The Borders

The Borders
Bagian 44 – Kemampuan Tidak Terduga



Kashel terkepung oleh empat orang mantan regunya Mai, Rewa, Jeya dan Drax. Kashel sudah sedari tadi mengaktifkan mantra pelindungnya, yang mantra pelindung yang kali ini sedikit berbeda.


Mantra pelindung yang Kashel gunakan kali ini adalah mantra pelindung dengan tipe memantulkan kembali kekuatan dari Kesatria Penjaga Batas. Awalnya ia hanya mencoba-coba saja, karena tidak tahu efeknya akan seperti apa.


"Apa yang kalian semua mau lakukan?" tanya Kashel ia masih ingin mendapat penjelasan mengapa temannya bersikap seperti itu. Berharap mendapat penjelasan yang baik tidak seperti yang ia pikirkan.


"Kau jangan pura-pura bodoh. Karena kau kami berempat tidak lulus dalam ujian tadi malam!" salah satu dari mereka yang bernama Jeya membentak Kashel. Padahal Kashel bahkan tidak tahu kalau mereka berempat tidak lulus.


"Kenapa kalian menyalahkan aku, atas ketidaklulusan kalian."


Padahal yang salah mereka sendiri, kenapa aku yang jadi disalahkan. Padahal seharusnya aku orang yang paling merasa tersakiti di sini. Batin Kashel memperhatikan keempat temannya yang mengitarinya.


"Kebetulan hatimu sedang rapuh Kashel, kami akan memberimu pelajaran. Agar kau tidak meremehkan kami." Dingin pemuda bernama Drax yang berdiri di depannya.


"Kapan aku meremehkan kalian?" Kashel bertanya lagi, ia tidak pernah sama sekali meremehkan orang itulah Kashel. Ia cukup sadar diri bahwa ia itu lemah, tidak ada alasan untuknya meremehkan orang lain.


"Halah, dalam hati sekarang kau meremehkan kamikan karena tidak lulus." Mai yang di sebelah kirinya ikut berbicara.


Padahal Kashel tidak memikirkan itu sama sekali, ia hanya kecewa karena teman-temannya yang ada di sini hanyalah teman palsu. Tapi ia tidak pernah meremehkan temannya yang tidak lulus dalam ujian semalam.


"Terima serangan kami!" Mereka berempat langsung menyerang serempak dan seandainya Kashel tidak menggunakan mantra penghalang ia akan mengalami luka dalam yang cukup parah.


Namun, mantra penghalang milik Kashel aktif dan energi sihir itu terpantul kembali kepada yang menyerang. Keempat temannya langsung terpental oleh serangan mereka sendiri dan terlihat mereka mengalami luka-luka lebam, akibat ledakan itu bahkan mereka sampai terpantul ke dinding kelas.


Kashel juga jatuh pingsan setelahnya, staminanya langsung terkuras habis. Tapi ia tidak mengalami luka sama sekali.


Semua orang langsung berkumpul melihat kelima orang yang tidak sadarkan diri itu.


.


.


.


Kashel tersadar di ruang perawatan akademi. Badannya masih terasa lemas, tapi ia tidak merasakan sakit apa-apa.


Sedangkan di tempat yang terhalang gorden terlihat keempat temannya yang sedang di infus karena terluka akibat serangan sihir.


Perawat dari ruangan itu mendatangi Kashel yang sedang berbaring. Dan memeriksanya.


"Kau sudah baik-baik saja. Setelah seharian ini tertidur." Perawat itu berucap datar. Kashel terkejut, ia hari ketinggalan mata pelajarannya di sekolah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" perawat itu bertanya pada Kashel. Ia tidak bisa memberikan Kashel pil sihir pemulihan stamina karena obat sihir tidak mempan pada Kashel. Jadi kemudian diberikan resep obat medis pada umumnya. Untuk membantu dia memulihkan diri. Tentu saja Kashel harus mencarinya sendiri karena di akademi ini tidak ada obat-obatan medis dari dokter.


"Mereka berempat menyerang aku dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." Kashel menjelaskan ia bahkan tidak sadar melihat bagaimana kabar keempat orang yang menyerangnya, penglihatan Kashel menjadi putih saat serangan itu mengenai mantra penghalangnya.


"Keadaan mereka berempat sekarang tengah terluka dan sekarang masih belum sadarkan diri." Perawat itu memberitahukan keadaan orang-orang yang menyerang dirinya tadi pagi.


"Kau gunakan kemampuan apa sampai bisa memantulkan kekuatan sihir elemen itu?" tanya perawat pria itu lagi.


