The Borders

The Borders
Bagian 93 – Tuduhan Para Peri



......................


Kashel dan Guardian kemudian di antarkan ke kamar mereka.


"Jadi Lyam, apa sebenarnya yang akan kita lakukan di kerajaan ini. Apa ke tempat ini hanya ingin menguji coba kesabaranku." Gerutu Kashel ia masih kesal rupanya.


"Kau tidak pernah semarah itu pada sesuatu Kashel." Ungkap Guardian.


"Bagaimana aku tidak kesal, mereka dengan seenak jidatnya menyebut manusia makhluk kotor tanpa berkaca pada diri mereka sendiri. Memang di dunia ini banyak manusia yang jahat tapi tidak semua hati manusia sekotor yang mereka bayangkan, jika bukan karena perjuangan manusia. Kehidupan mereka tidak akan pernah damai." Kashel terus mengoceh.


"Ya, ada manusia yang suka merusak hutan. Tapi ada manusia yang menyukai alam pula, sehingga kehadiran mereka masih terjaga hingga saat ini. Artinya tidak semua manusia itu kotor." Kashel membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah disediakan.


"Jadi sebenarnya apa yang kita ingin lakukan di sini. Jika tidak ada tujuan yang jelas aku mau pulang." Kashel berucap lagi.


"Tempat ini akan menjadi sasaran badai kegelapan selanjutnya Kashel." Ujar Lyam.


"Aku sangat ingin melihat makhluk parasit itu berjuang dengan tubuh mereka sendiri." Kashel berpikir jahat.


"Kita tidak bisa seperti itu Kashel, mereka hanyalah makhluk lemah yang butuh pertolongan kita. Kita tidak bisa membiarkan kegelapan mengganggu alam manusia." Ujar Guardian, ia menjadi lebih bijak dari sebelum-sebelumnya.


"Hm baiklah-baiklah, aku sudah puas melimpahkan isi hatiku sekarang." Kashel berusaha menidurkan dirinya. Meskipun marah sebenarnya itu cuma di mulut Kashel saja, tidak hatinya.


.


.


.


Kashel yang marah pada bangsa Peri tidak ingin makan-makan bersama mereka. Ia seperti anak kecil yang sedang merajuk pada sesuatu.


"Bagaimana kalau aku diracun?" tanya Kashel, membuat Guardian terdiam. Setelah Guardian menyuruhnya untuk makan.


Kashel teryata menyediakan makanan yang ia bawa sendiri dari kantornya. Hanya Guardian yang menghadiri sarapan di pagi itu.


"Jika makanan yang kubawa ini habis aku akan pulang Lyam." Kashel hanya berdiam diri di kamar itu, ia terlalu malas melihat para peri.


Jujur saja, bangsa peri itu bagi Kashel memiliki wajah yang rupawan.


Dengan rambut putih panjang halus dan bercahaya, bertelinga runcing sedikit panjang, dan rupanya sangat menawan. Seperti penduduk dari negeri dongeng. Berhidung mancung, ketika membuka matanya terlihat mata bewarna biru cerah memiliki pupil mata seperti singa yang memiliki tatapan tajam. Lalu mengenakan jubah dengan macam-macam warna yang sangat bersih di pandang mata. Benar-benar menakjubkan. Itulah pikiran Kashel pada penampilan bangsa peri.


Namun, kepribadian mereka sangat bertolak belakang dengan wajah mereka. Dan itulah yang membuat Kashel kesal, penampilan mereka menipu.


.


.


.


Kashel yang bosan akhirnya keluar dari kamarnya. Tidak ada yang berani mencari gara-gara pada Kashel setelah kemarahan Guardian kemarin.


"La... La... La...." Kashel mendengar seseorang bersenandung indah di balik sebuah pintu yang terbuat dari daun raksasa.


Kashel mengintip ke dalam dan menemukan seorang gadis peri bergaun biru dengan rambut putih berkilaunya yang diikat dengan kincir kuda sedang duduk di pinggir kolam menatap langit malam, tempat itu adalah kolam air panas alami beruntungnya gadis itu hanya sedang merendam kakinya. Jika itu bukan Kashel mungkin orang itu akan sangat terpesona dengan kecantikan gadis peri itu.


