
Rigel merasa berada di tempat yang sangat gelap. Tiba-tiba saja tempat itu berubah menjadi tempat ritual pemanggilan roh. Ia sudah berada di tengah-tengah lingkaran sihir pemanggil roh.
Roh yang dipanggil di sini adalah roh api, Rigel menjalani ritual itu dengan baik. Menjalaninya sesuai perintah sukunya karena ia yang terpilih di antara semuanya.
Roh itu pun terpanggil dan kekacauan terjadi kegelapan bercampur di antara ritualnya. Sehingga ritual itu menjadi kacau. Rigel sadar tapi kegelapan merenggut hatinya saat itu dan tidak bisa mengendalikan keinginan buasnya. Saat melihat semua orang ia ingin menghancurkan mereka semua. Rigel mengamuk dan menyerang semua orang .
Tidak ada yang bisa menghentikannya. Semua orang mati di tangannya, karena ia membakar roh pelindung mereka. Rigel merenggut nyawa anggota sukunya.
.
.
.
Di dunia nyata kekuatan Rigel mulai mengamuk tubuhnya dan roh pelindungnya terbakar dahsyat. Beruntungnya kejadian itu jauh dari pemukiman. Kashel di tarik Lyam menjauh karena tahu itu berbahaya, tapi Kashel tidak tinggal diam dan menggunakan mantra pelindungnya agar hutan tidak terbakar oleh kekuatan apinya. Api Rigel saat ini menjadi nyata, kekuatannya lepas kendali dan mempengaruhi dunia manusia. Kashel menyadarinya saat melihat rumput di sekitarnya benar-benar terbakar habis, dan ia tidak bisa membiarkannya.
Beruntungnya kekuatan itu masih termasuk kekuatan gaib, sehingga mantra pelindung Kashel masih berfungsi untuk menghalaunya tidak seperti serangan jarum-jarum tadi roh itu bisa menggunakan benda dari dunia nyata dan ia memasukkan dalamnya dengan racun dari dirinya sendiri dan itu sangat berbahaya.
.
Dalam ketidaksandarannya Rigel sangat frustasi saat itu setelah menyadari semuanya dan meminta untuk ingatan terburuknya itu dihapus, ia kemudian dibawa oleh fasilitas sindikat yang memenjarakannya.
.
.
.
"Kita tidak bisa membiarkannya terus begini, atau dia akan merusak hutan ini dengan kekuatannya, dan tentu saja kekuatan roh yang bisa mempengaruhi dunia manusia itu bisa berpengaruh pada keseimbangan dua dunia dan itu cukup tidak baik.
"Kau akan mencapai batasmu jika kau hanya mengandalkan kekuatanmu sendiri, mantra penghalang itu. Aku tidak akan membiarkan mu terluka.
"Jika itu terjadi aku akan, menghancurkan roh pelindungnya." Lyam kemudian menjauh. Karena melihat tatapan tajam Kashel yang sangat marah padanya.
"Aku akan menolongnya, kau jangan ikut campur atau berniat mencelakai temanku." Kesal Kashel, pada akhirnya mantra penghalang milik Kashel tercampur dengan kekuatan The Borders, Lyam benar-benar menjauh setelah itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika Kashel sudah menggunakan kekuatan sejatinya. Masalah kekacauan yang akan terjadi itu urusan lain, ia hanya bisa menuruti perintah Kashel.
"Rigel kumohon sadarlah, kau sudah bilang untuk tidak terjebak dengan masa lalumu, meskipun tidak baik." Kekuatan mantra pelindung milik Kashel menguat.
Kekuatan ini mengambil alih tubuhku, tidak bisakah membiarkanku dengan usahaku sendiri, batin Kashel tersenyum getir ia merasakan kekuatan besar yang mengalir di tubuhnya.
"Tapi inilah seharusnya kegunaan asli kekuatan ini, melindungi semua orang." Kashel bergumam menghibur diri, semakin besar kekuatan itu mengalir ditubuhnya. Ia merasakan ada sebuah perasaan yang hilang di hatinya.
"Rigel kumohon cepat sadarlah," Kashel terus berharap pria itu bisa melewati masa kelamnya.
.
.
.
Kashel teringat pertemuannya pertama kali dengan Rigel.
Rigel pertamakali bertemu dengan Kashel pada salah satu fasilitas sindikat dari The Borders Organization. Di sana Rigel dikurung oleh organisasi karena kemampuannya yang cukup liar. Rigel tidak ingat masa lalunya. Saat tiba-tiba terbangun ia sudah terkurung di dalam fasilitas itu. Untuk menekan kekuatannya, orang-orang sindikat itu membuat ruangan dingin yang menyeimbangkan panas yang ada pada tubuhnya.