"Aku hanya menggunakan mantra pelindung yang baru saja aku pelajari." Kashel berucap takut, ia merasa bersalah karena mantra pelindung yang ia gunakan bisa melukai orang lain.


"Sebaiknya kau berhati-hati Kashel, jangan sembarangan menggunakan kemampuan yang bisa membahayakan orang lain, jika kau tidak bisa mengendalikannya." Perawat itu menasihati Kashel.


"Kau cukup ahli ternyata, orang biasa bisa menahan sihir empat orang dan memantulkannya. Tidak heran untuk seseorang berdarah Kendrick." Perawat itu berucap lagi kemudian langsung meninggalkan Kashel yang duduk termenung merasa bersalah.


.


.


.


Keesokan harinya Kashel sudah pulih sepenuhnya dan bersiap pergi ke sekolah dari kamar asramanya. Ia sudah jera dan tidak akan menggunakan mantra itu lagi, karena bisa melukai orang lain.


Di sepanjang jalan orang-orang berbisik sambil menatapi dirinya. Karena keributan kemarin Kashel menjadi terkenal. Kemampuan mantra pelindungnya mengalahkan orang yang memiliki energi sihir. Mungkin itu adalah bayaran untuk kerja keras Kashel untuk bertahan di dunia yang ia tidak inginkan.


Kashel tidak mengerti mengapa semua orang terlihat berbisik ketika dirinya melewati orang-orang. Tidak seperti biasa kehadirannya bahkan tidak di anggap oleh orang-orang ataupun jika ada yang menganggapnya ada hanya akan mencibirnya dengan keras.


.


.


.


Teman-teman Kashel yang menyerangnya kemarin juga telah sadar meskipun beberapa bagian tubuhnya diperban.


Saat melihat Kashel mereka menghindarinya seperti mereka telah jera melakukan hal seperti kemarin dan tidak sadarkan diri selama seharian penuh.


Di kelasnya pun orang-orang menjauhi Kashel tidak ada yang mau mendekatinya, Kashel juga sudah tidak perduli. Di tempat ini ia tidak bisa berharap menemukan teman-teman yang ia cari. Tapi Kashel tidak akan menyerah, karena jika tidak mendapatkannya di sini ia bisa menemukannya di tempat lain.


Kashel yakin dirinya hanya kurang beruntung bertemu dengan teman-teman yang hanya memanfaatkannya saja selama ini.


Kashel meyakinkan dirinya bahwa di luaran sana ada orang dengan hati yang berbeda, yang akan mau berteman baik dengannya suatu saat nanti. Karena hati orang tidak selalu sama, pasti ada orang yang berbeda pemikirannya daripada orang-orang yang ada di dalam akademi ini.


.


.


.


Ternyata selama ini, rumor menyebar bahwa Kashel memiliki mantra pelindung yang kuat. Mantra pelindung yang bisa memantulkan energi sihir kembali ke penyerangnya itu sangat jarang ada yang menguasainya.


Bahkan yang lebih mengejutkan lagi Kashel bisa menahan serangan empat orang sekaligus meskipun bukan Kesatria Penjaga Batas yang kuat tapi menahan serangan empat orang yang berbeda itu adalah hal yang menakjubkan. Meskipun ia akhirnya berakhir jatuh tidak sadarkan diri.


.


.


.


Lyam dari kelas A tertarik dengan kemampuan anak biasa yang dalam sekejap langsung terkenal karena kemampuannya.


Padahal yang selama ini Kashel lakukan hanyalah berusaha mengatasi staminanya yang lemah dengan berolahraga di pagi hari. Untuk bisa memperkuat mantra pelindungnya.


.


.


.


"Entah mengapa anak itu sungguh menarik, dia menjadi anak yang tidak bisa dianggap remeh." Lyam mendengar rumor itu, rumor tentang mantra penghalang Kashel sampai ke kelas A, tempat orang dengan kemampuan ternama, meskipun yang tertarik dengan kemampuan Kashel hanya Lyam seorang. Karena banyak dari yang lain menganggap Kashel tetaplah seorang Kendrick yang gagal.


.


.


.


Kashel sekarang banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan akademi, karena ia ingin menyelesaikan tahun terakhirnya nanti dengan nilai yang baik.


Makanya Kashel mempersiapkannya dari sekarang, tetapi saat memilih buku, terlihat Lyam telah berada di sampingnya tengah menatapi dengan tajam.


"A-ada apa?" tanya Kashel sedikit gugup.


"Kudengar kemampuan mantra pelindungmu cukup kuat, aku ingin mengajakmu beradu kekuatan." Lyam langsung berbicara tanpa basa-basi di perpustakaan itu tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka.


"Hah, apa?!" Kashel terkejut mendengar tantangan itu.


.


.


.