
Di laboratorium Divisi Batas Senja, seorang pria tengah meneliti sesuatu di situ, ia terlihat tengah memperbaiki sebuah kacamata yang terlihat retak dan gagangnya pun patah, di bawah kacamata itu terdapat lingkaran sihir.
Dengan meneteskan berbagai macam ramuan, retak pada kacamata itu mulai memudar. Ia kemudian sibuk menyatukan gagang kacamata itu dengan kacamatanya kembali dengan campuran ramuan-ramuan yang tidak tahu apa itu. Kacamata itu pun menyatu dengan baik dan kembali seperti semula.
"Selesai!" pria bernama Luan itu menyeka keringatnya. Roh pelindungnya yang berwujud burung garuda berbadan manusia namun memiliki kaki burung yang bercakar, ia memiliki sayap memberikannya sebuah sapu tangan, ia memiliki lengan manusia yang berotot. Roh pelindung itu bernama Healer.
"Terima kasih," ucapnya menerima sapu tangan itu.
"Sekarang aku bisa memberikan kacamata ini kembali pada Kashel." Ternyata itu adalah kacamata anti roh yang pernah Kashel pakai dulu, benda itu rusak karena serangan Portal Perbatasan yang tiba-tiba muncul beberapa waktu lalu.
Setelah keluar ruangan, Luan langsung memasuki ruang kerja Kashel.
"Ini aku sudah memperbaikinya, kalau bisa jangan dirusak lagi. Kau tahu, tidak mudah memperbaikinya." Luan terus mengoceh pada Kashel.
"Terima kasih," Kashel menerima kacamata itu.
"Kashel, kau masih saja menggunakan benda tidak berguna itu?" Lyam berucap di dekatnya tanpa menatap sama sekali, ia tengah sibuk mengerjakan laporan kantor.
"Terserah aku dong," Kashel menggunakan langsung kacamatanya.
"Nah ini lebih baik," Kashel menyandarkan tubuhnya bersantai di sofa. Akhirnya setidaknya ia tidak melihat Roh-Roh yang berkeliaran lagi. Walaupun Kashel tidak membenci mereka para roh pelindung teman-temannya, Kashel lebih merasa nyaman tidak melihat mereka saja, karena baginya itu terasa lebih menjadi manusia normal.
"Aku jadi ingat dulu kau mendatangiku juga untuk membuat sebuah kacamata Kashel cuma versi yang sebaliknya." Luan mengingat masa lalu.
"Hmm, aku jadi ingat kau dulu adalah ilmuan yang gila akan penelitian. Setelah aku datang padamu, kau menjadi sangat tertarik padaku."
"Orang mengatakan kau itu si ilmuan gila, walaupun aku tidak tahu kenapa orang mengatakan dirimu seperti itu." Kashel mengingat-ingat kejadian tempo dulu saat pertama kali Kashel datang ke salah satu Fasilitas Sindikat The Borders Organization.
"Kau tidak perlu mengingatkanku tentang hal itu," kata Luan.
Ia diperintahkan keluarganya datang ke sana, untuk dibuatkan kacamata yang akan membuatnya melihat Roh. Di sana Kashel yang masih muda bertemu Luan yang umurnya hanya sedikit lebih tua dari Kashel.
"Dulu kau memanggilku kakak dengan sopan, sekarang aku yang harus sopan padamu." Luan terkekeh mengingat hal itu, Kashel yang lugu menjadi kelinci percobaan Luan.
Kashel yang berusia 10 tahun harus lagi-lagi dipaksa keluarganya untuk bisa melihat Roh dengan berbagai cara, untuk memasukkannya ke Akademi Spiritual.
Ia dibawa ke fasilitas sindikat tempat Luan bekerja dulu, karena kepintarannya yang terkenal akhirnya Luan yang dipercayai untuk menangani kasus Kashel. Saat itu Luan masih berusia 16 tahun tapi kepintarannya melebihi orang dewasa.
