
Di sekitaran kakinya air mulai mengumpul dan perlahan menyelimuti tubuh Guardian.
"Kita sudah memasuki wilayah batu elemen air Kashel." Ujar Guardian memberhentikan kapalnya.
"Bagaimana jika air ini membungkusku? Bagaimana aku bisa bernafas?" tanya Kashel panik. Air sekitarannya mulai mengelilingi Kashel tetapi tidak mendekat ada jarak sekitaran satu lengan yang terpaut pada kumpulan air itu.
"Kemarilah ikuti aku." Ajak Guardian, dan tentu saja Kashel langsung menurutinya. Dirga ternyata juga memiliki kemampuan elemen air. Air di sekitarannya mempengaruhinya juga.
"Berdirilah di sini." Guardian menyuruh Kashel berdiri di pinggir pagar kapal. Sedangkan yang lainnya hanya menatapi kedua orang itu dari sudut yang lain
"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Kashel berdiri di pinggir pembatas kapal yang saat itu sedang bergoyang karena badai.
"Eh?!"
Guardian mendorong Kashel jatuh ke air, Kashel bahkan tidak berteriak sedikitpun karena sangking terkejutnya, ia hanya menatap Guardian yang menatapnya dari atas kapal.
BYUR!
Kashel tenggelam masuk ke dalam air, ia tidak bisa berenang bahkan pasrah karenanya.
"Kashel!" Luan dan Anna berteriak serempak langsung lari ke pinggir kapal yang di mana jejak Kashel bahkan tidak terlihat lagi karena tenggelam.
"Apa yang kau lakukan pada Kashel?" Luan panik, ia meminta penjelasan pada Guardian.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada anak itu, dia baik-baik saja di bawah sama. Prinsip sihir adalah melindungi penggunanya. Jadi Kashel tidak akan mati karena memiliki penghalang air di tubuhnya dan itu akan mengumpulkan oksigen untuk membantunya bernafas, lebih tepatnya Kashel tidak butuh alat selam sekarang." Argai menjelaskan, kemudian melompat ke dalam air menyusul Kashel. Lyam hanya mengangguk mengiyakan.
"Jika anak itu kenapa-kenapa, itu juga akan berdampak padaku." Ujar Lyam melanjutkan penjelasan yang tidak diketahui oleh Argai.
"Bersiaplah, kita akan mulai menjelajah." Suruh Lyam. Anna dan Luan dengan cepat mengambil alat bantu selamnya dan memakainya, selama diperjalanan mereka berlatih menggunakan peralatan selam di bantu oleh Argai.
Apakah aku akan mati, Lyam dia membunuhku. Kashel memejamkan matanya pasrah, semakin lama jatuh ke dalam lautan yang dalam.
"Hei sadarlah!" Dirga menampar pipi Kashel keras membuat, Kashel bangun dan merintih kesakitan.
"Aku selamat!" Kashel bernafas lega. Kemudian ia menatapi sekitarannya bingung itu adalah air.
"Kau bodoh, kau tidak akan mati di sini jika memiliki elemen air. Apa kau tidak pernah menggunakan elemen airmu dengan baik sebelumnya." Dirga menceramahi Kashel, Kashel baru tahu jika kekuatan elemen air bisa digunakan untuk menyelam tanpa peralatan selam. Ia sedikit takjub.
"Aku tidak pernah menggunakan kemampuan ini untuk menyelam sungguh, karena aku tidak bisa berenang." Perkataan Kashel membuat Dirga menatapnya heran.
"Apa kau pengguna banyak elemen?" tanya Dirga, hanya pengguna lebih dari satu elemen yang biasanya jarang menggunakan elemen lain, kecuali yang sering ia pakai.
"Iya, aku pengguna banyak elemen." Kashel menggaruk wajahnya.
"Berapa elemen dasar yang bisa kau gunakan sebenarnya?" Dirga masih penasaran, dan Kashel memilih tidak menjawabnya dan hanya tersenyum canggung menanggapinya.
Haruskah aku bilang kalau aku bisa semua elemen dasar, walaupun tidak ahli.
"Kau beruntung batu sihir itu mempengaruhi elemenmu. Sehingga saat kau tenggelam kau tidak mati karena sihirmu aktif di luar kendalimu." Jelas Dirga, ia merasa tidak sopan juga jika bertanya terus. Tidak lama Guardian datang mendekati Kashel. Kashel menatapi Guardian terlihat marah.
