
"Apa kau tidak dijelaskan dengan divisi mana kau akan bekerja sama?" tanya Anna dan Dirga menggeleng.
"Bagaimana sebenarnya isi surat perintahmu itu?" Luan mulai penasaran juga.
"Tidak ada divisi yang disebutkan." Ujar Dirga masih tampak terkejut.
"Jahat sekali." Ujar Kashel, walaupun pekerjaannya tidak dihargai setidaknya divisinya harus disebutkan dalam menjalankan tugas.
"Sampai seperti itu ingin menghancurkan Divisi Batas Senja," kali ini Guardian yang berucap tertarik.
"Aku pikir kalian adalah orang-orang bayaran yang rela mendapatkan uang banyak ditugas ini, meskipun membahayakan nyawa." Ujar Dirga.
Kashel hanya bisa menarik nafasnya pasrah, tidak peduli lagi. Terserah pusat ingin menuding seperti apa divisinya, intinya mereka tidak bisa membubarkan divisi itu. Kashel tahu, pasti Divisi Batas Senja masih bisa bertahan karena ada campur tangan Rai yang selalu melindungi divisi yang ingin dihancurkan oleh pusat, ke depannya Kashel ingin berterima kasih pada Rai.
.
.
.
Serangan bola es berhenti pijakan di kaki mereka mulai runtuh lagi, kali ini Luan dan Anna sudah siap dengan roh pelindung mereka agar mereka semua tidak terpencar lagi. Meskipun asik berbicara saat itu mereka tetap fokus dengan sekitarnya.
"Uum, kalau dipikir-pikir sepertinya kita semakin dalam saja ke dasar lautan." Ujar Luan mulai sadar. Semenjak mereka jatuh mereka selalu berakhir jatuh terus ke bawah dan ketika jatuh mereka tidak pernah jatuh di tempat yang rendah.
"Benar, apakah kita semakin lama masuk ke dalam sebuah palung di laut dalam." Ujar Anna merasa ngeri.
"Jika tempat ini hancur, kita akan mati karena tekanan air yang mengerikan." Ujar Kashel menghela nafas.
"Dengan sihir kita tidak akan mati semudah itu Kashel, apa lagi jika kau bisa sihir air." Lyam mengingatkan sebuah fakta bahwa mereka semua bukanlah manusia biasa.
"Kau benar." Dirga membenarkan ucapan Lyam. Kashel dan kedua temannya yang semula panik mulai bernafas lega.
"Tapi berapa lama energi sihir akan bertahan ketika kita ditekan oleh tekanan laut dalam?" Kashel mulai menyadarinya lagi.
"Mungkin 1 jam untuk pengguna elemen selain air dan 2 jam untuk pengguna elemen air." Lyam menjelaskan lagi, Anna dan Luan menelan ludahnya takut, kesempatan hidup mereka hanya ada setengahnya dari pengguna air asli.
"Kalau begitu, kita harus menyelesaikan misi ini dengan cepat lalu pulang dengan selamat." Mereka mulai bergegas sebelum reruntuhan itu menghancurkan dirinya sendiri.
Saat ini mereka harus menemukan batu sihir elemen itu untuk bisa membuat portal dan langsung kembali ke atas kapal. Batu sihir itu menghalangi kemampuan portal sihir milik Guardian maupun Kashel.
Kali ini Kashel dan yang lainnya sudah berada di dasar reruntuhan itu lagi sekarang. Ruangan itu luas namun kali ini ada air mancur yang keluar dari dindingnya.
"Aku takut memikirkan jika dinding itu pecah. Anna dan Luan memasang masker oksigennya ketika mendengar suara retakan.
"Berkumpul semuanya!" teriak Kashel dan mereka berkumpul bersama saat ini.
Kashel mengumpulkan energi sihirnya. Ia pernah teringat bahwa sebuah ledakan kebocoran kapal selam di bawah laut bisa membuat ledakan setara bom dan menghancurkan langsung orang yang terkena langsung.
Mereka semua berkumpul bersama dan mengaktifkan energi sihir untuk membuat tameng menangkal ledakan dahsyat itu. Dan benar saja saat ini tempat itu bocor dan air langsung menekan tubuh mereka tapi pelindung sihir yang dibuat bisa mengatasi tekanan air yang menghantam mereka.
Mereka berlima tidak tahu pasti berapa dalam sekarang keberadaan mereka di dasar laut, yang pasti bahkan sudah menggunakan sihir, tubuh mereka masih terasa masih sangat dibebani.
Di dalam ke dalaman itu tidak ada cahaya yang masuk bahkan tidak ada makhluk hidup di sana.
Luan membuat penerangan dengan kemampuannya. Membuat Kashel bersyukur membawa Luan bersamanya, sementara Kashel dan Lyam membuat tameng untuk menahan tekanan bawah laut itu.