Di masa mudanya yang sebenarnya, keluarga Luan adalah ilmuan yang juga memaksanya untuk mempelajari berbagai macam hal. Ia disuruh meneliti bangsa Manusia dan juga bangsa Roh, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
Menjadikan mereka kelinci percobaan tanpa perasaan dan memakan korban yang tidak sedikit, sampai pada akhirnya penelitian itu dihentikan dan hanya menyisakan Luan seorang.
Ia memegang pengetahuan yang telah diteliti keluarganya selama bertahun-tahun, lebih tepatnya Luan menjadi satu-satunya percobaan keluarganya yang selamat, dan merupakan keturunan asli dari keluarga itu pula.
Kepalanya dipenuhi oleh arsip dari keluarga, hasil penelitian keluarga itu. Sehingga ilmu yang didapatnya sekarang seharusnya adalah hasil dari pengorbanan orang lain atau orang lain yang telah dikorbankan . Luan tidak mau masa lalunya dibawa-bawa, sekarang ia ingin membalaskan masa lalunya yang kelam itu dengan menggunakan pengetahuan yang ia tahu untuk membantu orang lain. Terlebih dia juga pernah merasa menjadi korban dalam penelitian itu.
Dulunya saat pertama kali bertemu dengan Kashel, Luan adalah orang yang bermulut pedas dan kurang mengerti perasaan orang lain.
Beberapa tahun yang lalu ...
"Oh jadi kau yang disebut aib dari keluarga Kendrick itu, orang tanpa kemampuan spesial." Luan langsung mengatai Kashel saat pertama kali bertemu, meskipun saat itu Kashel masih kecil.
Tapi Kashel hanya menatapnya kosong dan terlihat canggung, ia tidak perduli mungkin pria itu adalah orang kesekian yang mengatai Kashel seperti itu, dan sebenarnya hari ini adalah hari pertama Kashel pergi keluar jauh dari kediamannya.
"Apa kakak bisa membantuku?" Kashel berkata takut, akhirnya membuka suara.
"Adik kecil apa kau tidak takut jika kujadikan kau kelinci percobaan. Kau akan menjadi orang biasa pertama yang matanya akan dipaksa melihat bangsa Roh. Kau tahu." Jelas Luan.
"Ini menarik," Luan bergumam.
"Apakah mataku akan dicongkel?" entah Kashel dapat imajinasi dari mana. Luan yang tidak tahan dengan ekspresi polos Kashel malah menggodanya.
"Ya matamu akan dicongkel." Luan berkata enteng. Kashel setelah mendengar ucapan Luan terlihat langsung menangis ketakutan karena hal itu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam saja.
Luan tentu saja panik, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak punya pengalaman menangani anak kecil. Apalagi anak kecil yang menangis diam seperti Kashel.
"Sudah-sudah jangan menangis, aku tidak akan mencongkel matamu. Kakak hanya bercanda." Luan menjelaskan secara halus pada Kashel.
"Benarkah?" Mata Kashel terlihat berbinar senang. Dan Luan senang juga karenanya.
"Aku akan membuatkan sebuah kacamata yang akan membuatmu bisa melihat Roh. Tapi tentu saja itu akan memakan waktu. Karena ini adalah pertamakalinya aku mengerjakan hal seperti ini." Jelas Luan, Kashel hanya mengangguk patuh.
Setelah itu Kashel setiap hari pergi mengunjungi Luan untuk menunggu kacamatanya siap.
"Apa kau tidak ada yang mengantarkan kemari?" Luan penasaran anak itu, masih kecil tapi tidak ada pengawal yang menemaninya. Kashel menggeleng.
"Tidak kak, aku sendiri." Kashel berkata jujur ia kemari, menaiki bus sendiri tidak ada yang mengantar. Keluarganya hanya menyuruhnya dan memberikan alamat serta kartu nama Luan. Sisanya Kashel yang masih kecil itu harus mengurusnya sendiri. Padahal baru pertama ia keluar dari kediamannya.
"Hah?! Bocah sepertimu, anak orang kaya berkeliaran sendirian." Heboh Luan.
"Memang ada yang aneh kak?" bingung Kashel seumur hidupnya tidak ada yang begitu perduli padanya. Jadi ia tidak mengerti apa itu diantar orang lain pergi ke suatu tempat.
