The Borders

The Borders
Bagian 38 – Batu Sihir Hitam



.


.


.


Grizelle bukannya takut atau apa, ia merasa keberadaannya di situ malah seperti menjadi beban untuk Kashel, karena menghalanginya untuk bertindak.


"Maafkan aku Kashel karena menghambatmu," Grizelle lagi-lagi meminta maaf.


"Tidak apa-apa Grizelle, tugas utamaku adalah menjagamu. Melindungimu dari bahaya." Kashel meyakinkan Grizelle.


"Apa sebenarnya yang mengundang Roh Kegelapan kemari. Padahal tempat ini tidak ada tanda-tanda aneh." Kashel bergumam memikirkan, bagaimana hal ganjil itu bisa terjadi.


"Tidak bisakah kami menikmati liburan dengan baik, tanpa kasus Roh Kegelapan." Kashel menggerutu memprotes.


"Sudahlah Kashel tidak ada gunanya mengeluh, kalian harus menyelesaikan masalah ini. Agar bisa menikmati liburan dengan baik lagi." Grizelle menghibur Kashel yang terlihat gelisah, meskipun penerangannya hanya dari senter ponsel. Grizelle sadar kalau kekasihnya saat itu sedang gelisah.


"Kau benar Grizelle. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Tetaplah berada di sampingku pegang tanganku, jangan di lepas." Kashel berucap ia menggenggam erat jari Grizelle agar tidak lepas darinya.


"Jangan takut padaku, aku akan menggunakan kemampuanku." Kashel agak ragu, takut kemampuannya yang tidak normal sebagai manusia malah menakuti kekasihnya.


"Aku tidak apa-apa, tidak ada alasan untukku untuk takut padamu." Grizelle menyakinkan Kashel mengeratkan pegangannya tanpa berniat melepaskannya.


"Baiklah, energi hitam sedang mendekat ke sini. Aku akan menghalaunya." Kashel menjelaskan pada Grizelle, gadis itu tidak tahu apa-apa sebenarnya karena ia tidak melihatnya, tujuan Kashel membuat Grizelle terus berada di sampingnya. Agar Grizelle tidak merasa ketakutan, karena ketakutan adalah salah satu cari dari Roh Kegelapan yang bisa menyerap energi kehidupan manusia biasa.


"Pedang cahaya." Kashel membuka telapak tangan kanannya, sebuah cahaya muncul dari tangan Kashel dan perlahan memanjang berubah menjadi sebuah pedang yang membuat ruangan itu sedikit menjadi terang karena cahaya dari pedangnya.


"Apa kau tidak takut melihatku seperti ini?" Meskipun Grizelle tahu semua rahasia tentang Kashel, Grizelle tidak pernah melihat Kashel bertarung secara langsung.


Kekuatan dari The Borders bisa dilihat orang biasa berbeda dengan Kesatria Penjaga Batas, makanya Kashel juga jarang menggunakan kekuatannya.


"Aku tidak takut padamu, kau menggunakan kekuatan itu untuk melindungi orang lain Kashel, aku sangat menghargai itu. Dan kau keren." Itu lah jawaban yang diberikan oleh Grizelle pada Kashel. Dan Grizelle terus menggenggam tangan Kashel sambil menatap wajah pria itu.


Kashel merasa sangat senang karena mendengar penyataan Grizelle, tidak seperti yang lainnya. Semua orang entah itu orang biasa atau orang berkemampuan spesial, semuanya memiliki ketakutan tersendiri terhadap Lyam dan Kashel, karena aura mengerikan dari kekuatan mereka berdua.


Berbeda dengan Grizelle sejak awal gadis itu, tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadapnya. Bahkan ketika semua temannya lari ketakutan.


Kashel menggariskan perlahan pedang cahayanya pada asap hitam yang mendekati dirinya sehingga asap hitam itu lenyap seketika.


Grizelle hanya memperhatikan saja, ia tahu Kashel tengah menghadapi sesuatu meskipun ia tidak melihatnya, jadi ia tidak perlu bertanya banyak hal. Kemudian setelahnya pedang itu menghilang dari tangan Kashel.


.


.


.


Di luar Lyam dan anggota Kashel yang lainnya sedang sibuk menghalau roh-roh kegelapan yang tertarik mendekati penginapan itu agar tidak mengganggu kehidupan manusia biasa.


"Aaaa!"


Sebuah teriakan dari kamar pemilik penginapan. Membuat yang berada di dekat situ terkejut karenanya, kebetulan Chain yang berada di dekat sana langsung masuk menerobos pintu kamar pemilik penginapan. Ia terkejut karena, gumpalan asap hitam Roh Kegelapan sudah berkumpul pekat di sana.


"Apa-apaan ini?!"


Bahkan Chain sampai bener-benar terkejut dibuatnya.


Ia kemudian memanggil teman-temannya yang lain dan mereka semua akhirnya berkumpul di sana.


