The Borders

The Borders
Bagian 146 – Serangan Basilisk



"Inilah yang dinamakan reruntuhan Rai, aku yakin dulu ada suku yang mendiami bawah tanah ini. Tapi suku itu pasti telah musnah beberapa ratus tahun lalu." Jelas Kashel, jika ingin mengetahuinya lebih jelas. Hanya Lyam yang tahu asal-usul mereka. Sayangnya saat ini Lyam tidak berada dipihak mereka sama sekali. Bahkan mungkin seluruh ingatan masa lalunya telah terhapus, mungkin yang Lyam ingat hanyalah pembunuhannya terhadap orang-orang selama 800 tahun.


Oke, kita tidak boleh berharap pada Lyam terus. Kita pasti bisa menyelesaikan misi ini sendiri.


Ternyata pasukan Sihir Hitam juga mengirim para pengikutnya untuk mencari batu sihir elemen juga. Mereka mengirimkan orang-orangnya ke seluruh penjuru ketika mendapat bocoran informasi dari Kantor Pusat.


Mereka juga mencari keberadaan Kashel untuk membuat Guardian yang berada sepenuhnya di sisi mereka.


Lumpur tanah mulai meluap mendekati kaki mereka bertiga, Kashel langsung membuat tanah di sekitarannya mengeras dan membuat tempat tertinggi. Tapi, sihir di tempat itu malah menghancurkan kembali tanah yang dikeraskan oleh Kashel. Kashel dengan sekuat tenaga terus membuat pijakan tanah untuk mereka semua.


Beruntungnya karena sihir Kashel yang diperkuat. Kashel bisa menyeimbangi lumpur sihir jebakan itu. Tiba-tiba dari kiri dan kanan dinding di tempat itu mulai bergetar dan tanah-tanah runcing muncul dan dengan cepat datang ke arah mereka bertiga. Rigel dan Rai langsung menghentikan serangan itu dengan elemen petir dan api mereka. Rai di kanan dan Rigel di kiri.


Sedangkan Kashel terus membuat tanah pijakan agar mereka tidak tenggelam oleh lumpur yang terus meninggi mengejar mereka.


Mereka terus berlompatan menuju tempat tertinggi sampai akhirnya lumpur itu berhenti bertambah. Kashel masih belum bisa beristirahat karena ia harus beradu sihir dengan tempat itu. Tempat itu terus melelehkan tanah yang dibuat Kashel mengeras menjadikannya lumpur.


Mereka bertiga bersama berkeliling mencari tanda yang bisa membawa mereka keluar dari tempat itu. Sangking fokusnya Kashel ia tidak berbicara sama sekali. Rai dan Rigel terus mencari di sekitaran juga. Tiba-tiba gelembung-gelumbung muncul dari balik lumpur.


Mata berwarna biru terang mulai terlihat dari bawah lumpur. Apa lagi ini. Pikir Kashel, ia tidak bisa bertarung saat ini karena harus menjaga keseimbangan sihirnya. Di tempat yang pencahayaannya tidak begitu jelas itu warna biru terang seperti permata itu jadi tampak begitu jelas.


Namun, tempat dengan pencahayaan yang remang seperti ini Kashel tetap bisa melihatnya dengan sangat jelas. Itu adalah Basilisk, ular rakasasa bawah tanah. Tatapan mata ular itu bisa membuat yang menatapnya masuk ke dalam dunia ilusi mereka.


Gawat. Panik Kashel. Jika ini ilusi, aku akan meminta bantuan The Borders, aku tidak perduli jika mengamuk dan menghancurkan tempat ini. Batin Kashel tapi sebelum Kashel terkena ilusi itu di alam bawah sadarnya The Borders sudah terbangun dan membuat mata Kashel menjadi merah terang.


Kemampuan The Borders malah membuat ular itu terganggu dan meronta-ronta mengamuk. Kashel yang merasa aneh pada bagian matanya menyentuhnya terkejut juga.


"Hei Rigel, Rai sadarlah!" Kashel menyentuh kedua bahu temannya yang tengah terpaku dengan mata terbuka. Namun, saat menatap mata Kashel mereka malah berteriak ketakutan sampai terduduk kaget.


"Monster!" takut Rigel, ia benar-benar terkejut.