Kashel pernah melihatnya di televisi atau hal-hal yang pernah ia baca tapi ia hanya bisa membayangkan betapa menyenangkan hal itu jika terjadi.
Tapi Kashel tidak bisa meminta hal itu pada keluarganya atau dia akan dimarahi nanti. Luan yang mendengarnya hanya bisa memijat kepalanya heran. Mau protes masa lalunya juga tidak begitu bagus untuk diingat. Tapi setidaknya ia mengerti apa itu di antar dan jemput oleh orang tuanya.
Kashel mengeluarkan bekal makan siangnya ia ingin memakannya karena sudah jamnya makan siang.
"Wah, kelihatannya makanan ini enak." Luan tertarik dengan bekal yang dibawa Kashel.
"Apa kakak mau?" Luan mengangguk, Luan itu orang yang suka makan jadi dia pasti tidak menolak jika diberikan makanan. Kashel dan Luan makan bersama setelah itu.
"Wah ternyata makan bersama itu menyenangkan," Luan bingung lagi mendengar pernyataan Kashel.
"Apa kau tidak pernah makan bersama dengan orang lain?" Luan penasaran dan Kashel menggeleng.
Bagaimana bisa anak ini, besar seperti ini. Batin Luan tertekan, menyedihkannya kehidupan Luan. Tapi ia dulu tetap punya teman.
"Kalo kakak mau aku akan membawakan untuk kakak juga kalau aku kemari lagi." Ucap Kashel.
"Jangan bilang kau membuat bekal ini sendiri juga," tebak Luan, Kashel mengangguk.
Bahkan bocah kecil ini menyiapkan makanannya sendiri juga. Luan tidak percaya, ia saja tidak bisa memasak.
Karena iba akhirnya Luan mengantarkan Kashel pulang ke kediamannya, ia takjub melihat kediaman itu, tapi lebih takjub pula tidak ada yang memperdulikan anak kecil polos itu biarpun satu orang.
Hinaan keluarganya tentang aib keluarga tidak main-main, anak itu bahkan tidak dihiraukan atau dianggap ada.
Keesokan harinya Kashel datang lagi, mungkin itu hari terakhirnya ia ke sana karena kacamata yang ia pesan akan selesai hari itu juga.
Jadi Kashel membawakan masakan spesialnya untuk Luan. Sebagai tanda terimakasihnya karena Kashel bisa tahu satu hal yang ingin ia rasakan selama ini yang tidak ia dapatkan dari keluarganya. Luan juga menunggu kedatangan Kashel hari itu, sebenarnya ia ingin membuat kacamata itu lebih lama selesainya agar bisa lebih lama lagi menemani anak itu.
Untuk pertama kalinya Luan perduli pada orang lain, tapi ia tidak bisa melakukan hal itu karena pekerjaannya juga di awasi oleh pusat.
"Sudah datang, ini kacamatamu." Luan langsung memberikan kacamatanya pada Kashel.
"Kau harus mencobanya dulu. Tapi aku tidak tahu efek samping apa yang akan terjadi padamu nanti setelah memakainya, karena kau hanya orang biasa yang dipaksa memakai ini." Luan terlihat mengkhawatirkan Kashel.
"Tidak apa kak, mau tidak mau aku juga harus memakainya nanti. Jadi kurasa tak apa." Luan terlihat terharu, andai bocah itu tidak terlahir di keluarga utama, Luan akan mengangkatnya sebagai adiknya. Karena dia keluarga utama tidak semudah itu mengangkatnya menjadi keluarganya.
"Oh iya sebelumnya bagaimana kalau kita makan dulu, aku kan sudah janji mau membawakan kakak bekal juga." Kashel mengeluarkan bekalnya dari dalam tas. Dua kotak bekal makan siang.
Luan langsung menerimanya senang, makanan buatan Kashel juga enak setidaknya wajar untuk makanan biasa.
"Kau belajar darimana semua ini?" Luan penasaran.
"Aku belajar segala hal dari buku dan televisi juga artikel atau video." Jelas Kashel.
"Apa tidak ada yang mengajarimu?" Luan masih penasaran.