"Bagaimana jika ada serangan?" pikir Kashel.
"Kita tidak perlu panik Kashel, kita semua bersama di sini." Ujar Anna masuk ke dalam pikiran Kashel.
Pikiran mereka semua terhubung.
"Mungkin karena saat ini kekuatan sihir kita sedang terhubung semuanya, jadi kita bisa berkomunikasi lewat pikiran." Jelas Dirga.
"Syukurlah, kita masih bisa berkomunikasi di sini." Kashel senang. Untuk pertama kalinya Kashel bersyukur bisa memiliki kemampuan penghubung pikiran.
Dia tidak bisa berkomunikasi dengan temannya dengan berbicara langsung sekarang karena tekanan dasar laut yang sangat besar itu.
"Heh, biasanya kau selalu protes jika aku memasuki pikiranmu." Ujar Guardian.
"Diamlah kau!" Kashel malah mengomel.
"Kashel kau benar-benar berani."
"Aku merasa takut."
"Apa yang kau lakukan Kashel."
Isi pikiran teman-teman Kashel melewati kepala Kashel seperti sebuah suara.
"Jadi ini yang kalian pikirkan ketika aku melawan Guardian." Kashel ingin tertawa.
"Astaga aku ingin penghubung pikiran ini terlepas saja." Pikir Anna.
"Kau benar." Luan dan Dirga keduanya berpikir serempak.
"Kita tidak bisa buang-buang waktu atau kita semua akan berakhir menjadi mayat di sini." Ujar Guardian, semuanya langsung fokus melihat sekitar. Luan memperluas penerangannya terhadap laut itu. Laut yang sangat sunyi dan tenang.
Beruntungnya di situ tidak ada serangan jebakan apapun, atau lebih tepatnya belum ada serangan.
Mereka berlima terus berenang ke dasar laut itu sampai akhirnya menemukan dasarnya.
Tetap berkumpul mereka berusaha melangkah seperti berjalan di udara sambil memperhatikan sekitarnya.
Sampai akhirnya mereka melihat sebuah simbol raksasa di bawah kaki mereka.
"Kau yakin Dirga, akan membuka gerbang ini?" tanya Kashel ia khawatir.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku." Dirga mengangguk yakin.
"Tapi sepertinya saat energi sihirku diserap, jebakan ini tidak mengambil semuanya." Kashel mulai berpikir lagi, karena sihir Kashel besar, sihir yang diambil dari Kashel itu hanyalah sebagian kecilnya saja.
"Justru itu lebih baik aku yang membukanya, karena kekuatanku tidak sekuat dirimu. Jadi energi yang di serap akan membuat jebakan kecil pula." Jelas Dirga kemudian ia menggigit jarinya hingga berdarah dan menyentuhkannya ke simbol sihir di kakinya.
Dirga tersentak kaget dan langsung jatuh tidak sadarkan diri.
"Inilah yang kutakutkan. Kashel langsung menarik kerah baju Dirga. Karena Dirga tidak sadarkan diri, Kashel dan teman-temannya tidak tahu akan ada jebakan apa yang akan menanti mereka.
Luan mengeluarkan sebuah botol dari sakunya, dan di dalam botol itu ada sebuah pil. Luan mengambilnya dengan membuat lingkaran sihir agar pil itu tidak terkena air kemudian ia langsung memasukkannya ke dalam mulut Dirga kasar. Agar air tidak masuk ke mulutnya juga. Pil itu melebur saat masuk ke dalam mulut Dirga, sembari Luan menyalurkan energi sihir miliknya dengan cepat.
Dirga sedikit bereaksi, dan mulai tersadar tenaganya. Berangsur-angsur mulai pulih kembali dengan cepat.
"Masih mau kau mengambil pekerjaan Kashel." Luan mengomel di dalam pikiran semua orang.
"Sabar Luan." Ujar Kashel mengernyit takut.
"Maafkan aku, oh iya. Sabit air. Akan ada sabit air." Setelah mengetahui hal itu. Lyam mengeraskan tameng yang mengelilingi mereka dan Anna menjaga bagian luarnya dengan sabit angin miliknya.
Saat keretakan di kaki mereka terjadi pusaran air muncul bersamaan dengan sabit air yang bergerak seperti bumerang. Tapi Kashel dan Lyam dengan cepat. Menghalau serangan itu. Serangan itu tidak terasa begitu kuat karena hanya menggunakan sihir milik Dirga.
"Ini bagus. Rencanamu berhasil Dirga." Kashel bersemangat sebenarnya cukup dengan tameng milik Guardian serangan itu tidak berarti apa-apa. Kashel bahkan merasa tidak membuang banyak energi sihir.