The Borders

The Borders
Bagian 129 – Misi Telah Selesai



......................


"Aaaaa!"


Suara teriakan nyaring dari kamar lain, itu adalah teriakan Kashel. Membuat Anna dan Luan mendatanginya. Bahkan Dirga yang tertidur sempat membuka matanya dan tertidur lagi.


"Ada apa Kashel?" tanya Luan langsung. Sedari tadi ia tidak melihat keadaan Kashel karena percaya Lyam bisa menanganinya.


Lyam terkejut melihat kepala Kashel yang diperban tebal seperti itu. Memang benar kepala Kashel berdarah akibat benturan. Tapi, tidak sampai separah itu harusnya.


"Daun telingamu hilang Kashel."  Ujar Guardian mengejek Kashel.


"Sialan kau menipuku." Kashel marah pada Lyam. Saat menyentuh kupingnya Kashel tidak merasakan sakit apapun kecuali di belakang kepalanya.


"Orang yang tidak mau menggunakan sihirnya dengan baik, seharusnya memang kehilangan salah satu bagian tubuhnya." Lyam mengomel.


"Enak saja, jangan sembarangan berbicara kau!" Kashel malah berdebat dengan Lyam.


Anna dan Luan merasa bersalah karena sudah khawatir pada dua orang yang seharusnya tidak dikhawatirkan sama sekali itu.


Mereka berdua kemudian meninggalkan ruangan itu tanpa diketahui oleh Lyam dan Kashel.,


"Hei Lyam bagaimana dengan batu sihir?" tanya Kashel penasaran ia tidak tahu apa-apa setelah tidak sadarkan diri satu hari yang lalu. Kashel sudah tidur sejak satu hari yang lalu setelah ia pingsan.


"Bagaimana menurutmu jika aku menghancurkannya." Ujar Lyam datar.


"Aku akan langsung menenggelamkan dirimu di laut." Ujar Kashel tampak kesal.


"Misi kita berhasil Kashel, batu itu berhasil di segel." Jelas Lyam kali ini ia berbicara serius.


"Siapa yang menyegelnya?" tanya Kashel lagi.


"Aku." Ujar Lyam singkat.


"..."


"Ka-kau! Dasar pembohong saat itu, saat itu kau bilang kau tidak bisa menggunakan kemampuan penyegelan!" Kashel mulai mengomel lagi.


"Aku sengaja melakukannya, ketimbang batu elemen air. Batu elemen api itu sangat berbahaya, jadi aku membiarkan diriku membuat segel dengan pola yang salah. Sekaligus menjebak musuh kita Kashel." Ujar Lyam menjelaskan, Kashel terdiam.


"Awas kau ya, sekarang kutandai kau Lyam jika masalah tentang penyegelan." Ujar Kashel menunjuk ke arah Lyam sambil berjalan keluar.


"Hahaha." Lyam malah tertawa, itu membuat Kashel bergidik ngeri.


Saat di luar Kashel mendatangi Luan yang sedang duduk bersantai memandangi laut lepas.


"Mau roti?" Luan menawarkan Kashel sebuah roti.


"Terima kasih," Kashel langsung menerimanya dan memakannya dengan lahap, ia sudah satu hari tidak makan.


"Aku lapar." Ujar Kashel meminum sekaleng soda. Saat mendongakkan kepalanya Kashel merintih kesakitan.


"Kenapa juga kepalaku bisa terluka, padahal sebelumnya tidak ada?" tanya Kashel penasaran.


Ia membuka gulungan perban tebal yang membungkus kepalanya.


"Lyam buang-buang perban." Ujar Kashel menggulung perban di lengannya agar tidak berantakan dan menyisakan sedikit perban yang menahan kasa di belakang kepala bagian atasnya yang terluka.


"Itu luka kau dapatkan saat kabur dari ledakan besar. Dan kita semua terpental karena tekanan air laut dalam ikut juga melewati portal yang dibuat Lyam." Jelas Luan.


"Separah itu." Ucap Kashel. Membuang perban berlebihan milik Lyam. Kashel hanya ingat dalam mimpinya ia melihat seluruh reruntuhan itu hancur. Kashel pikir saat itu ia sudah mati tenggelam, tapi saat ia membuka matanya ia sudah berada di dalam kamar kapal.


"Ah aku tidak sabar ingin pulang." Tidak lama lagi Kashel akan kembali ke daratan. Ada orang yang menunggunya pulang sekarang.


.


.


.


"Apa yang harus kita lakukan dengan batu sihir ini?" tanya Kashel menatap batu elemen yang telah di segel.


"Aku memberi saran agar Divisi Batas Senja saja yang menjaga batu ini." Saran Dirga.


"Aku tidak percaya lagi dengan Kantor Pusat, selama ini mereka berusaha menjatuhkan nama baik Guardian, sampai orang-orang Kantor Pusat membenci Guardian, seolah-olah Guardian tidak melakukan apa-apa dan keberadaannya dituding malah membahayakan dunia." Geram Dirga, ia selama ini juga salah paham terhadap Guardian dan ikut-ikutan membenci Guardian dengan sebab yang tidak jelas kebenarannya.


