The Borders

The Borders
Bagian 72 – Ditunjuknya Pemimpin Baru



Siang hari Kashel yang baru keluar dari rumah, menatap langit cerah di siang itu.


Sebentar lagi aku bebas, dan bisa menjalani kehidupanku sendiri. Aku merasa berdebar-debar menantikannya. Batin Kashel menatap ke arah langit cerah siang itu.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang menatapinya dari jauh, itu adalah Guardian.


"Sebentar lagi." Gumam Guardian kemudian menghilang entah ke mana dalam sekejap mata.


.


.


.


.


Dua minggu kemudian ...


Hari itu adalah hari di mana diangkatnya pemimpin baru The Borders Organization.


Ada tiga calon kandidat yang mewarisi darah utama keluarga Kendrick saat itu. Ada Rai Clovis Kendrick putra pertama Royi Kendrick. 


Aqila Kendrick putri pertama dari Felix Kendrick. Saat ini menjabat sebagai pemimpin The Borders Organization.


Terakhir ada Erza Kashel Kendrick Putra pertama dari Deon Kendrick. Anak yang tidak dianggap namun dirinya tetap menjadi salah satu calon pemimpin yang baru.


Cara pemilihan pemimpin keluarga ini melalui sistem yang terpilih di mana yang menjadi pemimpin adalah anak pertama di setiap keturunannya. Paling tidak sudah mendekati umur 20 tahun dan pemimpin baru akan di angkat setelah pemimpin sebelumnya berumur kurang lebih 45 tahun.


Tidak begitu banyak yang menjadi calon pemimpin, karena kebanyakan yang lainnya berasal dari keluarga cabang. Karena keturunan dari Kendrick yang asli sangatlah sedikit, Seperti sekarang Pemimpin sebelumnya hanya memiliki tiga orang anak.


.


.


.


Dalam acara itu semua orang yang menggunakan jubah hitam berperan sebagai saksi. Lalu, mereka yang menjadi calon menggunakan jubah putih bersih sebagai tanda dari perwakilan dunia cahaya. Kashel menggunakan penutup kepalanya, karena ia malu berpakaian berbeda, hanya tiga orang yang menggunakan pakaian berbeda.


Kashel terlihat datang bersama dengan Rainer yang saat ini menggunakan atribut jubah hitamnya.


"Paman, bisakah aku menggunakan jubah yang sama seperti Paman saja." Ucap Kashel ia terlalu gugup sekarang.


"Tenangkan dirimu Kashel, jangan perdulikan tatapan orang lain padamu. Kita hanya perlu menyelesaikan acara ini." Ujar Rainer yang berjalan di samping Kashel.


"Terima kasih Paman, sudah mau menemaniku." Kashel merasa gugup, banyak mata yang tertuju ke arahnya. Karena banyak yang memprotes lebih cocok anak keduanya Deon yang menjadi calon pemimpin daripada Kashel yang tidak bisa apa-apa.


Dalam keriuhan itu sebuah portal terbuka, dari portal itu muncul Guardian yang muncul dengan auranya yang tidak ia sembunyikan sama sekali.


Semua orang langsung menunduk hormat padanya, tidak berani menatap. Kashel terlihat bingung dengan semua orang yang tadinya riuh tiba-tiba berubah menjadi hening saat kedatangan Guardian.


"Kashel ikutilah ritualnya, meskipun kau tidak takut dengan aura milik Tuan Guardian." Bisik Rainer dan Kashel langsung menurut, Kashel memang merasakan energi milik Guardian yang besar menyelimuti acara itu. Tapi, Kashel tidak merasakan sedikit pun rasa takut untuk energi itu.


Guardian mulai berjalan ke altar yang telah disediakan. Saat di perjalanannya ke altar karena calon pemimpin harus berdiri di depan untuk menyambut Guardian bersama walinya jadi tidak sengaja Kashel yang penasaran dan hanya setengah menghormati Guardian itu menatapi. Saat itu Kashel langsung menundukkan pandangannya lagi.


Apa aku melakukan kesalahan, pikir Kashel. Ia sudah lama tidak melihat Guardian, dulu saat Guardian menyamar menjadi manusia Kashel bahkan sempat menggendongnya di tengah hutan. Kashel bahkan tidak menyangka orang tidak berdaya itu adalah Guardian.


.


.


.


Tempat apa ini, Kashel merasa seperti di alam lain.


Bukankah tadi aku berada di acara pemilihan pemimpin baru. Kashel melihat ke sana kemari tempat itu seperti ruang hampa bahkan saat ini ia tidak memijak apapun.


Apa yang terjadi sebenarnya. Batin Kashel.


Pria berjubah muncul di sampingnya. Itu adalah Guardian.


"Ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Kashel ia ingin mundur tapi tidak bisa.


"Aku tidak menyangka juga akan terkirim kemari bersama dirimu." Guardian menatap Kashel.


"Apa yang terjadi, bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?" Kashel mencari cara ingin keluar dari tempat itu.