Kekuatan elemen api, sangat jarang ada orang yang bisa menggunakan elemen itu. Karena salah-salah tubuh orang itu yang akan terluka karena memakainya, ada yang bisa menggunakannya tapi tidak bisa menggunakan dengan tekanan panas yang kuat seperti Rigel, oleh karena itu ia dianggap berbahaya.
Setelah penjagaan keamanan di sindikat itu lengah. Rigel berhasil melelehkan penjaranya. Dan akhirnya membuat kekacauan di sindikat itu ia membakar berbagai macam peralatan yang melemahkan kekuatan gaib di sana. Hal itu dilakukannya untuk melarikan diri.
Kekacauan terjadi, tapi di mata manusia biasa sebenarnya tidak terlihat ada hal apapun yang terjadi di sana. Kalaupun ada orang biasa yang berada di tempat kejadian mereka cuma bisa mendengarkan suara-suara berisik dari benda yang rusak atau paling tidak melihat benda yang tiba-tiba rusak atau orang-orang yang terlihat bertarung seperti melawan angin tapi bisa tiba-tiba terpental atau terluka.
Kekuatan roh bisa merusakkan benda di sekitarnya dan dari benda-benda itu mereka bisa melukai orang-orang biasa dengan cara yang tidak sengaja. Tapi benda itu tidak akan bisa disentuh oleh roh jika benda yang ingin disentuh itu ditujukkan untuk melukai manusia biasa secara langsung dan disengaja.
Intinya jika ingin melukai manusia biasa dengan benda manusia, benda itu menjadi transparan di tangan Roh alias tidak bisa mereka sentuh. Hanya Roh kuat dengan kemampuan telekinesis yang bisa mengendalikan benda, mereka bisa melukai manusia sesukanya, meskipun ia tidak terlihat atau ada manusia yang dihatinya tertanam kebencian yang kuat itu juga bisa dilukai oleh benda manusia yang sengaja dipegang oleh Roh. Pada dasarnya pertarungan dengan Roh ini hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan kemampuan spesial. Manusia biasa biasanya hanya akan menjadi korban.
.
.
.
Semua orang tidak bisa menangani kekacauan yang telah dilakukan oleh Rigel, ada yang sibuk mengejarnya cuma dengan mudahnya Rigel melumpuhkan mereka semua. Saat itu kekuatan Rigel berada di puncaknya, ia tidak ragu-ragu menggunakan kemampuannya untuk bisa melarikan diri.
Di tengah pelariannya dan kekacauan, saat itu bertepatan dengan Kashel yang sedang mendapatkan tugas dari kantor pusat bertugas di sindikat itu. Pada dasarnya Kashel hanya tau jika sindikat itu adalah tempat organisasi mengurung bangsa Roh Kegelapan dan akan menelitinya, membuatnya menjadi sebuah senjata. Ia tidak tahu jika di dalam situ ada manusia yang dikurung juga, jika ia tahu pasti Kashel akan menentangnya.
Ia ditugaskan ke sana untuk mengambil kacamata rohnya yang baru saja rusak akibat menjalankan misi. Karena hanya dengan kacamata itu ia bisa melihat dunia yang lain dari yang ia lihat dan bisa menjalankan tugasnya sebagai Kesatria Penjaga Batas, meskipun itu semua ia lakukan karena tuntutan dan paksaan dari keluarganya.
Dari sejak remaja ia dipaksa untuk memakai kacamata itu yaitu semenjak ia memulai sekolah di Akademi Spiritual, mungkin niat keluarganya melakukan hal itu agar Kashel mati terbunuh oleh Roh Kegelapan dan bisa mengangkat calon penerus baru yang lebih sempurna dari keluarganya yaitu adiknya.
Adiknya hanya bisa menjadi kandidat jika Kashel tiada karena yang bisa menjadi kandidat calon penerus hanya anak pertama. Tapi hal itu malah tidak pernah terjadi, Kashel masih memiliki umur yang panjang, meskipun sering terjun di misi yang berbahaya di usia mudanya, dia memiliki seorang rekan yang hebat, yang selalu melindunginya.
Kashel mulai menjalankan misi saat ia lulus dari Akademi Spiritual dan ini sudah berjalan satu tahun lamanya ia bekerja sebagai Kesatria Penjaga Batas tanpa kemampuan spesial. Ia tengah menunggu masa kebebasannya untuk memilih hidupnya sendiri sebagai orang biasa saat itu.
