
"Sepertinya jebakan ini memang ingin membuat kita terpanggang meskipun bisa melawan." Ujar Kyler mulai kelelahan energi sihirnya berkurang karena harus memaksakan dirinya dan Quirin.
Kashel tidak bisa menggunakan elemen airnya, kemampuan elemennya yang lain seperti tersegel jika pun bisa ia akan menggunakan air yang panas juga karena semua kemampuan elemennya terpengaruh oleh elemen api. Jadi tidak ada yang dia bisa lakukan selain berharap pada Quirin.
.
.
.
Lyam terlihat dengan cepat menghancurkan tengkorak api itu satu persatu. Ia juga tidak bisa bergerak dengan bebas dengan sihirnya yang telah terpengaruh oleh batu elemen.
"Batu yang mengesalkan aku ingin menghancurkannya saja jika kudapatkan batu sihir itu." Lyam kesal. Ia merasa terpojokkan oleh kekuatannya sendiri sekarang.
Kashel yang tidak hati-hati terkena percikan tengkorak api yang habis ia hancurkan.
"Ukh!" tangan Kashel terlihat melepuh langsung.
"Sepanas apa sebenarnya, tengkorak ini." Ucap Kashel memegang tangannya. Ia tidak merasakan panas pada apinya sendiri. Tapi api dari sihir lain bisa melukainya dengan telak.
Lyam juga terkejut dengan luka yang tiba-tiba muncul di lengannya, ia tahu itu adalah luka yang di dapatkan oleh Kashel, meskipun pria itu terlihat terus bertarung menahan kesakitan. Ia kemudian dengan cepat mendatangi Kashel.
"Cepat obati lukamu, jika kau tidak mengobatinya itu akan membekas." Lyam memperingatkan Kashel, Kashel yang kesakitan tidak dapat mengontrol energi sihirnya dengan baik, sihir regenerasinya terganggu karena percikan tengkorak api itu.
Lyam meraih tangan kanan Kashel, dan memberikan energi penyembuhannya dengan cepat. Kashel terlihat mengernyit menahan sakit pada tangannya yang berlubang karena api itu. Obat sihir yang Luan buat tidak mempan terhadap Kashel, sampai hari ini karena Kashel, Luan berjuang meneliti sebuah obat luka mujarab untuk orang biasa.
Perlahan kulit tubuh Kashel pulih dengan cepat.
"Rasanya lebih menyakitkan daripada lukanya tadi." Kashel merintih kesakitan karena memaksa sel-selnya pulih dengan cepat.
"Bertahanlah." Ucapan Lyam mengakhiri penyembuhannya.
Teman-temannya yang lain sibuk bertarung, Lyam yang lebih mementingkan Kashel membuat tameng api agar tengkorak itu tidak mendekat kepada mereka.
"Terima kasih," Kashel melihat pergelangan tangannya telah sembuh dengan baik, dan bisa melanjutkan pertarungannya lagi tanpa rasa sakit.
"Berhati-hatilah." Lyam langsung melesat dan mulai menyerang dengan cepat, puluhan tengkorak itu dan menghancurkannya sekaligus. Kali ini Lyam bertarung dengan sungguh-sungguh.
Akibat pertarungannya yang tidak hati-hati Lyam malah terkena serpihan dari tengkorak api itu juga. Tapi Lyam terlihat biasa saja walaupun sedikit mengernyit kesakitan, lukanya langsung sembuh dengan cepat.
Kashel yang merasakan panas di bahunya langsung menghentikan serangannya dan menyentuh bahunya dengan refleks, tidak ada luka di sana tapi itu menyakitkan untuk Kashel. Kashel merasakan sakit akibat luka yang Lyam dapatkan. Sihir mereka yang beresonansi membuat Kashel merasakan sakit yang Lyam rasakan, biasanya tidak. Biasanya, hanya Lyam yang bisa merasakan luka-luka yang diterima Kashel.
Lyam langsung menghancurkan tengkorak api yang mendekati Kashel yang tidak melawan.
"Jangan lengah Kashel." Ujar Lyam, Kashel memegangi bahunya yang perlahan sakitnya mulai menghilang karena luka Lyam telah pulih. Kashel menatapi Lyam kesal, karena Lyam yang terluka Kashel jadi merasakan sakitnya.