Kashel hanya menghela nafas panjang, karena dirinya juga bagian dari The Borders sekarang. Berarti ia juga dianggap orang berbahaya. Padahal ada banyak orang yang menjadi korban agar dunia ini aman.


"Jadi apa kita akan memalsukan batu sihir ini bagaimana caranya?" tanya Kashel dan yang lainnya menyimak.


"Kau meremehkanku," ujar Lyam, Kashel malah tersenyum ke arahnya.


"Iya..." Kashel malah sempat-sempatnya mengejek Lyam.


Lyam tidak ingin berdebat dengan Kashel saat ini dan lebih memilih membuat tiruan dari batu sihir itu menjadi sama persis. Tidak bisa dibedakan. Kashel takjub.


"Bahkan aku bisa membuatkan pedang yang cocok untuk dirimu. Heh." Ucap Lyam kemudian berlalu pergi membawa batu sihir yang asli.


"Apa?! Jadi pedang itu kau yang buat, pantas saja kau bisa menemukanmu di mana pun. Jika aku tahu itu milikmu, aku akan mematahkannya." Kashel berucap kesal.


"Coba saja kalau bisa, dengan kekuatanmu di waktu itu." Ujar Lyam, Kashel menendang tulang kering Lyam. Tapi Lyam tampak biasa-biasa saja.


"Aku akan membuangnya kalau begitu," ujar Kashel.


"Jika kau tidak membawanya aku akan mengantarkannya padamu, tanpa kamu ketahui Kashel." Lyam menatap tajam Kashel kemudian melanjutkan mengemudikan kapal mereka.


Kashel kemudian berbaring di ranjang belakang Lyam, mengecek ponselnya berharap sudah ada sinyal.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bahas." Ujar Anna penasaran.


"Kita memang tidak akan pernah mengerti." Ujar Luan mempertegasnya.


"Biarpun seperti itu kenapa Kashel dan Guardian terlihat seperti satu orang yang sama?" tanya Dirga memperhatikan.


"Mau Guardian atau Kashel memang sama saja karena mereka berdua adalah bagian dari diri The Borders." Anna dan Luan mulai bergosip, Dirga antusias mendengarkannya.


"Yang membedakan mereka semua, hanya kepribadiannya saja."


"Hei aku bahkan dengar dari Chain dan Erphan. Mereka berdua itu punya satu kepribadian berbeda lagi. Kepribadian yang bisa mengendalikan keberadaan mereka berdua."


"Itu adalah The Borders." Mereka bertiga berbicara serempak, mereka semua tahu. Kepribadian lain yang menguasai keberadaan mereka berdua adalah The Borders itu sendiri.


"Aku tidak percaya, pantas saja Erphan dan Chain sampai syok." Luan berpikir memegang dagunya.


"Padahal katanya, waktu itu The Borders belum menggunakan kekuatan penuhnya."


"Hei, di saat terakhir The Borders benar-benar bangkit, tapi entah mengapa, ia memilih bertarung seperti menghindari kematian orang-orang." Anna antusias berbicara, Dirga mendengarkan mereka sangat tertarik.


"Kekuatan The Borders jika ia serius ia akan meluluhlantahkan satu kota dengan mudah,"


"Sepertinya itu karena permintaan Kashel juga."


"Erphan pernah mendengar, kata-kata The Borders yang seperti menjawab permintaan seseorang."


"Hei kalian bicara apa, sepetinya asik sekali?" Kashel ikut duduk di hadapan mereka, mereka semua terdiam.


"Kalian membicarakan The Borders?" Kashel mendengarnya sedikit tampak tertarik juga.


"Kau mendengar semuanya?"


Kashel menggeleng.


"Tapi bagiku The Borders itu hanyalah seekor naga gila."


"Kashel kau berbicara seperti itu, kau tidak takut jika dia marah."


"Aku merasa dia memang sering marah akhir-akhir ini karena emosiku yang kadang terguncang, itu mengganggu dia. Tapi tidak masalah aku bisa mengatasinya." Jelas Kashel memakan kacang kulit yang ada di meja bundar itu.


"Kau tidak takut Kashel?" semuanya tampak penasaran memperhatikan Kashel.


"Dengan The Borders, aku takut. Dia sangat-sangat besar aku tidak pernah melihat tubuhnya dengan jelas bahkan dia lebih menakutkan ketimbang Roh Kegelapan yang pernah aku hadapi." Kashel bercerita santai.


"Pantas saja kau seperti orang yang tidak punya rasa takut sama sekali." Ujar Luan.


"Begitukah? Sepertinya, kalau dia mau jiwaku bisa langsung menghilang. Tapi dia tidak melakukannya sepertinya dia tidak bisa menyentuhku. Dan itu lebih bagus." Kashel menjelaskan santai.