Di sinilah dia sekarang di halaman taman sindikat itu. Ia tidak tahu jika di dalam mengalami kekacauan, kacamata yang sudah ia dapatkan tidak ia gunakan.
Kashel tidak bisa menggunakan kacamata itu terus menerus karena akan menguras tenaganya, dengan kemampuan itu ia mendapatkan kemampuan alami merasakan hawa kegelapan dan kebencian dalam tugasnya sebagai Kesatria Penjaga Batas ia adalah orang yang memiliki kemampuan terbaik dalam melacak keberadaan portal perbatasan.
Merasakan keberadaan portal perbatasan itu sudah ia dapatkan semenjak sebelum ia terikat dengan Guardian, tentu saja dalam jarak tertentu tidak seperti setelah ia menjalin kontrak yang cakupannya luas.
Ia berniat makan siang sebelum kembali pulang ke rumahnya. Dan di situlah ia bertemu dengan Rigel pertama kalinya. Rigel berniat melucuti pakaian Kashel dan menyamar dengan pakaian itu, melihat Kashel yang nampaknya sangat lemah bahkan tanpa roh pelindungnya.
Kashel hanya menatap Rigel heran, karena tampak berbahasa isyarat dengan sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Kashel heran pada Rigel yang melakukan gelagat aneh.
"Sekarang!" tiba-tiba Rigel berteriak. Tidak terjadi apa-apa setelah itu. Kashel hanya menatapi Rigel bingung sambil memegang roti lapis yang bahkan belum sempat ia makan karena Rigel.
"Arghh!" Rigel frustasi, ia bingung kenapa roh pelindungnya tidak bisa menyentuh pemuda itu. Seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu dengan orang seperti Kashel, meskipun ingatannya telah terhapus tapi ia merasa tidak pernah bertemu sama sekali dengan orang seperti Kashel.
"Kau memang mau melakukan apa?" bingung Kashel.
"Aku mau mencuri pakaianmu, untuk melarikan diri dari sini dan menyamar." Rigel berkata jujur mendudukkan dirinya dan mengambil roti dari tangan Kashel langsung.
"Aku lapar, sejak kapan aku tidak makan makanan enak begini." Rigel memakan roti itu dengan lahap, di penjara ia hanya diberikan makanan itu-itu saja bagi Rigel itu tidak enak.
Rotiku. Batin Kashel, memperhatikan rotinya yang telah habis dimakan orang lain.
"Kau masih lapar?" Kashel malah memberikan kotak bekalnya pada Rigel, padahal ia juga belum makan sama sekali. Daripada marah ia merasa iba pada pria yang terlihat kelaparan, pria itu sedikit lebih tua darinya.
"Wah!" Mata Rigel berbinar melihat isi bekal itu, masakan itu adalah Kashel sendiri yang membuatnya.
"Makanlah," Rigel tanpa basa-basi menghabiskannya. Kashel juga memberikannya air minum miliknya.
"Ah kenyang, aku merasa hidup kembali." Rigel bersandar merasa bahagia.
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" Kashel bertanya.
"Namaku Rigel Gibson dan dia adalah roh pelindungku Brandon." Setelah di beri makan Rigel malah menjadi akrab dengan Kashel.
"Ah sebentar," Kashel mengambil kacamata rohnya dan memakainya. Setelah itu dengan cepat ia langsung melepaskannya kembali.
"Ada apa?" tanya Rigel.
"Tidak, tidak ada apa-apa." Kashel panik karena kaget barusan, ia tidak menjelaskan bahwa ia tidak bisa melihat Roh tanpa kacamatanya.
Roh pelindungnya sangat panas dan hawanya kuat, batin Kashel panik.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja sepertinya." Rigel memperhatikan gelagat Kashel.
"Apa kau masih mau mencuri pakaianku?" tanya Kashel akhirnya.
"Aku sudah tidak tertarik, kau orang yang baik mana tega aku mengambil milikmu." Jelas Rigel.
Padahal tadi kau mengambil makananku, pikir Kashel.
"Ah, sepertinya aku akan kembali di penjara itu. Tapi setidaknya aku sudah merasa senang karena dapat makanan enak." Ucap Rigel lagi.
"Kau di penjara, kenapa?" bingung Kashel.