Lampu penginapan yang semulanya padam, hidup kembali. Listrik yang menerangi penginapan itu sedikit terganggu karena energi hitam yang tiba-tiba saja berkumpul, lampu menyala ketika mereka semua telah berkumpul di kamar pemilik penginapan karena energi hitam itu telah berkumpul di sana.


Asap hitam yang berkumpul itu membuat Roh Kegelapan menjadi kuat. Tapi energi yang perlahan berkumpul ke sana seolah-olah lewat melalui mereka dan berkumpul ke titik inti.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" Freda bingung harus berbuat apa.


Pemilik penginapan itu terlihat begitu ketakutan di sudut ruangan.


Lyam kemudian menebas kumpulan roh hitam itu sebelum tambah menjadi kuat.


Ternyata dengan pedang cahaya, Lyam bisa langsung melemahkan roh hitam itu.


"Itu inti hitamnya terlihat, berada tepat di tengah-tengah gumpalan asap hitam itu," Kashel melihat inti dari roh hitam itu dan semua teman-temannya bekerja sama menghancurkannya. Dengan kerja sama mereka Roh Kegelapan itu berhasil di hancurkan.


Tapi batu sihir hitam yang menyerap energi hitam itu tidak hancur dan jatuh ke lantai ruangan itu. Dan Lyam memperhatikannya.


"Apa itu?" Kyler penasaran.


"Batu sihir hitam." Jawab Lyam, Grizelle yang penasaran ingin melihat juga, tapi matanya adalah mata manusia biasa, jadi ia tidak melihat apapun di sana.


"Bagaimana batu ini ada dunia manusia?" Lyam bertanya sendiri, karena ia tahu batu sihir hitam itu seharusnya berada di dunia roh.


Lyam menggenggamnya kemudian melenyapkannya menjadi debu. Seorang berjubah yang sepertinya menunggu sesuatu di luar langsung pergi setelah batu hitam itu dihancurkan oleh Lyam.


Lyam menyadari seseorang dengan energi gelap sedang memperhatikan mereka semua sehingga ia bergegas keluar dan memeriksa sekitar.


"Sial, orang itu berhasil kabur." Lyam berucap kesal. Kemudian Lyam masuk lagi ke dalam kamar pemilik penginapan.


"Kau! Siapa yang memberikan batu sihir itu." Lyam berucap dingin sambil memegang kerah baju pemilik penginapan itu.


"Hei Lyam hentikan, kau tidak boleh bersikap kasar seperti itu." Kashel melerai perbuatan Lyam, teman-teman Kashel yang lain tidak ada yang berani melerainya.


"Maafkan ketidaksopanan teman saya pak," Kashel membungkukkan badannya memohon maaf. Lyam hanya membuang wajahnya ke arah lain.


"Bagaimana bapak bisa mendapatkan batu itu?" tanya Kashel baik-baik sekarang, karena batu itu seharusnya tidak dilihat oleh manusia biasa seperti pemilik penginapan.


"Saya benar-benar tidak tahu jika batu itu akan menjadi pengaruh buruk Nak, saya ini adalah orang yang ambisius untuk membangun bisnis penginapan saya dengan baik.


"Keinginan saya agar penginapan ini berjalan dengan lancar. Sehingga saya mencari cara pintas untuk bisa memajukan penginapan milik saya.


"Keinginan saya yang begitu besar menuntun saya ke orang yang memberikan batu itu, dia bilang itu akan membuat penginapan milik saya lebih maju lagi.


"Tapi saya tidak tahu jika itu menipu saya, keinginan saya terlalu besar sehingga saya tidak berpikir panjang dan percaya pada perkataannya yang malah membawa bencana." Jelas pemilik penginapan itu, keinginannya yang kuat mengundang kegelapan dan membuka mata batinnya, sehingga bisa dimanfaatkan oleh Roh Kegelapan.


"Ya sudah pak, intinya sekarang bapak baik-baik saja lain kali bapak harus hati-hati, jika bapak ingin maju berusahalah dengan keras pak. Jangan malah mencari jalan pintas yang belum tentu pasti, karena semua hal pasti ada bayarannya." Kashel memberikan saran.


"Terima kasih kalian semua telah menolong saya, mulai sekarang saya akan lebih berhati-hati lagi." Pria itu membungkuk mengucapkan terima kasih banyak kepada Kashel dan teman-temannya. Ia tidak akan main-main lagi dengan dunia gelap seperti itu.


.


.


.


"Bahkan keinginan yang kuat bisa mengundang kegelapan," Rigel bergumam saat meninggalkan kamar pemilik penginapan itu.


"Jika itu berada di jalan salah, semuanya pun pasti ada sisi gelapnya." Erphan menimpali.


"Kau benar." Rigel membenarkan perkataan Erphan.


Mendengar itu Kashel teringat akan masa lalunya di mana ia dulu juga memiliki keinginan yang sangat ambisius dan malah membuatnya hampir hancur pada akhirnya.