The Borders

The Borders
Bagian 107 – Pertarungan Memperebutkan Batu Elemen



Lyam tampak ingin menyentuh Kashel, dan Kashel langsung melompat menghidar.


"Jangan sentuh aku, aku tidak ingin terbakar sepertimu juga. Hahaha." Cuma Kashel yang berani menertawai Lyam sampai seperti itu. Bahkan teman-teman Kashel tidak menganggap itu lucu sama sekali.


"Biar kita sama, kau juga harus terbakar." Lyam tampaknya terbakar rasa kesal, seumur hidupnya tidak ada orang yang berani melakukan hal itu padanya, menghinanya. Kemudian ia teringat seseorang yang hampir membuatnya merasakan perasaan manusia.


"Week!"


Kashel langsung berhenti meledek Lyam yang tiba-tiba memegang kepalanya. Lyam teringat dengan beberapa kejadiannya di masa lalu. Kejadian yang ia lupakan. Perlahan api di tubuh Lyam memudar dan sisa di dahinya saja yang tersisa seperti sebelumnya. Perasaan kalut melewati perasaan Kashel, itu adalah perasaan Lyam.


"Hei, kau baik-baik saja?" Kashel menyentuh pundak Lyam sehingga ia nampak terkejut.


"Ah, aku tidak apa-apa." Ucap Lyam langsung menjawab.


"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan dan membuatmu sedih, tapi jangan hanya merasakan perasaan seperti itu. Itu tidak baik Lyam." Kashel berbicara pelan, agar teman-teman Kashel merasa.


Perasaan yang Lyam rasakan barusan cukup kuat jika sampai mempengaruhi Kashel juga, bahkan itu karena perasaan milik Lyam sendiri bukan pengarah Roh Kegelapan atau apapun. Meskipun Kashel tidak tahu, itu adalah perasaan rindu dan sedih pada seseorang.


"Aku tidak menyangka Lyam bisa merindukan seseorang. Pasti berat." Ujar Kashel berjalan, ke arah teman-temannya yang lain.


Lyam kemudian, terlihat seperti biasanya kembali, ia tidak begitu mengingatnya karena sudah menemui banyak orang selama ratusan tahun. Tapi senyum indah seorang gadis padanya ia tidak akan melupakan itu, namun siapa itu Lyam tidak mengingat namanya.


.


.


.


"Jadi ini sudah berakhir?" Kashel menatap ke arah atas.


Kita akan masuk ke ruangan di mana batu itu di simpan.


SRAT!


Sebuah pisau melesat ke arah Kashel Lyam langsung menangkap pisau itu dan langsung melelehkannya dengan api panasnya.


Dengan cepat Argai menggunakan elemen tanahnya, Argai langsung mendaki tempat itu bermaksud mengambil batu elemen itu lebih dulu. Ia tersenyum menyeringai dan menutup jalan masuk ke sana.


"Brengsek!" Umpat Kyler merasa kesal, mereka dikhianati.


"Tidak ada waktu untuk mengumpat, kita harus menghentikan dia." Freda membuat tangga bayangan yang mengantar mereka semua ke atas.


Lyam dan Kashel mereka berdua tidak kaget dengan pengkhianatan Argai pada akhirnya, Kashel dan Lyam sudah lama curiga dengan gerak-gerik Argai.


Batu itu tidak ada penjaganya seperti halnya pedang cahaya. Tapi akibatnya jebakan mematikan banyak diciptakan olehnya. Jebakan-jebakan yang mereka lalui selama di dalam istana itu adalah sihir yang menjaga batu elemen itu secara alami.


.


.


.


Di ruangan tempat batu sihir itu berada, Argai terlihat ingin menyentuh batu sihir itu, tapi tangannya langsung melepuh parah. Ia merintih kesakitan. Ia tidak tahu bahwa batu sihir itu sangatlah panas.


Ia kemudian merogoh sakunya dan mengambil sebuah ramuan hitam, yang terdapat pada botol kecil. Ia kemudian menumpahkannya ke tangannya dan luka bakarnya seketika sembuh total.


.


.


.


Kashel dan teman-temannya datang menghampiri Argai. Argai langsung angkat tangan menyerah, ia tidak bisa lari ke mana-mana karena tempat yang masih menyegel mereka tidak bisa membiarkan mereka keluar bahkan dengan portal perbatasan milik Lyam dan Kashel.