"Seharusnya kau yang hati-hati, kau tidak sadar lukamu berpengaruh padaku juga." Kashel berbicara berbisik agar tidak ada yang mendengar, ia ingin marah-marah. Tapi, Kashel tidak bisa melakukannya karena ada orang asing di antara mereka.
Lyam tahu Kashel tidak tega dengan tengkorak-tengkorak hidup itu.
Argai bertarung dengan membuat jebakan tanah retak untuk menghalau tengkorak api itu, tapi tidak berarti apa-apa. Karena Argai tidak bisa membuat retakan yang lebih besar lagi karena mungkin akan berbahaya jika ia melakukannya do tempat sempit tersebut.
Kyler sekarang lebih memfokuskan sihirnya untuk mendinginkan ruangan itu, ia tidak sanggup lagi untuk bertarung.
Freda ia sibuk, menebas satu persatu tengkorak api yang datang ke arahnya dengan pedang bayangannya ia sangat lihai bertarung di tempat sempit, sambil menghindari percikan-percikan api yang datang mengarah kepadanya.
.
.
.
"Baiklah, aku akan serius kali ini. Maafkan aku orang-orang yang telah mati, aku akan menghancurkan kalian sekali lagi dengan tidak hormat." Kashel berucap pedang api mulai berkobar lagi dari telapak tangannya.
"Jadi aku akan serang dari kiri, dan kau kanan." Ujar Lyam, saat ini Kashel dan Lyam saling membelakangi satu sama lain. Kashel hanya mengangguk mengiyakan kata-kata Lyam. Saat ancang-ancang dan menarik nafasnya Kashel dan Lyam langsung berlari dengan cepat kearah yang berlawanan. Menghancurkan satu-satu tengkorak api itu dengan cepat.
SRAT!
KRAK!
Kashel menebas, melompat di udara dengan lincah menghancurkan beberapa tengkorak api sekaligus. Gerakannya yang cukup lincah membuat Kashel tidak terkena percikan-percikan tengkorak api yang hancur. Walaupun serangan Kashel tidak secepat Lyam yang sudah menghancurkan puluhan tengkorak api.
Bahkan tengkorak-tengkorak api yang dihadapi oleh Argai dan Freda di ambil alih oleh Kashel dan Lyam yang memilih bertarung dengan serius. Tengkorak itu habis semuanya, setelahnya, Kyler langsung terduduk kehabisan energi sihir, Quirin yang sudah mencapai batasnya langsung mengisi energi sihirnya masuk ke dalam tubuh Kyler lagi. Pemuda itu langsung terbaring kelelahan.
Kashel juga melakukan hal yang sama, meskipun masih bisa berjalan ia kemudian membaringkan dirinya di samping Kyler ikut beristirahat.
"Kenapa kau tidak serius dari awal Kashel, jika kau serius dari awal kita tidak akan kelelahan seperti ini." Ujar Kyler berbicara terengah-engah.
"Kau gila, meskipun serius tetap saja butuh waktu untuk benar-benar serius, dan bisa menghabisinya sekaligus. Karena serangan mendadak tanpa rencana itu juga berbahaya." Kashel membela dirinya, padahal tadi ia bertarung dengan ragu-ragu, coba tidak Lyam yang menasehatinya. Kyler yang sudah terlanjur menjadi penggemar Kashel tentu saja langsung mempercayainya Kashel tanpa memikirkan apapun lagi.
Kashel kemudian bangkit dan mengambil tas yang mereka bawa. Sebelum bertarung tadi mereka mengamankannya terlebih dahulu agar tidak ikut terbakar. Ia mengambil suplemen energi yang Luan berikan dan memberikannya pada teman-temannya.
Kashel tidak meminumnya, karena tenaganya sudah pulih dari tadi.
"Kau dan Lyam tidak butuh ini Kashel?" tanya Argai Kashel hanya tersenyum menanggapi Argai tidak mengatakan apa-apa, ia hanya memberikan suplemen-suplemen itu pada temannya yang membutuhkan saja. Ia tidak ingin menggunakan ramuan sihir yang tidak akan bekerja pada tubuhnya.
Kashel hanya minum air putih setelah itu, untuk memulihkan tenaganya sebagai seorang manusia biasa.
"Apa? Kau kira aku tidak butuh minum." Ujar Kashel berucap pada Lyam yang menatapinya.
Kashel kemudian mengeluarkan suplemen energi dari tasnya suplemen minuman yang banyak di jual di toko manusia biasa.