"Hei sadarlah aku Kashel apa yang kalian lihat sebenarnya?" tanya Kashel kelimpungan melihat kedua temannya yang seperti itu.


"Kashel?" Rai bingung sendiri. Menatap Kashel seperti orang di hadapannya itu bukanlah Kashel tapi wujud lain.


"Tidak ada waktu teman-teman, ular itu kita harus mengalahkannya terlebih dahulu. Jangan sampai menatap matanya." Ujar Kashel, menunjuk tubuh ular itu.


"Ilusi tidak akan mempan dua kali padaku." Ujar Rigel merasa kesal. Kashel terus menjaga sihirnya agar teman-temannya tidak terjatuh di dalam lumpur. Dengan api dan petir untuk menghadapi perwujudan ular itu, tidak begitu sulit untuk melumpuhkan dan menghancurkannya. Rai dan Rigel langsung terduduk setelah selesai bertarung.


"Teman-teman, kita tidak ada waktu untuk santai. Aku akan mencapai batasku tidak berapa lama lagi." Gumam Kashel. Warna matanya sudah kembali seperti semula. Teman-temannya tampak seperti kebingungan.


"Kami tadi melihat naga raksasa sangat besar yang menakutkan bahkan lebih menakutkan daripada ilusi yang kami dapatkan sebelumnya." Jelas Rigel dan Rai menatapnya.


"Aku juga melihat hal yang sama, tapi ia memiliki suaramu Kashel." Ujar Rai membuat Rai dan Rigel saling berpandangan terkejut.


"Hei Kashel, jangan bilang itu adalah ...." Gumam Rai tertunduk.


"The Borders!" ucap Rai dan Rigel sambil menatap Kashel serempak.


Kashel menatap mereka juga tidak kalah bingung. "Kalian bicara apa?" tanya Kashel tersenyum canggung. "Sudahlah lupakan itu kita tidak ada waktu, jika itu memang benar kalian sudah melihat The Borders yang asli." Ujar Kashel mulai memperhatikan sekitar lagi, kali ini dengan menggunakan matanya yang tajam. Tidak ada simbol apa-apa.


Rai dan Rigel menelan ludahnya terkejut. Makhluk sebesar itu adalah wujud yang bersemayam di dalam diri Kashel, dan Kashel tetap berani dan tidak goyah sedikit pun meski ada makhluk besar itu bersemayam di dalam dirinya. Tapi, tidak ada waktu untuk mereka tenggelam dalam keterkejutannya.


"Mungkin ini akan berbeda dari biasanya Kashel, kau sudah menjelaskan akan ada simbolkan. Tapi tidak ada, berarti jalan satu-satunya adalah menghancurkan tempat ini sampai menemukan jalan keluarnya." Ujar Rigel mengepalkan tinjunya dan menghantamkan ke telapak tangannya yang satunya bersemangat.


"Bukankah itu terlalu berisiko?" tanya Kashel tidak yakin.


"Kita tidak ada cara lain selain mencobanya Kashel, atau kita akan berakhir di sini." Rai berdiri petir mulai keluar dari telapak tangannya bersama Rigel akhirnya ia mengahancurkan dinding-dinding gua itu sampai akhirnya ada lubang yang mereka cari. Tapi akibat serangan itu, gua bergetar dan mulai runtuh.


Mereka bertiga langsung melesat cepat dan berlari menyusuri terowongan panjang yang perlahan-lahan mulai hancur. Terus menerobos tanpa berhenti berlari meskipun sangat kelelahan. Karena jalan di belakang mereka mulai runtuh dengan cepat.


Kashel, Rigel, dan Rai sudah sampai di ruangan penih batu yang baru. Di dalam sana pencahayaan sedikit lebih terang entah dari mana asalnya cahaya itu. Biasanya jika ada cahaya yang terang seperti itu berada di dalam tanah. Berarti mereka sudah semakin dekat dengan tempat bersemayamnya batu sihir elemen.


CIIIT!


CIIIT!


Suara menggema terdengar di ruangan itu, entah berasal dari mana. Kashel yang membiarkan indra pendengarannya di pekakan langsung menutup telinganya terganggu. Suara itu benar-benar terasa merusak pendengaran Kashel.


"Kau tidak apa-apa Kashel?" tanya Rigel, bahkan Rigel pun juga terganggu dengan suara itu. Meskipun pendengaran mereka tidak sepeka milik Kashel.