The Borders

The Borders
Bagian 134 – Kepastian



"Syukurlah Kakak sudah baik-baik saja."


Kashel hanya tersenyum tipis mengacak rambut adiknya dan langsung berlalu pergi ke ruang berkumpul bersama teman-temannya. Karel tentu saja membuntutinya juga.


"Teman-teman, aku ingin memastikan satu hal. Apakah kalian tetap ingin berada di divisi ini?" tanya Kashel menatap seluruh teman-temannya di siang hari itu.


"Di dekatku kalian akan selalu berada dalam bahaya. Jika kalian ingin pergi aku tidak akan masalah, terima kasih karena sudah menjadi keluargaku selama ini." Ujar Kashel berbicara sambil tertunduk, jika ada satu orang lagi yang keluar dari divisi ini. Divisi akan dibubarkan, sesuai dengan kata Lyam mereka akan berpisah dari Kantor Pusat dan mendirikan divisi swasta sendiri, ia tidak akan memaksa Kashel ikut bersama dengannya seperti sebelum-sebelumnya.


"Tidak Kashel, aku akan tetap menjadi kaki tanganmu. Aku tidak punya tempat untuk kembali. Semenjak sukuku hancur, jadi rumahmu adalah rumahku juga." Ujar Rigel santai. Dia tidak punya apa-apa lagi selain tempatnya tinggal sekarang. Rigel juga tidak ingin kembali ke Kantor Pusat.


"Jika aku meninggalkan divisi ini sepertinya aku akan lebih memilih menjadi pemimpin preman jalanan lagi." Anna menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Aku sudah mengatakan padamu Kashel, aku akan terus mengikutimu. Mungkin aku bisa membantu divisi Swasta dengan mendirikan Rumah Sakit Swasta di dalamnya." Ujar Luan, meskipun terlihat seperti anak kecil, Luan itu memegang sertifikasi seorang dokter ahli.


"Aku memang orang baru di sini. Tapi, aku akan terus mengikuti Kashel ke mana pun. Aku tidak punya siapa-siapa juga untuk pulang. Daripada di Kantor Pusat, aku lebih suka bersama dengan kalian semua." Kyler tetap ingin bersama dengan Kashel setelah semua yang telah ia lalui.


Chain dan Erphan tampak diam. Tapi, tidak lama Chain mulai mengeluarkan kata-katanya.


"Mungkin Kashel tidak ingat, tapi aku dulu adalah orang yang pernah merundung Kashel di masa kami kecil, walaupun secara tidak langsung tapi aku berada di antara mereka." Ucapan Chain membuat Kashel mengingat suatu hal saat pertama kali ia keluar dari kediamannya dan bertemu banyak orang. Di sana tidak hanya keluarga besar Kendrick tapi juga keluarga ternama dengan kekuatan sihir besar yang merupakan petinggi The Borders Organization.


Ada banyak anak-anak yang menatapi Kashel rendah, tapi Kashel tidak tahu jika salah satunya adalah Chain, dan Chain baru menceritakannya sekarang setelah dua tahun lamanya ia bekerja di sana.


"Kashel maafkan aku, aku hanya ingin meminta maaf karena hari itu. Aku sangat menyesali sifatku yang sangat sombong kala itu sampai meremehkan orang lain. Tapi, jika kau tidak bisa memaafkannya. Kau bisa mengusirku secara tidak sopan, tapi Kashel, aku akan selalu menjadi teman, keluarga segaligus pekerjamu jika kau menginginkannya." Chain menunduk memohon maaf.


"Tak apa Chain, aku tidak membencimu dan sudah memaafkanmu. Lagi pula, aku tidak begitu ingat akan hari itu." Kashel malah terlihat berpikir mendengarkan cerita Chain.


Karel hanya memperhatikan percakapan mereka, setelah mendengar cerita Grizelle tentang Kashel di masa kecilnya beberapa waktu lalu, membuat Karel terharu. Ia tidak tahu, karena kekurangannya Kashel menjadi sangat dibenci oleh keluarganya. Mengetahui hal itu Karel juga ingin berada di sisi kakaknya ketika waktunya telah tiba nanti.


"Dan terima kasih sudah mau bertahan, aku percaya padamu Chain." Ujar Kashel, senang.


"Uum, aku tidak punya hal yang ingin dibicarakan sih. Tapi aku aku akan tetap bekerja di sini."


"Kalau mengenal Kashel aku sudah tahu dia dari Akademi Spiritual, tapi semua ini bukan karena aku punya hutang budi pada Kashel, aku tidak akan pernah menolak atau mengeluh ketika memiliki bos baik seperti Kashel, walaupun terkadang suka tiba-tiba menakutkan sih." Ujar Erphan tertawa canggung.


