalinya aku merasa iri pada manusia biasa," kata Chain yang berlari ke sudut ruangan yang lain yang sudah berlubang. Elemen petir dan anginnya langsung melumpuhkan Roh Kegelapan itu.


DEG!


Grizelle langsung berpindah ke sisi yang lain ketika ia merasakan perasaan aneh, dan benar saja di belakangnya dinding hancur dan ada sebuah serangan mendadak dari arah situ tapi ia sudah mengamankan dirinya dengan cepat ke depan Kashel dan Kashel yang merasakannya juga langsung menebas serangan bola sihir hitam itu dengan pedang cahaya. Kali ini Grizelle melihat serangan itu dengan jelas.


Grizelle melihat serangan barusan, ia tahu jika ia terkena serangan itu ia akan terluka dengan parah. Beruntungnya ia menyadarinya.


"Grizelle kau tahu akan ada serangan?" tanya Kashel dan Grizelle mengangguk bersembunyi di belakang Kashel, di depan Kashel ada Lyam yang sudah bersiap menyerang si penyerang.


"Gadis yang hebat, meskipun hanya manusia biasa kau bisa menyadari kehadiran serangan mendadak itu." Ucap pria berjubah hitam itu melayang di udara dengan asap hitamnya. Entah bagaimana ia bisa tahu dan mengincar menyerang Grizelle dengan jelas.


Dia sengaja menargetkanku. Batin Grizelle menatap pria berjubah itu tidak terlalu takut. Semenjak memilih bersama Kashel ia telah memantapkan hatinya untuk hari ini.


Grizelle bahkan merasakan kemarahan Kashel yang marah pada pria berjubah itu karena sudah menargetkan istrinya.


"Kita bertemu lagi Kashel." Ujar pria berjubah hitam itu yang ternyata adalah Argai.


Wujudnya tidak tampak seperti manusia lagi sebagian tubuhnya terlihat gelap seperti Roh Kegelapan pupil matanya merah dan bagian mata manusia yang seharusnya putih sudah menjadi hitam.


"Kashel jaga emosimu, itulah yang ia cari saat ini memancing kemarahanmu agar kegelapan dengan mudahnya mempengaruhi dirimu." Lyam berucap.


Lyam memberikan tameng pelindung pada Grizelle.