
Kashel mulai memasak bekal mentah yang ia bawa dari kota sebelumnya. Rainer hanya memperhatikan apa yang Kashel buat karena sebelum-sebelumnya jika ia melakukan misi yang hampir sama seperti ini, ia hanya memasak makanan instan yang ia bawa atau berburu dan memasaknya ala kadarnya.
Semenjak Kashel ada bersamanya, Rainer merasa selalu mendapatkan makanan yang layak, ia benar-benar menganggap anak itu seperti keluarganya sendiri bukan hanya sekedar kata-kata di mulut saja.
Malam itu langit terlihat cerah, bintang-bintang bertaburan di langit malam dengan cahaya bulan yang cukup memberikan terangnya untuk hutan di malam itu. Cahayanya memantul sumber air di tengah gurun pasir. Sehingga tumbuhan yang berwarna hijau tampak berkilau karena pantulan cahaya dari sumber air.
Namun, keheningan tiba-tiba mendatangi mereka. Memang suasananya saat itu hening, tapi bagi Rainer itu adalah hening yang tidak biasa.
"Ada apa, Paman?" tanya Kashel pada Rainer yang menghentikan acara makan malamnya, merasakan malam tenang yang tidak seperti biasanya, ia tidak menyadari apa-apa dan terus melanjutkan makan malam setelahnya. Ia pikir itu hanya perasaannya saja.
GAP!
BYUUR!
"Paman Rainer!" Kashel berteriak terkejut karena tiba-tiba ada sesuatu yang menarik Rainer masuk ke dalam air membuat Kashel panik, ia mengeluarkan pedang kecilnya dan memakai kacamata rohnya berniat membantu Rainer yang tenggelam dalam air, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kashel tidak tahu caranya berenang, untuk menolong Rainer.
"Paman, jangan mati." Gumam Kashel tertunduk menatap sumber air yang menarik Rainer ke dasarnya, di sana ia hanya melihat pantulan bayangan dirinya.
"Aku tidak akan mati semudah itu Kashel." Ucap Rainer melompat keluar dari dalam air, rupanya ia bisa membebaskan diri dari jeratan Roh Kegelapan penghuni sumber air itu.
"Syukurlah." Kashel terlihat senang, ia sangat khawatir tadi jika terjadi apa-apa pada Rainer.
Ternyata Roh Kegelapan itu berwujud sulur yang inti tubuhnya berada di dasar sumber air dan cukup sulit mengalahkannya karena memotong sulurnya itu akan tumbuh kembali.
Namun, menyerangnya sedikit demi sedikit bisa mengurangi kekuatan serangnya, karena hal itu menghabiskan energi sihir Roh Kegelapan itu.
"Walaupun melelahkan Kashel, kita cukup potong saja sulur ini terus menerus." Jelas Rainer.
"Begitukah, Paman." Kashel bersemangat terus menebas sulur-sulur yang semulanya cepat mendatangi dirinya perlahan serangannya melambat.
"Beruntungnya Roh Kegelapan yang tinggal di dalam sumber air ini tidak begitu kuat." Ujar Rainer, tidak beberapa lama sulur-sulur itu mulai berhenti menyerang.
"Kita berhasil, Paman." Kashel senang akhirnya ia bisa duduk kembali. Tenaganya belum sepenuhnya pulih, Kashel masih butuh istirahat.
"Tetap saja Kashel, aku tidak bisa santai-santai dan tetap harus waspada." Rainer duduk di depan api unggun, kemudian dengan sihirnya ia mengeringkan pakaiannya yang basah.
"Wah, ternyata sihir bisa berguna seperti itu juga ya Paman. Sangat cocok digunakan saat musim hujan untuk menghemat biaya listrik." Kashel malah membayangkan betapa untungnya jika ia tidak harus mencuci pakaian di tempat mencuci atau menggunakan mesin cuci, itu akan sangat menghemat pengeluaran.
"Kau bicara apa, gunakan sihirmu untuk hal-hal penting saja. Jangan egois jika kau punya kekuatan yang berbeda dari orang lain paham." Rainer mengetuk kepala Kashel, karena berpikiran tentang keuntungan menggunakan sihir untuk diri sendiri.
"Aaaw! Aku tidak akan melakukan hal itu Paman, lagi pula aku bukan pengguna sihir." Kashel mengelus-elus kepalanya yang terasa berdenyut.
"Jika kau ke depannya bisa sihir, gunakanlah kemampuanmu untuk melindungi orang lain Kashel." Rainer berbicara pada Kashel menatapnya dengan serius.