"Hutang budi? Apa aku pernah melakukan sesuatu untukmu?"


"Ini bukan tentang hutang budi Kashel, aku memang ingin bekerja denganmu karena kau adalah orang yang baik menurutku. Aku senang jika bekerja sama denganmu. Seperti malam itu, di Hutan Kegelapan kau membantu timku dengan memberikan obat. Aku tahu itu kau orang yang diremehkan. Tapi, aku benar-benar takjub padamu. Malam itu kau bahkan berjalan sendirian di tengah hutan. Aku dan timku ingin pergi bersamamu. Tapi, kami benar-benar terluka kala itu dan butuh waktu untuk pulih." Ujar Erphan menjelaskan kejadian yang mungkin Kashel tidak begitu ingat.


Kashel tidak tahu jika orang acak yang ia berikan obat di malam itu adalah Erphan dan timnya.


"Aku memberikan obat-obatan itu karena merasa tidak membutuhkannya sebenarnya." Gumam Kashel ia tidak berniat apa-apa waktu itu.


"Lalu, aku dan Erphan tidak sengaja bertemu di Kantor Pusat dan melihat brosur yang tertimbun di majalah dinding kantor. Itu adalah lowongan kerja di divisimu." Chain menjelaskan, mereka yang mencari divisi yang tepat untuk mereka akhirnya bertemu.


"Aku sudah bekerja di Kantor Pusat beberapa tahun karena aku sedikit lebih tua dari kalian." Ujar Chain lagi.


"Jadi kami berdua memutuskan pindah ke sini, meskipun banyak ditentang oleh keluargaku waktu itu, tapi itu tidak perlu diceritakan sih." Chain menjelaskan.


"Aku tidak sih. Untungnya keluargaku membebaskan pilihanku. Karena aku tidak diterima bekerja di Kantor Pusat." Erphan tampak merasa miris.


.


.


.


"Sepertinya kita harus pindah dari kantor ini teman-teman." Kata Kashel setelah pembicaraan mereka selesai.


"Hei Lyam, kau yang urus tempat baru kita. Kaukan sponsornya." Kashel dengan tidak tahu malunya malah memerintah Lyam yang hanya diam saja.


"Apa? Kau mau memanfaatkanku, aku akan jadi sponsor kalau kau membuat divisimu sendiri Kashel." Ujar Lyam.


"Apa kau mau menerima serangan terus di tempat ini? Lagipula kau itu pasti kayakan?" Kashel malah memanas-manasi Lyam.


"Baiklah." Hanya itu jawaban Lyam kemudian dia pergi setelahnya. Kashel tampak senang.


"Serius Lyam itu kaya?" Luan tertarik.


"Dia makhluk yang memiliki kedudukan tinggi dibandingkan Organisasi. Dan hidup selama ratusan tahun. Mana mungkin dia miskin." Kashel sekarang tampak sangat realistis dalam memanfaatkan kekayaan Lyam. Ia tahu bahwa Lyam pasti menuruti apapun yang diminta Kashel jika ia memintanya dengan sungguh-sungguh.


"Kashel ternyata bisa juga memanfaatkan orang lain." Teman-teman Anna menggeleng-geleng melihat Kashel yang sedang berkacak pinggang senang.


...****************...


Setelah seminggu berlalu, Lyam datang membawakan sebuah surat pada Kashel dan langsung menaruhnya di mejanya.


"Apa ini, Kashel terus mengerjakan laporannya tanpa memperhatikan kertas yang Lyam berikan.


"Permintaanmu," ujar Lyam masih berdiri di samping Kashel.


Hmm, permintaan. Batin Kashel bingung tampaknya ia lupa kejadian beberapa minggu lalu.


Setelah melihatnya Kashel terkejut bahwa apa yang Lyam bawa itu adalah sertifikat tanah.


"Wah! Kau gila, kau bisa membeli tanah dan rumahnya secepat ini. Bahkan ini sudah atas namaku." Kashel benar-benar terkejut. Kashel mulai merasa tidak enak karena hal itu.


"Terima kasih Lyam." Ujar Kashel senang.


"Bagaimana jika ucapan terima kasihnya memunculkan kemampuan baru." Lyam berucap datar dan Kashel menatapnya dengan galak.


Lyam kemudian pergi setelah itu, sepertinya Lyam hanya bercanda karena ia tersenyum tipis menanggapi ekspresi Kashel yang marah.


.


.


.