
Kashel teringat beberapa waktu yang lalu, Portal Perbatasan yang terbuka di kantornya itu adalah ulah mereka-mereka semua. Kashel kesal memikirkannya, ia tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban dari kejahatan mereka.
"Kita harus memastikan pria berjubah itu tidak membuat kekacauan di desa ini lagi Lyam, aku takut jika ia kembali dan membahayakan orang lain." Ujar Kashel, ia tidak bisa membiarkannya.
"Kau tidak perlu khawatir Kashel, sumber kekuatan sihirnya telah dimusnahkan. Jika ia menyerang ke desa ini lagi saat ini sama saja cari mati namanya." Ujar Kashel.
"Tuan Guardian benar Kakak, kami di sini tidak selemah itu. Roh Kegelapan yang membantunya telah dimusnahkan. Sekarang kami bisa melindungi diri kami sendiri jika yang menyerang hanya dia seorang." Ujar Marva yakin, mereka hanya tidak kuat dengan serangan badai kegelapan yang kuat itu, selebihnya mereka yakin bisa melindungi kehidupan mereka sendiri.
"Marva jaga dirimu baik-baik dan juga seluruh orang di desa ini." Ujar Kashel sebelum ia kembali pulang.
"Itu adalah tugasku Kak, Kakak jangan khawatir." Ujar Marva meyakinkan.
"Sampai jumpa, kita akan bertemu di lain waktu lagi." Kashel berpamitan, Lyam membuka portal untuk mengantarkan mereka kembali ke tempat asal mereka. Kashel melambai kemudian menghilang masuk ke dalam portal pulang.
.
.
.
.
Waktu itu Kashel kembali saat hampir terbit fajar.
"Loh kau sudah kembali Kashel?" Chain yang sepertinya juga baru pulang dari tugasnya di lapangan sedang bersantai, sepertinya ia sedang mengistirahatkan dirinya karena merasa kelelahan.
"Kau juga sudah kembali." Ujar Kashel mendudukkan dirinya di depan Chain. Sedangkan Lyam ia langsung pergi ke lantai dua tempat ruangan Kashel berada.
"Kau tampak tidak kelelahan sama sekali Kashel." Ucap Chain menyandarkan dirinya di sofa.
"Pekerjaanku berjalan dengan baik Chain." Kashel kemudian membaringkan dirinya di sofa ikut bersantai.
"Enak sekali menjadi orang kuat." Ujar Chain asal berucap membuat Kashel mengernyitkan dahinya tanda terganggu.
"Hei apa kau ingin merasakan memiliki kekuatan besar juga Chain?" tanya Kashel bangun memelototi Chain dengan tatapannya yang menyeramkan.
"Ti-tidak, aku tidak mau nanti aku bisa mati. Hahaha." Chain merasa gugup karena melihat Kashel yang seperti itu tiba-tiba.
"Sudahlah biarkan aku istirahat sebentar." Ujar Kashel ia mulai membaringkan dirinya di sofa lagi, tetap saja meskipun terlihat santai Kashel juga membutuhkan istirahat.
"Kau tidak kembali ke ruanganmu?" tanya Chain.
"Aku bosan melihat wajah Lyam terus." Kashel membaringkan dirinya membelakangi Chain.
"Ternyata Kashel bisa bosan juga." Chain mulai bersantai lagi dengan ponselnya.
"Setiap hari wajahnya yang aku lihat, tidak bisakah aku nanti bertugas dengan teman-teman yang lain tanpanya ikut sehari saja."
"Bisa." Kashel langsung bangun ketika mendengar suara Lyam yang sudah berdiri di dekat mereka berdua. Chain berusaha tidak peduli, ia ingin biasa-biasa saja sekarang pada Lyam. Menganggapnya temannya juga.
Tidak bisa, auranya benar-benar menyeramkan. Batin Chain berusaha tetap memberanikan diri. Walaupun butuh waktu lama Chain dengan anggota yang lain perlahan mulai terbiasa dengan Lyam di dekat mereka.
"Hah? Apa maksudmu." Kashel bangun dan langsung menatap Lyam.
"Kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri, jadi aku tidak akan khawatir jika kau menjalankan tugas membasmi Roh Kegelapan tidak bersama denganku sekarang."
"Serius?!" Kashel tidak percaya, ia merasa menjadi anak yang baru dilepas oleh orang tuanya.
"Aku akan datang dengan cepat jika kau benar-benar dalam bahaya Kashel." Kashel hanya menatapi Lyam.