"Memangnya aku bisa melindungi orang lain, bahkan diriku saja Paman yang melindunginya." Kashel berucap kemudian menaruh tangannya di depan api unggun untuk menghangatkannya. Kashel juga tidak ingin berpikir dia akan bisa sihir.
Sedangkan Rainer ia membakar rokoknya dan mengisapnya dengan nikmat. Menikmati asap-asap yang keluar masuk melewati paru-parunya sambil menatap langit malam penuh bintang.
"Sebaiknya kau tidur saja, Kashel." Suruh Rainer yang tidak tega melihat Kashel seperti itu. Kashel yang sangat mengantuk kemudian langsung membaringkan dirinya jatuh tertidur dengan pulas.
.
.
.
Dalam tidurnya Kashel bermimpi melihat seseorang dengan zirah perang lengkap, berwarna perak mengkilat, seluruh tubuhnya tertutup dengan besi yang sangat rapat. Bahkan wajahnya pun tidak terlihat sama sekali hanya terlihat titik putih di antara garisan topeng tempat mata melihat yang sekaligus pelindung kepalanya. Kashel tidak tahu makhluk seperti apa yang mendiami zirah perang itu, dari tatapan mata putih terangnya ia sepertinya bukanlah manusia.
Namun, yang menjadi perhatian Kashel pada tempat itu adalah. Ia tinggal pada sebuah gua yang gelap gulita, di sekitarnya banyak energi hitam yang mencoba mendekat tapi tidak bisa mendekat. Karena cahaya yang ada pada tubuhnya dan benda yang di belakangnya, meskipun cahayanya tidak begitu terang tapi bisa memantulkan kegelapan yang mendekat. Cahaya yang menancap di gundukan batu itu berbentuk seperti sebuah ganggang pedang.
"Kashel, hei bangunlah." Rainer membangunkan Kashel sehingga pemuda itu bangun dengan cukup terkejut.
"Kita harus melanjutkan perjalanan Kashel," ujar Rainer merapikan barang-barangnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau habis bermimpi aneh?" tanya Rainer melihat Kashel tidak seperti biasanya setelah bangun tidur.
"Ah aku seperti tidak bisa membedakan dunia nyata dan mimpi, Paman. Takutnya malah kejadian seperti di dalam gua waktu itu. Aku terkena ilusi." Kashel menjelaskan ia masih waspada dengan kejadiannya dulu.
"Apakah kau bermimpi sesuatu yang membuatmu tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi?" Rainer bertanya menatapi Kashel.
"Umm, tadi aku bermimpi melihat seorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya, Paman. Lalu, di belakangnya aku melihat benda yang bercahaya seperti pedang." Jelas Kashel mengingat-ingat mimpinya.
"Sepertinya kau mendapatkan penglihatan tentang pedang itu Kashel. Karena kita telah berada di wilayah dari pedang yang kita cari." Jelas Rainer.
"Kenapa aku terpilih melihatnya, Paman. Bukankah seharusnya Paman bisa juga mendapatkan mimpi itu?" Kashel bertanya penasaran, karena Kashel merasa ia bukanlah orang yang sebaik itu sampai diberikan petunjuk untuk melihat pedang yang mereka cari.
"Mungkin kau terpilih Kashel. Karena bagi pemilik pedang itu kau adalah anak yang berhati baik." Rainer berkata menatap Kashel.
"Tapi aku bukan orang yang seperti itu Paman, Paman mungkin bahkan lebih baik dariku karena pekerjaan Paman adalah melindungi semua orang." Kashel menjelaskan sambil menatap wajah Rainer, tapi Rainer tidak menanggapinya.
"Jadi bagaimanakah rupanya tempat pedang itu tersimpan?" Rainer mengalihkan pembicaraannya, Rainer tahu dirinya tidak sepenuhnya murni manusia. Ia tidak pantas untuk mendapatkan petunjuk itu sebagai perwakilan dari Dunia Cahaya.
"Tempat itu gelap, dan hanya orang itu dan benda itu yang bercahaya, tempat itu serasa lembab dan pengap. Namun, hitam pekat yang ada di sekitarnya adalah Roh Kegelapan yang mencoba mendekat." Kashel menjelaskan bagaimana tempat itu.
Setidaknya Rainer mendapat kepastian tentang bagaimana tempat itu, yang Rainer tahu pasti berada di dalam sebuah gua karena hanya tempat seperti itu yang sangat gelap. Setidaknya ia tidak hanya disuruh untuk berjalan ke arah barat dengan tujuan yang tidak jelas.
.
.
.
.