"Ada, cuma aku tidak tahu orang itu mengajarkan apa. Hampir setiap hari dia datang, tapi ketika mengajarkanku dia begitu kejam. Hal baik yang ku dapat darinya hanyalah cara untuk membaca dengan benar.
"Yang lain kurasa hanya materi-materi pelajaran lain yang kalau aku tidak bisa dia akan memukulku. Tapi meski begitu aku tetap berterima kasih padanya karena dia tetaplah guruku yang mengajari tentang dasar-dasar yang aku tahu sekarang." Jelas Kashel berbicara semangat, ia tidak terlihat marah atau apapun.
"Kau benar-benar anak yang baik," gumam Luan.
Saat itu Luan memperhatikan tangan Kashel yang penuh memar-memar, dari bentuknya saja Luan tahu itu luka bakar.
"Kau kemarikan tanganmu," Luan meraih tangan Kashel, ia tahu anak itu terluka karena memasak.
"Ah ini tak apa kak, sebentar juga sembuh." Jelas Kashel biasa saja melihat luka di tangannya.
"Apanya, ini tetap harus diobati," Kashel kaget lagi, tidak ada orang yang pernah khawatir padanya seperti itu. Luan juga terkejut ia tidak pernah merasakan khawatir pada orang lain seperti ini.
"Biar aku obati," tangan Luan terlihat bergetar, ia merasa bersalah. Karena demi menepati janjinya membawakan makanan anak itu terluka.
Ia mencoba menggunakan kekuatan sihirnya yang merupakan kekuatan penyembuhan tapi tidak berfungsi untuk menyembuhkan Kashel karena anak itu hanyalah orang biasa, ia merasa tidak berguna untuk pertama kalinya.
Akhirnya Luan hanya bisa mengobati luka Kashel dengan salep dan memberinya perban.
Pada akhirnya ketika mencoba kacamata roh itu untuk pertama kalinya, Kashel melihat roh pelindung Luan.
Ia akhirnya jatuh pingsan karena terlalu lama mengenakan kacamata itu, dan akhirnya Kashel bisa melihat Roh tapi tidak bisa dipaksa melihat untuk waktu yang lama. Itulah bayaran yang harus Kashel bayar jika memaksakan mata batinnya terbuka.
Luan memiliki janji di hatinya sendiri, jika ia bisa bertemu dengan bocah itu lagi yang sudah dewasa, dan ia memiliki kantornya sendiri. Luan akan mengikutinya ke mana pun. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi sampai akhirnya Kashel membuka kantor cabangnya sendiri.
Luan yang saat itu telah dipindah tugaskan di Rumah Sakit The Borders Organization membuat kekacauan agar di keluarkan dari rumah sakit itu karena pada dasarnya Luan tidak bisa meninggalkan tempat itu karena kemampuannya, demi bisa bekerja di kantor milik Kashel ia membuat kekacauan besar yang tidak bisa rumah sakit itu maafkan. Sehingga ia dilemparkan ke Divisi Batas Senja milik Kashel sesuai keinginannya.
Setelah Luan mengetahui Kashel memiliki penglihatan roh juga. Luan ingin mencoba kemampuannya menyembuhkan luka Kashel saat ia terluka. Tapi tetap tidak berpengaruh, karena Kashel adalah tuan dari Guardian dia tetap manusia biasa. Sekali lagi Luan merasa tidak berguna. Tapi Kashel menghiburnya. Dan akhirnya Luan merasa berguna untuk menghabiskan makanan yang dibuat oleh Kashel.
"Mau memanggilmu kakak, kau bahkan tidak menua sedikit pun dari kita bertemu." Jelas Kashel, Kashel tahu Luan tidak bisa menua akibat dirinya yang pernah dijadikan kelinci percobaan dulu.
"Dan dulu kau pernah membuatku menangis," gumam Kashel ingat pertama kali mereka bertemu.
"Tolong jangan ingat itu, kau sendiri yang berimajinasi keterlaluan sehingga aku tidak tahan untuk tidak menggodamu," jelas Luan membuang mukanya ke lain arah, ia tetap merasa bersalah karena sudah membuat anak kecil polos menangis waktu itu.