
...****************...
"Nona kau sudah kembali..." Wanita berambut putih dan cantik itu berjalan ke sebuah altar bawah tanah. Beberapa bagian tubuhnya mengalami luka bakar akibat pertarungan sebelumnya.
"Selamat datang kembali putriku," ujar pria berjubah merentangkan tangannya menyambut kepulangan putrinya.
"Hormatku, Ayah." Ujarnya berjongkok hormat.
"Kau akan memimpin kembali pasukan kegelapan Freda. Tidak boleh ada kedamaian di dunia ini." Ujar pria berjubah yang Freda panggil ayah.
"Benar, untuk menguasai dunia dan membuatnya berada digenggaman kita, kita harus membuat semua orang memiliki rasa ketakutan di hati mereka.
"Tapi Ayah, aku gagal membawa Guardian ke dalam kegelapan, orang-orang di sana bukanlah tandinganku." Ucapnya lagi sambil memeluk manja sang ayah.
"Tidak putriku, cepat atau lambat Guardian, akan berpaling ke dalam kegelapan." Ujar sang ayah membuat Freda tersenyum senang. Saat ini, wanita itu mengenakan gaun serba hitam tapi tidak dengan jubah, ia membiarkan rambutnya terikat dengan rapi.
......................
Guardian terdiam untuk beberapa saat, sebelum Kashel datang menegurnya.
"Akhir-akhir ini kulihat kau sering melamun." Kashel berucap santai.
"Sepertinya, kegelapan akan benar-benar mengendalikanku Kashel." Ujar Lyam tatapannya terkesan datar begitu juga ekspresinya.
"Tidak bisakah kamu melawannya." Kashel duduk menghela nafas, ia ingin sekali mengeluh sekarang.
"Aku bukan manusia Kashel, semua tergantung kuat dan lemahnya kegelapan dan cahaya yang mempengaruhiku dan itu akan menciptakan sifatku."
"Aku tidak tahu lagi Lyam, jika kamu lepas kendali dan kehilangan dirimu. Mungkin aku akan mengalami hal yang sama. Meskipun begitu, aku akan melawannya entah bagaimana caranya." Ujar Kashel.
"Kita berdua jangan sampai mati, tujuan mereka adalah membunuhmu untuk membangkitkan The Borders." Ucapan itu membuat kepala Kashel terasa pusing memikirkannya.
"Mereka akan membuatku melawanmu." Kata Lyam lagi, Kashel hanya bisa memijat dahinya.
"Tapi kau tidak akan bisa melawanku Lyam, aku ingat saat kau lepas kendali kau pernah tidak menyerangku." Ujar Kashel.
"Tapi dengan pedang kegelapan Kashel, aku akan melawanmu. Seperti waktu itu. Walaupun seranganku tetaplah ragu-ragu karena menyadari membunuhmu adalah bunuh diri. Mereka tidak tahu ikatan seperti apa yang kita punya." Kashel hanya terdiam mendengarnya.
"Karena mereka tidak akan bisa membunuhku, meskipun aku dikendalikan oleh kegelapan aku pasti akan melindungi diri dan berbalik menyerang mereka jika mereka berani macam-macam."
"Syukurlah meskipun tidak sadar kau bisa menjaga dirimu." Ujar Kashel merasa tidak begitu harus khawatir.
"Insting bertahan hidup itu nomor satu Kashel, tetapi akibat itu mungkin saja aku akan membunuh banyak orang tidak bersalah." Kashel memijat dahinya lagi sambil menghela nafas pasrah, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi aku tidak perlu khawatir kau akan membunuhku, karena kau tidak akan melakukannya. Tapi, aku harus melawanmu untuk melindungi nyawa orang lain. Aku tidak akan membiarkanmu membunuh orang yang tidak bersalah Lyam." Kashel berucap yakin.
"Aku pasti akan mencoba membawamu ke dalam kegelapan, dan pasti ada banyak yang mengincarmu juga." Ujar Lyam.
"Kau harus menjadi jiwa yang kuat, dan bisa melindungi orang yang kau sayang dari jangkauanku agar hal itu tidak terjadi." Ujar Lyam ia sudah mengantisipasinya.
"Haaa, jangan coba-coba kau menyentuh orang yang berharga untukku atau maka aku akan memilih kita berdua mati bersama saja." Ujar Kashel langsung.
"Keluargamu adalah kelamahanmu." Ujar Lyam.
"Aku hanya manusia biasa Lyam, aku pasti punya kelemahan. Tapi karena perasaan manusiaku itu jugalah yang membuatku bisa bertahan dari kegelapan."
Jika hal itu terjadi aku akan melindungi semua keluargaku dan menjauh dari mereka untuk sementara waktu sampai aku menemukan cara untuk mengatasi semuanya.
DEG!
"Apa lagi ini?" tanya Kashel memegang dadanya.
"The Borders memanggil, sudah waktunya menerima itu." Guardian duduk dan memejamkan matanya.
"Apalagi?" Kashel tidak mengerti.
"Kekuatan baru." Jawab singkat Lyam.
"Hah?! Tidak-tidak." Kashel ingin menolaknya dan berusaha tetap sadar saat ini.