"Kekuatanku beresonansi denganmu, untuk beberapa saat tidak ada yang bisa kita lakukan. Kashel." Kashel hanya menatapi Guardian, tidak takut sama sekali tidak seperti sebelum-sebelumnya. Saat ini energi Guardian terasa sangat bersih untuk Kashel tidak seperti sebelumnya yang tampak tercampur dengan energi gelap yang menakutkan.


Tatapan mata Guardian terlihat hangat, seandainya wajahnya dapat terlihat ia saat itu tengah tersenyum ke arah Kashel.


"Uwa!"


Kashel terperanjat kaget saat itu ia tengah duduk di kursi paling di depan, di sampingnya ada Rainer yang lain hanya memperhatikan Kashel yang sedang bertingkah aneh.


"Ada apa Kashel?" tanya Rainer. Rai terlihat memperhatikan Kashel, sedangkan yang lainnya tidak peduli.


"Guardian kenapa dia masuk ke mimpiku?" Kashel berkata langsung tanpa basa-basi. Terlihat juga dari tempatnya mata Guardian mengarah ke arah Kashel.


"Karena kau terpilih Kashel." Jawab Rainer namun tidak menjelaskan apapun setelah itu. Kashel tidak mau memikirkannya, inilah alasannya Kashel tidak mau dekat-dekat dengan Guardian dalam batasan tertentu. Karena makhluk itu sering memasuki alam bawah sadar Kashel yang menurutnya sangat mengganggu.


Acara sakral pengangkatan pemimpin baru pun akhirnya dimulai. Rai, Kashel, dan Aqilla sedang melakukan ritual turun temurun di atas altar yang disediakan dengan Guardian yang berdiri di depan mereka bertiga.


.


.


.


"Rai Clovis Kendrick, aku menunjukmu sebagai penerus selanjutnya The Borders Organization."


Semua orang berdiri dan langsung bersorak riang menerima keputusan Guardian terhadap pemimpin selanjutnya.


Terlihat yang paling kecewa di antara mereka adalah Aqilla Kendrick. Ia gagal mengambil tempat yang sebelumnya ayahnya duduki, sedangkan Kashel ia merasa semua beban di pundaknya telah terangkat.


Akhirnya selesai juga. Batin Kashel merasa lega.


Namun, sepanjang acara itu Rai yang terpilih tapi mata Guardian lebih tertuju pada Kashel.


Kashel kembali ke tempat duduknya yang berada di samping Rainer.


Upacara terakhir adalah kontrak darah, di mana Rai harus memberikan hidupnya untuk menjaga The Borders Organization sampai pemimpin selanjutnya ditunjuk.


Rai yang sudah menyelesaikan acaranya duduk kembali di kursinya yang berada di samping Kashel.


"Ah, sekarang orang tuaku puas dengan pencapaian ini." Gerutunya, membuka tudung jubahnya lalu duduk menyelempangkan kakinya santai di samping Kashel yang terlihat hanya diam saja.


"Aku mau sepertimu Kashel, bisa bebas sesuka hati. Uwah aku iri." Rai terus mengoceh. Orang-orang mulai bubar dari acara itu. Ada juha yang mengucapkan selamat pada Rai, tapi Rai hanya menyapa mereka sekenanya saja, karena Rai tahu mereka semua adalah penjilat.


Aku tidak bisa bergerak. Pikir Kashel.


Kashel juga ingin mengucapkan selamat pada pencapaian Rai, tetapi ia bahkan tidak bisa menyahut perkataan Rai yang terus berbicara di sampingnya.


"Kashel kau tidak apa-apa?" Rai bertanya, ia khawatir kenapa tiba-tiba Kashel menjadi sangat pendiam seperti itu.


Namun perhatiannya teralihkan ketika ayahnya memanggilnya dan kemudian ia sibuk dengan keluarga-keluarganya yang mengucapkan selamat atas pencapaian Rai.


Sudah dimulai. Batin Rainer, ia melihat Guardian yang berjalan mendekati mereka berdua ketika sudah banyak orang meninggalkan tempat upacara itu, hanya sebagian saja yang masih bertahan.


Kashel yang berusaha bergerak hanya terlihat bisa menggerakkan jarinya. Ia merasa seluruh tubuhnya tengah dicengkeram oleh sesuatu yang tidak menyakitinya dan ditekan dengan kuat. Hal itu juga mengendalikan dirinya.


Kashel yang tengah tertunduk melihat jubah hitam yang berdiri di hadapannya, itu adalah Guardian yang menghampirinya.


Kashel ingin membuka mulutnya namun tidak bisa.


"Ikuti aku," perkataan itu langsung sigap membuat Kashel berdiri, pandangan Kashel menjadi kosong, tubuhnya dikendalikan.


Kashel sadar tapi ia saat ini hanya seperti menonton tubuhnya yang dikendalikan oleh sesuatu.


Apa yang terjadi sebenarnya. Hanya itu yang bisa Kashel pikirkan.


Rainer hanya mengikuti mereka tanpa mengatakan apa-apa. Ia selalu menemani Kashel.


Orang-orang hanya memperhatikan mereka, belum tahu apa yang akan terjadi sebenarnya.


Di antara kerumunan orang itu, ada seorang yang menggunakan jubah hitam dengan ekspresi yang mencurigakan.


.


.


.


.