"Kau tidak tahu? Aku di penjara di tempat ini karena dianggap berbahaya," Kashel menggeleng, ia tidak tahu ia pikir tempat ini hanya mengurung Roh Kegelapan. Pantas saja ketika Kashel memperhatikan baju Rigel baju itu hanya setelan putih polos dan ia berjalan tanpa alas kaki.
"Tapi tak apalah, aku tidak punya tujuan selain tinggal di tempat ini. Lari pun aku pasti dicari." Jelas Rigel sepertinya ia sudah pasrah saja.
"Kau harus keluar dari sini, manusia tidak bersalah seharusnya tidak dikurung." Jelas Kashel.
"Aku tidak tahu dan tidak ingat mengapa aku dikurung di tempat ini. Itu bukan berarti aku tidak punya salah." Ucap Rigel.
"Tapi kau tidak punya niat untuk menyakiti orang lain kan?" tanya Kashel.
"Tentu saja tidak, aku berniat dengan kekuatan ini bisa berguna untuk orang lain." Ucap Rigel melihat telapak tangannya.
"Dan apapun di masa laluku, aku tidak ingin terjebak dengan itu semua, meskipun mungkin tidak menyenangkan, aku ingin menjadi diriku yang sekarang." Jelas Rigel.
"Tapi kau keren, kekuatanku tidak mempan padamu." Rigel tertarik.
"Apa kau tidak tahu orang biasa?" tanya Kashel dan Rigel menggeleng.
"Bagaimana duniamu tumbuh sebenarnya. Tapi sudahlah, ayo kita pergi dari sini." Kashel mengambil sendal yang ia bawa-bawa dalam tasnya. Ia suka memakainya jika di dalam ruangan. Dan memberikan jaket dan sebuah topi yang tadi ia pakai juga.
"Asal kau tahu saja, di mata orang biasa. Kau itu hanyalah manusia biasa Rigel. Semua sama." Jelas Kashel tersenyum.
.
.
.
Kashel pun akhirnya membawa Rigel ke Kantor Pusat. Karena ulahnya Kashel dimarahi ayahnya lagi dan akan dihukum karena membawa orang yang berbahaya. Namun setelah itu Rigel melindunginya dan berjanji pada tempat itu, jika Kashel tidak dihukum ia akan bekerja dengan baik di sana menjalankan tugas sesuai perintah dan ketentuan kantor itu. Atau jika Kashel dilukai ia akan mengobrak abrik kantor itu tidak perduli akan ada korban atau tidak. Dan akhirnya Rigel resmi menjadi pegawai di sana. Setelah berdebat panjang tentunya.
.
.
.
"Siapa namamu?" tanya Rigel.
"Erza Kashel Kendrick," Rigel terdiam setelah mendengar nama asli pria itu.
"Apa sekarang kau membenciku karena tahu aku siapa?" tanya Kashel dan Rigel tetap saja diam awalnya. Terlihat berpikir.
"Tidak aku tidak membencimu, kau keturunan Kendrick pemilik organisasi ini? Jika kau menjadi pemimpin aku pastikan akan menjadi kaki dan tanganmu. Kau adalah teman pertamaku setelah sekian lama." Rigel berkata yakin.
"Kau lucu aku ini orang biasa tidak akan menjadi pemimpin, dan tidak menginginkannya juga. Sebaiknya kau cari tahu apa itu orang biasa, biar kau mengerti. Selamat tinggal." Kashel pergi meninggalkan Rigel. Mereka tidak pernah bertemu karena ditugaskan dengan pekerjaan berbeda dan kesibukkan berbeda pula.
.
.
.
Hampir 2 tahun Rigel bekerja di Kantor Pusat, dan sudah mengetahui berbagai macam hal dan melalui berbagai macam pengalaman. Ia mendengar Kashel memiliki kantor cabangnya sendiri. Dan ia akhirnya memutuskan untuk bekerja di sana dan meninggalkan Kantor Pusat di saat Kashel benar-benar membutuhkan seorang pegawai untuk kantornya. Dia benar-benar menempati janjinya untuk menjadi kaki dan tangan Kashel.
Setelah mengetahui Kashel bukan orang biasa lagi dan mengetahui Kashel adalah wadah jiwa The Borders. Ia sempat menantangnya dan dengan mudahnya pula Lyam mengalahkannya, meskipun dia sendiri terkenal kuat. Kashel sendiri tidak mau melawannya, makanya yang melawannya adalah Lyam. Sejak saat itu Rigel takut pada Lyam tapi tetap sangat menghormati Kashel yang tidak bisa ia kalahkan sejak awal.
.
.
.