"Jika kau menolaknya, itu akan menjadi masalah besar Kashel. Kalungmu itu sudah retak. Dan jika The Borders mau, ia bisa menghancurkannya." Jelas Lyam, Kashel menelan ludahnya pahit.
Akhirnya Kashel masuk ke dalan alam bawah sadarnya.
Sesuatu memasuki pikiran Kashel, ia tahu kemampuan apa yang ia akan terima. Kemapuan yang sebelumnya mereka berdua gunakan di reruntuhan. Kali ini Kashel benar-benar akan menerimanya.
"Sepertinya setelah ini aku akan sakit beberapa waktu." Ujar Kashel.
Kemudian cahaya besar merah muncul di hadapan Kashel.
"Apakah aku bisa menolak."
The Borders menatap tajam Kashel.
"Ya, ya baiklah. Tidak perlu marah." Kashel melangkah maju dengan ragu mendekati cahaya itu.
Kashel menyentuhnya dengan perlahan. Tapi seujung jari Kashel yang menyentuh cahaya itu. Cahaya itu langsung menyerap kepada jiwa Kashel.
Kashel bahkan kembali ke kesadarannya dalam keadaan sangat terkejut.
Suara detak jantung Kashel bahkan terdengar.
"Kau harus terbiasa mulai sekarang." Ujar Guardian membuat Kashel menutup telinganya.
Kashel berjalan lesu menuju kamarnya dan berbaring di sana. Bahkan udara terasa membebani kulit Kashel.
Grizelle masuk dan duduk di samping Kashel.
"Kau kenapa?" tanya Grizelle seperti biasa tapi Kashel nampak terganggu.
"Inderaku tambah dipekakan oleh The Borders. Jadi meskipun kau berbicara pelan atau jauh aku bisa mendengarnya dengan baik. Tapi saat ini, semua suara malah bercampur dengan baik di telingaku, jadi aku masih tidak bisa mendengar semuanya dengan baik." Ujar Kashel menjelaskan lesu.
"Kalau begitu jangan beristirahat saja sekarang." Ujar Grizelle berbicara berbisik Kashel tersenyum senang, istrinya langsung memahami dirinya.
BRAK!
"Kakak! Kudengar kau tidak enak badan!" teriakan Karel membuat Kashel menutup telinganya meringkuk.
"Bisa tidak, pelan-pelan!" Kashel mengomel terengah-engah. Telinganya terasa berdenyut-denyut sekarang.
Grizelle mengangkat jarinya ke bibirnya menyuruh Karel diam. Dan Grizelle menjelaskan pada Karel berbisik. Karel pun mengangguk paham.
"Maaf Kakak." Bisik Karel menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah memohon maaf setelah mendengar penjelasan Grizelle.
Kashel hanya melambaikan tangannya mengiyakan permohonan maaf Kashel.
Tidak lama Karel keluar kamar dan menjelaskan semuanya pada teman Kashel satu persatu agar tidak berisik dulu tentang kakaknya yang sedang beradaptasi dengan kemampuan barunya. Tentu saja Kashel mendengar semua ucapan Karel.
"Bocah itu," gumam Kashel menutup kedua matanya ia tersenyum senang, adiknya sangat perduli padanya.
"Uum, kenapa tiba-tiba tersenyum sendiri." Grizelle bingung.
"Sepertinya aku mulai gila." Ucap Kashel asal, dan Grizelle malah mencium pipi Kashel.
"Kenapa kau tidak batasi saja kemampuanmu itu seperti membatasi sihirmu yang lain.
"Pikiranku sangat kacau, sampai aku tidak memikirkannya sampai sana." Kashel memeluk Grizelle dan menciuminya, ciuman Grizelle saat itu benar-benar terasa berbeda seperti biasanya. Indera perabanya yang dipekakan membuat Kashel merasa sentuhan milik Grizelle menjadi lebih intens dari pada biasanya.
Mereka malah bersenang-senang di kamar siang itu. Beruntungnya tidak ada yang masuk ke dalam sana. Untuk pertama kalinya Kashel menikmati. Kemampuan inderanya yang dipertajam itu.
.
.
.
Sore harinya Kashel keluar kamar dan tampak terlihat sudah baik-baik saja.
"Kau sudah bisa beradaptasi?" tanya Lyam yang santai di ruang kantor Kashel.
"Tidak, aku menemukan cara dan membatasinya. Walaupun masih peka, tapi ini lebih baik daripada sebelumnya." Ujar Kashel memeriksa laporan.
"Jadi kekuatanmu yang lain. Kekuatan elemen dasar itu terlepas kecuali regenerasi aku masih bisa membatasinya, tapi tidak apa-apa aku bisa mengendalikannya, sihir elemen dasar." Saat Kashel memperlihatkan jarinya malah keluar api. Kashel mengibaskan tangannya kaget.
"Heh, kau belum sepenuhnya terbiasa dengan kemampuanmu sendiri." Ujar Lyam membuat Kashel hanya diam saja setelahnya. Ia sangat buruk dalam pengontrolan sihirnya, tapi untungnya sihirnya yang sudah terasa energinya tidak membuat teman-temannya takut.