Menyadari ada orang yang memperhatikannya ia berhenti bersenandung dan langsung menatap ke arah pintu.


"Kau... Manusia." Gadis peri itu memperhatikan Kashel tidak jauh, suaranya terdengar sangat merdu saat berbicara.


"Ah maafkan aku, aku akan pergi." Kashel ingin meninggalkan tempat itu. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kashel tidak ingin melihat gadis peri itu lagi.


"Tunggu!" pinta gadis peri itu memanggil Kashel.


"Jujur saja aku sangat ingin bertemu dengan manusia, tidak kusangka ada manusia yang menjadi tamu di istana ini." Ucapnya ia berdiri dan berkata sopan pada Kashel, ia berjalan ke arah Kashel dan menarik Kashel masuk ke ruangan itu.


"Namaku Stella," ia memperkenalkan diri.


"Panggil saja aku Kashel." Kashel langsung menjawabnya dengan memperkenalkan namanya juga.


"Itu, apa kau tidak membenciku?" Kashel bertanya todak enak, gadis peri itu menggeleng.


"Tidak, aku tidak membenci manusia. Aku malah heran pada bangsaku yang membenci manusia. Padahal sepertinya kau baik." Stella mengeluarkan pendapatnya, Kashel hanya menanggapi Stella dengan tersenyum ramah. Ia tidak tertarik dengan gadis itu sama sekali.


Kashel tidak menyangka akan ada peri yang tidak menganggap remeh manusia.


.


.


.


Namun Kashel kemudian menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata gadis peri itu. Kashel membalas menatap gadis peri itu dengan wajah datar, setelah mengetahui tabiatnya.


"Ternyata sama saja," ujar Kashel menatap gadis peri itu kecewa.


Gadis peri itu tampak terkejut dengan Kashel yang tidak terpengaruh sama sekali dengan pemikatnya.


"Seandainya aku orang jahat, nyawamu bisa dalam bahaya Nona." Kashel menatapi gadis itu dengan tatapan yang menakutkan kemudian setelah itu Kashel ingin pergi dari ruangan itu.


"Kyaaa!" dia tiba-tiba berteriak.


"Tolong pemuda itu, ingin melecehkan diriku." Karena teriakan gadis peri itu. Kashel hanya menatapinya diam tidak melakukan apa-apa.


Kashel berpikir, orang yang menganggap rendah manusia malah memiliki sifat yang sama dengan manusia, seharusnya tidak bisa mencap orang lain dengan seenak dan mengatakan orang itu buruk.


Para peri prajurit memasuki ruangan itu, Kashel tampak tenang saja dan berdiri diam melihat gadis peri yang pura-pura ketakutan itu, Kashel tidak memperdulikan fitnah yang diberikan padanya, karena Kashel merasa ia tidak melakukan apapun sama sekali pada gadis peri itu.


"Jangan bergerak! Kau harus diberikan hukuman, karena sudah melecehkan Putri dari kerajaan ini." Ungkap salah satu prajurit.


"Oh jadi dia seorang Putri, ternyata liciknya persis manusia kotor." Kashel berbicara telak, gadis peri itu tampak tidak terima dengan ucapan Kashel.


"Kau manusia kotor yang berani-berani mau menyentuhku." Gadis peri itu tidak mau kalah.


Guardian dan Raja Peri datang ke lokasi keributan.


"Stella ada apa?" tanya ayahnya sang Raja Peri.


"Ayah pria manusia itu ingin melecehkanku." Ia berlari dan memeluk lengan ayahnya.


"Untuk apa aku melakukan itu." Kashel mulai membela dirinya, Guardian hanya diam saja. Ia tidak membela siapapun.


"Kau harus menjalani hukum dari kerajaan ini," ujar Raja Peri yang dasarnya memang membenci Kashel sedari awal.


"Kalian pikir aku akan mau menjalani hukuman dari kalian, aku merasa tidak bersalah di sini. Aku tidak akan mendengarkan kalian, dan menerima fitnah kalian dengan rendah hati." Ujar Kashel dingin ia tidak bergeming sama sekali ataupun takut sama sekali.