"Siapa kau sebenarnya?" Lyam mulai kesal dengan kehadiran Argai, Lyam kemudian berubah ke wujud Guardiannya sambil mendekati Argai, pria itu dalam sekejap langsung menghilang menjadi kepulan asap hitam.


"Bagaimana mungkin, energi sihirnya tidak terasa. Ia benar-benar lenyap." Kashel tidak merasakan energi Argai di mana pun.


"Oh jadi ini batu sihir elemen api itu," Kyler mendekati batu sihir elemen itu dan ingin menyentuhnya, ia tertarik dengan bentuk bulatnya dengan warna batu seperti langit senja itu.


"Jangan kau sentuh itu dengan tanganmu, itu adalah batu yang bisa melelehkan tanganmu." Guardian langsung menjelaskannya pada Kyler membuat pria itu langsung menghindar menjauh, kehilangan niatnya untuk mendekati batu itu.


Kashel bahkan tidak berani dekat-dekat dengan batu sihir itu. Ia merasakan perasaan terbakar di dalam dirinya yang rasanya bisa meledak kapan saja.


"Kashel kau tahukan mantra penyegel." Ujar Guardian memanggil Kashel yang berdiri di sudut ruangan itu. Mereka tidak memperdulikan Argai yang mengkhianati mereka itu pergi ke mana. Jadi mereka tetap ingin menyelesaikan tugas mereka dan bertarung jika pria itu muncul lagi.


"Kenapa harus aku?" Kashel ingin protes.


"Di saat seperti ini jika aku yang menggunakan segel, batu ini akan hancur Kashel."


"Oke baik-baiklah itu tugasku." Kashel langsung maju, ia ingin menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan baik. Jika ia gagal bisa-bisa ia akan ditugaskan ke pekerjaan yang sama lagi oleh Kantor Pusat dan Kashel tidak menginginkan itu.


Kashel terlihat berkonsentrasi memikirkan mantra penyegel yang ingin ia buat, ia sebenarnya tidak begitu ingat dengan simbol-simbolnya karena sudah lama tidak menggambarnya.


Kashel menaruh telapak tangannya di atas batu sihir itu tapi tidak menyentuhnya.


"Mantra penyegel." Sebuah lingkaran sihir terbentuk dan batu sihir itu tersegel. Api di tangan Kashel padam begitu juga api yang ada pada dahi Guardian.


"Akhirnya aku bebas." Kashel senang karena tangan kanannya berhenti terbakar, meskipun begitu ia baru merasakan efek sampingnya tangannya terlihat memerah karena hawa panas. Dan itu terasa perih untuk Kashel tetapi ia tidak mempedulikannya.


Saat Kashel ingin mengambil batu sihir yang telah tersegel itu serangan dari udara pemilik elemen tanah menyerang mereka, Kyler dan Freda yang melihatnya langsung menyerang pengacau itu, Argai. Ia memang menunggu Guardian menyegel batu sihir itu dan akan merebutnya ketika batu sihir itu telah tersegel dengan baik.


Batu sihir itu sekarang berada di tangan Argai, tapi tiba-tiba saja Guardian sudah ada di belakangnya dan memukul Argai dengan keras. Sehingga pria itu terlempar dan batu sihir yang dipegangnya lepas juga dari tangannya.


Kashel menangkap batu sihir itu, tapi ia merasa ada yang aneh meskipun sudah tersegel batu itu terasa hangat.


Serangan cepat datang ke arah Kashel, ia tidak bisa menghindari serangannya, menghindari serangan itu membuat Kashel melepaskan batu sihirnya karena Kashel merasa batu sihir itu semakin panas.


Freda ingin mengambilnya.


"Jangan!" teriakan Kashel membuat Freda berhenti dan batu sihir itu kembali jatuh ke tangan Argai. Batu sihir itu segelnya hancur dan mengalami ledakan di tangan Argai.


"Argh!" tangan pria itu langsung putus sampai ke sikunya karena meleleh. Ia berteriak kesakitan, karena segelnya hancur, gelombang sihir yang besar dari batu sihir itu mempengaruhi sihir api Kashel kembali. Kali ini kedua tangan Kashel mulai terbakar.


Guardian tanpa ampun dan langsung menghajar Argai habis-habisan.


"Pengikut Sekte Sihir Hitam." Tatapan Kashel terlihat tajam dan kejam. Argai meludah darah, tapi ia tidak menyerah, tangannya yang putus tumbuh kembali. Kali ini tangannya tersambung dengan roh gelap setelah ia meminum sebuah ramuan sihir.