"Penjelasan macam apa itu hah! Dasar sialan!" Kashel mengomel, tidak ada yang berani mengumpat Guardian seperti itu kecuali Kashel. Kashel itu minta penjelasan dengan pembicaraan bukan dengan praktek yang benar-benar membuatnya terkejut seperti itu.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Guardian?" Dirga benar-benar penasaran kali ini, ia langsung menyela pembicaraan mereka, Kashel menatap Dirga tanpa mengatakan apa-apa.
"Dia kontraktorku sekaligus Tuanku." Guardian langsung berucap jelas membuat Kashel terbengong dan Dirga terkejut.
"Tu-Tuan bercanda?!" Dirga benar-benar terkejut.
"Untuk apa aku bercanda, kau perhatikan saja mata milik kami, warna mata Kashel adalah akibat pengaruh kekuatannya sendiri. Serta tanda kami terikat satu sama lain." Jelas Guardian Kashel menutupi bagian wajahnya dengan telapak tangan. Agar Dirga tidak melihat warna matanya.
Dirga hanya mampu terdiam, Dirga bertemu dengan orang yang sama dengannya kali ini. Bahkan lebih darinya.
"Kenapa kau tidak bilang sejujurnya." Ujar Dirga minta penjelasan.
"Aku juga dulu berpikiran sama denganmu, aku membenci kekuatan ini. Maafkan aku, saat melihat tatapanmu aku teringat akan diriku sendiri beberapa tahun yang lalu. Jadi aku, tidak bisa menjelaskannya." Ujar Kashel tampak ia baik-baik saja walaupun perasaannya terganggu.
"Sudah aku katakan berkali-kali terima takdirmu dengan baik. Mau bagaimanapun, kekuatan itu adalah milikmu sekarang." Lyam langsung menimpalinya.
"Aku sudah menerimanya ya, tapi luka lamaku terbuka lagi karena dia." Kashel mengoceh kepada Guardian, mereka berdua malah berdebat.
Tidak lama Luan dan Anna datang menyusul. Saat semuanya sampai, mereka berlima merasa bahwa arus bawah laut saat itu menjadi kencang.
Namun Anna menghalau arus itu dengan elemen anginnya. Sehingga mereka bisa berenang dengan bebas melawan arus tersebut, mencari jalan masuk ke reruntuhan.
"Jadi kali ini, bangsa apa yang mendiami reruntuhan ini di masa lalu?" Kashel bertanya penasaran saat menyusuri jalan masuk pada tempat itu.
Di bawah air Kashel tidak sengaja melihat simbol aneh dan Dirga menghampiri Kashel.
"Hati-hatilah." Ujar Dirga.
"Sebenarnya kau sudah menjelajah sampai mana waktu itu?" Kashel bertanya. Luan dan Anna tidak bisa berkomunikasi dengan mereka dan hanya bisa menggunakan bahasa isyarat saja.
"Sampai sini, teman-temanku hilang saat ada badai di tempat ini badai besar bawah laut saat gerbang ingin dibuka dengan meneteskan darah mereka yang bukan pengendali elemen air. Semuanya mati terkena sabit air yang tiba-tiba muncul.
Guardian datang memperhatikan simbol itu.
"Dulu yang mendiami tempat ini adalah manusia setengah ikan atau duyung. Mereka menguasai lautan di tempat ini. Namun, sayang mereka bukanlah makhluk berakal dan musnah karena energi gelap yang melahap keberadaan mereka. Jadi Kashel di tempat ini nanti kita pasti akan bertemu dengan sisa-sisa energi gelap." Guardian menjelaskan.
"Bagaimana kau bisa tahu sejarah tempat ini?" tanya Kashel.
"Kau lupa, kalau aku sudah hidup sangat lama Kashel, ada waktu-waktu aku harus melacak dan membasmi energi gelap bahkan jika itu harus ke tengah laut sekalipun." Lyam menjelaskan pekerjaannya sesungguhnya, pekerjaan yang Kashel bahkan tidak mau mengikutinya.
"Aku datang kemari ketika kegelapan sudah menghancurkan tempat ini dan membasmi seluruh penduduk duyung di sini. Setelah itu aku hanya lewat, tidak pernah singgah sama sekali ke istana laut." Lanjut Guardian.
"Berikan tanganmu." Pinta Guardian. Tapi Dirgalah yang malah memberikan telapak tangannya karena kebetulan ia yang dekat dengan Guardian.