"Kau sudah jauh lebih kuat tanpaku Kashel, aku yakin jika itu hanya roh-roh lemah kau akan bisa menghadapinya sendiri." Lyam kemudian kembali lagi ke lantai dua.
"Benar-benar pencapaian yang besar Kashel, Lyam yang tidak pernah membiarkanmu pergi sendiri. Kini membebaskanmu."
"Hehehe." Kashel merasa bangga.
Akhirnya, aku bisa bebas. Berarti aku menjadi kuat ya menurutnya. Kenapa bisa. Batin Kashel juga tidak mengerti.
"Setidaknya aku bisa bersenang-senang tidak di bawah pengawasannya." Ujar Kashel santai.
"Tapi orang itu, Lyam dia sendiri yang tidak bisa kubiarkan sendiri sekarang. Sialan." Kashel baru menyadari tugasnya benar-benar tertukar.
"Hei Lyam, kau mengatakan itu karena sekarang kau yang membutuhkan aku. Itu artinya sama saja." Kashel mengoceh naik ke lantai dua, mengejar Lyam.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas." Chain kemudian memanggil roh pelindungnya untuk menemaninya saat itu.
.
.
.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Kashel saat berada di dalam ruangannya.
"Tidak ada, aku memang selalu seperti itu." Jawab Lyam.
"Jangan bercanda, tadi malam. Kau, kau benar-benar hilang kendali atas dirimu." Kashel menatap Lyam meminta penjelasan.
"Iya kau benar, saat ini energi gelap yang muncul jauh lebih kuat dari sebelumnya, kehadiran mereka membuat keberadaanku terganggu. Dan jika energi gelap itu menguat dan menguasai diriku aku tidak akan bisa apa-apa." Lyam menjelaskan.
Kashel tidak akan lari lagi, ia ingin mengetahui semua hal mengapa Guardian sangat membutuhkan dirinya.
"Lyam kenapa kau membutuhkan wadah jiwa?" Kashel akhirnya bertanya, Kashel hanya tahu jika dirinya dijadikan wadah jiwa untuk menangkal kegelapan yang berada pada diri Lyam.
"Alasan utama kau sudah mengetahuinya dengan pasti Kashel, karena kegelapan yang mempengaruhiku. Aku memang membutuhkanmu untuk bertahan biar bagaimanapun dan seharusnya seperti itu saja aku sudah bisa bertahan, tapi ..."
"Tapi, apa?"
"Kekuatan gelap tanpa aku sadari telah menanamkan kegelapan pada diriku sebelum aku bertemu denganmu, sehingga bertemu denganmu hanya akan memperlambat penyebarannya. Tapi dengan begitu aku bisa tetap menyeimbangkan energi gelap meskipun pada akhirnya aku akan terpengaruh sepenuhnya oleh kegelapan.
"Kashel, di saat itu hanya kau yang akan mempertahankan cahaya. Aku tidak akan berpihak padamu."
"Kau gila ya, kenapa tugas seberat itu aku yang tanggung. Aku juga tidak bisa memastikan bisa bertahan atau tidak Lyam, kau saja tahu saat kau lepas kendali, aku sangat berusaha keras juga untuk tetap sadar?"
"Kau bisa melakukannya Kashel lebih daripada diriku." Lyam menatap keluar jendela.
"Kegelapan seperti apa yang ditanamkan pada dirimu Lyam?" Kashel bertanya ingin tahu.
"Tutup matamu," suruh Lyam, Kashel menurutinya.
CTIK!
Suara jentikan jari itu sontak membuat Kashel membuka matanya.
"Tempat apa ini," Kashel merasakan tekanan terang dan gelap yang sangat intens.
"Kemarilah," Lyam mengajak Kashel mengikuti langkahnya.
"Ini alam bawah sadarku Kashel, tempat tanpa jiwa dan yang berada bersamamu sekarang hanyalah pikiranku.
Kashel kemudian melihat Cahaya dan kegelapan yang saling bersanding di sana.
"Ap-apa itu?" Kashel takut mendekatinya. Ia merasa The Borders sedang terganggu dengan energi itu.
"Aku tidak bisa lebih dekat lagi." Ujar Kashel menghentikan langkahnya.
"Itu adalah pedang cahaya dan pedang kegelapan yang asli Kashel." Ujar Lyam.
"Apa?! Kau, punya pedang kegelapan." Kashel terkejut.